Review Novel Rapijali 1 Mencari

Nama Dee Lestari tentunya bukanlah nama yang asing lagi bagi para pecinta dunia fiksi nasional. Karya-karyanya seperti Supernova, Filosofi Kopi, Perahu Kertas hingga Aroma Karsa sukses membius para pembacanya. Entah itu untuk genre remaja, fiksi ilmiah hingga yang berbau dunia gaib bisa ditulis oleh Dee dengan baik. Karena itu tak heran jika setiap kali Dee Lestari merilis buku terbarunya selalu disambut antusias oleh para penggemarnya.

Di tahun 2021 lalu, Dee merilis novel terbaru berjudul Rapijali. Novel ini sebelumnya ditayangkan secara online sebagai cerita bersambung di media baca Storial. Sayangnya rupanya novel Rapijali yang diterbitkan di tahun 2021 ini tidak selesai di 1 buku, melainkan bagian dari buku trilogi. Beberapa pembaca menyuarakan kekecewaan mereka karena tidak sedari awal diberi tahu kalau novel Rapijali adalah trilogi. Apalagi ending yang diberikan di novel Rapijali 1 : Mencari juga benar-benar gantung. Bagaimana cerita lengkap tentang Rapijali ini? Yuk baca tulisan ini sampai selesai.

Review novel Rapijali 1 : Mencari 


review novel rapijali 1 mencari

Judul buku : Rapijali 1 Mencari
Penulis : Dee Lestari
Penyunting : Dhewiberta H dan Jia Effendie
Perancang Sampul : Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa Aksara : Fitriana, Pritameani, Ifah Nurjany, Nurani
Penata Aksara : Labusiam
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2021
Jumlah Halaman : 352 halaman


Cerita dimulai dari pertemuan antara Yuda Alexander dengan Guntur Putra Sasmita, seorang walikota yang sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur Jakarta. Pertemuan antara Yuda dan Guntur ini membongkar sebuah rahasia tentang putri sulung Guntur bernama Lovinka atau biasa dipanggil Ping hasil hubungannya dengan Kinari, putri dari Yuda. Dalam kedatangannya tersebut, Yuda bermaksud meminta pertanggungjawaban Guntur atas Ping yang selama ini dirawatnya. 

Ping sendiri saat ini berusia 17 tahun dan tinggal di Desa Cijulang bersama Yuda sejak kelahirannya. Sehari-hari ia bergaul dengan Oding, peselancar muda yang sudah seperti saudaranya sendiri. Selain bersekolah, Ping juga merupakan salah satu personil DBrehoh, band yang didirikan kakeknya selama mereka tinggal di Batukaras. Memiliki seorang kakek yang musisi membuat darah seni juga mengalir dalam diri Ping. Tak hanya pandai bermain musik, Ping juga dianugerahi suara yang indah. 

Tak lama setelah pertemuannya dengan Guntur, Yuda pun meninggal karena kanker paru-paru. Ping yang kini hidup sebatang kara dikejutkan dengan dirinya yang tiba-tiba dijemput ke Jakarta untuk bersekolah di SMA Pradipta Bangsa, yayasan milik Guntur. Rupanya ini adalah bentuk tanggung jawab Guntur kepada Ping yang ditinggalkannya selama 18 tahun. Selama di Jakarta, Ping tinggal bersama keluarga Guntur dan disebut sebagai anak asuh. Tentu saja baik Ping maupun Ardi, putra Guntur tidak mengetahui asal usulnya ini. 

Di sekolah barunya, Ping berkenalan dengan beberapa teman baru. Mereka adalah Inggil, Rakai, Buto dan Jemima. Berkumpulnya 5 pribadi dengan latar belakang berbeda ini terjadi berkat sebuah audisi band sekolah yang diprakarsai oleh Rakai, pemuda tampan putra salah satu guru musik di SMA Pradipta Bangsa. Pertemuan mereka dengan seorang pengamen bernama Lodeh membuat grup band SMA ini kemudian mengubah haluannya dari kompetisi sekolah ke kompetisi nasional di stasiun televisi TVRI. Atas ide kreatif Inggil, nama para personil kemudian menjelma menjadi nama band mereka yakni Rapijali. 

Di lain pihak, keberadaan Ping di kediaman keluarga Sasmita menjadi sebuah duri tersendiri. Sarnita, istri Guntur yang sejak awal tidak menyetujui rencana pengangkatan Ping menjadi anak asuh Guntur tak berniat berinteraksi dengan Ping. Ardi, putra tunggal Guntur dengan Sarnita juga tak pernah memberikan sambutan yang baik kepada Ping. Pelan tapi pasti Ardi malah menangkap kejanggalan dari kehadiran Ping di keluarganya. Kenapa ayahnya terlihat sangat memperhatikan Ping dan rahasia apa yang disimpan oleh orang tuanya darinya?

Pada akhirnya, seperti yang disebutkan orang-orang, kisah Ping dan kawan-kawannya di Rapijali 1 ini berakhir dengan sebuah adegan menggantung yang membuat penasaran. Apakah yang akan terjadi dengan grup band Rapijali dalam kompetisi band nasional? Dan apakah rahasia tentang identitas asli Ping akhirnya akan terbongkar? Tentunya untuk bisa mengetahuinya pembaca harus melanjutkan ke buku berikutnya. 


Kesan setelah membaca novel Rapijali 1 : Mencari

Membaca novel Rapijali 1 : Mencari ini mengingatkan saya pada novel Dee Lestari yang lain yakni Perahu Kertas yang melambungkan nama Maudy Ayunda. Bedanya jika Perahu Kertas bercerita tentang idealisme dan mimpi sepasang tokoh utamanya, maka Rapijali menghadirkan berbagai dimensi cerita mulai dari keluarga, persahabatan hingga dunia politik. 

Dalam buku pertama Rapijali ini, Dee memperkenalkan semua tokoh utama dengan singkat dan padat. Pembaca cukup tahu kalau Rakai adalah putra guru musik di Pradipta Bangsa, Inggil adalah anak penjahit yang mendapat subsidi dan merupakan siswa terpandai di sekolah, lalu Buto alias Andreanus Maramis merupakan putra pengacara dan Jemima yang putri pengusaha ternama. 

Satu hal yang saya sukai dari cerita Rapijali ini, meski latar belakang mereka berbeda, pertemanan antara semua tokoh terasa sangat seru dan tulus. Buto dan Jemima tak bermasalah saat harus mengunjungi rumah Inggil yang di dalam gang. Semua anggota band bahkan tak ada yang menolak saat Rakai mengusulkan mengajak Lodeh menjadi anggota baru band mengisi bagian vokal. 

Terkait konflik sendiri, saya setuju dengan beberapa review yang menyebutkan kalau novel ini minim konflik. Sebagai buku pertama dari sebuah trilogi, Rapijali 1 : Mencari sepertinya memang fokus pada mengenalkan para tokoh utamanya. Konflik yang muncul hanya seputar beberapa diskusi alot antara Guntur dengan istrinya, konflik batin yang dialami Ping atau yang terkait dengan debat saat kampanye. Untuk hal ini, mau tak mau saya jadi ingat musim kampanye deh membacanya. Hehe.

Terlepas dari ending yang menggantung dan konflik yang belum mencapai puncak, bagi saya pribadi Rapijali 1 merupakan novel yang menarik dibaca dan memberikan wawasan baru seputar dunia musik dan juga mengenalkan saya tempat bernama Batu Karas. Setelah ini pastinya saya akan melanjutkan bacaan ke buku ke dua Rapijali dan semoga saja nanti bisa menuliskan reviewnya juga di sini.  

12 Comments

  1. Buku pertama dari trilogi ya. Waaah, jadi kepengin baca langsung. Makasih banyak resensinya ya. Mantap.

    ReplyDelete
  2. makasih reviewnya

    ReplyDelete
  3. Rasanya pembacanya harus sabar menunggu sekuel bukunya kalo begini caranya
    Apalagi kalau pembacanya itu tipe yang kangen konflik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Tapi bukunya sudah lengkap kok triloginya jadi bisa langsung beli 3. Hehe

      Delete
  4. Bukannya ga suka sih... tapi novel karya Mak Suri emang agak berat dan kudu mikir, hhaaa... Mana tebel-tebel lagi, hhaa. tapi klo udah di filmkan saya nonton :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini termasuk ringan mbak kalau dibanding supernova seri. Hihi. Kayak perahu kertas gitu deh. Tapi ya memang tebal sih malah buku ke tiganya 700 halaman katanya

      Delete
  5. Aku pikir bukunya tentang beres-beres rumah, hahaha namanya menipu banget. Dulu aku suka baca novel Dee lestari. Eh tapi kok minim konflik ya. Boring gak ya Mbak dibaca?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi dari judulnya memang nggak ketebak ya, mbak ceritanya apa. Harus baca blurb atau sinopsisnya dulu

      Delete
  6. pas ke gramed kemarin liat nih mbak novelnya, wah pengen beli jadinya, cuma emang kemaren galau karena tebel banget ya novelnya, hehe

    ReplyDelete
  7. Terakhir baca Perahu Kertas Dan nonton filmnya. Maudy Ayunda ... sangat menghanyutkan. Rapijali tentang anak sekolah Dan keluarganya. Menarik juga novelnya

    ReplyDelete
  8. Belum sempat baca novelnya, eh malah keasyikan dengerin lagunya. Lagu Kinari yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, aihh suka banget sama lirik dan musiknya. Seru kali ya dengerin lagu itu sambil membaca novelnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah aku baru tahu mbak lagu kinari dinyanyikan sama om iwan fals. ntar cari ah

      Delete
Previous Post Next Post