Review Drama Korea The Dream Life of Mr. Kim

Review Drama Korea The Dream Life of Mr. Kim


Memasuki tahun kesepuluh bekerja di perusahaan yang sama, saya mulai mempertanyakan karir saya. Apakah suatu hari nanti saya akan bisa naik jabatan atau justru akan mengakhiri masa kerja sebagai staf biasa? 

Perasaan itu semakin sering muncul ketika melihat teman atau kenalan yang seusia dengan saya sudah menduduki posisi manajer, kepala bagian atau jabatan strategis di tempat mereka bekerja.

Dunia kerja memang dunia yang penuh dengan dinamika. Lucunya, ketika sedang banyak memikirkan karier, saya justru "dipertemukan" dengan sebuah drama Korea yang mengangkat tema serupa yang membuat saya merasa seperti sedang bercermin. 

Uniknya lagi, kalau diingat-ingat, saya juga mengalami hal yang sama saat memulai karir di perusahaan sekarang. Waktu itu saya juga sedang menonton Misaeng, drama Korea yang begitu relate dengan kehidupan karyawan baru. Kini, sepuluh tahun kemudian, saya kembali menemukan drama yang terasa sama dekatnya, hanya saja dari sudut pandang yang berbeda.

Drama Korea yang saya maksud adalah The Dream Life of Mr. Kim. 
Drama ini mengisahkan seorang karyawan yang berada di penghujung masa kerjanya dan harus menghadapi berbagai kenyataan pahit dalam dunia kerja. Selain temanya yang menarik, drama ini juga berhasil masuk nominasi Drama Terbaik di Baeksang Arts Awards 2026. Bahkan, Ryu Seung Ryong yang memerankan Kim Nak Su sukses meraih Daesang berkat penampilannya yang luar biasa. 

Berikut review lengkap untuk drama Korea The Dream Life of Mr. Kim. 

Sinopsis The Dream Life of Mr. Kim



Kim Nak Su adalah seorang manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi. Di usianya yang sudah kepala lima, Kim Nak Su sangat berharap dirinya bisa mendapat promosi untuk masuk ke jajaran direksi. Ini bukan hal yang mudah mengingat kinerja departemen yang dipegangnya juga tidak terlalu menonjol. Belum lagi kehadiran kandidat lain yang lebih muda dan lebih pandai mengambil hati senior membuat Kim Nak Su merasa ia harus berusaha lebih keras di perusahaan. 

Kekhawatiran Kim Nak Su semakin membesar ketika salah satu rekan seperjuangannya mengalami demosi ke cabang perusahaan. Rekan kerja yang sebelumnya bekerja di kantor kini harus turun ke lapangan dan mengerjakan pekerjaan kasar. Karena tak tahan dengan perubahan ritme kerja ini, rekan kerjanya ini mengambil tindakan ekstrim yang hampir merenggut nyawanya.

Tak ingin nasib karirnya sama seperti rekan kerja, Kim Nak Su berusaha meningkatkan kinerja departemennya. Ia pun mengajak serta ketiga anak buahnya untuk turun langsung ke lapangan dan memasarkan produk perusahaan. 

Usaha Kim Nak Su berhasil karena akhirnya ia mendapat kontrak kerja sama baru. Sayangnya hal ini tidak memberi pengaruh apa-apa pada karirnya. Pada akhirnya Kim Nak Su harus mengalami apa yang dialami rekan kerjanya yakni dilempar ke bagian cabang perusahan menjadi kepala keamanan pabrik. 

Setelah ditempatkan sebagai kepala keamanan di pabrik , Kim Nak Su berusaha mencari cara agar bisa kembali ke kantor pusat. Pada akhirnya Kim Nak Su pun berhasil menemukan cara untuk bisa kembali ke kantor pusat. Sayangnya rasa kemanusiaan membuat Kim Nak Su melepaskan kesempatan ini. Dan ia pun mengambil keputusan tak terduga yakni berhenti dari perusahaan yang sudah menjadi sumber penghasilannya selam 30 tahun. 

Pensiun tanpa persiapan jelas tidak ada dalam rencana hidup Kim Nak Su. Kim Nak Su pun berpikir keras bagaimana caranya agar ia tetap berpenghasilan meski tak bekerja. Sayangnya, keputusan yang diambilnya justru menyeret Kim Nak Su ke dalam masalah keuangan yang jauh lebih besar. Kalau kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. 

Tak hanya Kim Nak Su, putra semata wayangnya Kim Su Gyeom juga menghadapi masalah. Setelah pertemuannya dengan teman SMP dan berkenalan dengan gengnya, sang putra malah ditipu dan terlilit hutang yang akhirnya dibayar oleh Kim Nak Su. Untuk bisa melunasi hutang pada ayahnya ini, Kim Su Gyeom akhirnya berinisiatif untuk berjualan online yang ternyata tidak berjalan sesuai keinginannya. 

Apakah akhirnya Kim Nak Su bisa terlepas dari permasalahan yang ia hadapi? Dan bagaimana reaksi istrinya ketika mengetahui baik suami dan anaknya sama-sama terlilit hutang?

Karakter Drama The Dream Life of Mr. Kim

Berikut adalah beberapa karakter utama dari drama Korea The Dream Life of Mr. Kim:

Kim Nak Su



Seorang pria berusia lima puluhan yang berharap bisa diangkat menjadi jajaran direksi pada perusahaan telekomunikasi tempatnya bekerja selama tiga puluh tahun. Kim Nak Su memiliki semangat juang yang tinggi namun kurang pandai dalam merangkul bawahannya. Ia juga memendam luka masa kecil akibat persaingan dengan kakak kandungnya.

Park Ha Jin



Sosok istri yang setia menemani Kim Nak Su dalam susah dan senang pernikahan mereka. Setelah melahirkan putranya, Park Ha Jin berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Memasuki usia ke lima puluh, Park Ha Jin merasa perlu untuk mengupgrade dirinya dengan mengikuti kelas sertifikasi properti. Hal yang sebenarnya ditentang oleh Kim Nak Su namun pada akhirnya bisa membantu dirinya. 

Kim Su Gyeom



Putra satu-satunya Kim Nak Su yang selalu menjadi kebanggaannya. Kim Nak Su berharap sang putra bisa mengikuti jejak dirinya bekerja di perusahaan besar. Sayangnya Su Gyeom tak sependapat dan ingin menemukan jalannya sendiri. Ia pun berkenalan dengan orang-orang baru yang malah menjerumuskan dirinya pada hutang 30 juta. 

Kesan Setelah Menonton The Dream Life of Mr. Kim

Sebagai seorang ibu berusia empat puluhan yang sudah bekerja selama sepuluh tahun di perusahaan, saya merasa apa yang dialami Kim Nak Su sangat relate dengan dunia kerja sesungguhnya. 

Saya jadi membayangkan bagaimana rasanya menghabiskan puluhan tahun membangun karier di satu perusahaan, lalu harus menerima kenyataan bahwa loyalitas tidak selalu berbanding lurus dengan penghargaan yang diberikan perusahaan. Drama ini berhasil menggambarkan kegelisahan tersebut dengan sangat realistis.

Sosok seperti Kim Nak Su rasanya tidak sulit ditemukan di dunia kerja. Banyak karyawan yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk sebuah perusahaan dengan harapan dapat menutup masa kerjanya di posisi terbaik. Sayangnya, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kadang ada saja hal yang membuat karir yang dibangun dengan darah dan keringat tiba-tiba mandek atau malah berantakan. 

Hal menarik lainnya dari drama The Dream Life of Mr. Kim adalah bagaimana dalam drama ini kita bisa melihat pendewasaan Kim Nak Su dan keluarganya. Sebagai akibat dari kesembronoannya, Kim Nak Su dan keluarga harus menanggung hutang yang besar. Dari peristiwa tersebut, Kim Nak Su mau tidak mau harus mundur selangkah untuk merefleksikan perjalanan hidup serta berbagai keputusan yang telah ia ambil.. Benarkah ia melakukan hal tersebut untuk keluarganya? Atau hanya memuaskan egonya? 

Selama menonton drama ini, kadang saya merasa kesal dengan sikap Kim Nak Su. Namun di lain pihak saya juga pelan-pelan bisa memahami apa yang ia rasakan dan belajar menempatkan diri di posisinya. Drama ini tidak berusaha menggambarkan Kim Nak Su sebagai sosok yang sempurna, tetapi sebagai manusia biasa yang bisa salah mengambil keputusan dan harus menanggung konsekuensinya.

Di sisi lain, saya juga sangat mengagumi sosok Park Ha Jin. Ia bukan hanya istri yang setia mendampingi suaminya dalam suka dan duka, tetapi juga menjadi sumber kekuatan ketika keluarganya sedang berada di titik terendah. Karakternya menunjukkan bahwa dukungan keluarga sering kali menjadi alasan seseorang mampu bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.

Yang membuat pengalaman menonton drama ini terasa istimewa bagi saya adalah waktunya. Sepuluh tahun lalu saya ditemani Misaeng saat baru memulai karier sebagai karyawan. Kini, setelah menjalani satu dekade bekerja, saya justru ditemani The Dream Life of Mr. Kim yang mengajak melihat dunia kerja dari sudut pandang seorang karyawan senior. Rasanya seperti sedang melihat dua sisi dari perjalanan karier yang sama.

Pesan Moral Drama Korea The Dream Life of Mr. Kim

Setelah menuntaskan drama The Dream Life of Mr. Kim, ada beberapa pesan moral yang bisa kita ambil yakni:

1. Dunia Kerja adalah Dunia yang Penuh Dinamika

Pesan Moral pertama yang bisa diambil dari drama ini adalah tentang dinamika dunia kerja yang kadang tidak bisa diprediksi. Hari ini kita bisa berada di posisi yang nyaman, tetapi besok belum tentu. 

Mutasi, restrukturisasi, hingga perubahan kebijakan perusahaan bisa mengubah arah karier seseorang dalam waktu singkat. Karena itu, selain bekerja dengan baik, kita juga perlu membangun kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.

2. Pentingnya Literasi Keuangan Jelang Pensiun

Drama ini juga mengingatkan pentingnya memiliki literasi keuangan sebelum memasuki masa pensiun. Penghasilan yang stabil selama puluhan tahun bukan jaminan seseorang akan terhindar dari masalah finansial. Tanpa perencanaan yang matang, tabungan pensiun yang seharusnya menjadi bekal hari tua justru bisa habis akibat keputusan investasi yang tergesa-gesa atau karena tergiur keuntungan instan.

3. Keluarga adalah sistem pendukung terbaik saat masa sulit

Ketika karier dan kondisi keuangan Kim Nak Su hancur, keluarganyalah yang tetap berada di sisinya. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi salah satu kekuatan terbesar yang membantunya bangkit kembali.

4.Tidak ada kata terlambat untuk memulai dari nol

Meski harus memulai kembali di usia yang tidak lagi muda, Kim Nak Su membuktikan bahwa seseorang masih bisa membangun kehidupan baru selama memiliki kemauan untuk terus berusaha.

5. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana

Terkadang apa yang kita rencanakan selama puluhan tahun bisa berubah dalam sekejap. Drama ini mengajarkan pentingnya kemampuan beradaptasi dan menerima perubahan yang tidak dapat kita kendalikan.

Penutup

Menonton drama Korea The Dream Life of Mr. Kim mengingatkan saya bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang kita merasa sudah berusaha sekuat mungkin, namun hidup terkadang membawa kita ke jalan yang sama sekali tidak kita bayangkan. Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah menerima, beradaptasi, dan terus melangkah dengan sebaik-baiknya.

Dunia kerja yang digambarkan dalam drama ini pun terasa begitu dekat dengan realitas. Persaingan, mutasi, tekanan untuk terus berprestasi, hingga ketidakpastian menjelang masa pensiun adalah hal-hal yang mungkin dialami oleh banyak orang. Karena itulah, selain bekerja dengan baik, kita juga perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan, baik dari sisi kemampuan maupun kondisi finansial.

Jika melalui Misaeng yang saya tonton di usia 30-an saya belajar tentang perjuangan seorang karyawan baru dalam beradaptasi di dunia kerja, maka melalui The Dream Life of Mr. Kim di usia 40-an saya diajak berkaca sebagai seorang karyawan yang telah menjalani satu dekade perjalanan karier. Drama ini mengingatkan saya bahwa yang perlu dipersiapkan bukan hanya cara meraih kesuksesan, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Demikian review saya untuk drama Korea The Dream Life of Mr. Kim. Buat teman-teman pecinta drama Korea dengan tema dunia kerja, bisa juga mampir ke review Drama Korea Love Scout yang bercerita tentang dunia perekrutan karyawan. 

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar