Pernahkah kamu melihat seseorang dihakimi hanya dari satu video viral?
Di era digital dengan kehadiran media sosial seperti sekarang, platform ini tak lagi hanya menjadi tempat berbagi cerita atau mencari penghasilan. Media sosial juga bisa menjadi “senjata” yang menghancurkan kehidupan seseorang.
Konten viral tak hanya mampu melambungkan nama seseorang, tetapi juga bisa membongkar sisi buruk yang belum tentu sepenuhnya benar. Ironisnya, tidak semua konten viral benar-benar merepresentasikan kejadian yang sebenarnya.
Hal inilah yang coba diangkat dalam film Budi Pekerti, karya Wregas Bhanuteja yang rilis tahun 2023 lalu. Film ini mengisahkan bagaimana media sosial dapat berdampak besar terhadap kehidupan seseorang.
Lewat film ini, Prilly Latuconsina dan Sha Ine Febriyanti pun mendapat penghargaan piala Citra atas akting mereka sebagai ibu dan anak. Ngomongin soal festival film saya jadi ingat sama blogger rafahlevi yang cukup sering menulis tentang festival film di blognya.
Buat kamu yang penasaran dengan film Budi Pekerti, berikut review lengkapnya:
Sinopsis Film Budi Pekerti
Kisah Budi Pekerti bermula dari seorang guru BK SMP di Yogyakarta bernama Bu Prani yang berniat membeli kue putu untuk suaminya. Saat tiba di lokasi penjual putu, terlihat sudah banyak pembeli yang juga berniat membeli kue tersebut yang memang sudah cukup terkenal. Karena banyaknya pelanggan dan penjual putu ini, Bu Prani tentunya juga harus mengambil nomor antrian seperti calon pembeli lainnya.
Saat sedang menunggu nomornya dipanggil, Bu Prani tanpa sengaja melihat salah satu calon pembeli yang berusaha untuk curang dengan cara membeli nomor antrian pembeli lainnya. Hal ini tentunya mengusik rasa keadilan di hati Bu Prani. Ia pun mengkonfrontasi di bapak yang ingin menyela antrian kue putu ini. Rupanya saat dirinya beradu mulut ini banyak yang merekam dan akhirnya sosok Bu Prani viral di media sosial.
Kesan Setelah Menonton Film Budi Pekerti
Pesan Moral Film Budi Pekerti
Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, menonton Budi Pekerti membuat saya rasanya seperti sedang bercermin. Tanpa sadar, kita mungkin pernah berada di posisi orang-orang dalam film ini, entah sebagai penonton, penyebar, atau bahkan penghakim di media sosial.
Film ini mengingatkan kita bahwa satu potongan video tidak pernah benar-benar menceritakan keseluruhan cerita. Kita mungkin tidak tahu kisah asli di balik potongan video yang sedang viral ditonton. Namun sayangnya, di dunia yang serba cepat, kita sering kali tak memiliki waktu untuk melakukan cek fakta dan lebih mudah bereaksi daripada memahami.
Yang paling terasa adalah bagaimana media sosial bisa mengubah hidup seseorang dalam hitungan jam. Apa yang awalnya terlihat sepele, bisa berkembang menjadi tekanan yang begitu besar, bukan hanya untuk satu orang, tapi juga untuk seluruh keluarganya. Ada yang kehidupannya berubah menjadi lebih baik, namun ada juga yang menderita kerugian akibat dari video viral di media sosial.
Dari sosok Bu Prani, kita belajar bahwa niat baik saja tidak selalu cukup. Cara menyampaikan, waktu bertindak, hingga siapa yang kita libatkan, semuanya bisa menentukan apakah sebuah masalah akan selesai atau justru semakin rumit.
Sementara dari anak-anaknya, kita melihat bahwa setiap usaha “membela” belum tentu benar-benar membantu. Kadang, tanpa disadari, tindakan kita justru membuka luka baru bagi orang lain.
Pada akhirnya, film ini seperti memberi pengingat halus: sebelum ikut berkomentar, sebelum menekan tombol share, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya, apakah kita sudah benar-benar memahami situasinya? Karena di balik setiap konten viral, selalu ada manusia dengan kehidupan nyata yang harus menanggung akibatnya.
Penutup
Sebagai seorang ibu yang juga bekerja, film Budi Pekerti juga menjadi sebuah pengingat bagi saya untuk selalu bijak dalam bersosial media. Entah itu dalam hal mengunggah konten, membagikan konten, hingga memberi komentar, kita semua bertanggung jawab atas hal tersebut. Jangan sampai apa yang kita rekam dan bagikan malah merugikan orang lain dan bahkan menghancurkan hidup orang lain.
Meski memang kadang media sosial juga bisa dijadikan senjata untuk melindungi diri, namun tentu akan lebih bijaksana jika kita bisa memiliki kontrol yang baik dalam melakukan sesuatu dan tak selalu terpaku pada media sosial.
Demikian review saya untuk film Budi Pekerti. Buat teman-teman yang ingin membaca review film Indonesia, bisa mampir ke website blogger film bandung Baca juga review saya untuk film Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga di blog ini ya!
.jpg)


0 Komentar