Reuni di Usia 40-an: Antara Nostalgia, Keraguan, dan Penerimaan Diri


Reuni di Usia 40-an: Antara Nostalgia, Keraguan, dan Penerimaan Diri

Beberapa hari setelah Lebaran, saya dan teman-teman kuliah mengadakan acara reuni sekaligus halal bi halal angkatan yang diadakan di Aura Hotel Banjarbaru. Acara ini sebenarnya bisa dibilang cukup dadakan karena baru dibicarakan di hari-hari terakhir Ramadan. Mulanya ada yang menanyakan apakah ada acara buka bersama, lalu ada yang menanggapi, “sekalian saja halal bi halal.” 

Siapa sangka ternyata dari tanggapan singkat ini disambut positif oleh anggota grup kuliah. Mulanya hanya anggota laki-laki yang ikut acara. Namun setelah ada yang mengompori, akhirnya anggota perempuan pun bersedia untuk mengikuti acara halal bi halal ini.

Sekian tahun lulus dari kampus, bisa dibilang saya dan teman-teman kuliah, terutama yang perempuan, hanya pernah bertemu dalam hitungan jari. Padahal sebenarnya ada beberapa teman kuliah yang tinggal satu kota dengan saya. Namun karena masing-masing sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, rasanya tidak terpikir di kepala kami untuk bisa berkumpul seperti masa kuliah dulu. 

Hal yang berbeda justru terlihat pada teman-teman kuliah pria. Beberapa dari mereka masih cukup rutin bertemu karena bekerja di bidang yang sama. Di grup angkatan, teman-teman kuliah pria ini kerap membagikan momen kebersamaan mereka saat berkumpul entah dalam rangka pekerjaan atau sekadar nongki bareng. Jadi bisa dibilang, tanpa perlu momen reuni pun mereka tetap terhubung.

Keraguan Jelang Reuni



Saya sendiri awalnya agak ragu untuk mengikuti acara reuni angkatan ini. Dalam benak saya terpikir bagaimana jika dalam acara reuni teman-teman menanyakan pencapaian hidup saya? Atau kenapa mobil saya tidak sebagus yang lain? Dan berbagai pertanyaan yang mungkin juga menjadi momok bagi mereka yang diundang ke acara reuni.  

Namun pada akhirnya, saya memutuskan untuk datang. Ada keyakinan kecil dalam diri saya bahwa di usia empat puluhan, kami semua seharusnya sudah cukup dewasa untuk tidak lagi menilai seseorang hanya dari pencapaiannya.

Dan ternyata keyakinan saya tidak salah! 

Ketika akhirnya bertemu kembali—terutama dengan teman-teman perempuan—tidak ada satu pun pembicaraan tentang siapa yang paling sukses atau siapa yang hidupnya paling “berhasil”. Yang ada justru cerita-cerita sederhana khas para ibu: tentang anak, sekolah, kesehatan, hingga keseharian yang mungkin terlihat biasa, tapi terasa begitu dekat. 

Kami juga bernostalgia, mengingat kembali berbagai kisah semasa kuliah yang kini terasa lucu untuk diceritakan ulang. Tawa pun pecah di sana-sini, mencairkan jarak yang selama ini terbentuk oleh waktu. Bahkan bisa dibilang hari itu, kami melupakan ponsel masing-masing yang sehari-hari selalu melekat di tangan. Setiap orang fokus mendengarkan cerita dan berbagi ceritanya masing-masing. 

Adapun untuk teman-teman kuliah yang pria, suasanananya juga tetap akrab, apalagi mengingat sebagian dari mereka juga sudah cukup sering bertemu. Pembicaraan mungkin tak jauh dari urusan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Para pasangan yang turut hadir tampak setia menemani, memberi ruang bagi kami untuk kembali sejenak menjadi “anak kuliah” seperti dulu.

Reuni, Antara Nostalgia dan Pencapaian



Bagi sebagian orang, momen reuni bisa menjadi momen yang menyenangkan karena bisa bersua lagi dengan teman-teman di masa sekolah atau kuliah dan mengenang kembali masa lalu. Namun bagi sebagian orang lagi, momen reuni bisa jadi hal yang dihindari. Ada yang mungkin merasa minder akan pencapaiannya, hingga yang mungkin memiliki kenangan buruk di masa lalu sehingga tak ingin lagi mengulang kenangan yang sama. 

Dalam sebuah reuni, memang kita kadang tidak bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan seputar pencapaian hidup, karier, keluarga, hingga hal-hal pribadi lainnya. Bahkan, tidak jarang ada yang merasa perlu “menampilkan versi terbaik” dari hidupnya agar terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

Untungnya, pengalaman saya mengikuti reuni angkatan kuliah setelah dua puluh tahun membuktikan hal yang sebaliknya. Reuni hari itu tidak diisi dengan ajang pembuktian pencapaian diri. Mereka yang datang ke acara reuni hari itu disambut dengan senyum dan kehangatan. 

Ada yang membawa anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa, dan ada juga yang masih mengejar putra pertama yang masih balita. Pembicaraan pun jauh sekali dari hal yang berbau materi. Bahkan di akhir acara salah satu teman sempat bercanda dengan mengumpulkan siapa saja diantara yang hadir lulus dengan IPK dua koma sekian. 

Mengingat kejadian ini, satu pertanyaan muncul di benak saya. 

Apakah ini berkaitan dengan umur? Mengingat kami semua sudah memasuki usia empat puluhan dan termasuk generasi milenial? Saya pun tidak sepenuhnya yakin. Namun satu hal yang terasa jelas, di usia ini cara pandang terhadap hidup memang mulai berubah. Kita tidak lagi terlalu sibuk membandingkan. Kita mulai lebih memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

Di lain pihak, reuni juga merupakan momen silaturahmi yang berpotensi membantu kita menjalin relasi yang lebih baik. Teman kuliah yang dulunya mungkin tidak terlalu akrab bisa menjalin keakraban baru lewat ajang reuni ini dan siapa tahu juga bisa membuka berbagai peluang yang selama ini terasa sulit diraih. 

Penutup

Setelah kurang lebih dua jam berkumpul, tibalah waktunya bagi kami untuk berpisah. Acara hari itu ditutup dengan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen yang mungkin tidak sering terjadi. Setelahnya, ada yang langsung pulang dan ada juga yang bertahan di tempat untuk melanjutkan obrolan atau menemani anak mereka berenang. 

Saya sendiri pulang ke rumah bersama keluarga dengan membawa rasa hangat di hati. Kekhawatiran yang sempat muncul sebelum datang ke reuni ternyata tidak benar-benar terjadi. Tidak ada perbandingan, tidak ada penilaian. Yang ada hanyalah cerita, tawa, dan rasa saling menerima.

Reuni angkatan ini menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu tentang siapa yang paling berhasil, tetapi tentang bagaimana kita tetap terhubung dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita di masa lalu.

Dan di tengah kesibukan serta peran yang terus bertambah, memiliki waktu untuk kembali tertawa bersama seperti dulu adalah hal yang tidak ternilai. 

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar