Tips Berhemat di Masa Ekonomi Sulit untuk Keluarga


Tips Berhemat di Masa Ekonomi Sulit untuk Keluarga

Beberapa waktu terakhir, saya cukup sering menemukan konten terkait berbagai tips berhemat dan menurunkan gaya hidup di masa ekonomi sulit. Konten seperti ini dibagikan bukan hanya oleh pengguna media sosial biasa, tetapi juga influencer keuangan yang memang memiliki pemahaman lebih terkait pengelolaan finansial.

Dari banyaknya pembahasan tersebut, saya merasa semakin banyak masyarakat yang mulai khawatir terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Saya sendiri juga bisa merasakan perubahan ekonomi ini. Harga barang kebutuhan pokok yang terus meningkat membuat uang belanja yang ditetapkan rasanya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap kali saya berbelanja ke pasar atau ke minimarket, uang Rp100.000 melayang dengan sangat cepat. 

Belum lagi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS, yang pada akhirnya ikut memengaruhi harga berbagai kebutuhan sehari-hari.

Tanda-tanda Sebuah Negara Mengalami Krisis Ekonomi

Tanda-tanda Sebuah Negara Mengalami Krisis Ekonomi


Dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, wajar jika mulai muncul kekhawatiran apakah Indonesia akan kembali mengalami krisis ekonomi seperti tahun 1997.

Jika berkaca pada pengalaman masa lalu, Indonesia pernah merasakan pengalaman pahit krisis ekonomi di tahun 1997. Saat itu nilai Rupiah anjlok dari sekitar Rp2000 menjadi hampir Rp20.000 per dolar AS dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menyebabkan inflasi melonjak dan harga kebutuhan pokok meningkat drastis.

Sama seperti keluarga lain di masa itu, keluarga kami juga pastinya merasakan dampak dari inflasi ini. Bayangkan dulu harga mie instan yang hanya 300 rupiah naik menjadi hampir 1000 rupiah. Belum lagi harga kebutuhan pokok lainnya seperti beras dan yang lainnya. 

Untuk menghemat pengeluaran, ibu saya mulai mengganti beras yang biasa kami makan menjadi beras pemerintah yang sebelumnya tak pernah kami sentuh. Bahkan ada juga orang-orang yang memilih menggunakan kain sebagai pengganti pembalut demi mengurangi pengeluaran rumah tangga.

Lalu apakah kondisi negara kita saat ini sudah memasuki krisis ekonomi?

Jika dilihat dari pergerakan ekonomi, ada sedikit perbedaan antara krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 dengan apa yang terjadi sekarang. Dulu nilai rupiah anjlok dalam waktu sangat cepat sehingga dampaknya langsung terasa di masyarakat. Sementara sekarang, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi secara perlahan sehingga dampaknya juga terasa bertahap.

Meski begitu, kondisi ekonomi yang terasa semakin berat tetap membuat banyak masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, ada beberapa tanda-tanda sebuah negara mengalami krisis ekonomi, yakni:
  • inflasi tinggi,
  • harga kebutuhan pokok naik,
  • nilai mata uang melemah,
  • meningkatnya pengangguran,
  • daya beli masyarakat menurun,
  • hingga banyaknya perusahaan yang melakukan PHK.

Tips Berhemat di Masa Ekonomi Sulit

Tips Berhemat di Masa Ekonomi Sulit

Sebagai orang yang diberi tanggung jawab mengelola keuangan keluarga, kini saya pun turut merasakan apa yang ibu saya rasakan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Dengan penghasilan yang ada, saya pun mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran rumah tangga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka berhemat saat kondisi ekonomi sulit:

1. Mengatur Kembali Anggaran Belanja Keluarga

Langkah pertama yang harus dilakukan saat menghadapi kondisi ekonomi yang sedang sulit adalah mengatur kembali anggaran belanja keluarga. Beberapa pengeluaran yang dirasa tidak perlu harus dikurangi dan lebih berfokus pada memenuhi kebutuhan utama keluarga. 

2. Mengganti Beberapa Produk Rumah Tangga dengan yang Lebih Murah

Langkah kedua yang bisa dilakukan saat harus berhemat di masa ekonomi sulit adalah dengan mengganti beberapa produk yang digunakan dengan versi lebih murah. 

Jika sebelumnya biasa menggunakan skincare Korea maka sekarang bisa mencoba skincare lokal yang harganya terjangkau. Begitu juga dengan makanan. Jika biasanya makan ikan salmon maka bisa diganti dengan ikan lokal yang lebih murah.

Selama kualitasnya masih cukup baik dan bisa digunakan, rasanya tidak masalah untuk berhemat.

3. Mengurangi Pengeluaran yang Bersifat Hiburan 

Di era digital seperti sekarang, ternyata ada banyak uang yang harus dikeluarkan untuk hiburan kita. Langganan OTT untuk menonton film hingga mendengarkan musik mungkin terlihat kecil nominalnya, tetapi jika jumlah layanan yang digunakan cukup banyak, total pengeluarannya juga akan membesar.

Selain itu pengeluaran hiburan lin seperti terlalu sering makan di luar, membeli minuman kekinian, atau jalan-jalan ke mall juga bisa dibatasi karena biasanya pos ini juga cukup memakan biaya, terutama jika mengajak anak-anak. 

4. Berbelanja Saat Barang di Rumah Habis

Belanja bulanan memang terlihat hemat, namun di masa ekonomi yang sulit, rasanya akan lebih jika kita membeli barang ketika stok di rumah memang sudah hampir habis. 

Cara ini cukup membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsif hanya karena tergoda promo. Selain itu uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain. 

5. Memilih Belanja Online dan Memanfaatkan Promo

Alih-alih belanja langsung ke minimarket, akan lebih efektif jika kita memanfaatkan aplikasi belanja online yang sekarang banyak digunakan vendor minimarket. Dengan berbelanja secara online, kita bisa fokus membeli barang yang memang diperlukan termasuk juga bisa membandingkan harga produk tersebut.
 
Selain itu, promo dan potongan ongkir juga bisa membantu menghemat pengeluaran selama tetap membeli barang yang memang dibutuhkan.

6. Memasak Menu Sederhana di Rumah

Saat kondisi ekonomi sedang sulit, memasak sendiri di rumah bisa membantu mengurangi pengeluaran harian. Tak perlu selalu memasak menu mewah, yang penting kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Selain lebih hemat, memasak sendiri juga membuat pengeluaran lebih terkontrol dibanding terlalu sering membeli makanan di luar.

Penutup

Sebagai ibu bekerja yang juga bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga, saya sadar bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang memang cukup membuat khawatir. Harga kebutuhan terus naik, sementara pengeluaran rasanya semakin banyak yang harus dipikirkan.

Meski begitu, saya percaya bahwa setiap keluarga pasti memiliki cara masing-masing untuk bertahan. Mulai dari belajar hidup lebih hemat, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, hingga lebih bijak dalam mengatur prioritas keuangan keluarga.

Bagi anak-anak sendiri, kondisi seperti ini mungkin akan membuat mereka merasa kehidupan mereka tak lagi sebebas dulu. Belanja yang kini dibatasi bahkan untuk jalan-jalan juga tak bisa sesering dulu. Namun di balik semua itu, saya dan seluruh keluarga belajar bahwa rasa aman dan kebutuhan keluarga yang tetap terpenuhi jauh lebih penting.

Semoga kondisi ekonomi segera membaik dan kita semua diberikan kesehatan, kekuatan, serta rezeki yang cukup untuk menjalani hari-hari dengan lebih tenang.

Baca Juga

Posting Komentar

46 Komentar

  1. Di masa dolar sudah melewati harga 17.000 dan juga kenaikan beberapa harga Namun kita harus pintar-pintar mengolah keuangan terutama pengeluaran supaya tidak boncos keuangan rumah tangga kita dan oleh karena itu memang tips-tips di atas cukup membantu dan buat saya memang kalau sekiranya tidak perlu saya tidak akan membeli barang. apalagi kalau harganya mahal dan lebih bijaksana dalam pemilihan barang

    BalasHapus
  2. aku setuju dengan memanfaatkan promo biar lebih hemat

    BalasHapus
  3. Setuju dengan tipsnya...Kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu membuat kita harus lebih bijak dalam mengatur keuangan rumah tangga. Kenaikan harga kebutuhan pokok, melemahnya nilai rupiah, dan meningkatnya biaya hidup menjadi pengingat pentingnya hidup hemat dan memprioritaskan kebutuhan utama. Meski penuh tantangan, dengan pengelolaan keuangan yang lebih bijak dan saling mendukung dalam keluarga, setiap orang tetap bisa menjalani keadaan dengan lebih tenang dan optimis. Semangaat!

    BalasHapus
  4. In this economy hidup hemat atau frugal living bisa jadi alternatif ya mbaaa....harus pinter2 mengatur keuangan agar bisa cukup selama sebulan kedepan...dan bener mbaa sekarang itu barang2 mengalami kenaikan pelan tapi pasti jadi semacam gak berasa tapi tetep berefek pula pada pembengkakan pengeluaran

    BalasHapus
  5. Kenaikan harga saat ini memang tidak sebanding dengan pendapatan yang tetap bahkan menurun
    Yang punya bisnis juga belum tentu diuntungkan karena daya beli masyarakat menyusut
    Semoga kita diberi kekuatan untuk menghadapi semua ini ya

    BalasHapus
  6. Berhemat itu salah satu ilmu pengendalian diri paling berat dilalui ketika di awal... Tapi kalo udah terbiasa justru malah makin disiplin dan makin sadar dengan skala prioritas kebutuhan

    BalasHapus
  7. Tulisan yang sangat mewakili isi hati. Kekhawatiran kita nyata, saat belanjaan makin tipis tapi uang 100 ribu amblas begitu cepat. Kek ga ada harganya.

    BalasHapus
  8. Apalagi sekarang rupiah naik lagi terhadap dolar. Makin deh. Semoga kita bisa lalui ini semua dengan lapang dada dan terus bekerja keras serta bijak mengelola uang

    BalasHapus
  9. Terima kasih kasih untuk tipsnya. Memang in this economy, harus banyak mengencangkan ikat pinggang. Tips yang diberikan mba Antung sangat mungkin untuk bisa dilakukan. Semoga keadaan negara kita semakin membaik ya.

    BalasHapus
  10. Mba, sama kok. 100ribu udah gak ada harga dirinya dia. Wkwk. Cepet banget habisnya padahal dah belanjanya di pasar/tukang sayur bukan di supermarket. Makasih tipsnya mbaa, emang harus pinter-pinter ngelola keuangan di jaman sekarang ini.

    BalasHapus
  11. Saat ekonomi sulit sepakat kita perlu berhemat agar kebutuhan benar-benar tersalurkan untuk belanja yang penting-penting aja. Terima kasih atas tipsnya Mbak.

    BalasHapus
  12. Ekonomi yang mulai memprihatinkan ini, apakah bisa iperbaiki sebelum bertambah parah ya.

    BalasHapus
  13. Terimakasih mba, tipsnya bisa banget nih diterapkan. Iya mba sekarang bawa uang seratus ribu ke warung enggak banyak barang yang bisa dibeli.

    BalasHapus
  14. Sepakat banget dengan tips yang mbak berikan, setidaknya keuangan keluarga aman dulu, jika keuangan aman, perekonomian keluarga pun aman. Dengan emmasak sendiri di rumah, kita bisa mencoba menu baru yang bisa dipraktekkan di keluarga sehingga lebih variatif menunya low budget pula

    BalasHapus
  15. Cerdas banget tipsnya, ka Antung.
    Di era seperti ini, tantangan besar untuk kita para Ibu nih.. terutama yang tetap menjadikan keluarga sebagai prioritas tanpa harus mengeluh ke sana kemari mengenai problem yang dihadapi.

    Dengan solusi yang diberikan, semoga para Ibu menjadi semakin teliti dan bijak dalam membelajakn uang.

    BalasHapus
  16. Terlihat biasa saja tapi dampak kenaikan mata uang dollar bikin pusing tujuh keliling, terutama harga sembako yang mulai merangkak naik. Bahan baku industri juga naik ngak kira-kira, akhirnya berimbas kemana-mana, mudah-mudahan segera ada solusinya. Tapi yang pasti sejak sebelum puasa sudah mulai mengencangkan ikat pinggang.

    BalasHapus
  17. Aku sekarang lebih memilih untuk masak sederhana (alhamdulillah Saladin tidak terlalu picky eater). Masih bersyukur bisa makan nasi sehari 3x.


    Mengenai dollar yaa cari aja job ber-fee dollar, alias dilemma. Di satu sisi dollar naik bikin harga naik. Tapi saat dollar naik yg punya stock di PayPal malah senang. Eh maaf kalau malah OOT ya.

    BalasHapus
  18. Iya nih, kondisi negara kok bikin deg-degan yaaa.. harus mulai berhitung dengan ketat saat berbelanja. Ancaman kenaikan harga di berbagai barang kebutuhan pokok sudah jelas2 di depan mata nih. Sedih yaaa...

    BalasHapus
  19. Dalam hal ini agak menyesakkan juga sih. Ekonomi sulit dan harga kebutuhan menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Kudu banyak berhemat

    BalasHapus
  20. Setuju banget, kondisi sekarang mengharuskan kita berhemat. Nah, pengeluaran yang bisa dikurangi sebaiknya dikurangi.

    Kebutuhan harian pun bisa kita cari yang lebih terjangkau. Kemudian memasak menu sederhana di rumah kalau sekeluarga lebih terjangkau jadinya dan yap, tahan diri buat kurangi pengeluaran untuk hiburan.

    BalasHapus
  21. Setuju mbaaa....belanja online dan belanja saat barang sudah habis sepertinya akan lebih menghemat daripada harus langsung belanja bulanan dalam jumlah yang banyak yaa...karena kadang malah menimbun banyak barang dirumah..dan harus pinter2 milih harga kalo pas belanja online gak cuma dari satu toko tapi dr bbrp toko sekaligus untuk dpt harga terbaik hehehe emak2 kan gak mau rugi yakkkk ;)

    BalasHapus
  22. Can't agree more!
    Kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu membuat kita harus lebih bijak dalam mengatur keuangan rumah tangga ya mbaa.

    Apalagi ibu sebagai
    "Menteri Keuangan Keluarga" harus makin mindfull

    Kenaikan harga kebutuhan pokok, melemahnya nilai rupiah dan pemerintul yg amburadul..aduh beneraaannn kita kudu bijaksana bangett

    BalasHapus
  23. Belanja online selain lebih murah juga lebih lengkap, tidak usah capek muter pasar/toko, tapi pencet HP ajaaa.
    Aku juga baru belanja kalau stok habis, kalau kebanyakan belanja lalu bahan mentah malah rusak kan sayang, jadi mubazir.

    BalasHapus
  24. Agree mba. Aku sendiri mengurangi dari segi belanja dapur sih. Dan peralatan bulanan. Itu bener2 beli ketika udah mau habis. Kalau sebelumnya memang asal hrg promo lgs beli.

    Cuma yg susah utk dikurangi skincare, body care Krn masalah kulit sensitif. Juga traveling ga bisa dikurangi 😂😂. Ini obat stress apalagi di masa ga menentu begini dengan pemimpin yg bikin emosi tiap hari. So hiburanku cuma menjauh dari sini supaya ga stres Mulu.

    Makanya aku pilih utk mengurangi belanja dapur dan jajan yg ga penting. Oh langganan aplikasi juga aku kurangi sih, apalagi yg jarang dipakai

    BalasHapus
  25. Sepertinya tips mencari produk yang lebih murah tapi berkualitas bisa dengan cari produk lokal yang bagus ya. Kadang kita juga sih yang mungkin minim wawasan produk lokal atau gengsi, jadinya lebih pilih produk luar

    BalasHapus
  26. di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, sangat dibutuhkan manajemen keuangan yang proporsional. tips kali ini sangat bagus untuk dijadikan referensi agar bisa berhemat sesua kebutuhan dan bukan keinginan

    BalasHapus
  27. Terimakasih sharing tipsnya, mba. Memang betul saat ini kita harus benar2 kencangkan ikat pinggang agar BS survive di era ekonomi sulit begini.

    BalasHapus
  28. Wah, saya sekeluarga mah emang lagi mode ngencengin ikat pinggang banget nih beberapa hari terakhir ini. Gabisaaaa deh boros di situasi sekarang ini, pemasukan ga menentu, tapi pengeluarannya gak nahaaan.
    belum lagi efek inflasi dan dan inflasusut yang berasa banget. duit 50 rebu kayak udah ga ada harga dirinya, cepet banget abisnya perkara harga-harga juga semakin naik.

    Duh, emang kudu pinter2 kelola duit ya.

    BalasHapus
  29. saya sangat merasakan ekonomi semakin sulit, Mbak. Apalagi saya freelance dengan penghasilan tak menentu. Itu dapat fee 100 ribu, kayaknya habis dalam sekejap. Padahal ya sudah hemat sana sini juga. Termasuk ga pernah jajan kopi dingin atau minuman kekinian hehehe. Harapan semoga perekonomian semakin membaik. Pekerjaan menulis semakin banyak. Aamin.

    BalasHapus
  30. setuju banget dengan point point mbaak Ayana, ekonomi sekarang ini nggak hanya perlu dihemat di sektor keluarga, tapi dari segi bisnis, penjual dadn pengusaha meraskan kalau penjualan juga menurun, dampat dari rendahnya perekonomian sekarang.
    pastinya selain ingin melihat dan merasakan kondisi ekonomi yang baik-baik aja, aku juga berharap kehidupan masyarakat juga membaik

    BalasHapus
  31. Betul banget, situasi ekonomi yang makin sulit saat kerasa banget, sebagai pelaku usaha saya merasakan omset yang merosot tajam. Bisa bertahan saja sudah merupakan pencapaian bagi saya dan suami. Maka mengencangkan ikat pinggang memang menjadi solusi yang pasti, sambil mencari income tambahan yang lain untuk mendongkrak penghasilan

    BalasHapus
  32. In this economy, sedih sebetulnya kalau belanja beberapa item kebutuhan rumah aja udah ratusan ribu habisnya. Padahal itu udah milih yang terhemat dan cari harga diskon. Heu.. Sehat-sehat kondisi kantong kita semua ya..

    BalasHapus
  33. Ganti skincare ke produk lokal jadi solutif mantap, karena bukan hanya dapat manfaat kitanya lebih berhemat aja, tapi plusnya adalah banyak produk lokal yang bagus juga kan, sesuai lagi sama kondisi cuaca kita yang tropis

    BalasHapus
  34. Sejak dua tiga bulan lalu, aku tih lagi nganalisis pengeluaran mbaakk. Kok pas bulan lalu dollar naik, makin banyak yg kukurangi lagi persentasenya, mulai jatah jajan sampai jalan² mulai dibatasi sementara.

    Belum lagi anak² mau masuk tahun ajaran baru yang juga butuh dana. Nggak bisa lagi nabung doang, perlu ada investasi tambahan untuk nutup celah² yang gampang bocor. 🥲

    BalasHapus
  35. Aku bantu aminkan kalimat penutup sebagai harapan kita semua. Semoga saja perekonomian kembali pulih ya.

    Keenam cara berhemat di situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja memang salah satu cara jitu untuk menyelamatkan kehidupan dan keuangan. Mengganti bahan-bahan harian ke yang lebih terjangkau sudah aku coba jalankan di rumah bersama ortu. Semoga saja segala upaya ini membuahkan hasil baik, keuangan tetap terjaga dan sehat meski kondisi luar makin mengkhawatirkan ya mbak.

    BalasHapus
  36. uang Rp100.000 berasa cepat banget habisnya sekarang, baru masuk dompet pas ke pasar langsung lenyap. Dulu masuk ke Minimarket dapet sekeranjang barang barang, sekarang seperempatpun ngga ya kak.
    Sekarang mending kurangi dulu langganan streaming dan kopi kekinian, terus beralih ke masak menu sederhana. Ternyata lumayan banget hematnya.. Boleh banget diterapkan untuk tjis ekonomi kan ya

    BalasHapus
  37. Relate banget pas bagian uang Rp100.000 melayang cepat banget sekarang kalau ke tukang sayur. Biasanya aku habis 150rb untuk makan dua hari sekeluarga. Sekarang apa-apa mahal, investasi juga lagi gak baik-baik saja. Jadi sebisa mungkin jika ingin membeli sesuatu diluar budget yg sudah dianggarkan, lebih baik mencari penghasilan tambahan.

    BalasHapus
  38. Ah iya, in this economy ya. Kudu makin cermat atur keuangan keluarga. Emang kudu mengencangkan ikat pinggang. Thx tipsnya mbak

    BalasHapus
  39. Saatnya ngencangin ikat pinggang nih bulan ini. Mana saat bulan masuk sekolah dan libur sekolah lagi. Tahun ini liburan di rumah aja. Lagi seret. Untung si kecil nurut aja asal wifi masih kenceng. Jadi mainan gadget aman.

    Lainnya, ngurangin makan di luar. Lebih nikmat belanja sendiri dan masak sendiri. Belanja yg penting2 aja. Belanja online setooop, kecuali kalo ga ada di lapak pasar. Wkwk.

    Sumpah, sampe kuras tabungan sih bulan ini. Bener2 ekonomi lagi sulit.

    BalasHapus
  40. cerita soal kilas balik krisis '97, jadi ingat perjuangan orang tua dulu masa-masa yang sangat sulit, dan ternyata sekarang giliran kita ya yang mesti pusing muter otak jadi manajer keuangan rumah tangga. Tips ini sangat bermanfaa apalagi point nomor 4 tentang belanja pas barang beneran habis itu kedengerannya simpel tapi nampol banget sih buat ngerem lapar mata, soalnya kalau udah telanjur nyetok bulanan kadang malah banyak yang mubazir.

    BalasHapus
  41. Memanfaatkan promo, ya ini dia salah satu teknik menabung andalan saya. Bulan bulan tertentu baru saya beli barang yang sifatnya keinginan, contohnya ya kaya bulan Agustus nanti

    BalasHapus
  42. Bener sih kalau sekarang efek inflasinya bertahap. Nggak langsung kelihatan bedanya tapi lama-lama ya mulai kerasa juga kalau pengeluaran semakin naik sedangkan pendapatan masih segitu-segitu aja.

    Penting banget mengatur pola konsumsi dan anggaran belanja agar tidak besar pasak daripada tiang. Tips-tips di atas juga mulai aku terapkan di rumah beberapa bulan terakhir.

    BalasHapus
  43. Dalam kondisi ekonomi sekarang, kita haruskreatif dalam mengelola pengeluaran, dna tips mba di atas sangat-sangat bermanfaat dan sudah saya lakukan juga, lumayan pastinya dapat menjaga keuangan tetap aman dan stabil, dan pastinya menjadi belanja sesuai kebutuhan saja

    BalasHapus
  44. Setujuu...
    Daripada ngeluh terruuss lebih baik kita kerahkan banyak aksi nyata yang bisa bikin keluarga hemat pengeluaran. Ada banyak cara namun yang paling efektif memang memangkas banyak anggaran ga penting yaah.. Dengan mengoptimalkan pengeluaran, semoga kita semua tetap bisa bahagia di tengah perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja ini.

    Allahu musta'an...

    BalasHapus
  45. Duh mbak keknya uang 100 ribu di era sekarang kek gak ada harga dirinya nggak sihhhh T.T
    Keluar rumah dikit ke indomaret aja tiba2 nominal berapa yang berpindah =))
    In this economy emang pilihannya antara berhemat atau mencari pekrrjaan sampingan sih yaaa.
    Nah iya niihh, di masa paceklik gini emang kalau mengeluarkan uang kudu pikir2 lagi deh. Kalau emang belum bisa liburan atau beli apa gitu, hold dulu, nabung dulu.
    Soal anak2 ya pinter2nya kita menjelaskan sambil memberikan alternatif hiburan lain yaa.
    Trus emang kalau nggak penting2 banget sebaiknya dipangkas atau ganti barang2 yang biasa dibeli dengan barang yang harganya lebih miring.

    BalasHapus
  46. Baca tulisan ini saya jadi ingat masa-masa di tahun 97-98. Kondisi Indonesia saat itu benar-benar genting dalam hal ekonomi yang kemudian berlanjut ke hal-hal lainnya, termasuk kestabilan politik. Walaupun saat itu saya masih kecil, tapi mencekamnya Indonesia masih ingat dalam memori saya.

    Mudah-mudahan kondisi ekonomi sekarang tak terulang seperti 97-98, ya. Semoga perekonomian di negeri kita kembali stabil, dan mudah-mudahan momen ini bisa jadi bahan refleksi para keluarga Indonesia untuk belajar berhemat juga

    BalasHapus