di tahun 2026 lalu, kini saya memiliki kebiasaan rutin ke sana untuk mencari berbagai buku pengembangan diri. Bisa dibilang koleksi buku pengembangan diri di Perpustakaan Kota Banjarmasin ini cukup update dan lengkap.
Contohnya saja, saya menemukan
buku tentang Ikigai yang selama ini memang sedang saya cari. Meski ini adalah buku lanjutan, tetap saja membacanya memberikan banyak pengetahuan baru untuk saya.
Setelah menuntaskan buku tentang Ikigai, perhatian saya kini tertuju pada buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang masuk dalam jajaran best seller di Indonesia. Tema yang diangkat penulis dalam buku ini adalah terkait filosofi Stoic yang berasal dari Yunani pada abad 3 SM.
Saya sendiri awalnya ragu untuk membaca buku ini mengingat tema yang dibahas dalam buku ini berbau filsafat. Sependek yang saya ketahui, bahasan filsafat itu biasanya cukup berat dan perlu waktu untuk mencernanya.
Namun, di lain pihak saya sendiri sudah pernah membaca tulisan Henry Manampiring dan cukup menikmati gaya menulis beliau. Akhirnya, saya pun memasukkan buku Filosofi Teras sebagai buku yang saya pinjam di Perpustakaan Kota Banjarmasin.
Identitas Buku
Judul buku : Filosofi Teras
Penulis : Henry Manampiring
Editor : RBE Agung Nugroho
Ilustrator : Levina Lesmana
Layout Cover : Levina Lesmana
Layout Isi : Cindy Alif
Penerbit : Kompas
Jumlah Halaman : 352 halaman
Belajar Ilmu Stoik lewat Buku Filosofi Teras
Stoik merupakan filosofi yang berasal dari Yunani. Dalam sejarahnya, seorang pedagang bernama Zeno dari Siprus yang sedang berlayar harus menerima nasib kalau kapal yang ditumpanginya karam dan dirinya harus terdampar di Athena. Akhirnya selama berada di Athena, Zeno pun belajar berbagai ilmu filsafat dari berbagai filsuf di kota tersebut.
Setelah mendapatkan banyak ilmu, Zeno kemudian mengajarkan filosofinya sendiri. Dalam pengajarannya, Zeno menggunakan sebuah teras berpilar yang dalam bahasa Yunani disebut Stoa. Dari sinilah kemudian muncul istilah Stoikisme. Penulis kemudian memilih kata “teras” untuk dijadikan judul bukunya yang membahas filsafat Stoikisme.
Henry Manampiring sendiri berkenalan dengan filosofi Stoik ini setelah dirinya didiagnosis mengalami depresi oleh psikater. Sebagai pribadi yang introvert, Henry kerap memiliki pikiran negatif akan banyak hal yang pada akhirnya berpengaruh pada kondisi psikologinya. Selain dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, Henry kemudian menemukan solusi lewat buku tentang Stoik yang dibacanya selama masa penyembuhan depresi.
Menurut penulis, filosofi Stoa memiliki tujuan untuk membantu manusia menjalani hidup dengan lebih tenang dan rasional, bebas dari emosi negatif dan juga mengasah kebajikan dalam hidup (kebijaksanaan, keadilan, keberanian, menahan diri).
Prinsip Dasar Filosofi Stoik
Dalam Stoikisme, ada satu aturan utama yang berlaku yang disebut dengan dikotomi kendali yang berbunyi.
Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.
Hal-hal yang berada di bawah kendali kita diantaranya pendapat kita, keinginan kita, tujuan, dan juga segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri. Sementara itu, hal-hal yang berada di luar kendali kita meliputi tindakan orang lain, opini orang lain, peristiwa alam, kesehatan dan juga kekayaan atau rezeki.
Dengan prinsip dikotomi kendali ini, maka sepatutnya kita seharusnya fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan jangan memikirkan apa yang tidak bisa dikendalikan. Apalagi jika hal yang tidak bisa dikendalikan itu adalah kuasa sang Pencipta. Dengan mengesampingkan hal-hal yang berada di luar kendali, maka kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk memaksimalkan hal-hal yang bisa kita kendalikan.
Selain dikotomi kendali, dalam buku ini Henry juga menambahkan satu teori lagi yang berasal dari William Irvine dalam bukunya A Guide to Good Life : The Ancient Art of Stoic Joy. Teori tambahan ini disebut juga trikonomi kendali yakni hal-hal yang sebagian bisa kita kendalikan. Dalam hal ini Irvine mengusulkan kalau sekolah, pekerjaan, perlombaan, hubungan dengan pasangan bisa dimasukkan dalam kategori "sebagian dalam kendali."
Contoh dari hal-hal yang sebagian bisa dikendalikan ini misalnya dalam urusan bisnis. Saat akan memulai sebuah ide bisnis, kita mungkin tidak tahu apakah bisnis ini akan sukses atau tidak karena hal itu berada di luar kendali kita.
Namun tentunya kita tetap bisa mengusahakan agar bisnis berjalan baik dengan melakukan analisa SWOT sebelum memulai bisnis, membekali diri dengan berbagai tips memulai usaha hingga menerapkan manajemen yang baik terkait bisnis yang dijalankan.
Langkah yang Perlu diambil Saat mengalami Emosi Negatif
Selain dikotomi kendali, Filosofi Stoik juga berkaitan erat dengan
pengelolaan emosi. Dalam keseharian, tak jarang kita harus menjalani hari dengan emosi negatif. Ada banyak hal yang bisa memicu kehadiran emosi negatif ini yang biasanya hadir dari hal yang tidak bisa kita kendalikan. Beberapa contohnya seperti bangun kesiangan, kemacetan di jalan, cuaca yang buruk, omongan buruk orang lain, hingga kondisi politik yang kacau.
Hadirnya emosi negatif secara tidak langsung juga bisa mempengaruhi bagaimana kita menjalani hari. Dalam buku ini, penulis menjabarkan beberapa langkah yang bisa diambil yang disingkat menjadi STAR yakni:
1. STOP (Berhenti)
Saat seseorang merasakan emosi negatif dalam dirinya, maka hal yang perlu dilakukan adalah berhenti sejenak. Saat mulai merasa takut, khawatir, marah, dan emosi negatif lainnya, kita bisa diam terlebih dahulu untuk meredam emosi yang muncul.
2. THINK & ASSESS (Dipikirkan dan dinilai)
Setelah menghentikan proses emosi, langkah yang dilakukan selanjutnya adalah berpikir secara rasional dan menilai apakah perasaan yang ada bisa dibenarkan atau tidak.
Misal saat kita terkena macet, apakah marah-marah akan menjadi solusi? Tentu saja tidak, bukan?
3. RESPOND
Setelah berhenti dan berpikir, langkah terakhir adalah menentukan respons yang akan diberikan, baik melalui ucapan maupun tindakan.
Karena sebelumnya sudah melalui proses berpikir, diharapkan respons yang diberikan pun menjadi lebih baik.
Mempersiapkan Diri Akan Hal Buruk
Selain prinsip akan dikotomi kendali, ilmu Stoik juga mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri akan hal buruk yang terjadi. Bahkan dalam ajaran Stoik, kita diajarkan untuk mengawali hari dengan membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi di hari itu apakah itu cuaca yang buruk, berhadapan dengan orang menyebalkan dan lain sebagainya.
Jika dilihat dari satu sisi, ajaran Stoik yang satu ini memang agak lain karena seolah mengajarkan kita untuk berpikiran negatif. Namun sebenarnya inti dari ajaran ini adalah melatih diri agar lebih siap menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Dengan begitu, saat hal buruk benar-benar terjadi, kita tidak terlalu kaget dan bisa lebih tenang dalam menghadapinya.
Stoik dan Praktik sebagai Orang Tua
Selain bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, ajaran Stoik juga bisa diterapkan dalam hal parenting. Sebagai orang tua, pastinya ada banyak kekhawatiran yang muncul di kepala kita yang berhubungan dengan perilaku hingga masa depan anak. Kita selalu berharap bisa membesarkan anak yang berperilaku baik dan kalau bisa juga sukses di masa depannya.
Dalam ajaran Stoik sendiri, ada beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak, mulai dari memahami dikotomi kendali, melatih kebijaksanaan, belajar bersosialisasi, hingga menghadapi kegagalan dan perlakuan buruk dari orang lain.
Selain itu, perlu diingat juga bahwa dalam parenting ada banyak hal yang tidak bisa dikontrol oleh orang tua. Alih-alih terus menyesali hal yang berada di luar kendali, akan lebih baik jika kita fokus melakukan hal terbaik pada apa yang masih bisa diusahakan.
Hal ini mengingatkan saya pada buku Parent with No Property yang juga membahas bagaimana orang tua bisa mempersiapkan anak menghadapi kehidupan lewat pola pikir, kebiasaan, dan nilai hidup, bukan sekadar materi.
Kesan Setelah Membaca Buku Filosofi Teras
Sebagai ibu bekerja, membaca buku Filosofi Teras ini pastinya memberikan wawasan dan pemahaman baru bagi saya. Meski bukan orang yang kerap overthinking, prinsip yang dipaparkan di buku ini semakin membuat saya lebih yakin untuk lebih berfokus pada diri sendiri ketimbang terus-menerus memandang hidup orang lain yang jauh dari kendali saya.
Menariknya lagi, ajaran Stoik dalam buku ini terasa selaras dengan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang Muslim, yakni tentang ikhtiar, menerima ketentuan hidup, dan bertawakal setelah berusaha semaksimal mungkin
uku Filosofi Teras sendiri ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami meski membahas filsafat. Henry Manampiring berhasil menjelaskan konsep Stoikisme dengan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami pembaca awam. Terdapat juga wawancara dengan beberapa tokoh dan orang-orang yang juga sudah menjalankan Stoikisme ini dalam hidup mereka yang bisa menjadi gambaran bagi pembaca.
Bagi yang ingin belajar mengelola emosi, menghadapi kecemasan, atau menjalani hidup dengan lebih tenang, buku ini menurut saya layak untuk dibaca setidaknya sekali seumur hidup.
0 Komentar