Belanja Bulanan atau Harian? Cara Memilih Pola Belanja yang Sesuai dengan Kondisi Keluarga


Belanja Bulanan atau harian

"Siapa yang mau ikut ke minimarket A?" tanya saya siang itu pada kedua anak saya.

Tentunya tanpa perlu ditanya dua kali, kedua anak saya langsung berebut untuk mengacungkan tangannya. Bagi mereka, bisa ikut ibunya berbelanja merupakan kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Selain bisa jalan-jalan sebentar, biasanya mereka juga berharap mendapat kesempatan memilih camilan favorit.

Padahal belakangan ini saya sebenarnya sedang berusaha mengurangi frekuensi berbelanja ke minimarket, terutama bersama anak-anak. Hal ini karena kadang kalau belanja bersama anak, maka uang yang harus dikeluarkan akan lebih besar dari yang seharusnya mengingat adanya tambahan cemilan dan lain sebagainya.

"Tapi ingat ya kalian kalau mau belanja cemilan masing-masing cuma boleh dua puluh ribu," kata saya sebelum menyalakan motor.

"Siap," kata kedua anak saya dengan kompak. Dan kami pun melaju menuju minimarket yang menjadi pilihan untuk berbelanja beberapa kebutuhan rumah yang sudah menipis. 

Urusan Belanja Bulanan yang Tak Bisa Diabaikan

Sebagai seorang ibu, urusan belanja kebutuhan rumah tangga pastinya merupakan hal yang krusial dalam pengaturan keuangan. Kebutuhan rumah tangga ini merupakan jenis pengeluaran yang pasti setiap bulannya sehingga memiliki anggaran tersendiri. Untuk saya sendiri, berdasarkan catatan pengeluaran harian, saya mengetahui kalau pengeluaran untuk belanja kebutuhan rumah tangga di keluarga kami adalah sekitar 20% dari total pengeluaran keseluruhan. 

Dalam kegiatan belanja kebutuhan rumah tangga ini sendiri, setiap keluarga juga memiliki kebiasaannya masing-masing. Ada yang memilih belanja bulanan ada juga yang memilih belanja mingguan, bahkan mungkin belanja saat barang di rumah sudah habis alias saat memang diperlukan. Setiap metode belanja pastinya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi setiap keluarga.

Menariknya, tidak ada satu metode yang benar untuk semua keluarga. Ada yang merasa lebih tenang jika semua kebutuhan sudah tersedia sejak awal bulan. Namun ada juga yang justru lebih nyaman membeli sedikit demi sedikit agar pengeluaran terasa lebih terkendali.

Ketika Urusan Belanja Menjadi Konten 

Di era digital seperti sekarang, perkara belanja kebutuhan rumah tangga ternyata juga bisa dijadikan konten yang bisa menghasilkan cuan. Satu waktu saya sempat melihat sebuah konten belanja di salah satu media sosial. Dalam kontennya ini, seorang ibu berbagi terkait belanja bulanan yang baru saja ia selesaikan. Barang yang dibelinya sangat banyak karena akan dijadikan stok selama satu bulan. Entah berapa rupiah yang dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tersebut.

Selain memperlihatkan hasil belanja bulanan ini, ibu itu juga membagikan cara menyusun belanjaan tersebut ke berbagai wadah penyimpanan sehingga terlihat rapi dan estetik. Kadang saya berpikir, "Apakah semua bahan makanan tersebut benar-benar habis digunakan?" Soalnya kalau saya belanja sayur dalam jumlah banyak kadang ujung-ujungnya nggak kemasak dan malah jadi busuk di kulkas. 

Di sisi lain, ada juga yang membuat konten yang berbeda namun dengan tema sama. Ibu ini memilih berbelanja harian karena memang uang belanja yang diberikan suaminya bersifat harian. Jadi setiap hari ibu ini ke pasar untuk membeli sayur dan ikan dan memasaknya untuk konsumsi hari itu bersama keluarga. 

Ironisnya, kadang konten seperti ini rentan dihujat karena nominal yang ditunjukkan sangat kecil seperti Rp10.000 per hari. Memang, bagi sebagian keluarga, uang belanja Rp10.000 per hari terasa sangat sulit mencukupi kebutuhan, apalagi dengan harga bahan pokok yang terus meningkat. Namun, bisa jadi keluarga tersebut memiliki kondisi yang berbeda, misalnya sebagian bahan makanan sudah tersedia di rumah atau jumlah anggota keluarganya lebih sedikit.

Dari berbagai konten tersebut saya jadi sadar bahwa urusan belanja rumah tangga ternyata juga bisa menjadi bahan perbandingan di media sosial. Ada yang bangga menunjukkan stok dapur yang penuh, ada pula yang membagikan perjuangan memenuhi kebutuhan dengan anggaran terbatas. Menariknya, kedua jenis konten tersebut sama-sama mengundang beragam reaksi dari warganet.

Padahal, kondisi setiap keluarga tentu berbeda. Besarnya penghasilan, jumlah anggota keluarga, lokasi tempat tinggal, hingga kebiasaan memasak akan sangat memengaruhi cara seseorang berbelanja. Karena itu, rasanya kurang bijak jika langsung menilai cara belanja orang lain hanya berdasarkan potongan video berdurasi satu menit.

Belanja Bulanan vs Belanja Harian



Berbelanja kebutuhan rumah tangga memang menjadi rutinitas yang tidak bisa dilepaskan dalam sebuah keluarga. Kebutuhan ini biasanya mencakup kebutuhan dapur hingga kamar mandi. Namun, cara setiap keluarga dalam mengelolanya bisa sangat berbeda.

Bagi sebagian keluarga, belanja bulanan adalah pilihan yang terasa praktis. Dengan sekali belanja dalam jumlah besar, kebutuhan dasar untuk beberapa minggu ke depan sudah terpenuhi. Selain menghemat waktu, belanja bulanan juga sering dianggap lebih hemat karena bisa memanfaatkan promo atau membeli dalam ukuran besar. Bahkan saya pernah melihat seorang konten kreator yang rumahnya sudah seperti warung karena memiliki stok kebutuhan rumah tangga yang sangat banyak. 

Di lain pihak, untuk bisa menerapkan belanja bulanan ini kadang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama keluarga ini memiliki penghasilan yang tetap setiap bulan dan memiliki alat transportasi yang memadai sehingga tidak mengalami kesulitan dalam mengangkut belanjaan bulanan. Selain itu belanja bulanan juga lebih cocok untuk produk-produk yang memiliki masa simpan lama seperti deterjen, sabun,beras, minyak goreng, gula, tisu, pasta gigi dan produk-produk lainnya.

Sebaliknya, bagi keluarga yang mungkin penghasilannya tidak menentu dan tidak memiliki sarana transportasi memadai, maka pilihannya adalah belanja mingguan atau bahkan harian. Beberapa keuntungan yang bisa diambil dari berbelanja dengan sistem harian ini adalah barang yang dibeli bisa selalu segar dan menyesuaikan menu dengan penghasilan harian. 

Selain itu dengan berbelanja sistem harian atau mingguan pengeluaran tidak terasa terlalu besar karena tidak mengeluarkan uang sekaligus. Uang yang dimiliki bisa dialokasikan untuk keperluan lain yang mungkin datang belakangan. 

Saya sendiri adalah tipe yang memilih berbelanja saat produk yang ada di rumah habis. Jadi saya tidak memiliki agenda rutin di awal bulan untuk belanja keperluan rumah tangga. Pokoknya kalau ada minyak atau detergen yang habis di rumah, itu artinya saya harus berbelanja. 

Untuk keperluan dapur, saya juga sekarang sudah tidak lagi berbelanja dalam jumlah banyak. Sejak ada penjual ikan dan sayur di dekat rumah, saya lebih memilih untuk mampir dua atau tiga hasi sekali untuk membeli sayur dan ikan yang stoknya sudah habis di kulkas. Selain lebih praktis, ukuran kulkas di rumah juga tidak terlalu besar sehingga saya memang tidak bisa menyimpan terlalu banyak bahan makanan sekaligus dan hanya melakukan food preparation secukupnya.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih Pola Belanja

Ada beberapa faktor yang bisa dijadikan pertimbangan apakah sebuah keluarga memilih berbelanja harian, mingguan atau bulanan. Beberapa faktor tersebut diantaranya:

1. Penghasilan Keluarga

Penghasilan keluarga bisa menjadi penentu utama apakah sebuah keluarga berbelanja bulanan atau tidak. Keluarga yang memiliki penghasilan tetap setiap bulannya biasanya lebih mudah menyisihkan dana belanja sekaligus di awal bulan. Sebaliknya keluarga dengan penghasilan harian atau tidak tetap tentunya akan lebih nyaman jika berbelanja sistem bertahap untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

2. Kapasitas Penyimpanan

Kapasitas penyimpanan di rumah juga sangat memengaruhi pola belanja sebuah keluarga. Semakin besar ruang penyimpanan, baik kulkas maupun rak dapur, semakin mudah pula menyimpan stok bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga dalam jumlah banyak.

3. Jarak Menuju Tempat Belanja

Jarak menuju tempat belanja atau ketersediaan tempat belanja juga bisa menjadi faktor kebiasaan berbelanja seseorang. Biasanya semakin dekat sebuah rumah dengan minimarket, semakin sering pula seseorang memilih berbelanja dalam jumlah kecil karena kebutuhan bisa dipenuhi kapan saja. Sebaliknya jika jarak antara rumah dengan tempat belanja lumayan jauh, kadang orang akan memilih berbelanja dalam jumlah banyak secara berkala untuk menghemat biaya perjalanan.

4. Kebiasaan Memasak 

Faktor berikutnya yang menentukan sebuah keluarga berbelanja bulanan atau harian adalah kebiasaan memasak keluarga tersebut. Ada keluarga yang terbiasa dengan metode food preparation untuk satu minggu dan ada juga yang terbiasa memasak harian. 

Keluarga dengan kebiasaan food preparation untuk satu minggu pastinya akan membeli bahan makanan dalam jumlah banyak untuk diolah sekaligus dan disimpan sebagai stok beberapa hari ke depan. Sementara itu, keluarga yang terbiasa memasak setiap hari biasanya lebih memilih membeli bahan makanan dalam jumlah sedikit agar kondisinya tetap segar saat akan dimasak.

5. Jumlah Anggota Keluarga

Faktor terakhir yang juga menentukan kebiasaan belanja sebuah keluarga adalah jumlah anggota keluarga. Semakin banyak anggota keluarga pastinya juga akan semakin banyak kebutuhan dan frekuensi berbelanja keluarga tersebut. Biasanya keluarga dengan jumlah

Penutup

Meski berencana mengurangi frekuensi berbelanja ke minimarket, sampai sekarang saya masih cukup sering mengajak anak-anak ikut saat persediaan kebutuhan rumah tangga mulai menipis. Bedanya, sekarang mereka sudah memahami bahwa setiap orang memiliki batas anggaran. Sebelum berangkat, saya selalu mengingatkan bahwa masing-masing hanya boleh membeli camilan senilai Rp20.000 atau memilih satu hingga dua produk saja. Cara sederhana ini sekaligus menjadi kesempatan bagi saya untuk mengajarkan mereka bahwa setiap keputusan belanja perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

Setelah lebih dari sepuluh tahun menjalani peran sebagai istri dan ibu, saya semakin menyadari bahwa tidak ada pola belanja yang paling benar. Ada keluarga yang merasa lebih nyaman berbelanja bulanan karena lebih praktis dan dapat memanfaatkan berbagai promo. Di sisi lain, ada pula keluarga yang memilih berbelanja harian atau mingguan karena lebih sesuai dengan kondisi keuangan, kapasitas penyimpanan, maupun kebiasaan memasak mereka.

Pada akhirnya, tujuan berbelanja bukanlah memenuhi rak dapur atau mengikuti tren yang ramai di media sosial. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi tanpa membebani kondisi keuangan. Jadi, daripada sibuk membandingkan isi keranjang belanja dengan keluarga lain, saya lebih memilih menemukan pola belanja yang paling sesuai dengan kebutuhan keluarga kami dan pastinya kondisi ekonomi keluarga. 


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar