Review Film Aku Sebelum Aku, Kisah tentang Luka Pengasuhan dan Hubungan Ayah-Anak

review film aku sebelum aku


Saat masih sekolah dulu, ada satu keinginan saya yang belum terpenuhi, yakni mengikuti les Bahasa Inggris. Seperti yang kita ketahui, menguasai Bahasa Inggris adalah salah satu hal yang bisa memudahkan langkah dalam berbagai hal, termasuk juga dunia kerja. Sayangnya di masa sekolah tersebut saya terlalu sungkan untuk meminta les kepada orang tua. 

Kini setelah menjadi orang tua, keinginan tersebut saya wujudkan dengan mendaftarkan kedua anak di salah satu bimbel les yang dulu menjadi tempat impian saya. Setiap dua kali seminggu, saya mengantar anak-anak menuju tempat les mereka. Melihat bagaimana anak-anak belajar bahasa Inggris entah kenapa memberikan sebuah kesenangan tersendiri bagi saya seolah saya sendiri yang mengikuti les tersebut.

Dari sini saya mulai menyadari bahwa keputusan orang tua dalam memberikan sesuatu kepada anak ternyata tidak selalu semata-mata karena kebutuhan anak. Kadang, tanpa disadari, ada keinginan masa lalu kita yang ikut terbawa. Kita ingin memberikan kepada anak sesuatu yang dulu tidak sempat kita miliki. Mungkin inilah yang sering disebut sebagai inner child.

Hal inilah yang kemudian terlintas di pikiran saya ketika menonton film berjudul Aku Sebelum Aku yang dibintangi Ringgo Agus Rahman dan juga Bima Sena. Film keluarga karya Gina S. Noer ini membungkus sebuah kisah tentang peran ayah dan juga inner child yang ternyata berpengaruh pada pola pengasuhan orang tua pada anaknya. 

Bagaimana cerita lengkap dari film ini? Yuk baca tulisan ini sampai selesai:

Sinopsis Film Aku Sebelum Aku



Film Aku Sebelum Aku berkisah tentang Jati, putra semata wayang Jaya dan istrinya. Sebagai anak, Jati mengalami tekanan dari sang ayah yang mengharapkannya untuk selalu berprestasi di sekolah. Jaya, sang ayah sendiri memiliki impian untuk bisa membersamai Jati dalam tumbuh kembangnya dan menjadikan Jati anak yang berprestasi. Untuk itu, dia rela meninggalkan pekerjaannya di Jakarta dan bekerja di sebuah hotel di Bandung agar bisa selalu memiliki waktu fleksibel untuk Jati. 

Ngomongin Bandung, saya jadi ingat sama Teh Okti, teman blogger yang merupakan Blogger Cianjur. Jauh nggak sih dari kota Bandung kota Cianjur ini? 

Sayangnya dukungan yang diberikan Jaya malah memberikan tekanan yang besar pada Jati. Meski Jati memang memiliki kemampuan akademik yang baik, sang ayah terlalu berfokus pada prestasi akademiknya. Padahal, Jati juga memiliki ketertarikan pada bidang lain seperti seni dan olahraga. Tekanan untuk terus berprestasi inilah yang kemudian membuat Jati mengalami masalah di sekolah hingga akhirnya harus meninggalkan sekolah tersebut.
 
Jati kemudian memutuskan untuk masuk ke sebuah sekolah informal atau PKBM bernama Sekolah Tunas Merdeka yang berbeda sekali programnya dari sekolahnya dulu. Di sekolah ini, anak-anak tidak dituntut untuk memiliki prestasi akademik namun lebih belajar untuk mengasah minat dan bakat mereka. Keputusan ini pastinya sangat ditentang oleh Jaya namun berkat bujukan ibunya akhirnya keinginan Jati untuk bersekolah di sana bisa direalisasikan. 

Di sekolah barunya ini Jati berkenalan dengan Asa dan teman-teman lainnya. Untuk tugas akhir SMP mereka, semua anak di sekolah diberi proyeknya masing-masing. Ada yang membuat proyek melukis, proyek sejarah, hingga film pendek. Jati sendiri kemudian memilih bergabung dengan Asa yang membuat proyek dokumenter terkait asal usul dirinya. 
 
Siapa sangka ternyata proyek ini membuat Jati harus menggali kembali masa lalu keluarganya terutama sang ayah. Jati kemudian baru mengetahui trauma dan luka pengasuhan yang harus dihadapi oleh sang ayah di masa kecilnya bersama sang kakak yang ternyata masih hidup dan tinggal di kota yang sama dengan mereka. Padahal selama ini Jati diberitahu kalau sosok pamannya itu sudah meninggal. Rahasia apa sebenarnya yang disimpan sang ayah dari Jati?

Kesan Setelah Menonton Film Aku Sebelum Aku

review film aku sebelum aku

 

Sebagai penonton film Indonesia, saya sudah menonton 3 film garapan Gina S. Noer yakni Dua Garis Biru, Like & Share, Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga dan juga Dua Hati Biru yang merupakan sekuel dari Dua Garis Biru. Dari beberapa film tersebut, saya melihat satu benang merah yang cukup kuat, yaitu bagaimana Gina S. Noer banyak mengangkat persoalan keluarga dan hubungan antaranggotanya.

Hal yang sama saya temukan dalam Aku Sebelum Aku. Film ini membawa tema tentang luka pengasuhan yang ternyata dapat memengaruhi cara seseorang menjalankan perannya sebagai orang tua.

Melalui sosok Jati dan Jaya, kita diperlihatkan bagaimana pengalaman masa lalu seorang ayah dapat membentuk cara pandangnya dalam membesarkan anak. Jaya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi ayah yang berbeda dari sosok ayah yang pernah ia miliki. Ia ingin hadir untuk Jati, mendukung pendidikan Jati, sekaligus memastikan anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun, tanpa disadari, keinginan tersebut justru membuat Jaya memberikan tekanan yang besar kepada Jati. Di sinilah saya merasa film ini cukup menarik. Karena dalam kehidupan nyata, orang tua mungkin tidak selalu menyadari bahwa pola pengasuhan yang mereka lakukan sebenarnya dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.

Satu hal yang membuat saya kurang sreg dalam film ini adalah kehadiran Asa yang rasanya cukup mengaburkan fokus cerita. Meski sebenarnya kisah Asa merupakan jembatan dari bagaimana Jati akhirnya mengetahui luka pengasuhan sang ayah, namun porsi yang diberikan untuk karakternya sempat mengalihkan fokus cerita yang seharusnya antara Jati dengan ayahnya. 

Hal ini sempat membuat saya bertanya-tanya mengenai posisi Asa dalam keseluruhan cerita. Apakah kisahnya memang sengaja ditempatkan sebagai bagian penting dari perjalanan Jati, atau justru menjadi cerita lain yang berjalan berdampingan? Padahal konflik antara Jati dan rahasia luka pengasuhan ayahnya sudah cukup menjadi inti utama dari film ini yang bisa lebih digali lagi penyelesaiannya. 

Meski begitu, saya tetap memahami mengapa karakter Asa hadir dalam cerita. Tanpa Asa dan proyek dokumenter yang mereka kerjakan bersama, mungkin Jati tidak akan pernah sampai pada titik untuk membuka kembali rahasia masa lalu keluarganya.

Jadi, bagi saya, Asa memang penting dalam cerita. Hanya saja, kehadirannya terkadang terasa seperti mengambil ruang yang cukup besar dari konflik utama antara Jati dan ayahnya.

Pesan Moral Film Aku Sebelum Aku

Sebagai seorang ibu, film Aku Sebelum Aku pastinya memberikan banyak pesan moral dan pemikiran baru terutama dalam hal mendidik anak. Meski dalam film ini fokus utama adalah hubungan antara ayah dan anak, pesan yang disampaikan juga pastinya bisa diaplikasikan untuk ibu bekerja seperti saya:

1. Luka Pengasuhan Tak Selalu Dalam Bentuk Kekerasan

Tidak semua luka yang diberikan orang tua kepada anak berasal dari niat untuk menyakiti. Kadang, luka justru muncul dari sesuatu yang dilakukan karena merasa sedang memberikan yang terbaik. Selama ini kita mungkin mengira luka pengasuhan hanya berasal dari kekerasan, padahal tuntutan yang berlebihan atau perkataan dan perlakuan orang tua yang membuat anak merasa tidak cukup baik juga bisa meninggalkan luka.

Hal inilah yang terlihat dalam hubungan Jaya dan Jati. Jaya sebenarnya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, tetapi keinginannya tersebut justru membuat Jati merasa tertekan. Dari sini saya belajar bahwa niat baik saja tidak selalu cukup dalam pengasuhan. Kita juga perlu melihat bagaimana anak menerima dan merasakan apa yang kita berikan.

2. Jangan Selalu Mengukur Keberhasilan Anak dalam Bentuk Prestasi Akademik

Orang tua juga kadang mengukur keberhasilan anaknya dalam bentuk angka di prestasi akademiknya. Seperti kata Jaya dalam film ini, anak yang berprestasi pasti akan sukses dan kalau orang sukses pasti akan bahagia. Padahal tidak semua anak memiliki kemampuan untuk mengejar prestasi akademik. 

Bisa jadi anak memiliki bakat di bidang lain yang jika dikembangkan malah akan membuat anak sukses dan bahagia. Tugas orang tua bukan menentukan bidang apa yang harus membuat anak berhasil, melainkan membantu anak menemukan potensi yang dimilikinya.

3. Sayangilah Anak dengan Tulus 

Ada satu kalimat dalam dialog antara Jati dan ayahnya yang cukup mengena di hati saya. Di penghujung film, Jati mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ingin dicintai apa adanya. Ia tidak ingin ketika suatu saat gagal atau kalah, dirinya merasa tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Padahal, Jati sangat menyayangi ayahnya.

Dari sini saya kembali diingatkan bahwa sudah sepatutnya orang tua mencintai anak-anaknya tanpa menjadikan prestasi sebagai syarat untuk mendapatkan kasih sayang. Anak boleh gagal, kalah, atau melakukan kesalahan. Namun, mereka tetap harus tahu bahwa rumah adalah tempat untuk pulang dan orang tua adalah tempat mereka merasa dicintai apa adanya.

4. Jangan Jadikan Anak sebagai Tempat Menyelesaikan Luka Masa Lalu 

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki pengalaman masa lalu yang membentuk diri kita saat ini. Ada hal-hal yang mungkin dulu tidak kita dapatkan dan ingin kita berikan kepada anak. Saya sendiri mengalaminya ketika mendaftarkan anak-anak mengikuti les Bahasa Inggris di tempat yang dulu menjadi impian saya.

Memberikan sesuatu yang dulu tidak kita miliki kepada anak tentu tidak selalu buruk. Bahkan bisa menjadi bentuk kasih sayang. Namun, film Aku Sebelum Aku mengingatkan saya bahwa kita juga perlu berhati-hati agar keinginan tersebut tidak berubah menjadi tuntutan. 

Anak bukan kesempatan kedua bagi orang tua untuk menjalani kehidupan yang berbeda. Mereka adalah individu yang memiliki minat, kemampuan, impian, dan jalan hidupnya sendiri.

Penutup

Pada akhirnya, menjadi orang tua mungkin bukan tentang bagaimana membuat anak menjadi versi terbaik menurut kita. Lebih dari itu, kita perlu memberikan ruang agar anak dapat mengenali dirinya sendiri. Sebab, kita mungkin bisa menentukan sekolahnya, mendampinginya belajar, bahkan memberikan berbagai fasilitas untuk mendukung masa depannya. Namun, kita tidak bisa menentukan siapa dirinya kelak.

Dan mungkin, tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa ketika suatu hari anak mencari tahu siapa dirinya, ia tidak perlu terlebih dahulu melepaskan luka yang kita tinggalkan, seperti yang dilakukan Jati dan ayahnya. 

Demikian review saya untuk film Aku Sebelum Aku. Selain film Aku Sebelum Aku, saya juga menuliskan review drama seri Adolescence yang menurut saya memiliki pesan moral tak kalah bagus bagi orang tua. Teman-teman juga bisa membaca tulisan Blogger Cianjur yang juga cukup sering bercerita tentang dunia pesantren yang sedang dijalani oleh putra semata wayangnya.  

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar