Bedah Buku Brian Khrisna di Banjarmasin: Belajar Proses Kreatif di Balik Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati


bedah buku brian krisna banjarmasin

"Gimana kondisi di sana? Penuh nggak?" Saya mengirim pesan kepada dua orang rekan kerja yang sekarang berada di Aula Dispersip Kalsel atau Perpustakaan Pal Enam.

Tak lama balasan pun tiba di handphone saya.

"Nggak penuh banget, Kak. Masih ada bangku kosong, kok,"  balas salah satu rekan kerja.

"Oke, deh. Kalau begitu aku berangkat sekarang." 

Tak lama kemudian saya langsung memacu motor menuju Perpustakaan Pal Enam yang berjarak sekitar enam kilometer dari rumah.

Bukan tanpa alasan jika saya memacu motor pada saat itu. Hari itu di Aula Dispersip Kalsel diadakan acara bedah buku bersama Brian Khrisna, penulis yang saat ini sangat populer di kalangan pecinta buku. Novel-novel yang ditulisnya memiliki topik-topik yang berkaitan dengan kesehatan mental dan orang-orang marginal. Hal inilah yang kemudian membuat banyak pembaca menyukai novel Brian Khrisna. 

Popularitas tersebut membuat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan mengundang Brian Khrisna sebagai narasumber dalam puncak acara Semesta Buku Banjarmasin yang diselenggarakan pada 5 Juli 2027 di Aula Dispersip Kalsel. Festival literasi ini sendiri berlangsung sejak 27 Juni dengan beragam kegiatan menarik, mulai dari workshop, lomba untuk anak-anak, hingga bedah buku bersama para penulis.

Sebagai pecinta buku, tentunya saya tak melewatkan kesempatan ini. Begitu akun instagram Dispersip Kalsel mengumumkan akan mengadakan bedah buku bersama Brian Krisna, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Kebetulan saya juga sudah membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, novel karya Brian Khrisna yang saat ini sedang dalam proses difilmkan dan akan tayang akhir tahun 2026 ini. 

Acara bedah buku sendiri juga mendapat antusiasme yang sangat besar dari pecinta buku di Banjarmasin. Ini bisa dilihat dari banyaknya peserta yang datang hari itu yang memenuhi hampir semua bangku yang disediakan. Bahkan saya sempat berniat membatalkan karena takut tak kebagian tempat duduk. Pada akhirnya seperti percakapan yang saya tulis di atas, saya berubah pikiran dan tetap datang meski terlambat.  

Sekilas tentang Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Sebelum bercerita tentang keseruan acara bedah buku bersama Brian Khrisna, saya ingin membagikan terlebih dahulu sinopsis dari novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. 

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Ale yang begitu putus asa dengan hidupnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia pun sudah mempersiapkan dengan matang rencana bunuh dirinya ini. Namun sebelum mewujudkan niat tersebut, Ale ingin menikmati semangkuk mie ayam dari penjual langganannya sebagai santapan terakhir.

Sayangnya, ketika Ale datang ke tempat penjual mie ayam, ternyata gerobak mie ayam tersebut tutup. Ale kemudian mengetahui kalau pemiliknya baru saja meninggal. Sebuah hal yang sangat ironis mengingat dirinyalah yang berencana mengakhiri hidupnya hari itu. Ale pun berinisiatif datang untuk melayat ke kediaman mendiang pemilik mie ayam. 

Sepulang dari melayat, Ale yang mampir ke sebuah warung dan mendapati kejadian tak terduga. Tiba-tiba saja ia disergap dan dibawa ke kantor polisi karena dikira seorang pengedar narkoba. Rupanya pemilik warung adalah intel yang sedang menyamar dan Ale yang apes malah kena jebakan polisi. 

Peristiwa itulah yang kemudian mengubah jalan hidup Ale. Ia bertemu dengan Murad yang mengenalkannya pada dunia preman dan orang-orang baru. Tanpa disadari, pertemuan-pertemuan tersebut perlahan memberinya alasan untuk tetap bertahan hidup.

Suasana Acara Bedah Buku bersama Brian Khrisna


suasana bedah buku brian krisna banjarmasin

Kembali ke acara bedah buku bersama Brian Khrisna. Setelah memacu motor kurang lebih sepuluh menit, akhirnya saya tiba di Perpustakaan Daerah Kota Banjarmasin (Perpustakaan Pal Enam). Oleh petugas, saya langsung diarahkan menuju area parkir di belakang. Setelah memarkir motor, saya berjalan kaki menuju aula tempat acara berlangsung.

Saat memasuki aula, sesi bedah buku rupanya sudah dimulai. Di layar proyektor tampak Brian Khrisna sedang berbincang bersama moderator. Mengenakan pakaian serba hitam, dengan kacamata dan topi, penampilannya terlihat santai dan sekilas mengingatkan saya pada penyanyi Afgan. Saya sendiri kemudian memilih salah satu kursi kosong yang ada di deretan paling belakang.

Tentunya ada alasan tersendiri mengapa saya akhirnya datang terlambat. Sehari sebelum acara, panitia panitia mengumumkan bahwa dari sekitar 700 peserta yang mendaftar, hanya peserta yang datang lebih awal dan membawa novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang akan mendapatkan tempat duduk terbaik. Pembagian peserta dilakukan menjadi tiga kategori, yaitu:
  • Tier Gold, yaitu 200 peserta pertama yang datang dan membawa novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Peserta kategori ini mendapatkan tempat duduk lesehan di barisan paling depan.
  • Tier VIP, yaitu 100 peserta berikutnya yang juga membawa novel dan berhak mendapatkan kursi.
  • Tier Festival, yaitu peserta selanjutnya yang hanya dapat mengikuti acara sambil berdiri.

Setelah membaca informasi ini, saya sempat mengurungkan niat untuk datang. Alasan utamanya karena saya tidak memiliki buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang membuat saya kemungkinan hanya akan bisa menyaksikan acara sambil berdiri. Belum lagi peserta yang mendaftar ratusan orang, apa tidak sesak nanti ruangannya? Begitu pikir saya. 

Untungnya, setelah bertanya kepada beberapa teman yang sudah lebih dulu berada di lokasi, saya mendapat kabar bahwa masih ada beberapa kursi kosong. Rupanya, cukup banyak peserta yang memiliki kekhawatiran yang sama sehingga memutuskan tidak datang. Berkat itulah saya masih berkesempatan mengikuti acara dengan nyaman meski duduk di barisan belakang.

Dari rundown yang dibagikan sendiri, acara bedah buku hari itu dimulai dengan sarapan mie ayam bersama baru kemudian acara bedah buku dimulai. Tiga orang teman saya yang sudah lebih dulu berada di lokasi acara duduk dengan nyaman di bagian depan sementara saya duduk di deretan kursi belakang. Meski demikian hal ini tidak mengurangi antusias saya untuk mengikuti acara tersebut. 

5 Insight Menarik dari Acara Bedah Buku Bersama Brian Khrisna


bedah buku brian krisna banjarmasin

Setelah sesi makan mie ayam selesai maka acara bedah buku bersama Brian Khrisna dimulai. Selama hampir dua jam mengikuti bedah buku, Brian Krisna tidak hanya membahas alur cerita Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Ia juga berbagi banyak cerita tentang proses kreatif, riset yang dilakukan sebelum menulis, hingga alasan di balik beberapa keputusan yang diambil dalam novel tersebut. 

Dari sekian banyak hal yang dibagikan, ada beberapa poin yang paling membekas bagi saya.Berikut beberapa insight yang saya dapat dari acara beda buku hari itu yang sebagian saya ambil dari rekaman video 

1. Tokoh Ale Terinspirasi dari Sosok Nyata

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memiliki tokoh utama bernama Ale. Brian menjelaskan bahwa Ale bukanlah tokoh fiksi sepenuhnya. Karakter tersebut terinspirasi dari seorang temannya yang memang mengalami depresi dan memiliki keinginan mengakhiri hidup. Demi menjaga privasi, nama serta beberapa bagian cerita diubah, tetapi pergulatan emosinya tetap dipertahankan agar pembaca dapat memahami bagaimana rasanya hidup dengan depresi.

2. Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ditulis dengan Narasumber Psikolog dan Psikiater

Menulis novel dengan latar belakang kesehatan mental tentunya tidak bisa sembarangan. Untuk itu, selain berasal dari kisah orang yang dikenalnya, Brian juga berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater dalam proses penulisan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Bahkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan Ale sebelum rencana b*nuh diri juga merupakan salah satu terapi yang direkomendasikan psikiater bagi orang yang sedang mengalami depresi. 

Mendengar penjelasan tersebut membuat saya semakin mengapresiasi proses kreatif Brian Khrisna. Ia tidak hanya ingin menghadirkan cerita dengan tema kesehatan mental secara sembarangan, namun juga berusaha menggambarkan isu kesehatan mental secara lebih bertanggung jawab.

3. Judul Seporsi Mie Ayam Terinspirasi dari Percakapan Penulis dengan Ale

Dalam acara ini, Brian memberikan klarifikasi kalau judul novelnya berasal dari celetukannya saat mengajak sosok Ale makan mie ayam bersama. "Wah ini berarti kita makan seporsi mie ayam sebelum mati, dong," begitu kira-kira kutipan percakapan mereka. Penjelasan ini menjadi jawaban atas kritik terkait judul novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang dianggap mirip dengan sebuah novel populer Korea Selatan.  

4. Bagian Tersulit dalam Penulisan Novel

Saat Brian Khrisna ditanyai terkait bagian tersulit dalam proses penulisan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, ternyata jawabannya adalah bagian akhir cerita. Hal ini karena Brian ingin memberikan akhir yang memuaskan bagi pembaca. Ia tidak ingin memberikan cerita yang seru namun endingnya malah berantakan. 

Karena itulah dalam proses penulisan novelnya, Brian terlebih dahulu menentukan ending cerita baru kemudian membuat alur cerita. Menurut Brian, menentukan akhir cerita sejak awal membuatnya memiliki "jangkar" sehingga alur yang dibangun tidak kehilangan arah hingga novel selesai ditulis. Sebagai seorang penulis, langkah yang dibagikan Brian Khrisna ini memberikan ilmu baru bagi saya yang masih struggling dalam menyelesaikan novel. 

5. Kutipan dan Pesan di Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati 

Ketika ditanya tentang kutipan favorit, Brian memilih kutipan dari halaman 152 yang berbunyi, "Hidup ternyata bukanlah sebuah perlombaan. Nggak masalah kalau langkahmu lebih lambat daripada yang lain." Lewat novel ini, Brian ingin mengajak pembacanya untuk sedikit melambat dan melakukan sesuatu tanpa terdistraksi hal lain. 

Selain itu lewat novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Brian ingin menyampaikan pesan agar kita memiliki alasan sederhana untuk hidup. Tak perlu alasan besar, cukup alasan sederhana seperti ingin menikmati bubur setiap hari. 

Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung teringat pada konsep ikigai dari Jepang, yaitu menemukan alasan sederhana yang membuat seseorang tetap bersemangat menjalani hidup. Mungkin memang tidak semua orang memiliki tujuan hidup yang besar, tetapi memiliki alasan kecil untuk bangun setiap pagi pun sudah sangat berarti.

Penutup 



Setelah berbincang kurang lebih satu jam, acara pun ditutup dengan sesi pemberian tanda tangan bagi para peserta yang membawa novel Brian Khrisna. Berhubung saya tidak membawa novelnya, otomatis saya tidak ikut mengantri dan hanya menunggu ketiga teman saya selesai mendapat tanda tangan. 

Bagi saya, mengikuti bedah buku ini bukan sekadar kesempatan bertemu langsung dengan salah satu penulis favorit. Sama seperti ketika saya mengikuti bedah buku bersama Dee Lestari, dalam acara ini saya juga mendapat banyak pelajaran tentang proses kreatif di balik sebuah novel, pentingnya melakukan riset sebelum menulis, hingga bagaimana seorang penulis menyikapi kritik dengan lapang dada.

Acara hari itu ditutup dengan makan siang bersama di salah satu warung nasi uduk di batas kota Banjarmasin. Dan saya sendiri pun pulang dengan pemahaman baru bahwa sebuah karya yang baik tidak hanya lahir dari imajinasi, tetapi juga dari empati, riset, dan kemauan untuk terus belajar. Mungkin itulah yang membuat karya-karya Brian Khrisna terasa begitu dekat dengan para pembacanya.

Baca Juga

Posting Komentar

39 Komentar

  1. Seru sekali kalau ada acara bedah buku seperti ini karena rasanya beda dibanding cuma membaca sendiri. Bisa mendengar cerita langsung dari penulis biasanya membuat isi bukunya terasa lebih hidup. Semoga acara seperti ini makin sering diadakan di berbagai daerah supaya makin banyak yang tertarik membaca

    BalasHapus
  2. seru banget masih ikutan bedah buku ya mbak^^
    jujurly aku udah lama banget gak join acara bedah buku, termotivasi nih untuk ikutan lagi, aktif lagi ketemu teman-teman penggiat buku hehe:)

    BalasHapus
  3. Seru banget bisa ketemu sama penulisnya langsung, jadi tau latar belakang cerita itu ditulis. Saya belum baca novel ini, tapi dari sedikit petikan dan penjelasan dari penulisnya, bikin penasaran untuk di baca.
    Semoga perpusda di sini juga bisa bikin acara bedah buku seperti ini yaaa....

    BalasHapus
  4. Wah, Banjarmasin seru banget ya bisa kedatangan penulis favorit. Makasih sudah berbagi rangkuman acaranya, jadi tahu poin-poin menarik dari bedah bukunya. Sangat informatif!

    BalasHapus
  5. "Hidup ternyata bukanlah sebuah perlombaan. Nggak masalah kalau langkahmu lebih lambat daripada yang lain."

    Quote yg sangat nguote bangettt ini mba. memang novelis satu ini lagi FYP di mana² yaakk.
    mantuullll


    semoga aku bs ikutan bedah bukunya kalo.lagi di Sby.

    BalasHapus
  6. Keren nih novel. Nggak hanya memegang teguh bahwa fiksi itu khayalan. Tapi, khayalan yang dipertanggung-jawabkan. Karena kesehatan mental bukan sesuatu yang main-main.

    BalasHapus
  7. Diriku berasa ikut buru-buru memacu motor ke Aula Dispersip Kalsel. Salut buat panitia yang totalitas sampai ada sesi makan mie ayam bareng, konsep yang unik dan pas banget sama judul novelnya.
    Insight tentang proses kreatif Brian Krisna juga daging semua. Keren bagaimana dia meriset isu sensitif ini lewat psikolog agar ceritanya tetap bertanggung jawab. Bagian tentang mencari alasan sederhana untuk bertahan hidup itu benar-benar menampar sekaligus menghangatkan hati.

    BalasHapus
  8. Awalnya saya gak ngeh dengan nama Brian Krisna, tetapi begitu dijelaskan bahwa ia adalah penulis Seporsi Mie Ayam, saya jadi ingat seorang teman pernah menyodorkan novel tersebut untuk dibaca. Dan sampai sekarang saya belum membacanya...

    BalasHapus
  9. Aku belum baca buku yg seporsi mie ayam ini tp udah baca buku Brian lain yg Sisi tergelap surga.

    Dan Krn buku itu, aku JD sukaaaaa banget dengan Brian, dan pengen beli buku2 dia yg lain. Mau bandingin aja, gaya dia cerita di buku2nya.

    Yg sisi tergelap surga, itu akh nyeseeek bacanya... Krn toh apa yg dia tulis memang fakta yg terjadi di lapangan. Kaum marginal yg berjuang demi hidup...

    Bener sih mba, tema seperti ini yg pastinya banyak relate dengan orang2, sehingga buku Brian lebih bisa diterima

    BalasHapus
  10. Situasi gagal meninggal gara-gara penjual mienya meninggal itu menohok banget sih. Bisa banget jadi bahan refleksi ulang sebelum benar-benar menjalankan niat mengakhiri hidup. Keren nih novelnya ditulis dengan serius, ya

    BalasHapus
  11. Dulu saya berpikir bahwa menulis karya fiksi itu yaa tinggal nulis aja gitu. Namanya juga fiksi alias cerita tidak nyata alias ngarang. Tapi ternyata butuh riset juga yaa...seperti buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Brian Khrisna harus riset dulu berdiskusi dengan beberapa psikolog...pantas aja ceritanya baguus.

    BalasHapus
  12. Eh daku belum sempat baca novelnya, baru sekilas aja baca ulasan dari para bookstagram.
    Ternyata didukung oleh psikiater juga ya, makanya bahasan novelnya jadi lebih gereget tentang psikis, karena related dengan kenyataan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaan kak.. Aku belum pernah juga baca bukunya Brian Krisna. Salah satu bukunya yang menarik dan masih di keranjang belanjaku tuh Sisi Tergelap Surga.

      Rasanya beda sekali ketika bisa mendengar langsung cerita dari penulis tentang proses kreatif, inspirasi, sampai hal-hal kecil di balik lahirnya sebuah novel. Apalagi Brian Khrisna memang dikenal punya cara bercerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi pasti banyak insight yang bisa dibawa pulang.

      Hapus
  13. Aku jadi ikut senyum membaca ceritanya. Rasanya seru sekali bisa bertemu langsung dengan Brian Krisna dan mendengar proses di balik lahirnya sebuah buku. Yang paling aku suka justru suasana acaranya, karena dari tulisan ini terasa hangat, tidak sekadar datang lalu pulang, tetapi benar-benar jadi ruang ngobrol antara penulis dan pembaca. Kadang momen seperti ini yang bikin kita makin semangat membaca dan menulis. Salut juga buat penyelenggara yang menghadirkan acara literasi seperti ini di Banjarmasin.

    BalasHapus
  14. suka banget judulnya! udah kebayang langsung ceritanya tentang apa dan bener sih. aku jadi penasaran pengen baca juga bukunya, di gramed adakah? buku terkait self-improvement.........eh lebih tepatnya novel psikologis ya, dengan isu mental health emang lagi fyp ya karena relate dengan banyak orang

    BalasHapus
  15. Sangat menyenangkan sekali ada bedah buku Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang bisa menemukan insight langsung dari sang penulis.
    Dan sekilas karena ini fiksi yaah.. mengingatkanku sama "I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki". Tapi kalau ini buku non-fiksi.

    Memang isu mental health ini bagus untuk dikupas dengan layering yang sangat banyak.

    BalasHapus
  16. Pas disebutin nama Brian Khrisna, awalnya aku nggak begitu kenal. Tapi pas disebut judul buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, oooohhh,,, dia toh. Sebenarnya aku baru banget mulai baca buku ini, eh kena spoiler di blog ini... haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak spoiler sepenuhnya kok, mbak. soalnya perjalanannya ale lumayan panjang setelah ketemu murad hehe

      Hapus
  17. Ih senang banget ya bisa ikut acara bareng penulis novel Brian Khrisna.

    Keren juga nih Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan yang gercep bisa mengundang Brian Khrisna sebagai narasumber dalam puncak acara Semesta Buku Banjarmasin, pada 5 Juli 2027 di Aula Dispersip Kalsel.

    Kalau ada acara semacam Festival literasi ini yang begitu padat dengan beragam kegiatan menarik, mulai dari workshop, lomba untuk anak-anak, hingga bedah buku bersama para penulis pengen deh hadir langsung juga

    BalasHapus
  18. wah ternyata bukan murni tokoh fiksi atau rekaan ya. Tokoh yang latar belakang ceritanya dari real person, pasti lebih dalam dan mengena banget deh bagi para pembacanya. Situasi dan kondisinya juga beneran dan akan membuat para pembaca relate. Jadi mau baca tapi khawatir bukunya membuat stress seperti I want to die but I want to eat toppokki. Yg ini kan jg dari cerita pengalaman si pengarangnya.

    BalasHapus
  19. Novel yang sangat menarik. Makanya saya juga penasaran nonton filmnya. dan baru kali ini ada bedah buku yang tempat duduknya ada kelas-kelasnya, Mbak. Tapi jadi semangat datang ya, sambil membawa bukunya.
    kalau soal menentukan ending dulu, baru menulis alurnya, itu saya setuju sekali. Jadi ibaratnya, kita sudah menentukan tujuan, baru menentukan bagaimana caranya sampai ke tempat tujuan itu. Terus soal pesan buku yang mengatakan Hidup bukan perlombaan, kena banget saya. soalnya saya masih membandingkan diri saya dengan orang lain. Kok saya masih begini, sedangkan orang lain sudah melaju. Dan ternyata memang setiap orang sudah ada jalan hidupnya masing-masing.

    BalasHapus
  20. Wahwahhhh, selamat ya mbak, beruntung lhoo akhirnya bisa ketemu langsung Brian Krisna. Dan setelah kubaca-baca, sepertinya gaya nulisnya mas brian mirip denganku ya. Kalau bikin cerita, yang diutamakan itu endingnya dulu. Perkara premis dan konflik, itu bisa disusun belakangan, hihihi

    Tapi salut si sama beliau, proses risetnya gak main-main. Apalagi perkara psikologi, ini kan gabisa sembarangan ya. Harus ada ilmunya tersendiri. Makanya keren banget si liat proses creative thinkingnya.

    BalasHapus
  21. Novel ini yg meneguhkanku utk keluar dari zona nyaman. Pergi dari ibu kota utk merintis bisnis di desa. Tentu perjalanan itu ga mudah. Ga sampe kyk Ale yg mau bundir sih tapi kadang aku pasrah dgn keadaan skrg.

    Tp dgn kondisi Ale di penjara itu bikin aku mkn semangat menjalani hidup. Apalagi aku msh punya kedua org tua. Itu udh jd penyemangatku.

    Dan sepakat sih, hidup memang bukan perlombaan lari, yg hrs cepet2 sampai. Ada kalanya kyk marathon, menikmati lari dgn tempo lambat. Asal tetap sampai tujuan.

    Ga sabar bs melihat novel ini bs diadaptasi ke layar lebar. Pasti seru nih. Ceritanya udh kyk di drakor2. Smg pemainnya fresh tapi punya karakter kuat ya. Jgn Reza Rahadian lagi. Wkwkwk.

    BalasHapus
  22. Kalau penulisnya sudah menjadi salah satu favorit, bakal makin betah mengikuti acara bedah bukunya. Ternyata seperti itu jalan cerita novel ini. Pantas aja risetnya juga mendalam sepertinya, ya

    BalasHapus
  23. Sering nemu buku ini di rak Gramedia mbak. Aku tu penasaran apakah isinya mirip2 dengan buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki ya. Kirain terinspirasi dari sini lho :D
    Owalah ternyata ini novel toooo, bukan buku non fiksi.
    Ternyata pesan dalam bukunya mantul niihh, kek relate sekali dengan kondisi saat ini di mana kita bisa mengetahui hidup orang lain via sosmed, bahkan kadnag terbersit rasa iri, when yaaa haha :D
    Setuju banget bahwa hidup bukan perlombaan dengan orang lain, melainkan keknya perlombaan dengan diri kita sendiri di masa sebelumnya ya.
    BTW kalau belum punya bukunya keknya gpp mbak datang ke acara sejenis ini, kan biasnaya mereka juga ngejualin bukunya di acara, jadi langsung beli dan minta TTS plus poto deh hehe :D

    BalasHapus
  24. seru pastinya kalau ikuy bedah buku dan ketemu langsung dengan penulisnya, biasanya akan dapat tanda tangan langsung. dari aspek isi memang cukup menarik karena diangkat dari kisah nyata. sepertinya releate dengan kondisi hari ini dan perlu diapresiasi dengan diangkat dlam layar lebar

    BalasHapus
  25. Menurut saya konsep acaranya sangat keren sekali karena benar-benar sesuai dengan buku yang dibahas dan juga memberikan apresiasi kepada para pembacanya sehingga terjadi sebuah Interaksi yang menarik antara penyelenggara dan juga para pembaca dan juga penulis buku ini. jarang sekali ada bedah buku yang punya konsep sebagus ini

    BalasHapus
  26. Wah, iya judulnya memang agak mirip sama novel Korea itu. Tapi ternyata ada penjelasannya kenapa judulnya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karena dari celetukan nyata, ya, mba.

    Menarik banget pas baca sinopsis bukunya. Aku kalauke Gramedia suka lihat novel ini, selalu ada di deretan best seller. Keren, sih. Tapi aku malah belum sempat baca bukunya. Abis baca artkel ini jadi pingin baca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuu..
      Jadi penasaran pingin ikutan baca bukunya.

      Rasanya gak ada habisnya membedah isu mental health ini..dan anak muda sekarang sudah aware dengan isu sperti ini, semoga bisa meresapi makna yang terkandung dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.

      Hapus
  27. Aku belum pernah baca buku yang ini. Baru baca yang Sisi Tergelap Surga. Baca tulisan ini jadi pengin baca juga novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Kok kayanya seru ya mendalami karakter yang mengidap depresi.

    Aku suka sih pesan dari buku ini. Memang hidup tak perlu alasan besar untuk bertahan. Alasan-alasan kecil dan sederhana saja sudah cukup.

    BalasHapus
  28. wah, Kak Antung ternyata hadir ya? saya kemarin batal datang karena ada agenda dadakan, padahal sudah menyiapkan buku untuk minta tanda tangan, semoga next time ada momen yang pas ya. Bukunya saya simpan lagi deh, belum diberi stempel kepemilikan karena rencana awal amu mintab tanda tangan penulis dulu.

    BalasHapus
  29. Aku sempet liat beberapa ulasannya di medsos dan wawancara penulisnya kenapa judulnya demikian ya kaya sebuah motivaai ringan untuk orang yg putus asa dgn hidupnya. Kalau baca artikel ka Antung, tampaknya memang banyak yang menggandrungi novel ini. Denger2 juga novel ini mau di angkat ke layar lebar

    BalasHapus
  30. Senang membaca liputan acara bedah buku seperti ini. Rasanya ikut merasakan antusiasme para peserta yang hadir dan semakin penasaran dengan karya Brian Khrisna. Semoga semakin banyak acara literasi seru di berbagai daerah.

    BalasHapus
  31. Senangnya bisa hadir ke acara bedah buku Brian Khrisna, kebetulan aku pun sudah baca buku Seporsi mie ayam sebelum mati di Gramedia Jalma. Namun belum beli bukunya sih. Ceritanya cukup bagus, banyak hal di muka bumi ini yang penuh plot twist.

    Bener sih mbak. Ikutan acara bedah buku nambah banyak insight sekali. Jadi tahu proses kreatif dan yap riset is key juga buat semua karya.

    BalasHapus
  32. judul novelnya menarik, seporsi mi ayam sebelum mati, kirain emang bercerita soal permintaan terakhir, tenyata isinya jauh lebih menarik dari judul

    BalasHapus
  33. Menarik nih ya, ide untuk bikin ending-nya dulu supaya bisa lebih oke di mata pembaca. Sebab rasanya pembaca memang perlu dukungan optimisme setelah menyimak cerita yang agak muram. Btw kalau ikutan bedah buku dengan sistem seperti itu kayaknya aku juga akan cari tahu dulu masih memungkinkan nggak untuk duduk, kecuali kalau dekat banget sih ya tinggal berangkat aja, hehehe.

    BalasHapus
  34. Bedah bukunya terasa hangat dan intim mba Antung, apalagi membahas Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang begitu dekat dengan isu kehidupan, kehilangan, dan harapan. Rasanya seperti diingatkan bahwa buku yang baik bukan hanya untuk dibaca, tapi juga untuk dirasakan dan direnungkan bersama. Salut untuk ruang literasi seperti ini!

    BalasHapus
  35. Kalau sakit fisik mungkin bisa minum obat secara rutin dan sesuai dosis, kemungkinan cepat sembuhnya. Tapi kalau kesehatan mental terganggu, gak hanya minum obat yang diresepkan psikiater tapi harus berobat jiwa juga.

    BalasHapus
  36. Pengalaman paket lengkap nih, senengnya dapet, ilmu dapet, insight juga dapet.

    BalasHapus