Hubungan Orang Tua dan Guru di Era Digital: Semakin Dekat, Tetap Perlu Batas

Hubungan Orang Tua dan Guru di Era Digital: Semakin Dekat, Tetap Perlu Batas


"Buibu, besok habis bagi rapor kita makan siang dengan Bu Dina di mall ya. Yang bisa ikut, tulis namanya di sini."

Begitulah isi pesan yang muncul di grup WhatsApp orang tua murid kelas 1 tempat putra saya bersekolah. Sehari menjelang pembagian rapor kenaikan kelas, pengurus paguyuban mengusulkan makan siang bersama wali kelas sebagai penutup tahun ajaran.

Karena hari pembagian rapor adalah hari Jum'at di mana saya hanya bekerja setengah hari, maka saya pun menuliskan nama saya sebagai orang tua yang mengikuti acara makan siang tersebut. Agar tidak repot bolak-balik ke rumah, saya meminta kedua anak membawa pakaian ganti dari rumah. Jadi setelah pembagian rapor selesai dan jam kerja saya berakhir, kami bisa langsung menuju mall satu-satu di kota Banjarmasin.

Keesokan harinya, setelah acara pembagian rapor dan jam kerja saya usai, kami bertiga langsung menuju mall yang lokasinya tak jauh dari perusahaan tempat saya bekerja. Sesampainya di sana, beberapa ibu yang mendaftar sudah duduk di restoran yang telah disepakati. Bu Dina, wali kelas Yafiq, juga sudah bergabung bersama mereka. Saya dan kedua anak kemudian mengambil tempat duduk yang masih kosong sebelum memilih makanan dari daftar menu.

Setelah makan siang selesai, kami mengobrol santai tentang berbagai hal seputar sekolah. Sementara itu, anak-anak sudah asyik bermain bersama di area mal. Kami tentu tetap mengawasi mereka, meski dalam hati sempat berharap tidak ada yang menjulidi kami karena membiarkan mereka berlarian dan bukannya mengajak anak ke playground yang ada di mall. Sekitar pukul satu siang, acara pun berakhir dan masing-masing orang tua kembali melanjutkan aktivitasnya.

Dalam perjalanan pulang, saya jadi berpikir bahwa makan siang sederhana itu mungkin tidak akan terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Dulu, hubungan orang tua dan guru terasa jauh lebih formal. Kini, komunikasi di antara keduanya terasa jauh lebih dekat, bahkan terkadang melampaui urusan sekolah.

Hubungan Orang Tua dan Guru Kini Semakin Dekat

Di era gen alpha, saya melihat ada sedikit perubahan antara hubungan orang tua murid dan guru di sekolah. Seperti yang saya ceritakan di atas, kami para orang tua murid duduk dan makan bersama dengan wali kelas anak kami. Di lain waktu, saya bahkan secara tak sengaja bertemu dengan wali kelas anak saya saat menonton konser Sheila on 7. Kami pun bertegur sapa sebentar, sebelum akhirnya berkumpul dengan teman nonton masing-masing.

Bagi generasi milenial seperti saya, sulit sekali rasanya mendapati adanya komunikasi yang intens orang tua murid dengan guru atau wali kelas, kecuali saat pembagian rapor. Bahkan, sebagian besar orang tua gen millenial mungkin hanya mengetahui nama wali kelas anaknya karena pernah disebutkan oleh sang anak atau guru tersebut adalah guru senior yang juga pernah menjadi guru orang tua. Keterbatasan dunia komunikasi di tahun 90-an menjadi salah satu alasan mengapa hubungan antara orang tua dengan guru atau wali kelas menjadi sangat terbatas atau bahkan tidak pernah terjadi. 

Sementara untuk sekarang, setiap kali seorang anak memasuki jenjang pendidikan baru, maka orang tua juga akan berkenalan dan berkomunikasi dengan sang guru baik secara pribadi ataupun lewat grup sekolah. Komunikasi ini bisa jadi lebih intens jika anak masih dalam tahap awal bersekolah. Dengan semakin mudahnya komunikasi di era sekarang, guru bisa membagikan secara langsung kegiatan anak di sekolah dan juga informasi terkait tugas anak. 

Bagi orang tua, hal ini tentunya merupakan hal yang positif karena mereka bisa memantau perkembangan anaknya di sekolah sekaligus lebih cepat mengetahui jika ada kendala yang dialami anak selama proses belajar. Contoh sederhana ketika anak terlihat sakit saat di sekolah, guru bisa langsung menghubungi orang tua sehingga orang tua juga bisa langsung menjemput anak yang sakit tersebut.

Namun, Kedekatan Juga Bisa Menimbulkan Gesekan

Di balik berbagai kemudahan dalam hal komunikasi orang tua dan murid, muncul pula tantangan baru. Hal ini bahkan digambarkan dalam sebuah drama Korea bertema dunia pendidikan yang pernah saya tonton. Di sana, seorang guru merasa begitu tertekan karena terus-menerus diteror pesan dari orang tua murid mengenai perkembangan anaknya di sekolah.

Tak hanya itu, sekarang orang tua juga tak segan-segan melaporkan guru yang dianggap melakukan hal yang merugikan pada anaknya. Hal yang rasanya hampir tidak pernah ditemui bagi Gen milenial. Kondisi seperti ini membuat sebagian guru merasa berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi mereka ingin memberikan didikan yang baik untuk muridnya, tetapi di sisi lain mereka juga harus berhati-hati karena setiap keputusan yang diambil berpotensi menimbulkan komplain.

Selain kemudahan komunikasi yang bisa menimbulkan gesekan, kehadiran media sosial juga bisa menjadi salah satu hal berisiko. Saat ini, sudah bukan hal aneh lagi jika guru dan orang tua murid saling follow di akun media sosial. Sayangnya saling follow di media sosial ini juga bisa menimbulkan efek negatif ketika orang tua memberikan komentar terhadap kehidupan pribadi guru yang sebenarnya berada di luar urusan sekolah.

Menurut Saya, Hubungan Orang Tua dan Guru Sebaiknya Seperti Apa?

hubungan sehat orang tua dan guru


Lalu bagaimana seharusnya relasi yang terjalin antara orang tua dan guru? Mungkin beberapa hal ini bisa menjadi perhatian:

1. Guru Bukan Pengganti Orang Tua

Kehadiran guru di sekolah memang kadang dianggap sebagai pengganti orang tua. Namun hal ini hanya berlaku di sekolah. Orang tua tetap harus ingat kalau anak adalah tanggung jawab mereka baik di sekolah maupun di rumah. Tugas guru di sekolah adalah memberikan pelajaran dan mengawasi perilaku anak sementara tugas utama orang tua adalah memberikan pendidikan dan contoh perilaku yang baik untuk anak.

2. Komunikasi itu Penting, Tetapi Ada Batasnya

Kehadiran handphone dan berbagai aplikasi percakapan saat ini memang sangat memudahkan orang tua dalam berkomunikasi dengan guru atau wali murid anaknya. Namun orang tua tetap harus memiliki batasan dalam berkomunikasi dengan guru ini. Hindari mengubungi guru di luar jam kerja atau bahkan di waktu istirahatnya, kecuali jika hal tersebut sangat penting. Guru juga memiliki keluarga dan kehidupan pribadi sehingga tidak selalu bisa membalas pesan saat itu juga.

3. Menghormati Privasi Masing-masing

Meski komunikasi antara orang tua dan guru kini semakin dekat, bukan berarti keduanya bebas mencampuri kehidupan pribadi masing-masing. Jika saling terhubung di media sosial, sebaiknya interaksi tetap dilakukan dengan bijak dan menghormati batas antara urusan sekolah dan kehidupan pribadi.

4. Menghormati Privasi Anak dalam Konten Media Sosial

Saat ini memang bukan hal aneh jika seorang guru membuat konten terkait profesi atau proses belajar mengajarnya. Namun tidak semua anak nyaman wajah atau aktivitasnya dipublikasikan. Karena itu, guru dan sekolah sebaiknya memastikan adanya persetujuan dari orang tua, serta mempertimbangkan kenyamanan anak, terutama jika konten akan diunggah ke media sosial yang bersifat publik.

5. Fokus pada Tujuan yang Sama

Kita semua tentunya sepakat kalau baik orang tua maupun guru memiliki tujuan yang sama dalam mendidik anak. Kita ingin anak mendapatkan pendidikan yang baik dan ilmu yang berguna bagi masa depan mereka. Karena itu jika ternyata ada masalah terkait anak di sekolah, orang tua dan guru bisa duduk bersama untuk menemukan solusi dari masalah tersebut.

Penutup

Makan siang bersama orang tua dan guru hari itu menyadarkan saya akan satu hal. Di era digital seperti sekarang, hubungan antara orang tua dan guru memang bisa terjalin dengan lebih dekat, santai, dan hangat. Namun, kedekatan tersebut tetap perlu diiringi dengan sikap saling menghormati serta menjaga batas profesional masing-masing.

Sebagai orang tua, saya bersyukur bisa berkomunikasi dengan wali kelas anak lebih mudah daripada generasi sebelumnya. Namun saya juga percaya bahwa komunikasi yang baik bukan hanya soal seberapa sering kita bertukar pesan, melainkan juga tentang saling menghormati peran, menjaga batas profesional, dan mengingat bahwa guru dan orang tua sedang berada di tim yang sama: mendampingi anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang baik.
Baca Juga

Posting Komentar

45 Komentar

  1. Kalau zaman kita dulu ada jarak antara wali murid dan guru itu kenapa ya? Apa karena beda generasi atau dulu lebih ke formalitas?

    Guru Saladin alhamdulillah baik dan friendly (beliau kakak dari Salah satu blogger Malang) dan enak diajak diskusi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. selain formalitas kayaknya karena jarang ketemu aja sih karena komunikasi dulu nggak secanggih sekarang

      Hapus
  2. Sepakatnya pakai banyak ini.
    Sedekat apapun, guru dan orang tua tetap memiliki batasan-batasan.
    Itu pula sebabnya, bahasa komunikasi juga tidak senormal, misal, dengan sirkel bermain atau juga teman/sahabat terdekat.

    BalasHapus
  3. Komunikasi penting tapi ada batasannya ya. Seharusnya memang demikian. Jangan sampai karena anak guru, atau saudara guru, rangkingnya jadi melejit.
    Itu sering kejadian di sekolah dekat tempat saya tinggal

    Enggak tahu kalau begitu yg tidak profesional gurunya atau di anak nya ya?

    BalasHapus
  4. Bener Kak, se-akrab apapun antara orangtua dengan guru tetap ada batasannya dalam hal komunikasi dan jaga privasi masing-masing. Dengan begitu bisa sama-sama saling menghormati

    BalasHapus
  5. Sampe skr aku memang ga mau terlalu rapat dengan guru anak2. Komunikasi seperlunya aja. Krn memang menurutku harus ada batas antara guru dan orangtua murid. Untuk mencegah hal2 yg bisa merugikan satu sama lain. Termasuk pemberian hadiah dan sejenisnya. Ga mau ntr malah disangka itu salah satu gratifikasi .

    Padahal itu dilarang banget di sekolah kan. Cuma tetep ajaaa banyak yg msh diam2 memberi. Sekolah anakku juga ada yg masih diem2 ngasih. Aku ga mau ikutan, makanya ga mau terlalu akrab dengan wali murid lain dan guru.

    Dan setujuuu poin2 di atas yg mba tulis. Boleh2 aja dekat dengan guru anak2, tp batasan harus ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, aku ini setuju mbak Fan. Aku pun juga nggak terlalu akrab dengan wali murid dan guru. Jadi seperlunya saja. Kalau pun akrab paling nggak lebih dari dua orang dan itu pun biasanya satu pemikiran juga dan kenal udah lama banget. Hihihi...

      Khawatirku malah keikut arus juga kalau terlalu dekat mbak. Di sekolah anakku juga ada yang diem-diem ngasih. Dan biasanya aku sama beberapa temanku nggak ikutan disitu. Kalau ada apa-apa biar nggak kena getahnya.. :(

      Hapus
  6. Aku juga bukan tipe yang deket sama guru anak2ku. Seperlunya aja, nanya2 kalau ada tugas maupun kegiatan sekolah.
    Kalau soal makan2 duluuuu banget, walau sekolahnya online, pernah arrange kegiatan buka bersama sama bu guru dan anak2. Pernah juga dengan guru jenjang berikutnya bikin event playdate dan makan2.
    Tapi yawda selepas itu tak menjadi sok akrab.
    Di PKBM anakku juga nggak boleh kasi2 hadiah ke guru, kecuali kalau anak2 kasi kerajinan tangan/ lukisan dll baru boleh.
    Menjaga batasan itu perlu ya. Apalagi guru juga punya privasi hehe.
    Yang penting kita berhubungan di koridor "profesional" satu guru, satu ortu, saling dukung buat pendidikan anak2 kita :D

    BalasHapus
  7. Menarik ya mbak, di era sekarang ini hubungan orang tua dan guru bertransformasi dari sekadar acara pembagian rapot menjadi komunikasi aktif dan berkelanjutan tentunya ini bisa dijadikan jalan untuk mendukung perkembangan pendidikan anak di sekolah.
    Nah, dengan kemudahan ini orang tua dan guru harus bisa menyelaraskan diri dalam memberikan bimbingan, sehingga nantinya anak kita bisa mendapatkan bimbingan yang sudah selaras dari orang tua dan guru.

    BalasHapus
  8. Beda banget ya zaman kita sekolah dulu sama anak-anak sekarang. Dulu ketemu guru di luar kelas aja rasanya segan banget, sekarang malah bisa kumpul dan makan siang bareng dengan santai.
    Akan tetapi, poin soal batas itu emang krusial banget sih. Kemudahan chat WA atau media sosial kadang bikin sebagian orang lupa kalau guru juga punya jam istirahat dan kehidupan pribadi. Kuncinya memang saling respek dan sadar kalau kita ini sejatinya ada di tim yang sama demi tumbuh kembang anak.

    BalasHapus
  9. Setuju banget kalau teknologi membuat komunikasi antara orang tua dan guru menjadi lebih mudah, tetapi tetap perlu ada batas yang dijaga. Kehadiran grup WhatsApp memang sangat membantu untuk mendapatkan informasi sekolah dan perkembangan anak dengan cepat.

    Tapi nih, orang tua juga perlu paham kalau guru tuh punya waktu pribadi dan tanggung jawab lain di luar sekolah. Menurutku, hubungan yang akrab tetap baik selama komunikasi dilakukan dengan sopan, tidak menuntut balasan setiap saat, dan selalu berfokus pada kepentingan serta perkembangan anak. :)

    BalasHapus
  10. Drakor yg ortunya meneror guru tuh episde 5 "Let Me Teach You" ya kaann?
    Ya ampun, aku juga gemessshhh ama wali murid kek gitu.
    Sotoy, helicopter parent bangett, dahlaahh sebenernya asyik akrab ama guru.
    tapiii kayaknya memang kudu ada boundaries ya

    BalasHapus
  11. Wah iya mbak, beda ya kedekatan ortu dan guru era sekarang. Dulu, pas ortuku hanya ambil rapor dengarkan update informasi dari guru terkait pelajaran anaknya. Sekarang bahkan bisa maksimal bareng, agak ngeri kalau nggak ada batasan ya.

    Kelima cara yang mbak jabarkan relevan, tetap harus ada batasan yang jelas, saling menghormati dan menghargai privasi juga. Serta ortu menyadari kalau guru bukan sepenuhnya perpanjang tangan mereka, ortu tetap harus mendidik dan mengevaluasi kemajuan dan pertumbuhan anak secara menyeluruh ya.

    BalasHapus
  12. Benar sih. Hubungan orang tua dan guru jaman aku sekolah memang beda sama sekarang. Lebih dekat. Tapi, dekat emang nggak selalu baik. Mending tetap ada batasan. Biar nggak gampang ada gesekan

    BalasHapus
  13. Kayaknya saya tau deh drama Korea yang di maksud. Hehe.. Iya nih, zaman makin canggih jadi komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah pun jadi semakin mudah. Di awal-awal anak saya sekolah, ada aja gebrakannya yang bikin miss atau mr dari sekolah nelponin saya. Jadi was-was terus kalau dapat telepon dari pihak sekolah. Wkwk..

    BalasHapus
  14. Iya betul....sekarang enak sekali komunikasi dengan gurunya anak² di sekolah. Zaman saya sekolah mana ada komunikasi antara guru dan ortu, belum ada hp apalagi grup wa. Bagi rapot juga nggak ada ortu yang ke sekolah. Dibagikan ke anak² saja semuanya.

    Sekarang masalah apapun bisa dikomunikasikan meski kadang kebablasan..misal ortu mendikte guru dan masuk terlalu jauh dalam urusan sekolah..emang ada yang begitu? Ada banget...

    Jadi betul apa kata mbak Antung bahwa tetap harus ada batasan antara guru dan ortu...sejauh mana bisa berkomunikasi..hal apa yang boleh dibahas dan apa saja yang tidak boleh dicampuri oleh ortu...dll.

    BalasHapus
  15. poin2nya benar. Memang masanya sekarang berbeda. Duluu, ketika sudah bertukas nomor telp, rasanya seperti teman yang sudah saling percaya. Padahal sekarang, bertukar nomor telp ya sah2 saja untuk urusan pekerjaan atau adanya WAG. Bukan berarti lantas bisa setiap saat menghubungi guru untuk menanyakan soal perkembangan anak. Ada privacy yang harus dihormati sehingga nyaman bagi semua pihak dan tujuan utama tercapai yaitu untuk pendidikan anak.

    BalasHapus
  16. Iya, zaman dulu, orang tua hanya bertemu guru saat ada anak bermasalah atau pembagian raport. Bahakn dulu, oran tua tidak kenal siapa wali kelas saya dari Smp sampai STM. kalau SD kenal, karena sekolah saya belakang rumah, dan sering titip sayuran di kulkas hehehe.
    Jadi menurut saya, hubungan antara guru dan orang tua sedang-sedang saja. Soalnya itu, kalau terlalu dekat dan akrab, kadang guru ga jadi ada wibawa.

    BalasHapus
  17. Tulisan Kak Antung sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kemudahan komunikasi antara orang tua dan guru memang membawa banyak manfaat karena perkembangan anak bisa dipantau dengan lebih baik, tetapi saya juga sepakat bahwa kedekatan tersebut tetap perlu dibarengi dengan saling menghormati batas dan privasi masing-masing. Guru juga memiliki kehidupan di luar sekolah, sehingga komunikasi yang dilakukan dengan bijak akan menciptakan hubungan yang lebih sehat. Pada akhirnya, yang terpenting adalah orang tua dan guru bisa saling bekerja sama. Mendukung tumbuh kembang anak sebaik mungkin, dengan tetap mengedepankan adab dan tata krama.

    BalasHapus
  18. Nah, jgn sampe yak kejadian kyk di drakor Teach You a Lesson. Yg wali muridnya ngamuk dan neror wali kelasnya sampe berniat bundir. Sumpah itu keren bgt narasi skenarionya. Hrs diputar dan dikirim ke pesan singkat ortu2 nih. Haha. Biasanya kan emak2 suka beginian. Potongan2 film tapi msh berkualitas.

    Jujur dgn teknologi, komunikasi emg mkn lancar. Di satu sisi emg banyak manfaatnya. Tapi di sisi lain, salah ucap atau salah emot aja, bs bikin berabe. Apalagi kalo ktmu emak2 sensian. Bisa makin runyam deh bun.

    BalasHapus
  19. Betul, zaman dulu mah ya.. namanya orang tua dan guru tuh, nggak sedeket sekarang. Mungkin karena efek teknologi dan sosial media ya. Jadi komunikasi pun jadi lebih muda. Wong tiap kelas atau sekolah, minimal pasti ada whatsapp grupny masing-masing. Ya sudah barang tentu komunikasi pun jadi lebih intens terjalin.

    Meski begitu, bibit-bibit gesekan menurutku pastilah akan tetap ada. Apalagi di situasi ekonomi sekarang, yang makin lesu.
    Kalau ada keputusan dari guru yang dirasa kurang memuaskan, atau mungkin dirasa memberatkan, kurasa bisa jadi bom waktu yang bisa meledak kapanpun.

    BalasHapus
  20. Saya termasuk di posisi sebagai seorang guru dan juga sebagai orang tua di sisi lain. Dari pengalaman sebagai keduanya sangat sepakat kalau hubungan dan guru itu harus paham akan boundaries agar tidak menjurus pada hal-hal yang tak dilarang seperti gratifikasi dan lain-lainnya.

    Itu kenapa saya sendiri suka merasa risih kalau ada orang tua yang menampakkan 'ada maunya' bener-bener dibuat tak nyaman dengan tipe orang tua seperti itu. Better memang kita profesional saja dengan posisi masing-masing demi masa depan anak-anak lebih baik

    BalasHapus
  21. Tentu ada kelebihan dan kekurangan, dan semua sudah terjabarkan di blog-nya XD

    Aku pribadi sebagai orang yang bekerja di dunia pendidikan kurang suka cara orang tua izin anaknya tidak masuk sekolah ke guru. Terutama yang gaya bahasanya terlalu santai, misalnya "Bu, hari ini si A izin tidak hadir karena sakit. thx."

    Aduhai gaul sekaliiii. Tapi itulah perkembangan zaman dan teknologi.

    BalasHapus
  22. Bener ya sekarang komunikasi dengan guru anak jadi lebih mudah dan bahkan hubungan bisa lebih dekat. Tapi saya pribadi tetap membatasi hubungan orang tua murid dan guru tetap profesional. Tidak menghubungi guru kecuali terkait urusan sekolah dan menghormati mereka walaupun rata-rata lebih muda

    BalasHapus
  23. Sepakat mbak, orang tua dan guru itu team, jadi harus menjaga hubungan baik dan tetap menjaga profesionalisme karena tujuannya sama untuk mendidik anak sesuai kurikulum yang telah disepakati sebelumnya
    Jadi hubungan tetap enak sampai nanti
    Kalau sekarang sepertinya lebih mudah seperti ini, gurunya lebih muda dan lebih terbuka

    BalasHapus
  24. Sepakat mbak. Batasan igu penting. Kalau di sekolah anakku, guru tdk diperkenankan memberi kontak pribadi. Komunikasi bisa lewat grup. Itu pun di telegram.

    BalasHapus
  25. Terlalu nyaman juga jangan, yaa.. ka Antung.. karena tetap hubungan antara guru dan orangtua harus dijaga keharmonisannya. Kalau boundariesnya uda hilang, bisa kurang nyaman saat penyampaian perkembangan anak saat konsultasi.

    BalasHapus
  26. Wah guyub ya hubungan guru dan wali muridnya, di sekolah kami juga seperti itu jadi lebih cair ya nggak kayak kita pas sekolah dulu beneran formal hehe.. tetap ingat harus saling menghormati dan menghargai..

    BalasHapus
  27. Saya cukup kaget lihat dunia pendidikan sekarang terutama tentang keterlibatan orang tua. Ya, semuanya sudah dijelaskan di blog ini, dan saya setuju kalau kondisi sekarang sangat berbeda dengan masa sekolah anak 90an. Dulu, keterlibatan orang tua itu cuma saat daftar sekolah dan penerimaan rapor. Sekarang, orang tua sudah intens chat dengan guru.

    BalasHapus
  28. Hub baik antara guru dan wali murid memang sangatlah penting, bersyukur saat ini ada banyak cara membangunnya..antara lain melalui grup online seperti ini ya...

    BalasHapus
  29. bisa terinspirasi dari series Teach A Lesson bahwa kedekatan ortu sama guru dapat membawa petaka kalau terlalu banyak ikut campur hehe..selama kedua pihak saling menghargai mungkin jalinan kedekatan keduanya bisa lebih efektif untuk membangun komunikasi.

    BalasHapus
  30. Jadi inget drakor yang bahas tentang pendidikan. Salut sih sama guru dan orang tua yang bisa menjaga bounderis namun tetap bisa melaksanakan tugasnya masing-masing

    BalasHapus
  31. Betul banget, sekarang guru dan orang tua murid bisa jadi besti malah hehe tapi dulu berjarak karena untuk menghubungi orang tua murid saja guru sering menitipkan surat ke anak jadi tidak ada percakapan intens.

    BalasHapus
  32. Kalau buat aku hubungan guru sma orang tua dket boleh tapi harus tetap berjarak sebatas proses pembelajaran aja dskolah

    BalasHapus
  33. Hal yg agak mengganggu bagi saya sbgai guru adalah dihubungi murid saat larut malam. Pukul 21.00 lebih mash ada yang tanya terkait tugas. Saya cukup mendiamkan agar dia memahami batas komunikasi itu sampai kapan. Kadang hal seperti ini perlu diajarkan saat MPLS agar murid-murid menghargai waktu privasi guru-gurunya.

    BalasHapus
  34. saya setuju kak, akrab boleh tapi tetap ada batasannya. nggak enak juga sih kalau terlalu akrab, malah jadi canggung nantinya, dan bisa menibulkan gesekan pula

    BalasHapus
  35. Menurut saya, komunikasi yang baik antara orang tua dan guru memang bukan berarti harus selalu intens, tetapi bagaimana keduanya bisa saling menghargai dan memahami peran masing-masing. Apalagi sekarang komunikasi jauh lebih mudah dengan adanya WhatsApp dan berbagai platform digital. Kalau orang tua dan guru bisa menempatkan diri sebagai partner dalam mendampingi anak, tentu suasananya akan lebih nyaman dan tujuan utamanya pun lebih mudah tercapai. Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah tumbuh kembang dan kebaikan anak.

    BalasHapus
  36. Gak hanya murid dengan guru, tapi juga orang tua murid dengan gurunya anak ya. Komunikasi itu penting tapi tetap ada batasan
    Di pondok anak saya malah apalagi. Kalau ada wali santri yang berusaha mencari informasi tentang anak lewat ustad aja, itu baik anak maupun ustadz nya kena hukuman
    Karena peraturannya memang ada batasan

    BalasHapus
  37. Pernah ada di posisi guru, jadi saya semakin memahami kalau orang tua dan guru memang harus bersinergi tapi dalam koridor yang profesional juga.

    Menjadi akrab di luar urusan sekolah adalah konteks lain.

    BalasHapus
  38. Di zaman sekarang komunikasi antara orang tua dan guru memang jauh lebih mudah karena ada WhatsApp dan berbagai platform digital. Tapi menurutku kemudahan komunikasi belum tentu otomatis membuat hubungan keduanya lebih dekat. Kadang yang paling penting justru bagaimana orang tua dan guru sama-sama mau mendengarkan dan menyampaikan sesuatu dengan baik, terutama ketika menyangkut perkembangan anak. Jangan sampai teknologi cuma membuat komunikasi lebih cepat, tapi malah kehilangan sisi manusianya

    BalasHapus
  39. Wah... sedekat itu ternyata hubungan orang tua dan guru, ya? Bagus kalau demikian. Tapi tergantung pihak guru dan sekolah juga, ya, apakah mengizinkan pendidiknya menerima bingkisan atau undangan makan dari wali murid. Dulu sekolah anakku melarang ustadz dan ustazahnya menerima bingkisan apa pun dari orang tua. Mungkin untuk menjaga pembatasan agar tidak berlebihan.

    BalasHapus
  40. Setuju banget, kolaborasi antara rumah sama sekolah tuh kunci utamanya biar anak nggak bingung nanggapin aturan. Artikelnya relate banget sama keresahan orang tua zaman sekarang yang harus ekstra aware ngadepin era digital.

    BalasHapus
  41. Yes, setuju banget mbak, walaupun komunikasi lebih mudah karena ada perangkat, tapi tetap harus menjaga privasi masing-masing baik guru ataupun orang tua ya. Termasuk juga antara orang tua ya. Relate banget artikelnya ini, apalagi beberapa orang tua ada yang merasa lebih tau dari gurunya, eh akhirnya posting-posting tentang pendidikan anak, padahal tiap sekolah punya konsep sendiri ya...

    BalasHapus
  42. Saya tahu nih drakor nya. Teach you a lesson. Memang benar sih saat ini guru lebih mudah akrab dengan wali murid, tapi itu bikin guru nggak nyaman karena argumen bahwa guru adalah pengganti orang tua itu terlalu kuat. Kadang, kalau kita lihat guru ternyata di luar suka nonton konser dianggap tidak layak jadi guru karena paham guru pengganti orang tua yang terlalu kamu.

    BalasHapus
  43. Atau bahasa kerennya, "set boundaries." Mungkin, sebagian millennials itu belum siap punya anak, jadi melimpahkan sebagian tanggung jawab dan harapannya ke guru. Kalau dulu, guru dan orangtua masih agak renggang karena komunikasi terbatas ya, SMS pun cuma 1-2 kali balas untuk urusan yang betul-betul krusial.

    BalasHapus