Review The Life-Changing Magic of Tidying Up by Marie Kondo

Beberapa bulan terakhir, sebuah rasa tak nyaman hadir dalam diri saya terkait kondisi rumah kami. Rumah saya bisa dibilang tak memiliki banyak barang namun selalu terlihat berantakan. Wajar, sih mengingat kami memiliki 2 anak balita yang kalau nggak bikin rumah berantakan rasanya nggak afdol. Meski begitu, entah kenapa rasa tak nyaman terus bercokol di benak saya. Apalagi jika saya menengok ke lemari pakaian yang isinya amburadul. Kaos kaki yang kehilangan pasangannya, masker yang terselip di sana sini hingga kerudung-kerudung yang tercampur aduk warnanya dalam laci.

Rasa tak nyaman juga saya rasakan saat melihat lemari buku kecil di kamar tengah. Ada beberapa buku yang mengusik pikiran saya karena tak kunjung terbaca setelah sekian lama saya beli. Bahkan ada buku yang ketika saya membelinya ternyata isinya tak sesuai dengan yang saya harapkan. Ini artinya kecil kemungkinan buku tersebut akan saya baca. Padahal sejak beberapa tahun terakhir saya sangat selektif dalam membeli buku untuk pribadi. Tak lagi kalap saat ada promo dan hanya membeli buku yang saya yakin akan membacanya.

Atas rasa ketidaknyamanan yang hadir ini, saya simpulkan kalau sudah waktunya saya memerlukan bantuan. Bantuan ini saya temukan dalam bentuk sebuah buku yang sukses mengubah hidup banyak orang. Penulis buku ini adalah seorang wanita Jepang yang ternyata usianya sebaya dengan saya bernama Marie Kondo. Ya, buku yang saya maksud adalah The Life-Changing Magic of Tidying Up by Marie Kondo yang akhirnya saya beli beberapa bulan yang lalu. Saya lewat buku ini Marie Kondo juga dapat membantu saya dalam membenahi rumah yang sudah kami tempati selama 3 tahun terakhir.


Review buku The Life-Changing Magic of Tidying Up by Marie Kondo



Judul buku : The Life-Changing Magic of Tidying Up
Penulis : Marie Kondo
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasi & Baiq Nadia Yunarthi
Perancang Sampul : Wirastuti & Musthofa Nur Wardoyo
Pemeriksa Aksara : Fitriana, Pritameani & Dwi Kurniawati
Penata aksara : gabriel_sih, Adrianus Adhistama & Petrus Sonny
Penerbit : Bentang
Jumlah halaman : 206 halaman
Tahun terbit : 2019

The Life-Changing Magic of Tidying Up by Marie Kondo merupakan buku pengembangan diri yang sudah dirilis ke berbagai bahasa dan laris manis di pasaran. Sudah cukup lama sebenarnya saya penasaran dengan isi buku ini. Apalagi banyak sekali review positif dan orang-orang yang katanya mengalami perubahan hidup setelah mempraktikkan teknik Marie Kondo. Namun, layaknya jodoh, saya baru diperkenankan membaca buku ini di akhir tahun 2020 kemarin.

Buku Marie Kondo ternyata sangatlah menyenangkan untuk dibaca. Dalam buku setebal 206 halaman ini Marie bercerita bagaimana awal mula dirinya bisa berkecimpung dalam dunia berbenah dan tentunya berbagai cerita dari klien yang ditangani Marie setelah berprofesi sebagai pakar berbenah. Dari buku ini diketahui kalau kebiasaan berbenah Marie ternyata sudah dimulai sejak kecil. Marie sangat menyukai majalah-majalah interior dan melakukan berbagai eksperimen untuk membuat rumah.

Di usia remaja, Marie berkenalan dengan buku berjudul Seni Membuang karya Nagisa Tatsumi yang yang kemudian menjadi dasar bagi dirinya dalam urusan berbenah. Setelah membaca buku tersebut, Marie langsung bersemangat untuk membuang berbagai barang yang ada di rumah mereka. Namun tentunya perlu waktu bertahan-tahun hingga Marie bisa menemukan metodenya sendiri yang kini ia bagikan ke semua orang bahkan menjadikan dirinya seorang konsultan berbenah.

Buku The Life -Changing Magic of Tidying Up sendiri terbagi atas 5 bab yang terdiri atas:

Bab 1. Kenapa Kita Tidak Bisa Menjaga Kerapian Rumah?

Pada bab ini, penulis menjabarkan berbagai alasan yang membuat orang-orang mengalami kesulitan dalam berbenah seperti cara berbenah yang salah, pemikiran kalau berbenah itu harus dilakukan setiap hari hingga perlunya meluangkan waktu khusus untuk berbenah.

Bab 2. Membuang Sampai Tuntas Terlebih Dahulu

Salah satu tips yang paling terkenal dari metode Marie Kondo adalah dengan membuang barang-barang yang tidak memberikan Spark Joy bagi pemiliknya. Dalam bab ini, penulis menjabarkan bagaimana cara memilih barang yang ingin kita simpan dan yang ingin dibuang.

Bab 3. Berbenah Berdasarkan Kategori Ajaibnya Bukan Main

Bab ini menjelaskan dengan lebih rinci urutan berbenah sesuai dengan kategori yang dibuat oleh Marie Kondo yakni mulai dari pakaian, buku, kertas, komono (pernajk-pernik) dan terakhir benda-benda yang bernilai sentimental. Selain itu di bab ini juga dijelaskan cara menyimpan pakaian yang efektif.

Bab 4. Mencerahkan Hidup dengan Menyimpan secara Apik

Setelah selesai dengan urusan membuang barang-barang, di bab ini Marie Kondo berbagi tips dalam menyimpan barang dan menjaga kerapian rumah setelah selesai berbenah.

Bab 5. Keajaiban Berbenah Mengubah Hidup Anda secara Dramatis

Bagian akhir dari buku Marie Kondo ini berisi hal-hal yang akan kita dapatkan setelah berhasil berbenah dengan menggunakan metode Konmari. Terdapat berbagai testimoni kisah dari klien Marie yang hidupnya mengalami perubahan besar setelah berbenah secara keseluruhan.


6 Tips berbenah ala Marie Kondo

Sebagai orang yang tak pandai berbenah, jujur saya mendapati trik-trik dan konsep yang diberikan Marie Kondo dalam metodenya ini sangat mudah diikuti dan membantu saya dalam urusan menata rumah. Dalam hal melipat pakaian, misalnya, sistem melipat pakaian dengan cara vertikal ternyata memberikan lebih banyak ruang untuk pakaian. Tak hanya tentang melipat pakaian, Marie Kondo juga membagikan tips-tips lain yang rasanya tak sabar ingin segera saya praktikkan.

Selain membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, saya juga sempat menonton seriesnya yang ada di netflix. Serial ini terdiri dari 8 episode di mana Marie mendatangi 8 keluarga di Amerika Serikat dengan berbagai latar belakang dan budaya untuk membantu mereka berbenah rumah. Dengan menonton serial ini membuat saya bisa lebih memahami cara kerja dari metode Konmari.

Setelah membaca dan menonton serial Tidying Up with Marie Kondo pastilah saya mendapat banyak sekali ilmu berharga. Berikut saya bagikan 6 tips berbenah yang saya dapatkan dari Marie Kondo:

Lakukan berbenah secara sekaligus, bukan berangsur-angsur

Berbenah adalah kegiatan istimewa. Jangan melakukannya setiap hari.

Kebanyakan orang berpikir kalau berbenah itu dilakukan setiap hari. Berbenah yang dilakukan setiap hari di sini mungkin termasuk pekerjaan membersihkan rumah, merapikan berbagai pernik rumah termasuk pakaian dan yang lainnya.

Sementara menurut Marie Kondo, berbenah terdiri atas 2 jenis yakni beres-beres harian dan beres-beres khusus. Beres-beres harian yaitu menggunakan dan mengembalikan sesuatu pada tempatnya, akan senantiasa menjadi bagian dari kehidupan kita selama kita masih perlu menggunakan pakaian, buku, alat tulis dan sebagainya. Adapun beres-beres khusus yaitu merapikan rumah sesegera mungkin dan secara keseluruhan dan yang menjadi fokus dari buku ini.

Karena itu dalam metode berbenah ala Marie Kondo, seseorang harus benar-benar meluangkan waktu untuk melakukan hal ini. Jika seseorang berhasil merapikan rumah secara total, selanjutnya yang dilakukan hanya tinggal berbenah dengan mengembalikan barang ke tempatnya setelah dipergunakan.

Berbenahlah sesuai dengan kategori, bukan lokasi

Berbenahlah sesuai urut-urutan yang benar

Tips kedua yang dari metode Marie Kondo adalah berbenah sesuai kategori. Urutan kategori berbenah ala Marie Kondo adalah dimulai pakaian, buku, kertas, komono (pernak-pernik, dapur) dan barang yang memiliki kenangan.

Jadi, jika ingin mulai berbenah rumah hal pertama yang harus dilakukan adalah membenahi pakaian kita baru dilanjutkan dengan barang yang lain. Kenapa barang yang memiliki kenangan diletakkan paling akhir? Karena biasanya barang-barang ini paling sulit untuk dibuang oleh pemiliknya. 
 

Memilih barang yang ingin disimpan, bukan yang ingin dibuang

Kita semestinya memilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan

Salah satu hal yang paling dikenal dari metode Konmari adalah ajakan untuk membuang barang-barang yang tidak menghadirkan rasa spark joy bagi pemiliknya. Bahkan dalam bab awal bukunya Marie menyebutkan kalau berbenah yang efektif hanya terdiri dari dua aktivitas esensial: membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Di antara keduanya, membuang harus didahulukan.

Namun di bab lain, Marie menyebutkan kalau kita semestinya memilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan. Karena itulah dalam proses membuang barang, kita diminta memilih barang satu per satu untuk dapat merasakan apakah barang tersebut dapat memberikan kebahagiaan bagi kita. Jika, ya, maka barang tersebut akan disimpan dan jika tidak, ucapkan terima kasih dan buanglah barang tersebut.

Dengan cara ini kita memastikan diri kita dikelilingi barang yang benar-benar membuat bahagia. 
 

Simpan barang sesuai kategori

Simpan semua barang sejenis di satu tempat dan jangan menyimpan di tempat yang tersebar-sebar

Setelah menentukan barang yang ingin disimpan, saatnya untuk memberikan wadah bagi barang-barang tersebut. Dalam metodenya, Marie menegaskan agar kita menyimpan barang sesuai kategori layaknya membuang barang di langkah sebelumnya. Jika dalam satu rumah ada beberapa orang, maka barang bisa disimpan berdasarkan jenis dan berdasarkan pemiliknya.

Penyimpanan juga sebaiknya difokuskan di satu tempat. Jika tempat penyimpanan tersebar-sebar, maka cepat atau lambat rumah akan kembali berantakan.


Menyimpan barang secara vertikal, bukan ditumpuk

Salah satu metode yang langsung saya tetapkan setelah membaca buku ini adalah menyimpan pakaian secara vertikal. Meski tidak semua pakaian bisa saya susun secara vertikal, namun memang terasa sekali perbedaan sebelum dan sesudah saya mengubah cara menyusun pakaian ini. Salah satunya adalah dengan menyusun secara vertikal saya mendapat lebih banyak ruang dan bisa lebih leluasa dalam memilih pakaian yang ingin digunakan.

Menurut Marie, beberapa alasan mengapa dalam menyimpan barang sebaiknya secara vertikal adalah, pertama, jika kita menumpuk barang, tempat penyimpanan niscaya terkesan tak ada habis-habisnya. Barang bisa ditumpuk terus-menerus sehingga kita akan luput memperhatikan jumlahnya yang kian bertambah.

Alasan kedua adalah menumpuk membebani barang yang paling bawah. Ketika barang ditumpuk-tumpuk benda yang berada paling bawah pasti tergencet. Hal ini pastinya akan membuat benda yang berada paling bawah menjadi cepat rusak.

Tidak perlu membeli barang khusus untuk penyimpanan

Alih-alih membeli wadah sekarang juga, tunggu sampai Anda tuntas berbenah, kemudian baru mencari alat penyimpanan yang benar-benar Anda sukai.

Dalam urusan menyimpan barang ternyata kita tidak memerlukan wadah-wadah yang rumit. Cukup lemari berlaci dan kotak-kotak sederhana. Marie bahkan menyarankan untuk memanfaatkan kotak sepatu kosong sebagai wadah penyimpanan. Kotak sepatu bisa digunakan untuk menyimpan kaos kaki, wadah botol sampo, wadah bumbu, dan barang lainnya sesuai keinginan pemiliknya.

Dalam memilih kotak penyimpanan, hindari memilih bentuk bundar, hati atau bentuk apapun yang tidak simetris karena bentuk seperti ini biasanya menghabiskan tempat.

Demikian review saya untuk buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. Jika ditanya apakah saya sudah berbenah sesuai dengan ajaran Marie Kondo, saya bisa katakan kalau saya masih berproses dalam melakukannya. Semoga saja dalam waktu beberapa bulan lagi saya bisa benar-benar berbenah untuk mendapatkan rumah yang lebih rapi dan membuat hati tenang dan nyaman.
Baca Juga

Post a Comment

10 Comments

  1. Bukunya kelihatan menarik dan sangat bermanfaat bagi kita, namun yang perlu saya pertanyakan adalah tentang bagaimana kita mengajarkan supaya anak-anak di rumah bisa lebih rajin untuk berbenah mainan dan tidak membuat lemari pakaian berantakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau di serialnya Marie mencontohkan anak-anaknya diajak ikutan berbenah, mbak. Tapi saya sendiri juga masih belum tahu triknya gimana anak mau ngerapiin mainannya sendiri. hehe

      Delete
  2. Jadi pengen baca langsung bukunya. Soalnya aku tuh tipe orang yang paling suka berbedan rumah dan nggak suka kalau rumah udah full barang yang nggak jelas kegunaannya. Lebih baik secukupnya saja barang di rumah, biar hati juga lebih tenang karena punya 2 krucil yang luar biasa aktif hehehe....

    ReplyDelete
  3. aku udah ngincer buku ini mbak
    baca artikel ini jadi makin pengen baca
    duh urusan beberes rumah ini emang PR banget ya

    ReplyDelete
  4. karena aku termasuk orang yang lebih virtual jadi masih nonton ttg marie kondo ini via netflix, tapi bukunya juga menarik ya

    ReplyDelete
  5. Buku ini apa beda dengan buku Konmari yang sekilas aku baca di internet? Btw sistem yang disampaikan sistematis ya. Kalau berbenah sekaligus dalam satu waktu susah nemu waktu yang cocok ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja mbak kayaknya. Metodenya menang dikenal dengan sebutan konmari

      Delete
  6. thanks mba ulasannya. ini cikal bakal konmari yang ngetren banget yaa sampai dia tuh bikin acara gitu kan di tv

    ReplyDelete
  7. Jujur aku baru tahu kalau ada bukunya juga.. Aku taunya serial Mary Kondo di netflix.. seru juga ya baca bukunya, bisa lebih detail

    ReplyDelete
  8. Heya akhirnya baca juga ya buku ini Mbak. Aku baca sejak 2017 dan busae dibilang buju ini awal mula aku hidump inimalis meski ngga secara gamblang menyuarakan minimalism

    ReplyDelete