Beberapa waktu terakhir, saya cukup sering menemukan konten terkait berbagai tips berhemat dan menurunkan gaya hidup di masa ekonomi sulit. Konten seperti ini dibagikan bukan hanya oleh pengguna media sosial biasa, tetapi juga influencer keuangan yang memang memiliki pemahaman lebih terkait pengelolaan finansial.
Dari banyaknya pembahasan tersebut, saya merasa semakin banyak masyarakat yang mulai khawatir terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Saya sendiri juga bisa merasakan perubahan ekonomi ini. Harga barang kebutuhan pokok yang terus meningkat membuat uang belanja yang ditetapkan rasanya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap kali saya berbelanja ke pasar atau ke minimarket, uang Rp100.000 melayang dengan sangat cepat.
Belum lagi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS, yang pada akhirnya ikut memengaruhi harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tanda-tanda Sebuah Negara Mengalami Krisis Ekonomi
Dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, wajar jika mulai muncul kekhawatiran apakah Indonesia akan kembali mengalami krisis ekonomi seperti tahun 1997.
Jika berkaca pada pengalaman masa lalu, Indonesia pernah merasakan pengalaman pahit krisis ekonomi di tahun 1997. Saat itu nilai Rupiah anjlok dari sekitar Rp2000 menjadi hampir Rp20.000 per dolar AS dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menyebabkan inflasi melonjak dan harga kebutuhan pokok meningkat drastis.
Sama seperti keluarga lain di masa itu, keluarga kami juga pastinya merasakan dampak dari inflasi ini. Bayangkan dulu harga mie instan yang hanya 300 rupiah naik menjadi hampir 1000 rupiah. Belum lagi harga kebutuhan pokok lainnya seperti beras dan yang lainnya.
Untuk menghemat pengeluaran, ibu saya mulai mengganti beras yang biasa kami makan menjadi beras pemerintah yang sebelumnya tak pernah kami sentuh. Bahkan ada juga orang-orang yang memilih menggunakan kain sebagai pengganti pembalut demi mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Lalu apakah kondisi negara kita saat ini sudah memasuki krisis ekonomi?
Jika dilihat dari pergerakan ekonomi, ada sedikit perbedaan antara krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 dengan apa yang terjadi sekarang. Dulu nilai rupiah anjlok dalam waktu sangat cepat sehingga dampaknya langsung terasa di masyarakat. Sementara sekarang, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi secara perlahan sehingga dampaknya juga terasa bertahap.
Meski begitu, kondisi ekonomi yang terasa semakin berat tetap membuat banyak masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, ada beberapa tanda-tanda sebuah negara mengalami krisis ekonomi, yakni:
- inflasi tinggi,
-
harga kebutuhan pokok naik,
-
nilai mata uang melemah,
-
meningkatnya pengangguran,
-
daya beli masyarakat menurun,
-
hingga banyaknya perusahaan yang melakukan PHK.
Tips Berhemat di Masa Ekonomi Sulit
Sebagai orang yang diberi tanggung jawab mengelola keuangan keluarga, kini saya pun turut merasakan apa yang ibu saya rasakan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Dengan penghasilan yang ada, saya pun mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran rumah tangga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka berhemat saat kondisi ekonomi sulit:
1. Mengatur Kembali Anggaran Belanja Keluarga
Langkah pertama yang harus dilakukan saat menghadapi kondisi ekonomi yang sedang sulit adalah mengatur kembali anggaran belanja keluarga. Beberapa pengeluaran yang dirasa tidak perlu harus dikurangi dan lebih berfokus pada memenuhi kebutuhan utama keluarga.
2. Mengganti Beberapa Produk Rumah Tangga dengan yang Lebih Murah
Langkah kedua yang bisa dilakukan saat harus berhemat di masa ekonomi sulit adalah dengan mengganti beberapa produk yang digunakan dengan versi lebih murah.
Jika sebelumnya biasa menggunakan skincare Korea maka sekarang bisa mencoba skincare lokal yang harganya terjangkau. Begitu juga dengan makanan. Jika biasanya makan ikan salmon maka bisa diganti dengan ikan lokal yang lebih murah.
Selama kualitasnya masih cukup baik dan bisa digunakan, rasanya tidak masalah untuk berhemat.
3. Mengurangi Pengeluaran yang Bersifat Hiburan
Di era digital seperti sekarang, ternyata ada banyak uang yang harus dikeluarkan untuk hiburan kita. Langganan OTT untuk menonton film hingga mendengarkan musik mungkin terlihat kecil nominalnya, tetapi jika jumlah layanan yang digunakan cukup banyak, total pengeluarannya juga akan membesar.
Selain itu pengeluaran hiburan lin seperti terlalu sering makan di luar, membeli minuman kekinian, atau jalan-jalan ke mall juga bisa dibatasi karena biasanya pos ini juga cukup memakan biaya, terutama jika mengajak anak-anak.
4. Berbelanja Saat Barang di Rumah Habis
Belanja bulanan memang terlihat hemat, namun di masa ekonomi yang sulit, rasanya akan lebih jika kita membeli barang ketika stok di rumah memang sudah hampir habis.
Cara ini cukup membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsif hanya karena tergoda promo. Selain itu uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain.
5. Memilih Belanja Online dan Memanfaatkan Promo
Alih-alih belanja langsung ke minimarket, akan lebih efektif jika kita memanfaatkan aplikasi belanja online yang sekarang banyak digunakan vendor minimarket. Dengan berbelanja secara online, kita bisa fokus membeli barang yang memang diperlukan termasuk juga bisa membandingkan harga produk tersebut.
Selain itu, promo dan potongan ongkir juga bisa membantu menghemat pengeluaran selama tetap membeli barang yang memang dibutuhkan.
6. Memasak Menu Sederhana di Rumah
Saat kondisi ekonomi sedang sulit, memasak sendiri di rumah bisa membantu mengurangi pengeluaran harian. Tak perlu selalu memasak menu mewah, yang penting kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Selain lebih hemat, memasak sendiri juga membuat pengeluaran lebih terkontrol dibanding terlalu sering membeli makanan di luar.
Penutup
Sebagai ibu bekerja yang juga bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga, saya sadar bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang memang cukup membuat khawatir. Harga kebutuhan terus naik, sementara pengeluaran rasanya semakin banyak yang harus dipikirkan.
Meski begitu, saya percaya bahwa setiap keluarga pasti memiliki cara masing-masing untuk bertahan. Mulai dari belajar hidup lebih hemat, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, hingga lebih bijak dalam mengatur prioritas keuangan keluarga.
Bagi anak-anak sendiri, kondisi seperti ini mungkin akan membuat mereka merasa kehidupan mereka tak lagi sebebas dulu. Belanja yang kini dibatasi bahkan untuk jalan-jalan juga tak bisa sesering dulu. Namun di balik semua itu, saya dan seluruh keluarga belajar bahwa rasa aman dan kebutuhan keluarga yang tetap terpenuhi jauh lebih penting.
Semoga kondisi ekonomi segera membaik dan kita semua diberikan kesehatan, kekuatan, serta rezeki yang cukup untuk menjalani hari-hari dengan lebih tenang.
Baca Juga
1 Komentar
Di masa dolar sudah melewati harga 17.000 dan juga kenaikan beberapa harga Namun kita harus pintar-pintar mengolah keuangan terutama pengeluaran supaya tidak boncos keuangan rumah tangga kita dan oleh karena itu memang tips-tips di atas cukup membantu dan buat saya memang kalau sekiranya tidak perlu saya tidak akan membeli barang. apalagi kalau harganya mahal dan lebih bijaksana dalam pemilihan barang
BalasHapus