Usai libur Lebaran tahun 2026 lalu, perusahaan tempat saya bekerja memberlakukan jam kerja baru untuk karyawan.Jam kerja yang mulanya dimulai sejak pukul 07.30 diubah menjadi pukul 08.00. Awalnya saya tidak ngeh dengan perubahan ini, sampai kemudian seorang teman kantor memberitahukannya lewat pesan WhatsApp.
"Sudah tahu kan nanti kita masuknya jam delapan?" tanyanya waktu itu beberapa hari jelang masuk kerja.
"Ah yang benar?"
"Iya. Baca aja tuh di pengumuman grup."
Saya pun segera membuka lampiran pengumuman yang selain dikirim ke email perusahaan juga dibagikan di grup tiap departemen. Benar saja. Jam kerja karyawan diundur 30 menit sementara jam pulang tetap pukul 16.30 sore.
Bagi sebagian orang mungkin ini hal biasa. Tapi bagi saya, dan mungkin ratusan karyawan lainnya, ini adalah kabar yang cukup membahagiakan.
"Alhamdulillah bisa santai sedikit pas pagi hari," balas saya kemudian.
Pagi Hari yang Hectic Bagi Ibu Bekerja
Pagi hari bagi seorang ibu bekerja memang identik dengan kata
hectic.
Rutinitas ibu bekerja ini bahkan dimulai dari sebelum subuh, dan berlanjut tanpa jeda hingga waktunya berangkat kerja.
Untuk saya sendiri, pagi saya dimulai dengan menyiapkan menu makan siang untuk saya dan suami yang bekerja di rumah. Setelah itu dilanjutkan dengan pekerjaan domestik ringan seperti merapikan rumah dan memastikan semuanya siap ditinggal. Setelah semua pekerjaan domestik selesai, maka kegiatan saya berikutnya adalah membangunkan anak-anak.
Di sinilah "drama pagi" biasanya dimulai.
Namanya anak-anak kadang sulit sekali bangun pagi dan diburu-buru untuk mandi dan bersiap. Kadang mereka sudah bangun namun tertidur lagi. Kadang sudah waktunya mandi pun masih malas-malasan. Belum lagi perkara menyiapkan buku pelajaran yang kadang harus diingatkan setiap hari.
Meski saya dan suami sudah berbagi tugas karena kami
tidak memiliki ART, suasana pagi tetap saja terasa padat dan penuh tekanan. Semuanya seolah berpacu dengan waktu.
Tak selesai sampai di situ, momen perjalanan dari rumah ke kantor juga tak kalah mendebarkan. Saya sendiri sebenarnya memiliki batas maksimal untuk berangkat ke kantor agar tidak terlambat. Namun, selisih satu atau dua menit saja membuat saya mau tak mau harus memacu motor secepatnya sehingga bisa tiba di kantor tepat waktu.
Padahal, ngebut di jalan tentu bukan pilihan yang bijak. Belum lagi kadang saya juga harus pintar menyelip di antara motor dan mobil yang ada di jalan. Jujur hal ini sebenarnya cukup membahayakan apalagi saya membonceng anak-anak di motor.
Ketika Jam Kerja Mundur, Ibu Pun Bisa Bernafas Lega
Sejak diberlakukannya jam kerja baru, bisa dibilang ada perubahan yang cukup besar terasa dalam keseharian saya. Jam bangun tidur saya sebenarnya tidak berubah, begitu pula dengan jam sekolah anak. Namun dengan adanya tambahan waktu 30 menit ini, saya bisa lebih santai dalam mempersiapkan hari seperti memasak makanan dan membereskan rumah.
Saya juga bisa mempersiapkan anak-anak dengan lebih santai. Tak perlu lagi saya berteriak agar anak-anak bisa lebih cepat mandi atau berpakaian. Saya hanya perlu berkata, "Mama nggak masalah lho ya berangkat jam setengah delapan soalnya mama masuknya jam delapan. Begitu kata saya sambil memulas wajah dengan
make up minimalis ibu bekerja.
Menurut saya kalimat ini sudah cukup memberi informasi tentang pentingnya bagi mereka untuk tetap bersiap seperti biasa kalau tidak ingin terlambat masuk sekolah. Dan setelah semua sudah siap, saya pun bisa berangkat bersama anak-anak dengan lebih santai dan tak perlu ngebut karena dikejar waktu.
Perubahan Kecil Namun Berdampak Besar
Jika dipikir-pikir, perubahan ini hanyalah soal 30 menit. Tidak lebih. Namun ternyata, tambahan waktu 30 menit di pagi hari ternyata memberikan dampak yang sangat besar dalam keseharian terutama di pagi hari. Dan sebenarnya, hal ini sudah menjadi impian saya sejak bertahun-tahun lalu terutama setelah saya memiliki anak.
Dari pihak perusahaan sendiri, kebijakan ini ternyata bertujuan agar para orang tua memiliki waktu untuk mengantar anak terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor. Sebuah kebijakan sederhana, namun terasa sangat relevan bagi karyawan yang memiliki keluarga.
Dari kebijakan perusahaan ini saya jadi menyadari bahwa terkadang yang kita butuhkan bukanlah perubahan besar dalam hidup. Hal kecil seperti tambahan waktu 30 menit saja bisa membuat rutinitas terasa lebih manusiawi. Emosi lebih stabil, hubungan dengan anak lebih hangat, dan hari pun bisa dijalani dengan lebih nyaman.
Penutup
Sebagai ibu bekerja, kita sering kali terbiasa menjalani pagi dengan tergesa-gesa dan mengerjakan pekerjaan layaknya robot. Seolah-olah waktu selalu kurang, dan semuanya harus dilakukan dengan cepat. Padahal, sedikit ruang untuk bernapas bisa membuat perbedaan besar.
Bagi saya, tambahan 30 menit ini bukan sekadar perubahan jam kerja. Ini adalah kesempatan untuk menjalani pagi dengan lebih tenang, lebih sabar, dan lebih hadir bersama anak-anak.
Bagaimana dengan teman-teman sekalian? Menurut kalian, apakah jam kerja fleksibel seperti ini penting untuk para orang tua bekerja?
Baca Juga
24 Komentar
Respek sama perusahaannya yang jeli menyikapi permasalahan pegawai berstatus orang tua. Sebab ya, memang kayak yang Mbak Yana tulis, drama pagi anak sekolahan tuh adaaaa aja :) dengan tambahan 30 menit harapannya, bisa bikin nggak gedebak-gedebuk banget di pagi hari ya ^^ dengan waktu kerja melewati anak sekolah masuk, harapannya lalu lintas jalanan juga lebih lancar ya.
BalasHapusBuat yang terbiasa tepat waktu, kalo sebelum jam 8 teng belum ada di tempat kerja berasa udah kayak telat banget.
BalasHapusAlhamdulillah walau cuma 30 menit pasti sangat berarti banget, terutama buat para ibu, jadi bisa punya banyak waktu.
Kalo saya mah punya waktu 30 menit lagi bisa dipake tidur lagi, hehe
Mau jam berapapun, saya tetap hectic tiap pagi mbak, hihihi.
BalasHapusBahkan, kalau lagi mode super sibuk, alarm saya tuh bisa saya bunyikan sedari jam 2.. lalu diulang per setengah jam sekali sampai jam 9 pagi! Karena memang menurut saya pribadi, yang namanya momen pagi itu momen krusial si. Sebisa mungkin persiapan sudah disusun rapi, dan rumah pun sudah tertata sebelum berangkat kerja.
Makanya aku salut si sama tempat kerjanya mbak. Bisa melihat problem yang terjadi lalu membuat kebijakan positif.
wah bener banget nih apalagi kerja di jakarta beneran waktu itu sangat berharga ya, mas Fajar
HapusSetuju sih. Tp jujurnya kalau di JKT itu ga bikin perubahan besar. Krn macet nya parah. Dulu zaman msh kerja, aku juga masuk jam 8 mbak . Itu hrs ada di kantor. Tp faktanya aku hrs kluar jam 4.30 atau 5 pagi paliiiing telat dari rumah. Krn kalau aku kluar lewat dr jam 5, wassalam aja... Pasti telat sampai kantor. Jaraknya ga jauh, tp macetnya, dan Transjakarta yg penuh kalau udh lewat jam 5 pagi . Drpd aku keringetan desak2an, mending berangkat LBH pagi, dan sambung tidur di kantor 😂😂.
BalasHapusSewaktu suatu institusi mengubah jam kerja, sebenarnya tindakan ini juga mengubah desain operasional yang memengaruhi performa harian masing-masing pegawainya. Pegawainya bisa lebih fokus pada pekerjaannya, karena kapasitas mentalnya masih cukup, sebab dia sudah tahu bahwa masalah operasional di rumahnya (yang berupa menyiapkan anak-anaknya sekolah itu) sudah terkendali.
BalasHapusAlhamdulillah~
BalasHapusIkutan senang dengan perubahan jam kerja ini.. karena semenit pun terasa berarti kalau di pagi hari yang urusannya serba satset. Apalagi Senin. Yang semua orang sangat tepat waktu memulai harrii.. huhuhu.. kalo telat setitik aja, dampaknya panjang.. yang kena macet laah.. jadi lama laggii sampe ke sekolah anak-anak dan lanjut ngantor yaa, ka Antung.
Barakallahu fiik~
Alhamdulillah ya Mbak Ayana, jam masuk kantor mundur 30 menit jadi gak harus ngebut di jalan (bahaya juga kalau tiap hari ngebut).
BalasHapusTapi jam kerjanya panjang juga ya kalau pulang jam 5?
aku sebenarnya pulang jam 16.30 sih tapi anakkya ngaji sampai jam 5 jadi aku pulangnya jam 5 juga. hehe
HapusJangankan yang ibu bekerja ya, buat saya yang nggak kerja kantoran, tiap pagi juga hectic. Karena kan anak sekolah dan suami kerja. Jd tetap ada tenggat waktu yang harus dikejar. Apalagi buat ibu yang kerja, pastinya makin banyak yang harus disiapkan sebelum berangkat. Tambahan waktu 30 menit itu lumayan berarti ya.
BalasHapusBtw kok kantornya mau mundurin jam masuk tapi jam pulang tetap? Kan berarti jam kerja karyawannya berkurang. Jarang terjadi.
Alhamdulillah. Kebayang sih rempongnya ibu-ibu yang ngantor itu di pagi hari. Semoga dengan perubahan jam kerja ini bisa membawa dampak positif ke Mba Antung dari segi produktivitas dan sisi psikologisnya. Bisa jadi lebih rileks dan atur waktu supaya nggak riweuh banget di pagi hari.
BalasHapusSyukurlah ada perubahan waktu kerja ya Kak.
BalasHapusPenambahan setengah jam ini, mungkin terlihat sepele, tapi punya manfaat positif ya, khususnya yang sudah berkeluarga, jadi bisa mengatur ritme bersama keluarga lalu kemudian berangkat kerja
Kantor saya pun masuknya jam 8 pagi mba. Lumayan bisa berangkatnya jam 7-an walau kadang masih suka terlambat 1 - 5 menit, heheheh. Tantangannya ibu2 yang kerja pasti di anak, apalagi kalo masih kecil2, susah banget mau ditinggal2nya. Nanti ketika anak sudah sekolah, bakal lebih challenging lagi ya. Semangat buat kita, Mba.
BalasHapusAlhamdulillah, jam kerja mundur 30 menit ya Mba. Kalau aku selama kerja, misal ramadan malah jadi lebih awal 07.30 dan hari biasa 08.00
BalasHapusTapi bener sih, berimpact sekali kalau ke Ibu bekerja, setidaknya bisa persiapan lebih tenang dan nggak terburu-buru banget ya. 30 menit yang sangat berarti, syukurlah perusahaan sangat peka.
bagus sekali kebijakan yang diberikan oleh perusahaan tempat Mbak Antung bekerja, ya. dan waktu 30 menit ini jelas sangat berharga. pastinya untuk meminimalisir drama-drama yang terjadi di waktu pagi. Tapi kuncinya tetap ada dianak-anak. mereka harus segera bergegas juga. Karena walau ada tambahan 30 menit, bahkan sejam, kalau anak-anak nanti dulu... nanti dulu... ya sama saja hehehe.
BalasHapusSalut buat tempat kerjanya. saya ikutan lega ngebaca ceritanya.... Memang benar ya, tambahan 30 menit itu kedengarannya sebentar, tapi bagi seorang Ibu, itu adalah "kemewahan" yang luar biasa. Pagi hari yang biasanya terasa seperti balapan F1 sekarang bisa dijalani dengan lebih manusiawi.
BalasHapusSetuju sih kalau kebijakan seperti ini membuat emosi lebih stabil. Bayangkan, memulai hari tanpa drama teriak-teriak ke anak pasti membuat mood kerja jadi jauh lebih positif.
Perusahaan yang peduli pada aspek domestik karyawannya seperti ini patut dicontoh. Sehat terus untuk Mbak Antung dan keluarga!
Tulisan ini relate banget dengan kehidupan ibu bekerja, terutama bagian “drama pagi” yang rasanya hampir dialami banyak orang tua setiap hari 😊 Kadang_kadang kita memang bperlu perubahan, tidak harus perubahan besar, tapi ruang bernapas kecil yang bisa bikin suasana rumah jadi lebih tenang dan perjalanan ke kantor lebih aman. Salut banget kepada perusahaan yang punya kebijakan sepeka ini, karena fleksibilitas waktu ternyata bisa berdampak besar pada kesehatan mental dan quality time bersama keluarga. Harapan saya, semoga makin banyak tempat kerja yang memahami kebutuhan para orang tua khususnya ibu bekerja seperti ini, sehingga semua terasa lebih mudah dijalani❤️
BalasHapusMeskipun 30 menit, ituberharga banget. Beneran deh bisa sedikit selow wkwkwk.
BalasHapusDrama pagi seperti nya rata terjadi di rumah dengan anak masih usia sekolah hingga kuliah deh. Cuma kitanya ga tahu gimana cerita mereka masing-masing
Saya pun setelah sholat subuh langsung berjibaku urusan dapur untuk masakan hari itu dan bekal untuk kami ber5
Bagus sekali kebijakan perusahaannya yang memundurkan masuk kerja 30 menit dari biasanya sehingga memberikan kesempatan juga waktu untuk bernafas sejenak di pagi hari sebelum memulai pekerjaan dan menurut saya ini bisa mempengaruhi kualitas hidup dan juga Semoga bisa meningkatkan kinerja ya
BalasHapusSeneng deh kalo ada perusahaan yg respect bgt ama karyawannya. Meski bukan hal yg wah, tapi pengunduran jam kerja sedikit lebih siang gitu aja udh bikin lega. Kebayang tuh kalo di Jabodetabek. Mereka ada yg berangkat sejak jam4 pagi utk bs sampe di Jkt jam7. Telat dikit bs molor lagi tuh bs sampe 30 menit atau bahkan lbh.
BalasHapusMknya kalo di Jabodetabek tuh, para orangtua terutama yg naik kereta, mereka ga pernah bs nyapa anak2nya. Ya bayangin aja, berangkat saat masih gelap, anak2 msh tdr. Pas pulang, anak2 jg udh tdr. Kebayang deh sedihnya ortu demi menafkahi anak sampe begitu.
Keren banget perusahaannya ya memperhatikan kebutuhan karyawan yang juga kebanyakan para orangtua untuk mengurus anak-anak dulu jadi lebih tenang bersiap-siap yaa.. salut.. semoga karyawan juga jadi lebih produktif..
BalasHapusPerusahaan yang memahami karakter karyawannya tuh keren sekali
BalasHapusBikin senang karena sedikit ada nafas lega bagi karyawan khususnya yang berstatus sebagai ibu juga di rumah
30 menit itu bisa cukup untuk melakukan banyak hal dan semoga terus semangat bekerja dengan perusahaan yang memanusiakan karyawannya
Wah lumayan banget tu mbak kalau masuk kantornya jadi agak siangan dikit,s ehingga buat para working mom nggak terlalu gedubrakan ya, apalagi kalau masih pakai standar pengaturan waktu yang sama seperti sebelumnya, jadi bisa ada spare waktu buat mempersiapkan kebutuhan keluarga dan utamanya diri sendiri dengan lebih baik juga.
BalasHapusHihihi iya samaan kek di sini, nelat semenit dua menit aja impact-nya tu panjang ke belakang,apalagi buat yang anak kereta haha :D
Jadi penasaran apakah ada seorang "ibu" juga di balik jam masuk kantor yang dimundurin ini? Atau malah yang ngusulin idenya adalah bapak2? hehe
Alhamdulillah mundur ya mbak. Jadi nggak terlalu gedebukan ya. Klo suamiku, justru sekarang jam kerja nambah sejam. Masuk 30 menit lebih pagi dan pulang lebih lama 30 menit
BalasHapus