Triwulan pertama 2026 ini, ada banyak perubahan terjadi di perusahaan tempat saya bekerja. Mulai dari diangkatnya direktur baru perusahaan,
mutasi beberapa karyawan, termasuk salah satu rekan kerja di departemen teknik yang tiba-tiba ditarik ke humas. Hingga adanya promosi jabatan bagi karyawan yang mengikuti seleksi supervisor dan manajer.
Adanya perubahan struktural ini terjadi karena ada banyak posisi kosong setelah karyawan senior memasuki masa pensiun. Selain itu karena ada beberapa supervisor yang mendapat promosi, maka otomatis posisi kosong pun bertambah. Perusahaan sendiri tidak ingin ada kekosongan jabatan dalam waktu lama yang pastinya membuat birokrasi perusahaan menjadi lambat.
Saya sendiri ternyata masih ditakdirkan untuk tetap berada di posisi saya yang sekarang. Tahun lalu saya mengikuti seleksi supervisor namun hanya sampai tahap diskusi kelompok. Dan meski tahun ini ada lowongan untuk jabatan supervisor dibuka kembali, saya tidak memenuhi persyaratan untuk bisa mendaftarkan diri.
Mulai Mempertanyakan Diri Sendiri
Setelah sepuluh tahun lebih bekerja, belakangan saya jadi mempertanyakan kemampuan diri saya sendiri. Apakah saya akan selamanya berada di posisi sekarang? Apakah saya akan memiliki kesempatan untuk promosi dan mutasi? Apalagi dengan job harian inpur data yang bagi sebagian orang membosankan dan memang memiliki peluang yang sangat kecil untuk bisa dilirik seperti sekarang.
Meski memiliki
kepribadian plegmatis, nyatanya jiwa kompetitif saya mulai terusik. Ini mungkin karena saya melihat rekan kerja yang masa kerjanya sama dengan saya kini sudah mendapat promosi. Atau mungkin juga karena saya jenuh dengan lingkup pekerjaan minim tantangan yang saya hadapi setiap harinya.
Jika diukur dari usia masa kerja, bisa dibilang saya sudah masuk karyawan semi senior di perusahaan. Di departemen tempat saya ditempatkan, kini sudah mengalami beberapa kali perubahan personil akibat mutasi, promosi dan perubahan struktur manajemen perusahaan.
Uniknya, hanya di sub departemen kami yang personilnya tak berubah sejak lima tahun terakhir, kecuali untuk posisi supervisor. Mungkin kalau diibaratkan kami ini sudah seperti artefak saking lamanya berada di departemen ini.
Penyebab Karier Mandek
Jika bicara tentang karir yang mandek, dari beberapa sumber yang saya baca, ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya
1. Terjebak di Zona Nyaman
Alasan pertama dari mandeknya karir seseoranga adalah terjebak di zona nyaman. Saat sudah terbiasa dengan pekerjaan, kita cenderung hanya menjalankan tugas tanpa berusaha berkembang. Padahal, kenaikan jabatan biasanya diberikan pada mereka yang menunjukkan inisiatif lebih.
2. Pekerjaan Bersifat Rutin
Hal ini terjadi pada saya, di mana pekerjaan seperti input data atau administrasi sering dianggap sebagai pekerjaan operasional. Meskipun penting, posisi ini kadang tidak memiliki jalur promosi yang jelas jika tidak diiringi dengan peningkatan skill.
3. Kurang Terlihat oleh Atasan
Meski ada yang bilang kalau kerja itu jangan kelihatan jago banget, karena bakalan disuruh melulu, namun menjadi karyawan yang terlalu pasif juga bukanlah hal yang baik. Banyak orang bekerja dengan baik, tapi tidak terlihat. Tidak pernah menyampaikan ide, tidak aktif dalam diskusi, atau jarang berinteraksi dengan atasan soal perkembangan karier.
4. Tidak Pernah Mengomunikasikan Keinginan Naik Jabatan atau Pindah Posisi
Beberapa orang mungkin menganggap tidak sopan jika seorang karyawan mengomunikasikan keinginan untuk pindah departemen atau bahkan naik jabatan ini. Namun dari pengalaman saya bekerja di perusahaan, memang pada akhirnya mereka yang berani bersuaralah yang akhirnya bisa ditempatkan di tempat yang memang sesuai dengan potensinya.
5. Keterbatasan Waktu dan Fleksibilitas
Bagi sebagian pekerja, terutama ibu bekerja seperti saya, ada tantangan tambahan seperti harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Urusan menjemput anak atau bahkan anak yang dititip di kantor saat jam kerja bisa membuat itu kehilangan kesempatan untuk mengikuti rapat perusahaan.
6. Tidak Menemukan Mentor yang Tepat
Dalam dunia kerja, kehadiran senior atau mentor yang tepat juga bisa berpengaruh pada peningkatan karir seseorang. Ada mentor yang memang memiliki tujuan agar anak buahnya bisa cepat berkembang dan mengupayakan hal tersebut. Namun ada juga mentor yang hanya menjadikan anak buahnya sebagai penerima tugas tanpa bisa memberikan masukan berarti agar anak buah bisa meningkatkan kompetensinya.
Hal yang Bisa Dilakukan Agar Tidak Terjebak Stagnasi

Adanya kenaikan jabatan atau promosi akan sangat berpengaruh pada penghasilan seorang ibu bekerja. Namun tentunya hal ini juga diiringi dengan beban tanggung jawab yang semakin besar seiring dengan semakin tinggi jabatan. Bisa jadi hal inilah yang kadang membuat seorang ibu bekerja menghindarkan diri dari promosi.
Di lain pihak, terus-terusan berada di posisi yang sama setelah bertahun-tahun bekerja juga bukan hal yang baik. Seperti yang saya rasakan sekarang, di mana rasa jenuh sudah mulai datang dan rasa minder saat melihat pencapaian rekan satu angkatan yang kadang muncul.
Agar hal seperti ini tidak menggerogoti hati dan pikiran, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yang tentunya menjadi catatan sendiri bagi saya yakni:
1. Upgrade Diri Secara Bertahap
Sebagai seorang karyawan, biasanya kita akan mendapatkan jatah upgrade kemampuan dari perusahaan berupa pelatihan ataupun training sesuai dengan bidang yang digeluti. Namun tentunya tidak ada salahnya jika kita melakukan
upgrade diri secara mandiri sehingga bisa menambah preferensi kompetensi diri.
2. Mulai Lebih Aktif Terlibat
Jika selama ini kita hanya bekerja secara pasif dan hanya melakukan pekerjaan sesuai job desk dan lebih banyak diam saat rapat, maka ke depannya kita bisa lebih aktif di perusahaan. Saat rapat, kita bisa memberikan saran dan ikut menjadi
tempat berbagi ide atau bahkan memberikan inovasi yang membuat bakat kita terlihat.
3. Perluas Relasi dan Pertemanan
Dalam dunia
bisnis dan wirausaha, relasi dan pertemanan adalah hal yang cukup penting dan membantu dalam memperluas jaringan. Hal yang sama juga tentunya berlaku dalam dunia kerja. Memiliki teman dan relasi yang baik di berbagai departemen bisa menjadi salah satu tiket agar potensi kita dilirik atasan.
5. Cari Alternatif Pengembangan Diri
Jika memang dirasa perusahaan kurang memberikan kesempatan untuk bisa maju, maka pilihan lain adalah dengan melirik peluang di luar perusahaan. Kita bisa mencoba usaha sampingan atau bidang pekerjaan lain yang cocok dengan bakat dan kemampuan atau bahkan yang lebih ekstrim resign dari perusahaan dan
mencoba peruntungan dunia baru di luar sana.
Penutup
Menjadi ibu bekerja adalah sebuah pilihan yang memiliki banyak persimpangan. Di satu sisi, ada keinginan untuk terus berkembang dan mengejar karier. Di sisi lain, ada tanggung jawab keluarga yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Apakah seorang ibu bekerja ingin benar-benar mengejar karier atau memilih bekerja secukupnya, semua kembali pada prioritas masing-masing.
Jika memilih mengejar karier, maka promosi dan kenaikan jabatan tentu menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun jika karier terasa stagnan, bukan berarti kita gagal. Bisa jadi, kita sedang berada di fase hidup yang berbeda, fase di mana peran sebagai ibu lebih diutamakan dibanding ambisi profesional.
Saya sendiri masih berada di persimpangan itu. Di satu sisi ingin berkembang, di sisi lain masih harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Namun satu hal yang saya sadari, diam di tempat tanpa melakukan apa-apa bukanlah pilihan. Untuk itulah hingga kini saya masih terus belajar dan mencari cara untuk bisa berkembang meski lewat langkah-langkah kecil.
Bagi saya sekarang, mungkin bukan soal seberapa tinggi jabatan yang bisa diraih, tetapi tentang bagaimana saya tetap bertumbuh, tanpa kehilangan peran yang juga sama pentingnya dalam hidup saya.
Bagaimana dengan teman-teman sekalian? Apakah pernah berada di fase yang sama dengan saya? Yuk bagi juga cerita kalian di kolom komentar! Baca juga tulisan saya tentang etiket di dunia kerja di blog ini. Semoga bermanfaat!
Baca Juga
45 Komentar
Kalau soal mutasi, 5-10 tahun terakhir, menurut saya perusahaannya harus melakukan mutasi sih. Ini mencegah burnout bagi pegawai sekaligus juga penyegaran organisasi. Kalau di tempat kerja saya dulu, di tahun ke 2 - 5 seseorang bekerja, seenggaknya pernah mutasi sekali, walaupun belum berkesempatan untuk promosi.
BalasHapusaku kayaknya yang menganut mode seperti dalam film Usagi Drop "Lebih baik bertahan dengan yang ada saat ini, daripada harus mengorbankan waktuku sebagai orang tua".
BalasHapusKadang suka dicemooh tetangga, "Kerja gaji sedikit kok masih dilakukan", Lho, karena ini, aku jadi bisa punya waktu untuk anak. Ya kan balik lagi ya, prioritas hidup orang berbeda-beda, aku cuma tidak mau besok di akhirat ditanyain, mengapa mengejar karir sek segitunya, sementara anak-anak di rumah ora kerumat he he
Bismillah moga tahun depan bisa naik jabatan ya Mbak, atau dapat rezeki ekstra dari jalur lain. Semoga dimudahkan semuanya.
BalasHapusIkut mengaminkan.
HapusInsyaAllah ada jalannya untuk naik jabatan, dengan cara yang baik dan melahirkan prestasi gemilang
Memang menjadii wanta karier ini pilihan ya Mbak? Sepakat dengan mbak bahwa 'tetap tumbuh tanpa kehilangan peran'. Ketika nanti kita tumbuh dan ada peluang, coba untuk naik level lagi. Semangat Mbak.
BalasHapusSemangat, Mba...Memang dilema antara peran ibu dan karier profesional adalah tantangan nyata yang dihadapi banyak wanita modern, di mana mereka mesti memilih tanggung jawab domestik atau mengembangkan karir profesional.
BalasHapusterkadang posisi yang kita tempati sekarang itu tidak memungkinkan untuk naik level lagi alias ya udah memang mentok. Jadi, kita kudu menyuarakan keinginan untuk bisa lebih berkembang. Bisa jadi akan ditempatkan di departemen lain; jika kantornya termasuk skala besar. Semoga bisa lebih mengembangkan lagi karirnya ya, jadi bisa menambah prestasi dan pengetahuan tentang pekerjaan juga demikian.
BalasHapusKalo kerjanya di pemerintahan malah ada unsur politik juga yang mempengaruhi karir, kadang rotasi tdak sesuai bidang keahliannya. padahal kita sudah aktualisasi diri tapi ketika situasi tidak berpihak mandek juga akhirnya
BalasHapusBetul mba, yang penting tuh peran utama sebagai ibu. Dan salut masih tetap menjadi diri sendiri juga menjaga "diri" Untuk bertumbuh
BalasHapusTerjebak di zona nyaman itu emang membuat kita lupa dengan potensi yang kita miliki untuk berprestasi lebih tinggi lagi, tapi langkah yang diambil mba dengan upgrade diri secara bertahap itu udah tepat banget mba.
BalasHapusDulu sering ngbrol sama bapak-bapak yang kerja di perusahaan yang sama lebih dari 10 tahun, sebagian besar dari mereka katanya mau resign, bukan karena tidak puas tapi merasa jenuh dan mandek.
BalasHapusKayaknya itu wajar sih, soalnya dari hari pertama hingga saat itu jobdesk-nya sama, tidak ada mutasi maupun promosi
Bisa jadi atasan kurang melihat kinerja stafnya, entah karena si staf yang kalem padahal punya skill brilian atau bisa juga dianggap biasa aja ketimbang staf lain yang pandai cari muka, sehingga wajar aja karier si staf tersebut mandek. Di sini kudu berimbang sih, antara atasannya yang perlu peka dan si staf yang tetap terus tingkatkan kinerjanya
BalasHapusBeda budaya perusahaan, beda cara pendekatan menuju promosi, mba. Klo kerja di perusahaan milik keluarga, sulit utk naik jabatan. Pasti saudara2 bos yg akan diletakkan pada jabatan2 penting meskipun kemampuan kerja kurang. Tapi klo perusahaan terbuka, lebih tinggi kesempatannya. Asalkan kita berusaha untuk terlihat dan terlibat seperti yg mbak tulis di atas
BalasHapusAku kagum sama ka Antung..
BalasHapusKarena menjadi spesialis di bidangnya.
Orang cenderung ingin bisa menguasa banyak hal dengan peningkatan bidang-bidang tertentu.. namun jadi tidak spesialis sama sekali.
Semoga dimanapun kita ditempatkan, bisa membawa keberkahan bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
Barakallahu fiik, ka Antung.
Saya pribadi sedang merasakan hal ini khususnya dalam setahun terakhir mbak. Kok rasanya nge-stuck sekali ya. Gaji ga ada kenaikan, jabatan pun boro-boro. Apalagi kalo dipikir-pikir, mau saya kerja keras maupun tidak, hasilnya mbok ya sama saja.
BalasHapusMakanya sekarang saya udah mulai mengalihkan grit saya ke hal lain, yang saya yakini punya prospek lain yang lebih oke yakni sebagai Content Writer. Aktif nge-blog, juga sering-sering ikut lomba buat jadi portfolio.
Mbuh, moga kelak nantinya membawa kehidupan dan karir saya jadi naik level, hihihi. Amiiiin.
Desa rawabacang, rusak jalanannya
Kalo datang kesana haruslah runut
Ambillah kacang, kupas kulitnya
Itulah saatnya kamu melepas peanut
Kalau menuruf saya, mungkin belum tiba saja rezeki Mbak Antung. Apalagi sudah berusaha juga kan, Mbak. Tapi àda juga Mnak, orang yang dapat jabatan atau promosi karena pintar cari muka. Kalau ada bos atau atasan, dia rajin dan giat bekerjw. Tapi kalau bos ga ada, dia malas-malasan. Tapi orang yang kayak gini kadang gajinya ga berkah. Àda saja masalahnyà.
BalasHapusNah ini daku setuju Pak.
HapusKalau memang belum rejekinya ya mau diusahakan kayak apa juga wallahualam bakalan terwujud ya, tapi kalau memang rejekinya insyaAllah selalu ada jalan untuk mencapainya
Semoga tahun depan bisa naik jabatan ya mbak.
BalasHapusKalau saya dulu cuma pernah bekerja selama 4 tahun. Posisi sih tetap, tapi alhamdulillah gaji naik tiap tahun, bahkan pernah setahun lebih dari sekali naik gaji. Bagi saya sih sudah cukup hehehe...
Apalagi saya kerjanya di proyek ya, jadi unsur bosannya bisa diminimalisir. Kelar satu proyek pindah proyek baru. Suasananya baru, rekan kerja ganti, tantangan pun berubah lagi.
Kebanyakan temanku yang dulu bekerja di sebuah perusahaan perkebunan swasta, karirnya stuck ya karena dia terlalu nyaman di zona nyamannya. Nggak mau berkembang.
BalasHapusPadahal, kalau mau, di perusahaan perkebunan kelapa sawit tuh perkembangan karirnya lumayan cepet.
Perjuangan untuk bisa terus berjuang dan berusaha jadi pekerja handal dan ibu baik di rumah. Memang ada dilema tersendiri saat jiwa kompetitif terusik, tapi di sisi lain, fleksibilitas untuk keluarga tetap jadi prioritas utama ya Mbak..... Banyak sih curhat tentang ini
BalasHapusSetuju banget kalau mengomunikasikan keinginan itu krusial, karena atasan terkadang mengira kita sudah nyaman dengan rutinitas yang ada.
Semoga langkah-langkah kecil untuk upgrade diri yang Mbak lakukan sekarang segera membuahkan hasil yang manis, baik di kantor maupun pengembangan diri lainnya.
Suami saya nih yg justru sepertinya tidak mau mengejar karir. Temannya pada lanjut sekolah, ngejar jabatan dll eh dia mah diem aja
BalasHapusDirekomendasikan atasan juga malah mundur. Saya yg gregeten kan jadinya
Hmm... paling utama yang bikin mandek tuh seringnya adalah "lelah update informasi dan trend terkini" sehingga tertinggal dan merasa bahwa dunia tidak adil
BalasHapusPadahal kalau mau berusaha, pasti tetap saja bisa
Memang butuh solusi terbaik salah satunya upgrade diri sesuai passion dan kemampuan skill diri
Karier yang terasa mandek memang bikin overthinking, apalagi kalau sudah lama di posisi yang sama. Aku juga pernah ngerasain fase bingung mau lanjut atau berubah arah. Kadang memang butuh evaluasi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman
BalasHapusJadi ingat kakak saya , beliau juga orangnya plegmatis hidupnya santuy tapi ketika posisi membuatnya kesulitan jiwa kompetitif nya menyala, emang dunia kerja gk bisa di tebak ya.
BalasHapusOh iyayaya.. terkait karakter ini memang sudah menjadi bawaan.
HapusGak pernah ngeluh dan merasa berada di zona nyaman adalah hal terbaik baginya.
Perasaan merasa cukup ini menyenangkan siih.. ga terlalu mengambil hati dengan yang terjadi di dunia luar.
Aku tuh dari awal kerja sambil kuliah Mba, nah pas udah empat tahun kerja di tempat pertama tetapi sulit dapat kesempatan buat test jadi supervisor, akhirnya aku memutuskan buat cari pekerjaan baru, Alhamdulillah keterima di kantor baru, tapi sayangnya hanya naik gaji, posisinya masih selevel. Dalam dunia kerja, perlu banget ber-AC, strategi ya. Terutama supaya terlihat oleh atasan, dan di beri kesempatan buat naik jabatan.
BalasHapusAkan tetapi, aku paham, kalau ibu bekerja punya banyak pertimbangan juga. Tetap semangat ya Mba, sesekali ada di persimpangan gapapa banget, tandanya mba masih punya semangat buat bertumbuh, apalagi masih rajin belajar juga.
Kantor ideal seharusnya yang bisa mengapresiasi kinerja karyawannya. Masalahnya, skrg tuh banyak perusahaan yg malah mengabaikan kinerja bawahan. Kecuali, kalian dkt dgn atasan. Bisa main “mata” dengan senior atau malah selipin cuan di bawah meja atasan. Duh.
BalasHapusAku muak sih kerja kantoran skrg. Ada juga gaji naik dikit tapi pressure gila2an. Mending pilih cara kerja anak skrg. Gaji cukup tapi masih bisa banyak waktu luang. Buat menekuni hobi atau cari aktivitas seru yg bs nambah skill. Syukur kalo bisa ktmu perusahaan yg bs mengapresiasi kinerja kita, bkn dari cuap2 aja.
Menurut saya juga tergantung skala perusahaan mbak, karena jenjang karir setiap perusahaan berbeda-beda. Jika skala perusahaan kecil kemungkinan untuk promosi jika atasannya mengundurkan diri atau meninggal, tidak ada kemungkinan lainnya. Beda jika di perusahaan besar
BalasHapusSetiap orang punya cita-cita Ambisi dan juga keinginan untuk menjadi lebih maju dan juga lebih tinggi dalam karirnya tapi uang diperlukan usaha yang keras dan juga doa supaya cita-cita tercapai Walaupun memang tidak semua perusahaan bisa mengakomodir semua itu tapi tidak bisa diusahakan dan ada beberapa orang yang modelnya memang yang begitu bekerja tanpa Ambisi yang begitu menggebu-gebu yang penting hidup terus berjalan sesuai dengan tipenya
BalasHapusPernah ada di situasi kerja dimana orang pada sikut menyikut dengan jelasss, sedikit menjilat bahkan capee maksimal...
BalasHapuspernah juga ada di situasi dimana boss = musuh terbesar kita hahahaa (jadi ingat filmnya Reza Rahadian)
anyway di mana pun berada yang penting BUAT SUASANA KERJA yang NYAMAN karena terbukti saat kita NYAMAN makan yang lain ngikutin kita!
Oh iyayyaa.. law of attraction yaah..
HapusKetika kita memberikan yang terbaik, maka semuanya akan menjadi sebuah keberkahan.
Jenuh banget tuh 10 tahun di posisi yang sama, biasanya perusahaan ada mutasi ya ke departemen lain biar nggak burnout dengan pekerjaan kantor ya ada suasana baru..
BalasHapusAku kalau bekerja kantoran keknya stagnan kali ya, soalnya aku lebih suka invisible wkwk :P
BalasHapusIn this economy yawda alhamdulillah deh masih ada pekerjaan sih ya.
Ada kalanya memang kalau pekerjaan itu2 aja dan kesempatan pindah divisi/ naik jabatan belum ada bikin mumet juga yaa.
Emang ada kalanya merasa stuck, mau apply yang lain, tetapi belum memungkinkan.
Namun, yawda, mungkin akhirnya gimana caranya bikin betah lha di tempat kerjaan yang sama.
Bisa juga mulai membesarkan hobi hingga jadi pekerjaan kedua kali ya, supaya walau nggak dapat tantangan di kantor tapi tetep dapat tantangan di tempat lain :D
Ah ini ya, salah satu dilematis ibu bekerja
BalasHapusSemoga bisa segera naik jabatan ya mbak
Dimudahkan urusan karirnya. Semangat
Jabatan gak akan lama pasti bisa berubah. Tergantung kinerja kerja kita seperti apa. Yang penting mah gaji gede udah cukup dan bisa nabung.
BalasHapusWah bener banget betapa banyak kerja lama tapi naik jabatan susah. Tapi jangan putus asa untuk terus bertumbuh dan upgrade diri
BalasHapusSetuju banget sama poin-poin yang Kakak sampaikan. Kadang kita cuma butuh perspektif baru buat sadar apa yang bikin karier mandek. Penjelasannya enak banget dibaca dan sangat informatif. Makasih ya Kak untuk tips-tipsnya, sukses selalu buat Kakak!
BalasHapusWaktu kerja kantoran, saya belum sampai kepikiran naik jabatan. Karena banyak teman sedivisi yang asik semua dan jadi sahabat sampai sekarang. Ditambah lagi, gajinya juga lumayan banget dan setiap 6 bulan dapat bonus minimal 1x gaji di luar THR. Tapi, itu kan dulu banget ya. Mungkin kalau sekarang suasana udah bisa beda lagi. Ya paling saya akan ingetin anak-anak untuk jangan mudah berpuas diri. Usahakan terus upgrade skill. Tantangannya udah beda.
BalasHapusJangankan di kantoran ya mbak, yang freelance di rumah alias kerja WFH aja itu harus upgrade terus kok. Sekali nyoba santai, tau-tau kerjaan tertinggal dan karir stagnan. Kabar tak sedapnya, malah kehilangan job karena dunia freelance selalu up date.
BalasHapusYes bener banget, apalagi nomer 1 dan 2 ya. Hanya kalo nomer 3 sepertinya terkesan 'oportunis' ya. Tapi mungkin, karir juga tidak sekadar naik ke atas, bisa juga melebar ke pinggir (horizontal), dalam arti berkembang, memiliki tambahan penghasilan mungkin.
BalasHapussama dengan mbak Antung. Kalau di perusahaanku apalagi aku yang berada di kantor cabang, untuk mendapatkan kesempatan naik jabatan terlihat "gak mungkin", Kalaupun misal ada posisi kosong, terutama untuk level spv atau manager, akan dicarikan dari orang baru dengan membuka lowongan kerja.
BalasHapusDan aku sendiri pastinya juga berpikir, kalau aku naik ke level selanjutnya, rasanya aku pribadi masih banyak kurangnya, mungkin masih kurang jiwa kepemimpinannya atau kurang siap.
dan lebih memilih untuk pengembangan diri diluar perusahaan atau dibidang lain, supaya skill tetep bertambah
Semoga segera dipromosikan mbak. Saat ini masih bekerja adalah hal yang patut disyukuri, memang promosi sudah menjadi kebutuhan jenjang karir banyak orang tapi terkadang kesempatan itu tidak hanya didapat karena kompetisi tetapi juga karena politis.
BalasHapus"Bahwa kemajuan bukan selalu soal jabatan, tapi tentang bagaimana kita tetap bertumbuh tanpa kehilangan peran lain yang sama pentingnya".
BalasHapusKalimat itu bukan pelarian dari ambisi, melainkan kedewasaan dalam mendefinisikan sukses. Semoga Mbak Antung segera menemukan titik terang di persimpangan itu, dan semoga peluang promosi berikutnya benar-benar mendekat. Semangat terus ya..
Sesuatu ynag wajar saat sudah bekerja bertahun tahun dan ingin mendapatkan posisi lebih tinggi lagi alias promosi jabatan. Meningkatkan kapasitas diri dan tunjukkan kemampuan pada atasan penting sekali agar dilihat dan dipertimbangkan. Seringkali di dunia kerja itu kita harus bersaing untuk mendapatkan yang terbaik. Tentu saja bersaing secara sehat. Semoga sukses selalu mbak dan lancar lancar pekerjaannya.
BalasHapusAku kayanya belum pernah kerja selama itu di satu tempat. Dipikir-pikir, pasti emang ada rasa bosan, dan butuh peningkatan. Tapi kadang ada juga yang terlanjur nyaman. Semoga kalau Mbak mau naik jabatan, dipermudah jalannya yaaa
BalasHapus