Saat mengunjungi sebuah kota atau daerah baru, tak jarang kita akan mengalami apa yang sering disebut dengan culture shock terkait kebiasaan, bahasa dan bahkan mungkin cuaca dan makanan di daerah tersebut. Apalagi Indonesia adalah negara kelakuan dengan berbagai suku, agama dan juga budaya. Pastinya setiap daerah memiliki kebiasaan dan budayanya masing-masing.
Saya sendiri baru pernah menginjakkan kaki di beberapa kota di Indonesia. Salah satu kota yang pernah saya tinggal adalah Bandung di mana pertama kalinya saya mengalami culture shock oleh dinginnya Bumi Parahyangan. Maklumlah ya, saya kan berasal dari pulau Kalimantan yang notabene dekat dengan garis khatulistiwa yang membuat setiap orang yang datang ke kota saya akan selalu berkata, "Banjarmasin panas, ya."
Tak hanya Bandung, saya juga pernah singgah di Jakarta selama beberapa hari dan cukup shock saat menyadari kalau para pekerja di Jakarta itu rumahnya bisa di Bogor yang beda provinsi dan untuk berangkat kerja harus dari subuh dan kalau janjian tidak bisa dadakan karena macet. Entah ya, kalau sekarang dengan adanya berbagai jalur transportasi massal apakah kini seseorang bisa mengatur pertemuan dengan tiba-tiba atau harus dari hari sebelumnya.
Culture shock yang mungkin akan kamu temui jika Banjarmasin
Banjarmasin merupakan salah satu kota di provinsi Kalimantan Selatan yang dulunya adalah ibukota provinsi yang kini beralih menjadi kota industri dan perdagangan. Sebagai kota industri dan perdagangan, di kota ini tentunya ada juga penduduk yang berasal dari luar daerah entah itu karena pekerjaan atau karena pernikahan. Nah, belakangan di aplikasi tiktok saya menemukan berbagai konten tentang orang luar Kalimantan yang mengalami cunture shock saat berada di Kalimantan salah satunya kota kelahiran saya ini yakni Banjarmasin. Nah, kira-kira apa saja hal yang akan membuat pendatang shock saat berada di Banjarmasin, berikut yang bisa saya rangkumkan:
Banjarmasin kota yang panas
Begitu menginjakkan kaki di kota Banjarmasin, mungkin salah satu hal yang langsung terasa dari kota Banjarmasin adalah panasnya kota ini. Bahkan ada video di Tiktok yang menggambarkan kalau matahari di Banjarmasin itu ada 10 saking panasnya. Saya sendiri sebagai orang yang lahir dan tinggal di Banjarmasin sebenarnya sudah terbiasa dengan panasnya kota ini, makanya agak heran kalau orang bilang Banjarmasin itu panas.
Namun setelah dipikir-pikir komentar tersebut benar adanya. Apalagi kalau dibandingkan jika saat saya ke Pulau Jawa terakhir kali, memang panas yang saya rasakan di Pulau Jawa rasanya cuma sekian persen dibanding di kota sendiri. Kalau di Banjarmasin itu jujur panasnya langsung menusuk di kepala dan bikin muka terasa terbakar apalagi kalau jarang memakai sunscreen. Jadi, buat kamu yang mau ke Banjarmasin terutama di musim kemarau, pastikan memakai topi dan sunscreen, ya!
Rumah dibangun di atas rawa
Culture shock berikutnya yang mungkin akan ditemukan saat berada di Banjarmasin adalah rumah yang pondasinya berada di atas rawa atau air. Jadi alih-alih berdiri di atas tanah padat, rumah penduduk di Banjarmasin rata-rata berada di atas rawa yang masih ada airnya dengan pondasi tiang ulin yang mana membuat biaya pembuatan rumah di Banjarmasin itu agak mahal di pondasinya.
Adanya rumah yang dibangun di atas rawa ini disebabkan oleh stuktur tanah di Banjarmasin yang memang tanah rawa yang notabene lembek. Nah, jika Kamu pernah membaca berita ada rumah yang ambruk atau amblas di Banjarmasin, maka biasanya itu disebabkan karena pondasi tiangnya yang kurang kuat sehingga lama-lama rumah jadi turun dan akhirnya amblas ke tanah. Selain itu, dengan kondisi tanah rawa ini, maka tak heran juga kalau kadang orang akan bertemu dengan biawak di tengah jalan bahkan ada yang sampai masuk rumah.
Klakson jarang berbunyi
Hal ini sebenarnya juga baru saya sadari ketika menonton video di Tiktok di mana katanya di Banjarmasin itu mereka jarang sekali mendengar suara klakson di jalan raya bahkan saat macet sekalipun. Bahkan ada yang bilang kalau membunyikan klakson adalah hal yang terlarang di Banjarmasin. Hal ini dibuktikan dengan sebuah video ketika acara haul Guru Sekumpul usai, ada ribuan motor yang harus antri di jalan namun tak ada satupun yang membunyikan klakson.
"Lalu apa dong fungsi klakson di Banjarmasin?" mungkin muncul pertanyaan demikian. Nah, kalau berdasarkan kebiasaan di sini, klakson biasanya digunakan oleh penjual sayur kepada pelanggannya di komplek dan juga jika berpapasan dengan teman di jalan raya atau kalau sudah kepepet dibunyikan ketika lampu hijau sudah menyala namun motor di depan tidak kunjung beranjak.
Penjual pentol di mana-mana dan belinya langsung ditusuk
Pentol merupakan sebutan untuk bakso yang dijual berkeliling yang biasanya disajikan dengan saos tomat. Di Banjarmasin, penjual pentol ini ada banyak sekali dan bisa ditemukan di mana saja. Mereka biasa mangkal di masjid saat Jum'atan, di depan sekolah dan pastinya juga di pasar. Bahkan bisa dibilang pentol adalah jenis usaha yang pasti ada pembelinya di kota Banjarmasin ini.
Nah, biasanya hal yang membuat pendatang shock saat membeli pentol adalah cara memakannya yang langsung dimakan di tempat sambil berdiri dan bahkan pembeli menghitung sendiri jumlah pentol yang dimakannya. Jadi memang di tempat pentol disajikan itu disediakan tusuk sate untuk mencucuk pentol. Mereka yang ingin membeli tinggal mengambil tusuk sate tersebut dan bisa langsung mengambil pentol baik satu persatu atau bisa mencucuk beberapa sekaligus. Setelah selesai makan pentol, pembeli tinggal menyebutkan berapa buah pentol yang dimakan dan melakukan pembayaran.
Transaksi jual beli ada akad tukar-jual
Dalam ajaran agama Islam, setiap transaksi jual beli ataupun hutang piutang harus selalu menggunakan akad sebagai salah satu syarat sahnya. Nah, dalam kebiasaan orang Banjar, akad jual beli ini hadir dalam 2 kata singkat yakni "Tukar" dan "Jual." Jadi jika ada seseorang yang berbelanja ke warung atau supermarket, setelah pembayaran dilakukan ia akan menyebutkan kata "Tukar" atau "Tukarlah" kepada penjual dan dibalas oleh penjual dengan kata, "Jual." Akad ini bisa dilakukan dalam jual beli langsung atau mereka yang melakukan transaksi secara online atau menggunakan pembayaran online.
Lucunya, karena kata "tukar" dalam bahasa Indonesia artinya mengganti barang atau benda dengan yang lain, sementara dalam Bahasa Banjar kata "tukar" ini artinya adalah beli, jadi bisa jadi terjadi salah paham ketika misalnya penjual atau lawan bicara bukan orang Banjar dan tidak mengerti dengan akad tukar-jual ini.
Saya sendiri juga pernah mengalami kejadian lucu dengan teman kuliah saat masih kuliah dulu yang mana teman kuliah ini berasal dari Kalimantan Timur. Jadi dalam sebuah percakapan teman saya ini mengucapkan kalimat kira-kira seperti ini, "Tung aku tukar, ya?" dan saya secara otomatis langsung menjawab, "Ya, jual," padahal tukar yang dia maksud adalah dia ingin menukar barang yang diambilnya bukan mau berbelanja. Hehe.
Tidak ada standar minimal untuk amplop resepsi pernikahan
Saat datang ke acara pernikahan, umumnya jika tak membawa kado minimal kita akan memberi amplop kepada keluarga atau mempelai. Jika di resepsi Jawa biasanya amplop ini diberi nama dan bahkan dibuka dan dicatat nominalnya, maka jika kamu datang ke resepsi pernikahan Banjar, amplop yang diberikan ini tidak ada angka nominal dan bahkan tidak diberi nama. Kalau beruntung mungkin pengantin akan mendapat amplop dengan isi seratus ribu namun kalau apes malah mungkin cuma 5 ribu atau bahkan amplop kosong.
Pemadam kebakaran ada di mana-mana
Selain paman pentol yang bisa ditemui di mana saja, pendatang di kota Banjarmasin juga mungkin akan dikejutkan dengan banyaknya pemadam kebakaran di kota ini. Pemadam kebakaran di kota Banjarmasin kebanyakan dikelola oleh ormas dan bukan dari instansi. Dan kalau misalnya terjadi kebakaran di sebuah daerah maka mobil pemadam ini akan langsung berbondong-bondong menuju lokasi dengan sirine yang keras layaknya penguasa jalanan. Kalau saya sendiri misalnya terdengar sirine mobil damkar ini dari belakang motor biasanya langsung menepi karena mereka ngebut pol dan nggak pakai rem sepanjang jalan.
Itulah dia beberapa culture shock yang mungkin akan ditemukan saat berkunjung ke kota Banjarmasin. Kalau teman-teman, apa nih kira-kira culture shock yang mungkin akan ditemukan jika ada pendatang yang ke kota kalian?



80 Comments
Eh aku pernah lihat konten salah satu celebrity chef, pas beliau ke Banjarmasin. Katanya penjual pentol kebanyakan orang Jatim, jadi yg dijual adalah pentol khas Jatim.
ReplyDeleteKalau adik iparku kan orang Sampit dan pas dulu dia kuliah di Malang juga ngerasain ademm. Di Kalimantan panasnya gak kaleng-kaleng ya?
Habis baca ini jadi pengen makan soto Banjar wkwkwk.
iya kayaknya begitu, Mbak. cuma kalau untuk penjualnya sekarang nggak selalu orang jatim bahkan orang banjar juga jualan pentol
DeleteYang bikin kaget pasti Banjarmasin adalah di rumah bagian dapur tante naro 2 pancingan lalu ditinggalkan kemudian tiba-tiba ketika mau masak sudah ada dua ekor ikan gabus yang tertangkap jadi untuk makan siang tidak perlu belanja ke pasar karena bisa menangkap ikan gabus sendiri di dapur karena rumahnya berada di atas air
ReplyDeleteIya apalagi kalau Rumahnya kaya di komplek saya tinggal bekas persawahan dan ada sungai kecilnya. Jadi tempat favorit pemancing hehe
DeleteHmm pernah tinggal di wilayah yang banyak orang Banjar, ulun kadida paham kadang-kadang
ReplyDeleteTapi pelan pelan aku sadar bahwa mereka tuh juga jarang mau kepo sama urusan pribadi orang
Makanya aku sempat bahagia beberapa bulan ada di Banjarmasin
hehe alhamdulillah mbak ammah senang selama tinggal di banjarmasin
DeleteWah, kebayang sih betapa menyenangkannya tinggal di sekitar orang yang nggak mau kepo sama urusan pribadi orang lain. Kita akan lebih mudah untuk mengembangkan diri dan berekspresi tanpa khawatir ada yang nge-judge.
Deletewahahaha bener banget itu mbaaaa semua yang disebut diatas adalah culture shock buat aku saat pertama kali ke Banjarmasin kec yang masalah klakson yaa karena di solo sendiri juga jarang menggunakan klakson...
ReplyDeleteyg paling aku inget itu adalah beli pentol langsung celup ke saosnya awal2 kan ya agak2 gimana gitu yaa masak colok langsung tusuk sampai sekarang pun aku blm bisa menormalisasinya jadi kalo beli pentol disana aku biasanya lgsg minta diplastik aja
masalah biawak masuk rumah juga sempet kejadian dan itu lumayan bikin shock secara biawaknya gede euyyy haha,,,
iya rata-rata yang ke banjar kaget pas lihat makan pentol di sini. hihi
DeleteDiantara semua culture shock kayaknya aku bakal kaget sama perkara klakson si. Soalnya kan di Ibukota, luar biasa tiap hari tuh berisik tat tet tot mulu, belom lagi bunyi sirene yang ganggu itu hahahaha. Tapi keren warga sana berarti, bisa menahan diri agar gak sering bunyiin klakson, kecuali urgent.
ReplyDeleteiya, kak kalau di jakarta klakson di mana-mana ya setahuku
DeleteMemang ya soal culture tuh sangat beragam di Indonesia. Jangankan beda pulau. Satu pulau aja seperti Bali yang kecil seperti itu, antara daerah Barat dan Timur itu, culturenya berbeda.
ReplyDeleteDan baru tahu banget nih, kalau soal beli di Banjar pakai akad gitu dan soal pentol juga hihi itu benaran nambah pengetahuan tulisan ini. Terima kasih ya sudah menulis dan aku jadi makin tahu tentang culture Banjarmasin.
Aku sekali doank nih ke Banjarmasin. Nggak ke mana2 tapi mengunjungi rumah saudara mertua. Rumahnya malah kyk deket sungai banget. terbuat dari kayu2an. Trus belakang rumah terasnya dah langsung sungai. Bisa melihat perahu lalu lalang juga dari situ. Kalau punya anak kecil sereeem, tapi keknyanya dah biasa yaa di sana.
ReplyDeletePengen kapan2 eksplore Banjarmasin lagi, pengen lihat pasar terapungnya.
Haha kenapa tu gak boleh nyalain klakson?
Kalau di sini tan tin tan tin mulu walau lampu merah =))
Iya baru tahu artinya 'tukar" tuh "beli" yaa.
semoga nanti bisa ke banjarmasin lagi ya, pril. kalau soal klakson kayaknya karena nggak biasa aja orang sini nyalain klakson hehe
DeleteBegitu damai di Banjarmasin yaa...
DeleteKendaraan pada teratur jadi gak perlu bunyiin klakson.
Buat aku yang gampang kaget, Banjarmasin "surga" buatkuu...
Banjarmasin kota yang panas itu memang luar biasaa. Sampai sekarang mikir-mikir kalo mau mudik ke sana anak-anak gimana? Soalnya rumah nini ulun di Banjar kadada AC. Wkwk.. Kebayang gerahnya deh!
ReplyDeleteEh, saya yang culture shock di sana tu pas makan mie goreng abang-abang jualan tapi warnanya merah gitu, Mbaa..
sebenarnya nggak cuma pendatang aja sih ini anak-anak gen alfa juga kalau diajak ke rumah nininya yang kada beAC pasti nggak betah karena kepanasan hehe
DeleteKalau klakson sama juga kak di sini (Jakarta), soalnya ada pedagang bahan makanan kayak tahu atau ayam bumbu, dia kalau datang ke rumah pelanggan tinggal bunyiin klakson motornya hehe
ReplyDeletebanjarmasin sama dong kaya bandung ,bunyi in klaksonn kaya berisik bangeut gitu ya ,, terus nih baru tahu penjual pentol banyak ya di banjarmasin. Culture shock itu hal unik yang akan kita dapatkan dann itu biasanya punya unik cerita yaa emba, by the way salam kenal ya emba , saya nuy dari bandung
ReplyDeleteAgak unik ya Banjarmasin ini kak. Rumahnya dibangun di atas tanah rawa. Tapi banyak pemadam kebakaran di mana2. Apalagi di sana bukan disediakan pemerintah tapi malah ormas. Keren nih. Jadi kalo ada kebakaran ya bisa langsung satset. Tapi kok bisa ya tanah rawa malah rawan kebakaran. Namun krn bencana, ya emg ga memandang lokasi sih ya.
ReplyDeletePlus kalo di Kalimantan tuh jarak rumah agak jauh. Kalo ngandelin damkar di kota, kebakaran di pelosok desa ya ga bakal ditangani deh. Menarik bgt nih gotong royongnya.
Dan yang unik lagi pentol tusuk. Ini kalo ada yang bohong jumlah makannya dan ga sesuai bayarnya mah berabe. Makan sampe lupa ngitung. Tapi mgkn di sana udh terkenal jujur, ya penjual dan pembeli udah sama2 enak.
iya, kak. kadang bpk-nya suka minta sumbangan ke rumah-rumah buat operasional mereka. kalau tanah rawa sebenarnya kan panas ya makanya pas kebakaran hutan itu rentan banget menyebar kebakarannya. nah kalau urusan makan pentol ini memang tergantung kejujuran pembeli aja aku aja kadang lupa juga sudah nusuk berapa pentol akhirnya kulebihin biasanya jumlahnya
DeleteWiii unik juga ya Banjarmasin.
ReplyDeleteSeingatku belum pernah injakkan kaki di sana.
InsyaAllah pannkapan akan ku buktikan semuanyaaa hahahha
termasuk panasnyaaaa.
kayake lebih panas Surabayaaaa
Ngomong" soal jakarta. Aku termasuk pernah bekerja di dari bogor ke jakarta. Apalagi kalo jam kerja... hadeeuhh rame banget. Bukan hanya jam kerja. Jam pulang kerja rame banget di stasiun kereta...hmmmm
ReplyDeleteBanjarmasin panas dan rumahnya di atas rawa sudah sering dengar. Kalau masalah klakson dan pemadam kebakaran ini baru tahu saya. Unik juga ya.
ReplyDeleteTapi emang ada sih daerah-daerah yang orangnya jarang membunyikan klakson.
Untuk pentol kayanya namanya dari Jawa Timur tuh. Di Malang juga biasa menyebutnya pentol dan dimakan dengan sunduk alias tusuk itu.
Apapun itu saya pengen banget ke Banjarmasin. Pengen ke pasar terapung.
Perbedaan kebiasaan dan budaya lokalnya kerasa banget dari cerita yang ditulis. Justru hal-hal kecil seperti makanan, sapaan, dan ritme kota yang bikin pengalaman tinggal di sana jadi kaya
ReplyDeleteSaya belum pernah ke Banjarmasin, Mbak. Jadi cerita Mbak Antung ini menambah wawasan saya. Jadi saat saya ke Banjarmasin nanti, tidak kaget lagi. Nah soal pentol itu enak juga, makan tinggal tusuk dan menghitung sendiri. Tapi malah membuka peluang orang ga jujur. Nanti nusuk pentolnya 20 bilangnya 10. Terus masalah uang amplop perkawinan itu. Sebaiknya sekarang diberi standar minimal. Soalnya kasihan juga yang punya hajatan. Nanti jadi peluang orang datang ke kondangan hanya untuk makan gratis
ReplyDeleteKirain pentol itu kuliner khas jawa. Cilok (bisa isian daging dll) kalau di Sunda. Tapi di Kalimantan sana juga ternyata banyak ya... Apalagi bergizi dan lezat, pentol pasti banyak disuka
ReplyDeleteAku belum pernah mbak ke Banjarmasin.. cuma ada salah satu temanku yang dari sana. Nah, doi cerita di culture shock sama dagang pentol di Jawa, karena makannya tuh diplastikin gitu. Beda sama di sana yang makan sambil berdiri dan bayar setelah keyang. Wkwkkw...
ReplyDeleteKadang tuh apa yang kita lihat biasa, justru jadi hal yang nggak biasa ditempat lain.. 😅
MashaAllaah yaa.. setiap wilayah memiliki "cara"nya masing-masing yaa..
ReplyDeleteKalau di Bandung culture shock yang kualami selain dingin.. juga warganya yang super ramah dan saling bantu. Bukannya orang Surabaya gak pernah bantu siiyh.. tapiii karena di Bandung amat sangat soft spoken, jaddii aku beneran kebantu banget.
Semoga aku bisa merasakan culture shock di Banjarmasin yaa..ka Antung.
Belum pernah ke pulau lain selain Sumatra, Bali dan Lombok.
Memahami budaya daerah lain sangat bermanfaat bagi kita agar bisa beradaptasi saat berkunjung kesana. Saya termasuk yang belum pernah berkunjung ke Banjarmasin nih dan makasiiiih banget mba Antung udah diberi tahu culture shock disana. Jadi paham kalau suatu saat main ke Banjarmasin saya gak kaget² banget dgn budaya disana.
ReplyDeleteIndonesia kayak banget ya kekayaan alam, budaya dan adat istiadat bahkan beda daerah saja sudah beda sekali kebiasaannya dan bikin kita gegar budaya..
ReplyDeleteLain ladang, lain belalang ya mbak. Setiap daerah pasti punya kekhasannya masing-masing ya
ReplyDeleteKita mungkin awalnya kaget, tapi lambat laun pasti bisa beradaptasi ya
Sebagai yang belum pernah ke Banjarmasin, saya jadi ada bayangan seperti apa kota Banjarmasin ..
ReplyDeleteKalimantan banyak sekali potensi dari berbagai sisi.
Btw apa betul ya gaji di sana pun dobel dobel dibandingkan di Pulau Jawa
kurang tahu ya, mbak. kalau gaji UMR yang kayaknya 3 jutaan tapi kalau kerjanya di batubara atau sawit ya besar gajinya. hehe
DeleteIya, saya juga tahunya kata orang-orang Banjarmasin itu panas banget. Saya paling jauh ke Semarang yang nggak kuat banget sama cuacanya, apalagi di Banjarmasin ya. Saya orang Bandung soalnya, sekarang ini ngerasa di Bandung juga kalau di panas ya panas banget dan makin macet di kota saya.
ReplyDeleteWahhh, makasih banget infonya. Aku sendiri belum pernah ke Banjarmasin, jadi nggak kebayang panasnya seperti apa. Nanti kalau suatu hari ke sana, berarti tiap belanja harus bilang “tukar” ya, haha. Semoga suatu saat aku juga dapat kesempatan main ke Banjarmasin.
ReplyDeleteBanyak banget fakta ttg banjarmasin yang baru aku tahu dari tulisan ini. Pertama aku kira kalimantan itu sejuk karena brandingnya banyak hutan, eh ternyata Banjarmasin panas yah. Terus yang soal makan bakso langsung dan bayar dengan menghitung yang udah dimakan, saya kebayang orang korea makan odeng di penjual pinggir jalan, itu juga sambil berdiri dan nanti dibayar sesuai jumlah tusuknya..
ReplyDeleteiya, kak kayak penjual odeng di korea gitu
DeleteBanjarmasin emang unik banget sih, Kak. Apalagi suasana sungainya yang nggak ada di kota lain. Kalau udah lewat masa culture shock-nya, hati-hati malah jadi betah dan nggak mau pindah.
ReplyDeleteUntuk akad jual beli seharusnya bukan hal yang aneh ya. Karena memang transaksi jual beli memang harus ada akadnya. Mungkin yang aneh karena bahasa yang digunakan kali ya.
ReplyDeleteDari poin-poin yang mbak Yana tulis aku paling kaget soal amplop. Baru tahu kl di sana gak wajib nulis nama di amplop ya. Sebenarnya ini bagus, biar nggak memberatkan orang yang diundang. Karena kondisi orang beda-beda kan ya. Aku sendiri sering denger beberapa kenalan gak mau datang ke undangan sebab katanya malu kalo ngeamplop sedikit. Untuk poin lain, gak kaget sebab gak jauh beda dengan Palembang :)
ReplyDeleteBtw saya juga baru ngeh kalau di kota Baubau juga jarang dengar klakson, jadinya lebih tenang. Cuman emang banyak knalpot brong, berisik banget.
ReplyDeleteKalau amplop di sini juga nggak ada minimalnya sih, berapapun dan mau nggak tulis nama juga gapapa
Pernah bertandang ke Kalimantan Selatan memang ga lama hanya mengeksplore beberapa tempat wisata. Yg dijumpai iya agak panas tp masih cukup wajar menurutku saat itu,rumah di rawa secara wilayah ini pun berjuluk kota seribu sungai
ReplyDeleteBanyak pemadam kebakaran di sana ya. Kami di Cianjur Selatan ini kalah nih. Jarak ke kota kabupaten sekitar tiga jam kendaraan. Jarak ke kantor pemadam kebakaran ya sejauh itu pula...
ReplyDeleteKedepannya berharap di Cianjur sini juga setiap kecamatan minimal ada petugas dan kendaraan pemadam kebakaran
Keren ormasnya menyiapkan mobil damkar. Apakah karena di Banjarmasin rentan kena dampak kebakaran hutan?
ReplyDeleteOhya kebiasaan akad tukar jual itu sebenarnya bagus juga ya.. ada kepastian bahwa beneran mau transaksi jual-beli meski istilahnya sedikit berbeda
Wah, baru tahu lho kalau di Banjarmasin PMK Swadaya-nya sebanyak itu. Keren banget solidaritas warganya! Jadi penasaran pengen lihat langsung culture shock yang unik ini. Salut deh sama kota itu! Makasih infonya.
ReplyDeleteWaaah menarik yaaa. Tapi emang betul kalau di daerah berawa itu ada biawak. Di Surabaya ada daerah namanya Rowo, dulu bekas rawa yang sudah jadi permukiman. Terkadang muncul biawak dan kadang masuk rumah warga.
ReplyDeleteFungsi klakson ini mirip kayak di tempatku kak. Fungsinya cuma buat nyapa atau ada kendaraan yang ga gerak2 pas lampu udah hijau hihi.. Terus kalau soal amplop, di sini ada nama tapi bukanya kalau acara udah beres dan tertutup hehehe.. Aku tinggal di salah satu kabupaten di DIY hihi..
ReplyDeleteSeorang teman pernah share kalimat akad jual beli ini, kak. Awalnya kita yg di jawa nih kaget. Ada ya kayak gitu? Ternyata, ada! Dan itu ditulis, biar akadnya ngga salah.
ReplyDeleteSungguh menjaga tradisi sih aku bilangnya
Menarik. Jika suatu saat saya ada kesempatan mengunjungi Banjarmasin, seenggaknya sudah ada gambaran untuk menghadapi culture shock apa saja.
ReplyDeleteAnyway soal klakson, hampir mirip dengan di Bandung. Walau macet, warga lokalnya kebanyakan "anteng" bae. Nah, yang bunyikan klakson biasanya mobil-mobil plat luar Bandung.
Fungsi klakson kayak di daerahku mba (salah satu kabupaten di DIY) , cuma buat nyapa atau kalau nggak buat ngasih tanda kalau lampu udah ijo. Terus kalau soal amplop sumbangan nih, biasanya dikasih nama tapi bukanya nanti kalau acara beres dan ga di hadapan banyak orang. Hihiii..
ReplyDeletebetullll
ReplyDeleteuntuk damkar banjarmasin saya salut lho karena banyak yang dibentuk sama relawan dan gercepnya gak kalah sama damkar dari pemerintah.. cuman saya heran kenapa damkar banyak bener di sana ya.. apa sering terjadi kebakaran
ReplyDeleteSaya merasa terbantu dengan artikel ini.
ReplyDeletenah artikel gini yang selalu bikin aku penasaran culture shock tiap daerah tuh gimana dan apa aja sih kadang emang unuk unik seru buat bacanyaa
ReplyDeleteWowww thank u ka udh sharingg
ReplyDeleteselalu tertarik sama artikel yang bahas culture shock daerah gini unik unikk
ReplyDeleteselalu tertarik sama culture shock tiap daerah unik unikk lucu
ReplyDeleteWah, menarik banget pengalaman “culture shock”-nya di Banjarmasin dari panas luar biasa, rumah di atas rawa, sampai kebiasaan unik seperti klakson jarang bunyi. Bikin makin penasaran pengen ke sana dan merasakan sendiri suasananya
ReplyDeleteKeren & berguna! Cocok banget untuk pendatang atau traveler supaya tahu dulu kebiasaan & kultur lokal sebelum ke Banjarmasin
ReplyDeleteSeru banget pengalaman culture shock di Banjarmasin! Aku suka poinnya tentang kehidupan di atas air (sungai) yang memang jadi ciri khas banget Kalimantan.
ReplyDeletesangat menarik
ReplyDeleteartikel ini tuh bikin aku ngerti banyak keunikan Banjarmasin yang bisa bikin “culture shock”, dari cuaca panas sampai kebiasaan lokal yang beda.
ReplyDeleteartikel ini tuh bikin aku ngerti banyak keunikan Banjarmasin yang bisa bikin “culture shock”, dari cuaca panas sampai kebiasaan lokal yang beda.
ReplyDeleteBaca tentang “culture shock” di Banjarmasin bikin aku ikut ngebayangin gimana serunya beradaptasi di tempat baru.
ReplyDeleteaduhhh jadi kangenn banget sama banjarmasinnn ,jadi pengen jajan pentolnyaa krnn menurutku sambelnya tuhh bedaaa bangett sama yang di jakarta truss enak bgt tinggal tusuk tusuk sambil berdiri di depan dandangnya trus tbtb udah 15.000 ajaa hahaha
ReplyDeletewaahh pasti seru sekali yaa kalau bisa berkunjung ke banjarmasin
ReplyDeleteih seru banget, walaupun pasti sedikit kaget tapi bakal jadi memori yang bagus banget sih
ReplyDeleteMenarik sekali membaca pengalaman culture shock di Banjarmasin Saya paling suka bagian tentang Pasar Terapung
ReplyDeleteJujur, relate, dan menyenangkan dibaca.
ReplyDeleteArtikel ini memberikan pemahaman yang baik.
ReplyDeletesangat bermanfaat nambah wawasan tentang kota banjarmasin
ReplyDeletesejarah kota banjarmasin unik, mungkin buat traveler bisa baca artikel ini sebelum mau ke banjarmasin
ReplyDeleteMemang ya soal culture tuh sangat beragam di Indonesia. Jangankan beda pulau. Satu pulau aja seperti Bali yang kecil seperti itu, antara daerah Barat dan Timur itu, culturenya berbeda.
ReplyDeleteseperti nya seru jika berkunjung ke banjarmasin
ReplyDeleteartikel yang bermanfaat!!
ReplyDeleteinformasinya berguna banget
ReplyDeleteMakasih kak infonya,jadi ga terlalu kaget kalo ke banjarmasin untuk beradaptsi
ReplyDeletepingin ke kota banjarmasin sekali kali deh, mau nyobain soto banjarnya
ReplyDeleteSeru banget ceritanya! Jadi kebayang gimana rasanya pindah ke tempat baru dan nemuin kebiasaan yang beda-beda. Relate banget sih
ReplyDelete