Ceritaku Menumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alpha

Ceritaku Menumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alpha

Sebagai ibu bekerja yang berusaha untuk konsisten membaca buku, kadang saya justru merasa gagal ketika melihat kedua anak saya yang sulit sekali diajak membaca. Di usia mereka yang menginjak sembilan dan tujuh tahun, kebiasaan membaca mereka masih belum terbentuk. Bahkan sering kali saya harus membujuk, mengingatkan, bahkan sedikit memaksa agar mereka mau membuka sebuah buku.

Padahal sejak mereka masih bayi saya secara rutin membelikan buku untuk mereka dan mengajak ke perpustakaan untuk mengenalkan dunia buku. Bahkan jauh sebelum menikah saya juga sudah membeli 1 setbox novel Roald Dahl yang saya temukan di bazar buku. Dalam bayangan saya saat itu, kelak buku-buku itu akan menjadi teman masa kecil anak-anak saya. 

Sayangnya apa yang saya impikan belum terealisasi karena anak-anak masih belum tergerak untuk membuka buku-buku tersebut.

Ketika Melihat Anak-anak yang Suka Membaca

Di era sekarang, melihat anak-anak yang gemar membaca buku bagi saya rasanya seperti sebuah keajaiban. Pernah satu kali saya menemukan unggahan di media sosial tentang anak seorang anak yang sedang membaca buku tebal di tempat umum dan kemudian menjadi viral.

Ada pula anak-anak yang sejak usia tiga atau empat tahun sudah memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal. Ada yang tertarik pada tubuh manusia dan biologi, ada yang begitu hafal berbagai jenis dinosaurus, sementara yang lain tertarik dengan luar angkasa atau sejarah. Saya tentu tidak tahu seperti apa keseharian mereka di rumah, tetapi saya membayangkan ada proses panjang yang membuat rasa ingin tahu tersebut tumbuh dan berkembang termasuk diantaranya adalah dengan membaca buku.

Melihat anak-anak ini, mau tak mau saya pun harus melihat kembali perjalanan saya sebagai seorang ibu. Memang selama ini saya sudah cukup rajin menyediakan berbagai media bacaan di rumah. Sayangnya sepertinya saya tak cukup telaten dan rajin menemani mereka membaca buku ketika masih kecil. Mungkin akibatnya, kebiasaan membaca memang tidak pernah benar-benar terbentuk pada diri mereka. 

Saya memang membelikan berbagai buku, tetapi tidak cukup sering membacakan ceritanya kepada mereka. Saya justru hanya meletakkan buku-buku tersebut dan berharap anak-anak akan mengambilnya sendiri, membacanya, kemudian jatuh cinta seperti yang saya alami.

Kenangan Perkenalan dengan Buku

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu ingat sejak kapan membaca buku berubah menjadi sebuah kegemaran. Apakah itu dimulai ketika saya diam-diam membaca koleksi buku di rumah almarhum kakek saat masih SD? Atau ketika saya mulai rajin berkunjung ke perpustakaan sekolah untuk meminjam buku cerita? Atau mungkin justru lebih sederhana, ketika saya melihat almarhum ayah yang hampir setiap pagi membaca koran sebelum berangkat kerja?

Yang jelas, jika diberi pilihan antara melakukan kegiatan outdoor activity atau membaca, saya hampir selalu memilih membaca.

Sampai sekarang saya masih ingat sekali sebuah cerita dari buku yang saya baca tentang anak yang di kepalanya tumbuh pohon karena berbohong. Saya mungkin sudah lupa judul bukunya, tetapi cerita itu masih melekat di ingatan. Sejak saat itu perpustakaan menjadi sebuah tempat yang rajin saya kunjungi untuk meminjam buku cerita dan tenggelam di dalamnya. 

Saya sendiri cukup beruntung karena kemudian orang tua bersedia memfasilitasi kesukaan membaca saya dengan berlangganan majalah Bobo. Kalau kata anak sekarang, ini adalah sebuah privilege bagi anak kelahiran 90-an. Padahal saat itu keluarga kami juga bukan berasal dari kalangan berada, namun ibu saya tanpa banyak tanya menyetujui permintaan saya untuk bisa membaca majalah bobo setiap minggu. 

Kebiasaan membaca majalah ini terus berlanjut hingga saya beranjak SMA di mana saya secara rutin membeli majalah remaja untuk mengetahui berbagai trend yang berlaku di masa itu. Bedanya untuk masa SMA ini, saya menggunakan uang saku yang disisihkan agar bisa membeli majalah remaja kesukaan seperti Aneka dan juga Kawanku. Selain majalah, masa SMA saya juga diisi dengan membaca aneka jenis komik yang saya sewa di rental komik tak jauh dari sekolah. 

Tantangan Membaca Generasi Alpha

Perkembangan zaman membuat saya berpikir kembali. Benarkah hanya dengan menyediakan dan membiasakan membaca buku pada anak bisa menumbuhkan minat baca mereka? Jika dibandingkan dengan masa kecil saya dulu, Generasi Alpha seperti anak-anak saya tumbuh dengan pilihan hiburan dan sumber informasi yang jauh lebih banyak. 

Dulu televisi hanya ada beberapa pilihan saluran dan saya tidak punya banyak pilihan untuk menghabiskan waktu selain bermain, membaca, atau menonton acara yang kebetulan sedang tayang. Bermain video game pun bukan sesuatu yang bisa dilakukan kapan saja karena perangkat dan permainannya masih relatif mahal.

Selain banyaknya pilihan hiburan dan sumber informasi, rentang perhatian juga menjadi tantangan yang saya rasakan ketika mencoba mengajak anak membaca. Bahkan saya sebagai orang dewasa saja kadang kesulitan menyelesaikan beberapa halaman buku ketika konsentrasi sedang tidak bagus. Karena itu saya bisa memahami mengapa membaca buku yang membutuhkan perhatian lebih lama terasa kurang menarik bagi anak yang terbiasa mendapatkan hiburan secara cepat dari layar.

Anak sulung saya, Yumna, kadang hanya bisa betah membaca beberapa halaman sebelum mulai mencari kegiatan lain. Bacaannya juga masih buku cerita bergambar. Pada kesempatan lain, dia bisa membaca cukup lama ketika menemukan buku dengan topik yang benar-benar membuatnya penasaran. 

Dari situ saya mulai menyadari bahwa mungkin persoalannya bukan semata-mata karena dia tidak suka membaca. Bisa jadi dia belum menemukan bacaan yang benar-benar membuatnya ingin terus membuka halaman berikutnya.

Belajar Berdamai dengan Kebiasaan Membaca Anak

Sebagai orang tua, pastinya ada banyak tantangan yang muncul dalam mendidik anak. Salah satunya adalah terkait membangun kebiasaan membaca yang ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya pikir karena sebagai ibunya saya suka membaca dan sering membeli buku dan ke perpustakaan, maka anak-anak otomatis akan mengikutinya. 

Apalagi di masa kecil juga saya tidak dibesarkan khusus dengan kebiasaan membaca. Tidak ada jadwal khusus membaca atau orang tua yang secara rutin membacakan buku untuk saya. Satu-satunya contoh yang saya ingat adalah almarhum ayah yang kerap membaca koran.

Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membandingkan kebiasaan membaca anak-anak dengan pengalaman saya sendiri. Saya lupa bahwa mereka bukan saya dan mereka tumbuh di zaman yang berbeda.

Saya tumbuh ketika buku, majalah, dan komik menjadi salah satu hiburan yang mudah ditemukan. Sementara anak-anak saya memiliki begitu banyak pilihan lain. Mereka bisa bermain, menonton video, mencari informasi, atau berinteraksi dengan teman-temannya hanya melalui sebuah layar.

Saya juga mulai menyadari bahwa membaca buku tidak selalu harus dilakukan melalui buku fisik. Sekarang ada buku digital yang bisa dibaca melalui ponsel atau perangkat lain seperti yang dilakukan dilakukan Mbak Trisuci seorang Travel Blogger Medan. Artinya, layar yang selama ini saya anggap sebagai salah satu tantangan dalam membangun kebiasaan membaca anak ternyata juga bisa menjadi media untuk membaca.

Saya tidak tahu apakah kelak kedua anak saya akan menjadi pembaca seperti ibunya. Bisa saja mereka memiliki kegemaran yang berbeda. Dan mungkin saya harus belajar menerima kemungkinan tersebut.

Namun saya tetap ingin menyediakan buku di rumah. Bukan lagi dengan harapan bahwa keberadaan buku-buku itu secara otomatis akan membuat mereka jatuh cinta pada membaca, tetapi karena saya ingin mereka tahu bahwa selalu ada pilihan untuk membuka sebuah halaman ketika mereka ingin mencari cerita, pengetahuan, atau sekadar tempat untuk beristirahat sejenak dari dunia yang begitu ramai.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar