Tips Manajemen Waktu Ibu Bekerja Agar Kehidupan Berjalan Seimbang



Sebagai ibu bekerja, jadwal harian saya dimulai sekitar pukul 4 dini hari. Waktu jelang subuh ini saya gunakan untuk mempersiapkan berbagai keperluan untuk hari tersebut mulai dari bekal untuk saya dan Yumna yang bersekolah tak jauh dari kantor juga makan siang suami yang sekarang bekerja di rumah. Selain menyiapkan bekal, waktu jelang subuh ini juga saya isi dengan mencuci piring bekas makan malam (yang saya kadang malas untuk langsung mencucinya) dan juga mengeluarkan pakaian dari mesin cuci. 

Setelah semua urusan dapur dan persiapan bekerja selesai, pukul 7 pagi saya berangkat bersama Yumna menuju kantor. Jarak antara rumah ke kantor adalah sekitar 9 km dan biasanya saya tempuh dalam waktu 15 menit naik motor. Kadang saya juga harus sedikit ngebut saat jalanan sedang ramai karena memang jamnya anak-anak sekolah. Untuk jam pulang sendiri, saya biasanya baru tiba di rumah sekitar pukul 17.30 dan langsung menjemput Yafiq yang dititipkan di salah satu rumah dekat komplek kami tinggal.

Begitulah rutinitas dan manajemen waktu yang saya jalani sehari-hari sebagai ibu bekerja yang tidak menggunakan ART. Lalu bagaimana dengan urusan bebersih rumah? Untuk urusan bebersih rumah ini, biasanya saya lakukan di sore hari setelah pulang kerja atau setelah anak-anak tidur. Kadang urusan bebersih rumah juga di-handle oleh suami yang memang sekarang waktunya lebih banyak di rumah. Sementara untuk laundry, yah kadang kalau lagi malas pakaian yang sudah dicuci saya tumpuk dulu dan baru dilipat saat malam hari. Kalau urusan setrika, saya hanya menyetrika baju untuk bekerja. Hehe. 

Manajemen Waktu bagi Ibu Bekerja

Seorang ibu, baik ia bekerja di luar rumah atau ibu yang berada di rumah pastinya memiliki caranya masing-masing dalam mengatur jadwal hariannya. Bedanya, jika ibu yang berada di rumah memiliki waktu seharian untuk mengurus rumah, maka ibu bekerja harus sedikit lebih pintar dalam manajemen waktunya karena separuh hari mereka berada di luar rumah. Lalu apakah dengan perbedaan waktu yang dimiliki di siang hari ini bisa berpengaruh pada produktivitas ibu? Jawabannya bisa ya bisa tidak. 

Saya sendiri jika ditanya apakah sebagai ibu bekerja saya termasuk produktif? Maka dengan jujur saya akan menjawab tidak. Hari-hari saya lebih banyak dilalui dengan bekerja, ngeblog dan mengurus anak. Kalau hari libur kadang saya manfaatkan untuk mencoba resep kue dan hobi lain seperti merajut. Jika melihat ke luar, ada banyak ibu-ibu bekerja lain yang bisa memanfaatkan waktu mereka dengan sangat baik hingga membuat saya iri. Mereka masih sempat nge-gym sepulang kerja, jualan, buka open order kue, bikin konten dan bahkan mungkin ada yang kuliah lagi. Sampai kadang kepikiran bagaimana sih cara para ibu bekerja ini mengatur waktunya?

Nah, biar bisa lebih produktif, saya pun berusaha mengumpulkan beberapa informasi terkait manajemen waktu ibu bekerja. Beberapa hal yang bisa saya rangkum di sini diantaranya:

Buat jadwal harian yang jelas

Salah satu kunci agar hari-hari bisa berjalan dengan lancar adalah adanya jadwal yang jelas. Ini sebenarnya berlaku tak hanya bagi ibu bekerja namun juga ibu yang berada di rumah. Ibu bisa menuliskan jadwal rutin aktivitas sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dengan adanya jadwal harian yang jelas pastinya akan memudahkan ibu dalam mengatur waktu baik saat bekerja maupun saat di rumah.

Pastikan tidur cukup

Selain jadwal harian yang jelas, tidur yang cukup juga merupakan salah satu hal yang bisa mempengaruhi produktivitas ibu sehari-hari. Terlalu banyak begadang memiliki banyak efek buruk bagi tubuh dan kesehatan. Bangun pagi yang seharusnya terasa segar berubah menjadi kepala yang pusing karena kurang tidur. Akibatnya pastinya juga pekerjaan di tersebut juga bisa terbengkalai. Jadi jika memang bukan karena hal yang sangat urgen sebaiknya ibu mencukupkan waktu tidurnya setiap harinya agar bisa beraktivitas dengan lancar.

Tentukan prioritas

Kadang saking banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, ibu mengalami kesulitan untuk memulai pekerjaan tersebut. Karena itulah penting sekali bagi ibu bekerja untuk mengatur skala prioritas dari pekerjaan yang harus diselesaikan. Ibu bisa membuat daftar pekerjaan dan memilih mana yang harus diselesaikan sendiri, mana yang bisa ditunda dan mana yang bisa didelegasikan dengan orang lain.

Lakukan pekerjaan rumah di malam hari

Sebagai ibu bekerja, tentunya kita tidak memiliki kesempatan untuk membersihkan rumah di siang hari. Namun kadang salah satu keuntungan menjadi ibu bekerja, terutama jika anak dititikan ke daycare adalah rumah bisa tetap rapi jika ditinggalkan seharian. Untuk itu, ibu bekerja bisa merapikan rumah di malam hari setelah semua anggota keluarga tidur sehingga pagi tidak repot lagi membersihkan rumah. 

Kerja sama dengan pasangan atau minta bantuan pihak ke tiga

Poin berikutnya yang sangat berpengaruh pada manajemen waktu ibu bekerja adalah adanya kerja sama dengan pasangan yang bisa membantu meringankan beban kerja ibu. Suami bisa membantu di bidang yang dikuasainya seperti beberes rumah, menjaga anak di saat ibu sibuk atau bahkan bergantian memasak. Kalaupun ternyata suami juga sama sibuknya maka pilihannya adalah mendelegasikan pekerjaan pada pihak ke tiga entah itu ART atau jasa lainnya yang sekarang bisa dengan mudah ditemukan.  

Apakah Multitasking Membantu Produktivitas Ibu Bekerja?

multitasking dalam manajemen waktu



Sebagai wanita, kita dikenal memiliki kemampuan super untuk bisa melakukan berbagai hal sekaligus dalam satu waktu. Ibu bisa menyetrika sambil nonton televisi, memasak sambil cuci piring dan bahkan ada yang bisa beralih obrolan dalam waktu singkat saking multitasking-nya dirinya. Bandingkan dengan kaum pria yang kalau sudah melakukan satu pekerjaan, maka dia akan fokus pada pekerjaan itu. Makanya kadang saya suka kesal nungguin suami masak karena lama banget. Hehe.

Di satu sisi, kemampuan multitasking wanita ini cukup membantu untuk pekerjaan yang memang harus bisa dilakukan secara bersamaan. Namun di sisi lain ternyata terlalu sering melakukan multitasking ini malah berakibat buruk pada produktivitas kita karena fokusnya yang terpecah. Contoh sederhananya adalah mengetik sambil mengecek sosial media. Pastinya kita akan lebih sering cek sosial media kan ya ketimbang mengetiknya? Hehe.

Nah, dilansir dari laman halodoc.com, ada beberapa efek negatif dari multitasking yakni

Mampu merusak otak

Sebuah studi menyebutkan kalau orang yang melakukan banyak tugas mengalami penurunan materi otak abu-abu mereka, khususnya di area yang terkait dengan kontrol kognitif dan regulasi motivasi dan emosi.

Menimbulkan masalah memori

Selain bisa merusak otak, terlalu banyak melakukan multitasking ternyata juga bisa menurunkan kemampuan menyimpan memori kerja dan memori jangka panjang mereka. Memori kerja adalah kemampuan menyimpan informasi yang relevan saat mengerjakan tugas. Sedangkan memori jangka panjang adalah kemampuan untuk menyimpan dan mengingat informasi dalam periode waktu yang lebih lama.

Meningkatkan gangguan

Terlalu sering melakukan multitasking ternyata juga bisa meningkatkan perilaku distractibility, yakni perilaku yang terjadi ketika seseorang mudah terganggu oleh keadaan apapun. Hal ini bisa berakibat orang tersebut kehilangan kemampuan untuk membedakan gangguan yang penting dan yang tidak penting.

Meningkatkan risiko stres kronis, depresi dan kecemasan sosial

Multitasking juga bisa berefek negatif pada sisi psikologis seseorang sehingga bisa membuat stres kronis, depresi dan kecemasan sosial. Para peneliti menemukan bahwa semakin banyak seseorang mengerjakan tugas maka pastinya tekanan akan semakin besar dan bisa berujung pada stress atau depresi.

Nah, itulah dia sedikit sharing saya tentang manajemen waktu ibu bekerja agar bisa lebih produktif setiap harinya. Tentunya ini juga menjadi bahan evaluasi bagi saya yang kadang masih terlalu tidak teratur dalam menjalani hari. Siapa tahu kan dengan memperbaiki manajemen waktu ini juga bisa berdampak pada karir saya? Selanjutnya saya ingin sedikit bercerita tentang apakah penting bagi wanita bekerja untuk mengejar karir. Yuk ikuti terus seri ibu bekerja di blog ini!


6 Comments

  1. Jadi ibu bekerja emang kudu pinter manajemen waktu yaa kalau telat 15 menit aja langsung berantakan. Aku work from home siih jadi agak beda atur waktunya. Tapi setuju ama Mbak Antung, fleksibel aja dan setrika baju tertentu aja. Kalau mau semuanya perfect ya bakal stress.

    ReplyDelete
  2. sebagai wanita saya merasa bersyukur karena memiliki kelebihan untuk melakukan pekerjaan secara multitasking tapi di satu sisi saya juga merasakan efek buruknya, akhir-akhir ini saya merasa fokus saya jadi jauh berkurang. Duh. btw saya setuju dengan poin bahwa sebaiknya kita membuat jadwal harian yang jelas, agar pekerjaan rumah tidak keteteran

    ReplyDelete
  3. Menentukan prioritas nih yang kadang masih sulit dilakukan, mbak
    Kalau multitasking sering kali kulakukan, tapi ya itu kelemahannya,ada yang bisa terselesaikan, dan ada yang kurang maksimal saat di rumah nih, karena perlu bagi-bagi

    ReplyDelete
  4. setuju banget nih, tidur cukup itu wajib, biar tetap waras deh dan pastinya kerja sama dengan pasangan itu juga harus pake banget.
    jadi ingat waktu masih kerja dulu juga ya semua dikerjakan sendiri karena memang tanpa ART tapi dibawa santai aja dah, gak mau terlalu ngoyo, kalau gak bisa beres dalam satu waktu yasudahlah, nanti aja lagi dilanjut.

    ReplyDelete
  5. Ekstra tip lainnya, berani menyimpan hp agar semua daftar pekerjaan selesai tepat waktu atau sesuai target.
    Terutama menjelang jam tidur. Ketegasan pribadi buat, 'Oke, cukup scrollingnya, mari tidur', kadang menjadi satu sikap yang bisa dibanggakan.
    Sedikit nyambi mengingatkan diri sendiri juga nih mbak ^^

    ReplyDelete
  6. Salut banget...ka Antung.
    Ibu bekerja dituntut untuk senantiasa well-prepared agar seluruh kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Kaya semacam gak ada waktu bersantai yaa.. Hebat banget ka Antung masih bisa ngeblog.

    Barakallahu fiik~
    Semoga Allaah berkahi ka Antung selalu.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post