Review Buku The Ikigai Journey : Langkah Praktis Menemukan dan Memantapkan Ikigai Kita

Review Buku The Ikigai Journey : Langkah Praktis Menemukan dan Memantapkan Ikigai Kita



Beberapa tahun terakhir, saya mulai tertarik membaca berbagai buku pengembangan diri. Jujur sebenarnya ini terhitung terlambat karena saya baru memulainya di usia pertengahan tiga puluhan. Tahun-tahun sebelumnya, saya lebih banyak mengisi hobi membaca saya dengan buku-buku fiksi yang memang selalu menarik untuk dibaca.

Meski terlambat, saya tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk terus belajar dan membuka wawasan baru yang lebih relevan dengan fase kehidupan yang sedang saya jalani terutaa dengan status ibu bekerja. Salah satu contohnya adalah buku tentang ikigai yang baru saja saya selesaikan. 

Perkenalan saya dengan konsep ikigai bermula saat membaca buku You Do You karya Fellexandro Ruby. Dalam buku best seller tersebut, Ruby—begitu ia akrab disapa—beberapa kali menyebut istilah ikigai. Hal ini tentu saja membuat saya penasaran tentang konsep hidup yang ternyata berasal dari Jepang ini. 

Rasa ingin tahu itu mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh. Dari berbagai sumber yang saya baca, ikigai secara sederhana dapat diartikan sebagai alasan seseorang untuk hidup atau alasan untuk bangun setiap pagi. Menariknya, alasan ini tidak harus selalu besar atau luar biasa. ikigai justru bisa hadir dari hal-hal sederhana, seperti bekerja, merawat keluarga, atau melakukan aktivitas yang kita nikmati.

Seiring meningkatnya popularitas konsep ini, semakin banyak pula buku yang membahas ikigai dan bisa dengan mudah ditemukan, baik di toko buku maupun aplikasi baca buku digital. Namun, entah mengapa saya belum juga menemukan buku yang benar-benar “klik” di hati dan bisa dibaca sampai selesai. Tambahan lagi aplikasi buku digital beberapa waktu belakangan sering mengalami masalah sehingga membuat pengalaman membaca menjadi kurang nyaman.

Nah, suatu hari, saat berkunjung ke Perpustakaan Kota Banjarmasin, saya menemukan sebuah buku bertema ikigai yang langsung menarik perhatian. Buku tersebut berjudul The Journey of Ikigai, karya Héctor García dan Francesc Miralles. Buku ini merupakan lanjutan dari karya mereka sebelumnya yang cukup fenomenal, Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life.

Pengertian Ikigai menurut Hector Garcia dan Francesc Miralles

review buku the ikigai journey


Dari beberapa sumber yang saya baca, dalam buku pertamanya, Garcia dan Miralles menyebutkan untuk bisa menemukan ikigai, maka seseorang harus menemukan titik temu dari empat hal dalam hidupnya yakni:
  • Apa yang kamu cintai (passion) ❤️
  • Apa yang kamu kuasai (profession/skills) 💪
  • Apa yang dibutuhkan dunia 🌍
  • Apa yang membuatmu dibayar 💰
Pertemuan irisan dari empat hal inilah yang akan membantu seseorang dalam menemukan ikigainya. Untuk menemukan irisan ini, kita bisa membuat tabel berisi hal-hal yang sesuai dengan empat dasar ikigai ini dan mengisi sesuai dengan bagiannya sebanyak mungkin. Berikut contoh isian ala saya

Komponen IkigaiPertanyaan PanduanJawaban Saya
Apa yang kamu cintai (Passion)Aktivitas apa yang membuat saya senang dan bersemangat?Menulis, membaca, menonton
Apa yang kamu kuasai (Skills)Keahlian apa yang saya miliki atau sering saya lakukan dengan baik?Menulis artikel, menulis cerita, membuat kue, merajut crochet
Apa yang dibutuhkan duniaMasalah apa yang bisa saya bantu selesaikan untuk orang lain?Informasi dengan bahasa santai, kue yang enak
Apa yang membuatmu dibayarAktivitas apa yang bisa memberikan saya penghasilan?Bekerja di perusahaan, menulis artikel di blog, menjual produk makanan

Dari tabel tersebut, saya mulai menyadari bahwa menulis bukan sekadar hobi bagi saya. Lebih dari itu, aktivitas ini juga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus memberikan nilai secara finansial. Di titik inilah saya mulai melihat benang merah dari ikigai dalam hidup saya.

Nah, jika pada buku sebelumnya García dan Miralles lebih banyak membahas konsep dasar ikigai, pertanyaannya adalah: apa yang mereka tawarkan dalam buku ini?


Review Buku The Ikigai Journey

Review Buku The Ikigai Journey : Langkah Praktis Menemukan dan Memantapkan Ikigai Kita

Judul buku : The Ikigai Journey
Penulis : Hector Garcia & Francesc Miralles
Penerjemah : Mohammad Sidik Nugraha
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Penyelaras Akhir : Hikmawati Diyas N
Penata Letak : Khoslishotul Hidayah
Penerbit : Renebook
Jumlah halaman : 308 halaman
Tahun terbit : 2023

Buku The Ikigai Journey adalah buku yang membahas tentang langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menemukan ikigai secara lebih personal. Dalam buku ini, Garcia dan Miralles mengumpamakan langkah-langkah tersebut dalam sebuah perjalanan naik Shinkansen dan melalui berbagai "stasiun" kehidupan di Jepang. 

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi tiga bagian utama. 


review buku the ikigai journey


Bagian pertama berfokus pada masa depan yang diwakili oleh kota Tokyo. Pada bab ini penulis membantu pembaca membayangkan kehidupan yang diinginkan dan arah yang ingin dituju. Pembaca juga akan menemukan berbagai latihan yang dapat digunakan untuk merencanakan masa depan secara lebih terarah.

Bagian kedua mengajak pembaca menelusuri masa lalu yang diwakili oleh kota Kyoto. Dalam bagian ini, terdapat beberapa bab yang membahas kenangan masa kecil, pengalaman hidup, serta hubungan dengan orang lain. Tujuannya adalah membantu pembaca lebih mengenali diri sendiri melalui refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui.

Sementara itu, bagian ketiga membawa pembaca kembali ke masa kini yang disimbolkan oleh Kuil Ise. Pada bagian ini, pembaca diajak untuk fokus pada langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari agar hidup terasa lebih bermakna.

Pada bagian akhir buku, pembaca akan diberikan rangkuman 35 langkah yang bisa dilakukan untuk menemukan dan memantapkan ikigai kita. 

Beberapa Langkah yang Bisa Dipraktikkan dari buku The Ikigai Journey

Mengingat buku ini berisi banyak sekali langkah, berikut beberapa yang menurut saya paling relevan untuk dipraktikkan:

1. Buatlah Tujuan Besar dalam Hidup

Bab pertama dalam buku ini membahas tentang Shinkansen dan cerita hadir dalam pembuatannya. Awalnya Shinkansen dibuat dengan target kecepatan 100 km/jam. Namun siapa sangka oleh petinggi perusahaan target tersebut dinaikkan lagi menjadi 200 km/jam yang membuat para insinyur pun harus banyak melakukan perubahan dalam desain kereta tersebut. Dan hasilnya, sekarang orang-orang bisa menikmati perjalan dari Tokyo ke Kyoto hanya dalam hitungan menit.

Dari cerita tentang shinkansen ini kita pun belajar kalau untuk bisa mewujudkan sebuah hal yang besar kita juga perlu menetapkan tujuan yang besar, bahkan kadang terdengar mustahil. Tujuan yang sangat besar ini akan memacu kita untuk mencari cara mewujudkannya. Dalam hal tujuan besar ini, kita bisa menuliskannya atau membuat dalam bentuk vision board agar lebih mudah dibayangkan.

2. Minta Umpan Balik Negatif

Orang-orang biasanya hanya meminta umpan balik positif terhadap hasil pekerjaan atau karya yang dimilikinya. Tak banyak yang bisa menerima umpan negatif karena bisa melukai ego dalam diri. Namun sejatinya, umpan balik negatif alias kritik ini akan sangat membantu kita menemukan kekurangan dalam diri atau pekerjaan yang dikerjakan.

3. Milikilah Mentor dalam Kehidupan

Mungkin banyak yang tidak sadar kalau kehadiran mentor dalam kehidupan akan sangat membantu dalam kesuksesan. Mentor yang memiliki pengalaman di atas kita akan membantu dalam mempelajari dan menguasai satu bidang. 

Selain mewariskan ilmu yang dimilikinya, mentor juga bisa menjadi tempat bertanya dan berdiskusi terkait bidang yang dijalani. Seorang mentor yang baik akan memberi kita kesempatan untuk memanfaatkan tiap jam latihan dan membuat kita selalu tertantang dan berkonsentrasi penuh. 

4. Jangan Takut Mencoba Hal Baru

Selama ini mungkin kita terjebak dalam zona nyaman yang nyatanya membuat kita sulit untuk berkembang. Untuk bisa menemukan ikigai, penting sekali bagi seseorang  untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal yang baru. Dalam praktiknya, kita bisa memulai dengan mengubah rute bekerja, membaca buku dengan genre yang belum pernah dibaca sebelumnya, atau bahkan mempelajari hal yang baru dan berkenalan dengan orang yang baru.

5. Fokus pada Satu Kegiatan dan Gunakan Timer saat Melakukan Kegiatan

Sebagian orang (terutama para wanita) mungkin berpikir kalau dengan mengerjakan banyak hal dalam satu waktu akan bisa membuat kita menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Padahal sudah ada banyak studi yang menyebutkan kalau melakukan pekerjaan secara multitasking tidak akan membuat seseorang lebih cepat menyelesaikannya. Sebaliknya, kita mungkin akan merasa lelah karena fokus dan konsentrasi yang terpecah.

Cara paling efektif adalah dengan membagi waktu khusus untuk mengerjakan sebuah kegiatan dan benar-benar fokus pada kegiatan tersebut. Kita bisa membuat timer atau teknik Pomodoro yang bisa membantu dalam meluangkan waktu khusus untuk beraktivitas tanpa gangguan ini.


Penutup

Sebagai sebuah buku pengembangan diri, The Journey of Ikigai sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal dirinya lebih dalam dan menemukan makna dalam hidup.

Bagi saya pribadi, buku ini tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga membuka cara pandang baru bahwa ikigai tidak selalu harus berupa tujuan besar. Justru, ia bisa ditemukan dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Ini juga selaras dengan buku lain yang saya baca yang berkaitan dengan tips membentuk kebiasaan baik

Langkah-langkah yang dijabarkan dalam buku ini pun terasa sederhana dan realistis untuk dipraktikkan. Apalagi, penulis juga memberikan berbagai contoh dan latihan yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang perlu diingat, ikigai bukanlah jalan menuju kesuksesan, namun tentang menemukan alasan untuk terus menjalani hidup dengan lebih bermakna. Kalau kamu sedang tertarik membaca buku pengembangan diri, baca juga review saya terkait hidup yang lebih teratur ala Marie Kondo di blog ini, ya.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar