Saat Ibu Liburan Bersama Teman: Tips agar Perjalanan Tetap Seru dan Nyaman

 Liburan Bersama Teman: Tips agar Perjalanan Tetap Seru dan Nyaman

Pertengahan tahun 2025 lalu menjadi sebuah momen yang cukup berkesan bagi saya. Setelah sekian tahun, akhirnya saya bisa merasakan liburan bersama beberapa rekan kerja. Sebelumnya, saya juga pernah melakukan perjalanan serupa di tahun 2021. Saat itu, saya dan beberapa rekan kerja departemen melakukan perjalanan singkat ke salah satu objek wisata yang ada di Banjarbaru

Di tahun 2025 sendiri, saya dan rekan-rekan kerja yang terpilih berkesempatan untuk mengunjungi salah satu tempat outbond di kota Malang selama tiga hari dua malam. Karena kegiatan tersebut bertepatan dengan akhir pekan, sebagian peserta kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke berbagai destinasi lain di sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Saya sendiri bersama dua orang teman memutuskan untuk menghabiskan akhir minggu kami dengan mengunjungi kota Yogyakarta. Perjalanan ke Yogyakarta kala itu sebenarnya terasa sangat singkat namun tetap memberikan kenangan manis untuk saya dan kedua rekan kerja.  

Bagi saya, perjalanan ke Malang dan Yogyakarta ini adalah kedua kalinya saya pergi ke luar kota tanpa membawa serta anak. Sebelumnya, saya juga pernah mendapat dinas ke Jakarta dalam rangka pelatihan. Namun saat itu karena rekan kerja yang menemani saya adalah laki-laki, maka kami memilih berpisah saat mendapat kesempatan menjelajah kota Jakarta. Saya pergi sendiri, sementara ia memilih menghabiskan waktu dengan kegiatannya sendiri.

Karena itulah, perjalanan ke Malang dan Yogyakarta ini terasa berbeda. Saya bisa menikmati perjalanan bersama teman-teman, tanpa harus membawa anak dan memikirkan berbagai keperluan mereka selama berada di perjalanan.

Ternyata, menyenangkan juga sesekali bepergian seperti ini.

Liburan Bagi Ibu Bekerja  

Siapa pun pastinya sepakat bahwa liburan bisa menjadi salah satu cara untuk melepaskan diri sejenak dari kejenuhan dan rasa penat akibat pekerjaan maupun rutinitas sehari-hari. Tak hanya mereka yang masih single, ibu-ibu, termasuk yang bekerja seperti saya juga pastinya memerlukan waktu sejenak untuk ke luar dari rutinitas. 

Saya sendiri kemudian teringat pada almarhum Mpok Alfa, yang dalam VT viralnya dulu menyebutkan kalau jalan-jalan ke minimarket saja sudah menjadi kesenangan sendiri bagi ibu rumah tangga seperti dirinya. Bagi sebagian orang mungkin pergi ke minimarket bukanlah sesuatu yang istimewa. Namun bagi seorang ibu yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, anak, dan berbagai urusan keluarga, keluar sebentar dari rumah saja bisa menjadi hiburan tersendiri.

Bagi ibu bekerja seperti saya sendiri, kesempatan tersebut terkadang bisa datang melalui perjalanan dinas. Ketika mendapat tugas ke luar kota, tentu urusan pekerjaan tetap menjadi prioritas. Saya harus menyelesaikan tugas kantor terlebih dahulu sebelum memikirkan kegiatan lain. Namun ketika pekerjaan sudah selesai dan masih ada waktu luang, mengunjungi tempat wisata terdekat atau sekadar menikmati fasilitas hotel tempat menginap juga bisa menjadi bentuk me time tersendiri.

Dinas luar kota bahkan bisa menjadi kesempatan bagi ibu bekerja untuk merasakan bepergian tanpa keluarga. Kalau kebetulan melakukan perjalanan dinas bersama rekan kerja lain, kesempatan tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk menikmati waktu bersama. Bukan untuk mengabaikan pekerjaan, tentunya, tetapi sekadar mengambil sedikit waktu untuk menikmati kota yang sedang dikunjungi.

Ketika Ibu Berlibur Tanpa Keluarga

Bagi seorang ibu, berlibur bersama keluarga pastinya berbeda dengan berlibur bersama teman. Saat berlibur bersama keluarga, ibu kadang masih harus memikirkan hal-hal lain di luar perjalanan terutama yang berhubungan dengan anak-anak seperti pakaian yang harus dibawa anak, cemilan dan hal-hal lain yang membuat ibu tidak bisa menikmati perjalanannya sendiri. 

Bahkan ketika sedang berada di tempat wisata, perhatian ibu sering kali masih tertuju kepada anak.

Anak sudah makan belum?

Capek tidak?

Mau pulang atau masih ingin bermain?

Tempat ini aman untuk anak atau tidak?

Hal-hal kecil seperti itu mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian seorang ibu sampai terkadang kita tidak menyadari bahwa kita melakukannya hampir secara otomatis.

Hal yang berbeda tentunya akan ibu rasakan saat berlibur tanpa keluarga atau bersama teman-temannya. Saat berlibur sendiri atau bersama teman-temannya, ibu memiliki waktu untuk bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri tanpa harus memikirkan kesiapan anak, dan juga memilih tempat wisata tanpa harus memikirkan apakah anak-anak akan cocok dengan lokasi tersebut. Di momen berlibur tanpa keluarga ini membuat ibu bisa kembali menjadi dirinya sendiri. 

Ini bukan berarti ibu tidak memikirkan keluarga lho, ya. Karena kenyataannya meski berlibur sendiri atau bersama teman, ibu akan tetap mengingat keluarganya di rumah. Entah itu dalam bentuk telepon di malam hari atau membelikan aneka oleh-oleh untuk suami dan anak-anak di rumah. 

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berlibur Bersama Teman

tips liburan bersama teman

Meski menyenangkan, berlibur bersama teman juga membutuhkan persiapan. Bagaimanapun, setiap orang memiliki kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda. Supaya perjalanan tetap menyenangkan dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan.

1. Menentukan Lokasi dan Tanggal Liburan

Menentukan waktu liburan bersama teman mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi ibu bekerja ternyata tidak selalu mudah. Ada jadwal pekerjaan yang harus disesuaikan, ada anak-anak yang perlu diperhatikan, dan tentu saja ada urusan keluarga yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.

Karena itu, sebaiknya tanggal dan lokasi dibicarakan jauh-jauh hari. Dengan begitu masing-masing bisa menyesuaikan jadwal pekerjaan dan urusan di rumah. Tidak perlu memaksakan perjalanan yang terlalu jauh jika waktunya terbatas. Liburan singkat pun tetap bisa menyenangkan selama semua peserta merasa nyaman.

2. Menyiapkan Dana Liburan

Hal lain yang tidak kalah penting adalah masalah biaya. Sebelum berangkat, sebaiknya sudah ada kesepakatan mengenai perkiraan biaya perjalanan. Mulai dari transportasi, penginapan, makanan, tiket masuk tempat wisata, hingga biaya lain yang mungkin muncul selama perjalanan.

Kemampuan finansial setiap orang tentu berbeda. Karena itu, menurut saya tidak ada salahnya membicarakan anggaran sejak awal agar tidak ada teman yang merasa terbebani. Liburan bersama teman seharusnya membuat pikiran lebih ringan, bukan malah menambah beban setelah pulang. 

Selain itu menyiapkan dana liburan ini juga penting sekali agar liburan tidak menganggu keuangan keluarga. Kalau kata teman saya yang seorang Lifestyle Blogger Madura, ibu itu harus melek finansial agar keluarga jadi tangguh, 

3. Melakukan Pembagian Tugas 

Jika bepergian bersama beberapa orang, sebaiknya dilakukan pembagian tugas. Misalnya ada yang bertugas mengatur keuangan, menyusun itinerary, mencari penginapan, mengatur transportasi, atau mencari tempat makan. Dengan adanya pembagian tugas ini tentunya perjalanan bisa lebih terkoordinir dan jika ada hal yang di luar rencana juga bisa didiskusikan bersama.

Bukan berarti seluruh urusan perjalanan harus dibebankan kepada orang tertentu. Justru dengan membagi tugas, masing-masing bisa ikut berkontribusi sehingga tidak ada satu orang yang merasa harus mengurus semuanya. 

4. Menyamakan Ekspektasi

Ini mungkin terlihat sepele, tetapi menurut saya cukup penting. Ada orang yang senang membuat banyak agenda ketika bepergian. Ada pula yang lebih suka menikmati perjalanan dengan santai. Sebelum berangkat, sebaiknya dibicarakan ingin seperti apa liburan tersebut.

Apakah ingin mengunjungi banyak tempat? Apakah lebih banyak waktu di hotel? Apakah ingin berburu kuliner? Atau sekadar menikmati waktu bersama teman? Semakin jelas ekspektasinya, semakin kecil kemungkinan terjadi kesalahpahaman selama perjalanan.

5. Tidak Harus Selalu Melakukan Semuanya Bersama

Berlibur bersama teman bukan berarti setiap kegiatan harus dilakukan bersama-sama. Kalau ada teman yang ingin beristirahat sementara yang lain ingin jalan-jalan, tidak ada salahnya melakukan aktivitas secara terpisah untuk sementara waktu. Justru dengan memberikan ruang seperti ini, masing-masing bisa menikmati perjalanan sesuai kebutuhannya.

6. Menghargai Kebiasaan dan Kondisi Teman

Setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda. Ada yang mudah bangun pagi, ada yang lebih suka tidur lebih lama. Ada yang kuat berjalan jauh, ada pula yang cepat lelah. Begitu juga dengan pilihan makanan, kemampuan finansial, maupun kebutuhan untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga. Menurut saya, saling menghargai hal-hal kecil seperti ini penting agar perjalanan bersama tetap menyenangkan.

7. Tetap Memberi Kabar kepada Keluarga

Meskipun sedang menikmati waktu bersama teman, bukan berarti kita harus benar-benar lepas dari keluarga. Bagi saya, memberi kabar kepada suami atau anak justru membuat perjalanan terasa lebih tenang. Tidak perlu terus-menerus berkomunikasi, tetapi sekadar memastikan keluarga tahu kondisi kita sudah cukup. Dengan begitu, kita juga bisa menikmati liburan tanpa terus dihantui rasa khawatir.

Menikmati Waktu Bersama Teman Bukan Berarti Meninggalkan Keluarga 

Setelah menjadi ibu, mungkin kita terbiasa menghabiskan sebagian besar waktu untuk keluarga. Ditambah dengan pekerjaan, urusan rumah, dan berbagai tanggung jawab lainnya, waktu untuk diri sendiri sering kali menjadi sesuatu yang berada di urutan paling belakang.

Karena itulah, melakukan liburan bersama teman bisa menjadi pilihan bagi ibu untuk bisa beristirahat sejenak dari berbagai tugas dan pekerjaan rumah tangga. Bukan berarti kita ingin meninggalkan keluarga. Bukan pula berarti kita tidak memikirkan anak-anak. Namun terkadang kita hanya membutuhkan waktu untuk menjadi diri sendiri.

Menjadi seorang ibu memang merupakan bagian penting dari kehidupan kita. Begitu juga dengan menjadi seorang pekerja, istri, maupun anggota keluarga. Namun jangan lupa sebelum semua peran tersebut kita juga merupakan seorang perempuan yang memiliki teman, kesukaan, keinginan, dan kebutuhan untuk menikmati hidup. Liburan bersama teman bisa menjadi salah satu cara untuk mengingat kembali bagian diri tersebut.

Penutup 

Bagi sebagian orang, berlibur bersama teman mungkin adalah hal yang biasa. Namun bagi seorang ibu yang disibukkan dengan berbagai urusan rumah tangga dan pekerjaan, perjalanan bersama teman merupakan sesuatu yang mungkin harus diusahakan di sela-sela kesibukan.

Perjalanan saya bersama dua orang teman ke Malang dan Yogyakarta memang berlangsung singkat. Namun, pengalaman tersebut cukup berarti bagi saya. Dari perjalanan itu saya menyadari bahwa ternyata tidak apa-apa meninggalkan anak dan keluarga sejenak untuk menikmati waktu bersama teman dan menemukan kembali diri sendiri di tengah berbagai peran yang saya jalani.

Tentu saja, pergi tanpa anak bukan berarti kita bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawab sebagai ibu. Sebelum berangkat, ada hal-hal yang perlu dipersiapkan agar anak-anak tetap merasa nyaman dan kebutuhan mereka tetap terpenuhi selama kita pergi. Dengan begitu, kita bisa menikmati perjalanan dengan lebih tenang.

Pada akhirnya, liburan bersama teman bukan tentang seberapa jauh tempat yang kita datangi atau berapa lama kita pergi. Kadang, beberapa hari untuk tertawa, bercerita, dan menikmati waktu bersama teman sudah cukup untuk membuat kita pulang dengan perasaan yang lebih ringan.

Dan mungkin, sesekali memberi waktu kepada diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan. Kita hanya sedang mengingat bahwa di balik peran sebagai ibu dan pekerja, ada seorang perempuan yang juga membutuhkan waktu untuk menikmati hidup. 

Baca Juga

Posting Komentar

33 Komentar

  1. Ga apa-apa ya liburan bareng teman tanpa anak, karena Ibu juga berhak santai dan bersosialisasi, plesirnya pasti beda rasa tapi perlu karena suasananya beda dan bikin fresh pas pulang lagi ke rumah

    BalasHapus
  2. Ibuku jauh lebih banyak dan sering melakukan perjalanan ketimbang kami anak-anaknya haha. Rombongan pengajian mereka tuh bisa 3-4 kali pelesiran dalam setahun. Walau gak semua destinasinya harus jauh dan mahal. Tapi sekali agak jauh, bisa sampai ke Lombok sana. Ya drama-dramanya pasti ada apalagi sebagian besar mereka manula. Menurutku mengetahui kondisi kesehatan diri sendiri jadi poin terpenting, sebab kalau sampai sakit di jalan, maka akan menghambat gak hanya dia tapi juga rekan perjalanan secara keseluruhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibu-ibu dan rombongan pengajiannya itu memang suka banget ya jalan-jalan sama kayak ibuku dan nggak jauh-jauh dari ziarah. benar juga ni masukannya yan pastinya sebelum melakukan perjalanan juga kita harus mengetahui kondisi kesehatan ya agar tidak menyulitkan teman perjalanan nantinya

      Hapus
    2. Wkwk ini kek emakku juga sekarang kek gini :D

      Hapus
  3. Hahahaha, can relate!
    Aku dulu juga cukup sering liburan ama teman doang. Biasanya sih gegara undangan bloger atau menang quiz/ giveaway.
    Anakku beberapa kali komplain, "Ibu kok traveling melulu.. aku di rumah ama Uti." wkwkwkwk
    tapi yaaa, sekarang kayaknya udah mulai kebalik. anakku yg pergi2 mulu, aku yang ndekem di rumah :-)

    BalasHapus
  4. Setujuuuuu. Liburan bersama teman, bukan berarti si ibu atau si ayah egois. Krn memang perlu kok kita sesekali berlibur bukan dengan kluarga, supaya menikmati liburannya lebih maksimal.

    Aku sendiri rutin liburan dengan travel mates ku setahun sekali mba. Dan bersyukurnya suamiku ngasih izin. Krn dia sadar, ga bisa nemenin aku tiap saat utk traveling jadi aku dibolehin pergi asal dengan orang2 yg dia kenal.

    Sebaliknya, akupun ngizinin dia kalau memang ada acara trip dengan teman2nya. Sama2 saling mengizinkan aja.

    Dan seruu kok kalau bisa ngetrip dengan teman2 yg udah klik. Bisa saling bagi tugas, dan saling paham. Di antara aku dan temen2 travelku, aku tuh yg biasa kepalanya, Krn terbiasa booking segala macam dan jadi bendahara juga. So urusan keuangan, aku yg urus selama bepergian.

    2 temenku yg lain, Krn mereka lebih bagus skill komunikasi, jadi tugas utk yg maju kedepan kalau harus berhadapan dengan orang lokal 🤭😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget nih mba Fanny, saling kasih ijin dari pasangan sebelum traveling sama teman-teman itu penting sih.

      Nah. Part bagi tugas, paling nyaman dan mudah kalau travelling bareng teman-teman yang udah klik. Apalagi udah ada spesialisasi, jadi saling mempercayakan dan semua berjalan lancar. Walau kadang ada sedikit tantangan dan drama, semua berjalan okelah. Enjoy, dan beneran jadi momen healing & refreshing. Apalagi buat para ibu bekerja yaaa.

      Hapus
  5. Memang seru kalau keluar bareng teman-teman saja. Setuju banget pokonya, liburan sendiri atau dengan teman bukan berarti egois. Tapi ya memang tetep akan ada yang beranggapan begitu. Kadang cuma pengen keluar deket-deket rumah aja udah ada yang ngomong kan. Hahaha...

    BalasHapus
  6. Buat saya sendiri, liburan itu penghargaan terhadap pencapaian
    Jadi perlu dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin
    Bisa jadi setelah pulang liburan, semangat kerja dan ide brilian kembali muncul kan?
    Itu poin nya
    Jadi liburan sendiri itu bukan egois ya
    Karena ada kalanya kita harus bisa memprioritaskan diri baik dengan rekan kerja, keluarga maupun diri sendiri

    BalasHapus
  7. urusan membagi waktu memang tidak mudah, jadi kesempatan me time lewat liburan seperti ini berharga sekali. Setuju banget kalau liburan tanpa anak bukan berarti kita egois atau melupakan keluarga, tapi justru momen penting untuk charge energi dan menemukan kembali diri sendiri. Tips pembagian tugas dan menyamakan ekspektasi juga pas banget agar perjalanan tetap seru tanpa ada rasa tidak enak antar teman.

    BalasHapus
  8. Liburan tuh capek tapi hati rasanya penuh lagi. Semangat lagi buat jalanin rutinitas sehari-hari. Semoga aku dikasih kesempatan liburan juga tahun ini. Huhuuu.

    BalasHapus
  9. Aku akui sih. Perjalanan dinas ibu bekerja memang bisa jadi ajang untuk sekalian liburan. Soalnya, perjalanan dinas kan jarang yang bisa bawa keluarga. Jadi, ibu bekerja bisa sedikit punya waktu me time dari urusan rumah tangga.

    Tapi, aku juga setuju untuk point yang tetap mengabari keluarga. Mau bagaimana pun ada keluarga yang butuh kabar dan berharap nggak merasa khawatir yang berlebihan.

    BalasHapus
  10. Meskipun seorang ibu sedang bepergian dengan temannya alias melakukan quality time, tetap ya mengetahui keberadaan rumah adalah nomor 1, jadi bisa tahu kondisi di rumah sepeeti apa, sehingga traveling buat ibu pun juga trap nyaman.

    BalasHapus
  11. Setuju, Mbak. Sesekali memberi waktu kepada diri sendiri bukan bentuk keegoisan. Justru dengan punya waktu untuk diri sendiri, kita bisa kembali menjalani berbagai peran dengan pikiran yang lebih segar. Pergi bersama teman juga bukan berarti meninggalkan keluarga, tapi memberi ruang sejenak untuk menjadi diri kita sendiri di luar peran sebagai ibu, istri, atau pekerja.

    Kalau aku sendiri, di usia saat ini, ketika anak-anak sudah pada besar, justru ingin sering-sering liburan sama keluarga. Mungkin memang beda fase, ya. Dulu ketika anak masih kecil, punya waktu pergi dengan teman terasa seperti me time, sekarang malah merasa waktu bersama keluarga itu yang semakin berharga. ❤️

    BalasHapus
  12. Kadang, memang perlu ibu berlibur bersama teman-teman ya
    Aku pun melakukannya. Biasanya nggak jauh-jauh sih, kayak one day trip. Dulu pernah ke Malang dan Bromo bareng genks SMA

    BalasHapus
  13. Setuju banget, liburan bersama teman / rekan kerja bukan berarti mengabaikan keluarga, karena tetap bisa keep in contact dengan anak2 via gadget. Kalau liburan bareng teman emang kudu tenggang rasa ya, jadi tahu bagaimana sifat doski sebenernya.

    BalasHapus
  14. Bener banget. Ibu bekerja pun butuh quality time with friends atau dirinya sendiri. Berlibur bersama teman tentu kasih pengalaman menarik dan menjadi tantangan tersendiri juga. Oleh karena itu para suami sebaiknya kasih waktu untuk istrinya berlibur dengan nyaman.

    Tips yang mbak jabarkan detail dan aplikatif juga.

    BalasHapus
  15. Sesekali tidak apa-apa kok ibu liburan tanpa anak-anak, meskipun biasanya seperti ada yang kurang. Karena kita terbiasa diikuti mereka kemana-mana. Liburan sambil mengenang masa kita masih sendiri dulu he...he... sambil menghimpun energi untuk menyambut hari-hari yang penuh dengan perjuangan.

    BalasHapus
  16. Aku setuju banget mbak kalau liburan bareng teman itu yang perlu disiapkan bukan cuma itinerary, tapi juga mental.

    Soalnya yang bikin perjalanan berantakan kadang bukan destinasi atau cuaca, tapi beda kebiasaan.

    Ada yang maunya bangun pagi, ada yang baru hidup setelah kopi kedua; ada yang detail soal budget, ada juga yang prinsipnya “nanti aja dipikirin”.

    Aku suka poin tentang membicarakan budget dari awal. Kelihatannya sepele, tapi justru urusan uang paling gampang bikin suasana jadi awkward.

    Menurut aku, teman yang cocok diajak liburan bukan selalu yang paling dekat, tapi yang bisa diajak kompromi ketika rencana mulai melenceng.

    Karena ujung-ujungnya, yang dibawa pulang dari liburan bukan cuma foto, tapi juga cerita—semoga ceritanya lucu, bukan bahan unfollow. Haha.

    BalasHapus
  17. Ngasi masukan juga sebaiknya liburan sama teman ibu ini dijadwalkan, selain bisa jadi rutin, persiapan keuangannya juga bisa lebih siap, jadi mantap kan

    BalasHapus
  18. Saya pernah melakukan beberapa kali perjalanan bersama rekan kerja ke beebrapa tempat destinasi wisata. Emang menyenangkan jadi ehaling produktif untuk mengembalikan semangat agar bisa kembali fokus bekerja. Perjalanan menyenangkan dan kekompakan trrjaga karena memang sudah saling mengenal satu sama lain yaa...jadi atur² ini itu jadi lebih mudah. Jangan lupa menabuung hehehe...biar budgetnya tersedia...saat akan jalan².

    BalasHapus
  19. Sejak menikah belum pernah nih punya kegiatan bersama teman yang sampai menginap. Kalau pergi seharian gitu masih pernah. Mungkin karena berturut-turut mengasuh balita ya. Belum tega rasanya meninggalkan kalau mereka masih balita hehehe...

    Tapi bener sih, pergi liburan bersama teman bukan berarti meninggalkan keluarga. Dan untuk liburan perlu persiapan matang agar nantinya berjalan dengab lancar.

    BalasHapus
  20. Aku beberapa kali juga meninggalkan anak2ku ma bapaknya saat liburan. Malah udah aku tinggal sejak bocil keknyaa =))
    Tapi tetep ya emak2, kesadaran buat call, ya supaya anak2 masih inget emaknya aja :D
    Jujur persiapanku nggak terlalu banyak karena mereka juga klop ma bapaknya, jadi kadang kalau ibunya nggak di rumah juga B aja =))
    Menurutku juga tak perlu merasa bersalah kalau sesekali liburan sama teman, toh, nanti baliknya fresh dan juga membawa manfaat baik buat keluarga.
    Kalau anak2ku biasanya yang paling ditunggu oleh2 setelah emaknya liburan :D

    BalasHapus
  21. Nah nah liburan bareng teman memang seru, tapi kalau gak dipersiapkan bisa jadi drama juga ya .. PR banget bayangin udahannya nanti.. Tipsnya mba antung relatable banget, terutama soal menyamakan budget dan itinerary dari awal. Jadi lebih enak nikmatin perjalanan tanpa sibuk mikirin hal-hal kecil. Paling penting tetap fleksibel dan saling memahami selama liburan. Komunikasi is key cenah ya

    BalasHapus
  22. ini sangat cocok bagi yang suka jalan-jalan. yang utama memang soal finansial sih selain kemampuan fisik yang maksimal dan tak lupa persiapan p 3k harus dibawa agar tidak kebingungan saat di perjalanan

    BalasHapus
  23. Jalan bareng temen kantor terutama pas habis kerjain project atau kerja tim yang dar der dor tuh kayaknya obat healing sih hikss...supaya bs merasakan kelegaan bareng2 setelah kerjaan yg super stressfull yang akhirnya bisa dilalui hehehe

    BalasHapus
  24. Waktu masih kerja, saya sering ditugaskan keliling ke berbagai provinsi. Jadi punya pengalaman bertoleransi dengan berbagai karakter saat jalan dan menginap bareng. Misalnya ada salah seorang teman sekamar yang hanya bisa tidur kalau tv nyala terus semalaman. Ya udah lah saya mengalah aja. Tapi, memang mau toleransi kayak apapun, harus ada saling mengertinya juga. Makanya sekarang pun saya kalau jalan bersama teman suka lihat-lihat dulu. Kalau ada yang banyak dramanya mendingan saya gak ikut, deh :D

    BalasHapus
  25. Menyamakan ekspektasi ini sih yang kadang tricky. Bagusnya memang kalau bisa saling jujur dan terbuka, ya. Jangan seolah setuju dengan kesepakatan, tapi di belakang ternyata menyimpan ganjalan. Memang jadinya tidak semua bisa terpenuhi karena masing-masing bisa punya ide dan kondisi kesehatan sendiri yang belum tentu bisa dikompromikan. Menyediakan waktu buat jalan-jalan bebas bisa jadi jalan tengahnya, jadi tetap ada waktu buat me time tapi juga banyak kesempatan seseruan bareng.

    BalasHapus
  26. Liburan bareng teman memang bisa jadi pengalaman yang seru sekaligus menguji kesabaran. Mulai dari menyamakan jadwal, menentukan destinasi, sampai urusan budget, semuanya perlu dibicarakan dari awal. Tips seperti ini penting banget supaya pulang liburan tetap bawa kenangan manis, bukan drama pertemanan.

    BalasHapus
  27. Toleransi sesama teman itu harus timbal balik
    Jangan jadi pihak yg egois kecuali risikonya gak bakalan punya teman sehati
    Mengalah dan saling memahami, bukan berarti kita mau diinjak. Tapi saling memajukan sehingga keharmonisan bisa tercipta

    BalasHapus
  28. Saya dan teman-teman juga menerapkan ini, berlibur bareng tanpa membawa anak dan suaminya dan menerapkan batasan jelas jadi liburan bersama tetap aman dan nyaman.

    BalasHapus
  29. seru banget ya akhirnya bisa liburan tanpa keluarga dan bareng teman pula, tipsnya boleh nih di ikuti buat IRT juga, ya kan IRT juga butuh healing tanpa keluarga, hehe

    BalasHapus
  30. kadang kita sering ngerasa bersalah ya kalau mau liburan apalagi tanpa bawa anak, tapi ibu juga perlu looh sesekali liburan tanpa anak, "cuti peran" gitu lah istilahnya buat saya. jadi jangan ngeras abersalah dan have fun aja. apalagi kalau komunikasi dg pasangan udah oke. dan jadi lebih lengkap rasanya liburannya bareng teman.....aah kebayang sudah jadi pengen juga, hahaha

    BalasHapus