"Ran, kamu masih ingat nggak waktu study tour SMA kita ke mana aja waktu itu?" Saya bertanya pada seorang teman SMA terkait momen study tour kami di tahun 2002. Entah kenapa, meski sudah lewat 20 tahun, saya ingin mengenang kembali momen-momen tersebut dan menjadikannya catatan perjalanan di blog ini.
"Ke Pupuk Kaltim sama ke museum," jawab teman saya tersebut.
"Wah, bukan ke PT. Badak?" Tanya saya lagi untuk meyakinkan.
"Bukan."
"Oo. Oke deh. Makasih, ya," kata saya lagi menutup pembicaraan lewat whatsapp tersebut.
Tak lama, teman saya ini kemudian mengirimkan beberapa foto yang masih disimpannya saat study tour SMA dua puluh tahun lalu. Foto-foto itu terlihat buram dengan resolusi rendah. Maklum, teknologi kamera saat itu masih terbatas. Meski demikian, saya masih bisa mengenali wajah-wajah di dalamnya. Wajah-wajah muda yang polos, yang mungkin saat itu belum benar-benar tahu akan menjadi apa di masa depan.
Mengenang Masa-masa SMA
Masa SMA konon merupakan salah satu masa paling berkesan dalam fase kehidupan seseorang. Di masa ini, biasanya ada banyak kenangan yang tercipta. Entah itu cinta pertama, nonton konser pertama, dan berbagai keseruan lainnya yang sulit dilupakan.
Bicara tentang kenangan di masa SMA, saya ingat sekali di masa SMA inilah pertama kali saya berkenalan dengan internet. Kala itu internet hanya bisa dimiliki oleh kalangan tertentu yang memiliki telepon rumah dengan biaya yang dihitung per menit. Hal ini tentunya jauh berbeda dengan sekarang di mana jaringan internet sudah menggunakan fiber optik. Bagi saya yang tidak memiliki sambungan internet, maka pilihan termudah adalah datang ke warnet dengan tarif 4000-6000 rupiah per jam.
Di kubikel-kubikel kecil inilah, saya mulai berkenalan dengan dunia maya. Sapaan "Hi, asl pls," menjadi kalimat pertama yang muncul saat saya membuka saluran chatting miRC. Kadang berjam-jam bisa saya habiskan untuk berkenalan dengan siapa saja yang sedang online. Bahkan pada akhirnya waktu itu saya juga sempat melakukan kopi darat dengan kenalan di miRC tersebut.
Mulai Mengenakan Jilbab di Masa SMA
Selain berkenalan dengan internet, masa SMA ternyata juga merupakan momen pertama kalinya saya mengenakan jilbab, tepatnya saat kelas 3. Waktu itu alasannya sederhana saja. Sekolah membuat program Jum'at Taqwa di mana setiap hari Jum'at seluruh siswa muslim wajib mengenakan pakaian muslim.
Daripada harus repot melepas dan mengenakan kembali, saya memutuskan untuk sekalian memakai jilbab setiap hari. Alhamdulillah, kebiasaan itu bertahan hingga sekarang, meskipun tentu saja ada naik turun dalam perjalanan ibadah.
Handphone dan Perubahan Zaman
Kehadiran handphone juga menjadi salah satu hal yang cukup berkesan di masa SMA. Saya ingat saat di kelas 3, beberapa teman membawa handphone ke sekolah. Saat itu tentunya handphone yang digunakan jauh berbeda dengan handphone sekarang yang serba canggih. Ukurannya masih tebal dan hanya memiliki layar kecil dengan nada dering polifonik. Ada yang meletakkan handphone di kantong seragam dan ada juga yang mengalungkannya di leher.
Saya sendiri baru mulai menggunakan handphone saat berkuliah di Banjarbaru yang merupakan handphone pemberian almarhum ayah agar saya lebih mudah menghubungi kalau memerlukan sesuatu. Saya ingat sekali handphone pertama saya itu adalah handphone Siemens berwarna merah, handphone yang sederhana namun menyimpan banyak kisah.
Cerita Study Tour Masa SMA
Jelang kelulusan masa SMA, pihak sekolah menawarkan ide untuk study tour bagi para siswa kelas 3. Untuk pemilihan kota yang akan dikunjungi sendiri diserahkan sepenuhnya pada siswa sementara pihak sekolah hanya memfasilitasi. Untuk itu, sebelum tanggal study tour ditetapkan diadakan terlebih dahulu musyawarah untuk menentukan kota mana yang akan dikunjungi.
Dalam musyawarah tersebut, semua siswa diberikan hak langsung untuk memilih. Pilihan kota ada 2 yakni Surabaya dan Samarinda. Saya sendiri jujur memilih kota Surabaya kala itu karena pastinya memiliki
rekomendasi wisata yang menarik dan lokasinya di luar Kalimantan.
Namun saat itu hasil voting menunjukkan sebagian besar siswa memilih Samarinda sebagau tujuan study tour. Akhirnya kami semua pun sepakat dengan hasil ini dan para siswa yang ingin ikut study tour diharapkan mengumpulkan uang sebesar 300 ribu rupiah sebagai biaya study tour.
Perjalanan ke Samarinda
Perjalanan menuju kota Samarinda sendiri dilakukan dengan menggunakan dua buah bus untuk tiga kelas IPA. Perjalanan dimulai dari sore hari dengan perkiraaan waktu perjalanan 18 jam. Ini adalah kali pertama saya pergi ke luar kota dan tanpa ditemani orang tua. Di tengah-tengah perjalanan, bus di depan kami berhenti karena beberapa teman di bus tersebut mengalami mabuk darat parah dan muntah-muntah.
Setelah melalui perjalanan belasan jam, tibalah kami di kota Samarinda. Di kota ini, kami menginap di sebuah asrama yang letaknya dekat dengan Mall Lembuswana. Pembagian kamar pun langsung dilakukan. Seingat saya saat itu saya berada satu kamar dengan 3 orang teman lain yang berbeda kelas.
Usai membereskan bawaan masing-masing dan beristirahat, sore harinya saya dan beberapa teman kemudian menyempatkan diri untuk menyambangi Mall Lembuswana sebelum besoknya memulai agenda study tour.
Mengunjungi Kota Bontang
Tujuan pertama kami saat study tour adalah mengunjungi PT. Pupuk Kaltim di kota Bontang. Seingat saya, perjalanan dari Samarinda menunju Bontang memakan waktu kurang lebih 2 jam. Di sini kami diajak untuk melihat-lihat bagian dalam perusahaan dan pastinya juga bagian dapur dari perusahaan penyedia pupuk ini. Kami juga sempat menikmati makan siang di dapur perusahaan ini.
Setelah acara kunjungan ke PT. Pupuk Kaltim usai, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi salah satu tempat wisata di kota Bontang. Sayangnya saya benar-benar tidak ingat nama tempat yang kami kunjungi ini. Seingat saya ini adalah sebuah tempat wisata dengan banyak pepohonan di dalamnya. Benar-benar tidak membantu yaa? Hehe.
Berkunjung ke Museum Mulawarman Tenggarong
Setelah kunjungan ke PT. Pupuk Kaltim, perjalanan kami lanjutkan menuju kota Tenggarong. Di kota ini kami semua berkunjung ke Museum Mulawarman yang pada bagian depannya terdapat patung hewan Lembuswana.
Museum Mulawarman sendiri dulunya adalah bekas istana Kutai Kertanegara yang dibangun oleh perusahaan beton Belanda bernama Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) dengan gaya arsitektur Eropa Klasik (Wikipedia). Pada bagian dalam museum pengunjung bisa melihat berbagai koleksi peninggalan istana yang pastinya menambah khasanah pengetahuan para siswa.
Gagal Mengejar "Rangga dan Cinta" di Balikpapan
Di hari terakhir study tour, kami juga menyempatkan diri mampir ke kota Balikpapan. Nah, kebetulan saat itu anak IPS juga sedang menjalankan study tour ke kota tersebut. Tujuan kami ke Balikpapan adalah untuk mengunjungi mall yang ada di sana.
Hal yang menarik dari kunjungan ke Balikpapan ini adalah momennya yang bertepatan dengan rilisnya film Ada Apa dengan Cinta? Teman-teman dari kelas IPS memanfaatkan momen ini untuk bisa menonton film AADC? ini langsung di bioskop karena di masa itu, di kota kami tidak ada bioskop.
Sayangnya untuk kami anak IPA tidak ada agenda menonton, karena kami harus kembali ke Samarinda sebelum malam tiba. Jadilah kami semua hanya bisa "gigit jari" ketika setelah acara study tour, anak-anak IPS dengan sombongnya menceritakan pengalaman mereka menonton Rangga dan Cinta secara langsung di bioskop.
Penutup
Dua puluh tahun berlalu, dan kenangan masa SMA itu masih terasa manis untuk diingat. Di masa itu, saya mungkin belum benar-benar tahu akan menjadi apa, meski sudah memiliki cita-cita dan impian.
Seiring waktu berjalan, banyak hal terjadi—baik dalam kehidupan pribadi maupun di luar sana. Sebagai bagian dari generasi milenial, saya melewati berbagai fase, mulai dari krisis ekonomi, gejolak politik, hingga masa pandemi.
Kini, di usia empat puluhan, saya masih terus belajar, berusaha agar tidak tertinggal oleh zaman, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi masa depan, termasuk masa pensiun. Apalagi di era digital seperti sekarang, di mana perubahan terasa begitu cepat.
Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah ada momen masa SMA yang masih membekas hingga sekarang? Atau mungkin ada cerita yang ingin kamu abadikan seperti ini?
Baca Juga
0 Komentar