- Apa yang kamu cintai (passion) ❤️
- Apa yang kamu kuasai (profession/skills) 💪
- Apa yang dibutuhkan dunia 🌍
- Apa yang membuatmu dibayar 💰
Pertemuan irisan dari empat hal inilah yang akan membantu seseorang dalam menemukan ikigainya. Untuk menemukan irisan ini, kita bisa membuat tabel berisi hal-hal yang sesuai dengan empat dasar ikigai ini dan mengisi sesuai dengan bagiannya sebanyak mungkin. Berikut contoh isian ala saya
| Komponen Ikigai | Pertanyaan Panduan | Jawaban Saya |
|---|
| Apa yang kamu cintai (Passion) | Aktivitas apa yang membuat saya senang dan bersemangat? | Menulis, membaca, menonton |
| Apa yang kamu kuasai (Skills) | Keahlian apa yang saya miliki atau sering saya lakukan dengan baik? | Menulis artikel, menulis cerita, membuat kue, merajut crochet |
| Apa yang dibutuhkan dunia | Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan untuk orang lain? | Informasi dengan bahasa santai, kue yang enak |
| Apa yang membuatmu dibayar | Aktivitas apa yang bisa memberikan saya penghasilan? | Bekerja di perusahaan, menulis artikel di blog, menjual produk makanan |
Dari tabel tersebut, saya mulai menyadari bahwa menulis bukan sekadar hobi bagi saya. Lebih dari itu, aktivitas ini juga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus memberikan nilai secara finansial. Di titik inilah saya mulai melihat benang merah dari ikigai dalam hidup saya.
Nah, jika pada buku sebelumnya García dan Miralles lebih banyak membahas konsep dasar ikigai, pertanyaannya adalah: apa yang mereka tawarkan dalam buku ini?
Review Buku The Ikigai Journey
Judul buku : The Ikigai Journey
Penulis : Hector Garcia & Francesc Miralles
Penerjemah : Mohammad Sidik Nugraha
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Penyelaras Akhir : Hikmawati Diyas N
Penata Letak : Khoslishotul Hidayah
Penerbit : Renebook
Jumlah halaman : 308 halaman
Tahun terbit : 2023
Buku The Ikigai Journey adalah buku yang membahas tentang langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menemukan ikigai secara lebih personal. Dalam buku ini, Garcia dan Miralles mengumpamakan langkah-langkah tersebut dalam sebuah perjalanan naik Shinkansen dan melalui berbagai "stasiun" kehidupan di Jepang.
Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi tiga bagian utama.
Bagian pertama berfokus pada masa depan yang diwakili oleh
kota Tokyo. Pada bab ini penulis membantu pembaca membayangkan kehidupan yang diinginkan dan arah yang ingin dituju. Pembaca juga akan menemukan berbagai latihan yang dapat digunakan untuk merencanakan masa depan secara lebih terarah.
Bagian kedua mengajak pembaca menelusuri masa lalu yang diwakili oleh kota Kyoto. Dalam bagian ini, terdapat beberapa bab yang membahas kenangan masa kecil, pengalaman hidup, serta hubungan dengan orang lain. Tujuannya adalah membantu pembaca lebih mengenali diri sendiri melalui refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui.
Sementara itu, bagian ketiga membawa pembaca kembali ke masa kini yang disimbolkan oleh Kuil Ise. Pada bagian ini, pembaca diajak untuk fokus pada langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari agar hidup terasa lebih bermakna.
Pada bagian akhir buku, pembaca akan diberikan rangkuman 35 langkah yang bisa dilakukan untuk menemukan dan memantapkan ikigai kita.
Beberapa Langkah yang Bisa Dipraktikkan dari buku The Ikigai Journey
Mengingat buku ini berisi banyak sekali langkah, berikut beberapa yang menurut saya paling relevan untuk dipraktikkan:
1. Buatlah Tujuan Besar dalam Hidup
Bab pertama dalam buku ini membahas tentang Shinkansen dan cerita hadir dalam pembuatannya. Awalnya Shinkansen dibuat dengan target kecepatan 100 km/jam. Namun siapa sangka oleh petinggi perusahaan target tersebut dinaikkan lagi menjadi 200 km/jam yang membuat para insinyur pun harus banyak melakukan perubahan dalam desain kereta tersebut. Dan hasilnya, sekarang orang-orang bisa menikmati perjalan dari Tokyo ke Kyoto hanya dalam hitungan menit.
Dari cerita tentang shinkansen ini kita pun belajar kalau untuk bisa mewujudkan sebuah hal yang besar kita juga perlu menetapkan tujuan yang besar, bahkan kadang terdengar mustahil. Tujuan yang sangat besar ini akan memacu kita untuk mencari cara mewujudkannya. Dalam hal tujuan besar ini, kita bisa menuliskannya atau membuat dalam bentuk
vision board agar lebih mudah dibayangkan.
2. Minta Umpan Balik Negatif
Orang-orang biasanya hanya meminta umpan balik positif terhadap hasil pekerjaan atau karya yang dimilikinya. Tak banyak yang bisa menerima umpan negatif karena bisa melukai ego dalam diri. Namun sejatinya, umpan balik negatif alias kritik ini akan sangat membantu kita menemukan kekurangan dalam diri atau pekerjaan yang dikerjakan.
3. Milikilah Mentor dalam Kehidupan
Mungkin banyak yang tidak sadar kalau kehadiran mentor dalam kehidupan akan sangat membantu dalam kesuksesan. Mentor yang memiliki pengalaman di atas kita akan membantu dalam mempelajari dan menguasai satu bidang.
Selain mewariskan ilmu yang dimilikinya, mentor juga bisa menjadi tempat bertanya dan berdiskusi terkait bidang yang dijalani. Seorang mentor yang baik akan memberi kita kesempatan untuk memanfaatkan tiap jam latihan dan membuat kita selalu tertantang dan berkonsentrasi penuh.
4. Jangan Takut Mencoba Hal Baru
Selama ini mungkin kita terjebak dalam zona nyaman yang nyatanya membuat kita sulit untuk berkembang. Untuk bisa menemukan ikigai, penting sekali bagi seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal yang baru. Dalam praktiknya, kita bisa memulai dengan mengubah rute bekerja, membaca buku dengan genre yang belum pernah dibaca sebelumnya, atau bahkan mempelajari hal yang baru dan berkenalan dengan orang yang baru.
5. Fokus pada Satu Kegiatan dan Gunakan Timer saat Melakukan Kegiatan
Sebagian orang (terutama para wanita) mungkin berpikir kalau dengan mengerjakan banyak hal dalam satu waktu akan bisa membuat kita menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Padahal sudah ada banyak studi yang menyebutkan kalau melakukan pekerjaan secara multitasking tidak akan membuat seseorang lebih cepat menyelesaikannya. Sebaliknya, kita mungkin akan merasa lelah karena fokus dan konsentrasi yang terpecah.
Cara paling efektif adalah dengan membagi waktu khusus untuk mengerjakan sebuah kegiatan dan benar-benar fokus pada kegiatan tersebut. Kita bisa membuat timer atau teknik Pomodoro yang bisa membantu dalam meluangkan waktu khusus untuk beraktivitas tanpa gangguan ini.
Penutup
Sebagai sebuah buku pengembangan diri, The Journey of Ikigai sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal dirinya lebih dalam dan menemukan makna dalam hidup.
Bagi saya pribadi, buku ini tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga membuka cara pandang baru bahwa ikigai tidak selalu harus berupa tujuan besar. Justru, ia bisa ditemukan dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Ini juga selaras dengan buku lain yang saya baca yang berkaitan dengan tips membentuk kebiasaan baik.
Langkah-langkah yang dijabarkan dalam buku ini pun terasa sederhana dan realistis untuk dipraktikkan. Apalagi, penulis juga memberikan berbagai contoh dan latihan yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Satu hal yang perlu diingat, ikigai bukanlah jalan menuju kesuksesan, namun tentang menemukan alasan untuk terus menjalani hidup dengan lebih bermakna. Kalau kamu sedang tertarik membaca buku pengembangan diri, baca juga review saya terkait hidup yang lebih teratur ala Marie Kondo di blog ini, ya.
14 Komentar
Berarti kalau punya hobi nonton drakor bisa ditekuni Kali ya mbak, sehingga menjadi sebuah Ikigai.. meskipun aku pun suka nulis.
BalasHapusSebenarnya, kalau menurut saya pribadi tidak ada kata terlambat untuk mulai melakukan hal-hal baru. Termasuk belajar tentang pengembangan diri. Saya belum sempat menyelesaikan buku ini karena kebetulan dulu pernah baca sebentar punya kawan, akhirnya bisa memiliki gambaran penuh tentang isinya dari tulisan ini😀. Konsep Ikigai ini memang sangat relevan bagi kita yang sedang menyeimbangkan peran antara pekerjaan dan keluarga. Penjelasan mengenai analogi Shinkansen dan pentingnya fokus pada satu kegiatan (anti-multitasking) memberikan sudut pandang praktis yang sering kali terlupakan dalam kesibukan sehari-hari. Terima kasih sudah berbagi tulisan yang keren ini, jujur sangat membantu untuk mulai menemukan "benang merah" dalam hidup, dengan begitu kita bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih ringan dan penuh semangat.
BalasHapusSetuju tuh pada paragraf kedua terakhir mbak, Ikigai berkaitan juga dengan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari, karena itu pada akhirnya menjadi jalan untuk mencapai tujuan besar. Saya pernah baca buku Ikigai versi yang ditulis penulis Indonesia, cuma lupa lagi namanya. Salah satunya kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan di rumah itu akan mengantarkan pada cita-cita besar kita, seperti membereskan tempat tidur sendiri misalnya, membereskan buku yang kita baca sendiri misalnya. Atau menyempatkan tiap hari misalnya 20-30 menit membaca sebelum bekerja.
BalasHapusSeru kayanya nih bukunya, setuju dengan buat tujuan besar dalam hidup, karena semakin kita optimis dengan tujuan kita maka kemungkinan besar akan terwujud, jadi harus yakin dengan seijinNya tidak ada yang mustahil.
BalasHapusLangkah kedua ini yang masih berat dipraktikin ya. minta umpan balik negatif biar ga baper itu susah :D
BalasHapusIkigai itu adlah tujuan hidup. Bagi orang Jepang memiliki tujuan hidup itu sangat penting. Saya pernah membaca bahwa kegiatan-kegiatan kecil dalam hidup kita bisa juga masuk ke dalam konsep ikigai, seperti meminum teh di pagi hari dan bangun cepat di pagi hari. Hal-hal kecil tersebut adalah kebiasaan baik yang akan membantu kita untuk menemukan tujuan hidup
BalasHapusMasa lalu, masa kini, dan masa depan adalah satu kesatuan perjalanan. Menarik ketika digambarkan seperti naik Shinkansen. Jadi dapat gambaran jelas kalau buku 'The Ikigai Journey' ini lebih ke arah workbook ya daripada sekadar teori.
BalasHapusDengan Ikigai, kita berjuang tidak akan merasa berat, kita bekerja tidak akan merasakan kelelahan hebat, dan saat kita berkontribusi akan terasa ikhlas, karena IKIGAI menyelaraskan semua yang melekat pada kita jadi bisa berjalan beriringan antara jiwa dan dalam berbagai kondisi. Bayangin kalau tanpa Ikigai, akan capek memaksakan kehendak hati tapi tak sejalan dengan alam pikiran dan jasmani, juga semesta tidak mendukung kan? Ulasan bukunya cakep Mba Antung, makasih insightnya.
BalasHapusIni tuh salah satu buku yang pengen aku baca banget, tapi belum kesampaian. Alhamdulillah, sudah di review oleh Mba dan poin-poin yang disampaikan aplikatif buat keseharian dan hidup jangka panjang ya Mba.
BalasHapusThe Ikigai Journey, 308 halaman berbobot banget, bikin pembaca ingin segera menerapkan pola hidup seimbang dengan memahami passion, kekuatan, kelemahan, apa yang dunia butuhkan, punya kemampuan apa secara profesional dan cara agar dibayar atau mendapatkan uang dengan kemampuan yang dimiliki.
Makasih mbaa buat review buku ini. Aku ikutan menjawab pertanyaan panduan dan mirip nih kita karena suka menulis. Hmm... Menulis jadi salah satu ikigai, sesuai passion, bisa menghasilkan uang, dan berdampak bagi sekitar.
BalasHapusmenarik nih pembahasannya, dan...belum terlambat untuk memulai apapun loh termasuk membaca buku. saya juga sudah baca buku tentang ikigai, tapi yang judulnya the book of ikgai karya Ken Mogi, sama dalamnya dan sama bikin waaaah nya dengan review mba antung.
BalasHapusikigai itu intinya (bagi saya) adalah bersyukur, menikmati hal-hal kecil tanpa harus nunggu jadi orang sukses. bersyukur itu sendiri udah kesuksesan sih, baik itu Ikigai, Bersyukur, atau Mindfulness, intinya sama, yaitu kesadaran.
Hal yang sama yang dakubrasakan soal menulis, karena memberikan manfaat plus juganya dari segi nilai ekonomi juga. Sepertinya bisa baca langsung nih tentang Ikigai ini lebih dalam
BalasHapusIkigai Journey ini memang menarik, dan kamu membahasnya dengan cara yang tenang tapi ngena. Aku suka bagaimana kamu nggak cuma review isi bukunya, tapi juga kasih refleksi yang bikin pembaca ikut mikir: “aku sendiri sudah nemu belum ya tujuan hidupku?” Tulisan yang pelan tapi dalam
BalasHapusKesimpulanku jadi kalau kita menyukai paling ngga kita harus menguasai yang kita tekuni ya.
BalasHapus