Salah satu hal yang cukup meresahkan dari dunia pendidikan saat ini adalah semakin banyaknya terjadi perundungan di dunia sekolah. Selama beberapa tahun terakhir, kita cukup sering membaca berita perundungan murid di berbagai sekolah entah itu sekolah negeri hingga swasta. Ada banyak efek buruk yang diakibatkan dari perundungan ini mulai trauma pada korban seperti dalam drama Korea The Glory hingga bahkan ada yang berakhir dengan kematian. Ironisnya, tidak sedikit kasus yang sulit ditangani karena pelakunya berasal dari keluarga berpengaruh. Akibatnya, pihak sekolah sering kali berada dalam posisi yang serba salah. Tak hanya murid yang menjadi korban, guru pun terkadang harus menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan dari siswa maupun orang tua murid. Bukannya dihormati, posisi guru sekarang malah serba salah. Mau keras takut dilaporkan ke polisi, sementara kalau diam saja bisa jadi kelakuan murid semakin parah.
Fenomena seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Korea Selatan, persoalan perundungan dan krisis kedisiplinan di sekolah juga menjadi perhatian serius. Ada cukup banyak drama yang mengusung tema perundungan. Ada yang berfokus pada siswa yang mengalami perundungan seperti dalam
Pyramid Game dan ada juga yang berfokus pada upaya mengatasi perundungan tersebut.
Salah satunya drama Korea terbaru yang mengusung tema mengatasi perundingan ini berjudul
Teach You a Lesson, sebuah drama yang diadaptasi dari webtoon
Get Schooled. Drama ini berkisah tentang sebuah badan khusus yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan untuk melindungi hak guru dan murid di sekolah.
Sinopsis Drama Korea Teach You a Lesson
Cerita dimulai dari seorang pemuda bernama Gyeong Min yang dirundung oleh teman sekelasnya. Ketika tubuhnya sudah mulai babak belur, tiba-tiba muncullah seorang pria yang kemudian memukuli pemuda yang sebelumnya memukul Gyeong Min. Kejadian ini pastinya membuat heboh di sekolah karena berdasarkan peraturan guru tidak boleh memukul murid.
Belakangan diketahui kalau pria tersebut bukanlah seorang guru, melainkan Na Hwa Jin, seorang pengawas yang ditunjuk oleh Badan Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP). Ia ditugaskan untuk menangani berbagai kasus yang terjadi di sekolah, termasuk perundungan dan kekerasan. Uniknya, lembaga ini memberikan kewenangan khusus kepada para pengawasnya untuk menggunakan berbagai metode dalam menyelesaikan masalah, termasuk tindakan yang sering kali dianggap kontroversial.
BPHP sendiri didirikan oleh Menteri Pendidikan Choi Gang Seok setelah putri semata wayangnya meninggal akibat ditikam oleh seorang murid. Tragedi tersebut membuatnya menyadari bahwa ada banyak hal yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan. Ia kemudian mengajak serta tunangan putrinya Na Hwa Jin untuk menjadi salah satu anggota BPHP.
Dalam menjalankan tugasnya, Na Hwa Jin tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh Im Han Rim, seorang mantan korban perundungan yang kemudian mengikuti jejaknya menjadi tentara sekaligus pengawas BPHP, serta Bong Geun Dae, sosok jenius lulusan KAIST yang bertanggung jawab pada bidang riset dan teknologi.
Sepanjang sepuluh episode drama, tim BPHP menangani berbagai kasus yang terjadi di sekolah-sekolah Korea Selatan. Mulai dari perundungan yang menyebabkan trauma berat pada korban, kenakalan remaja yang berujung pada tindak kriminal, peredaran narkoba dan judi online di kalangan pelajar, hingga orang tua yang terlalu mencampuri urusan pendidikan anaknya.
Menariknya, drama ini tidak selalu menempatkan murid sebagai pihak yang bersalah. Dalam beberapa episode, penonton juga diperlihatkan bagaimana guru, orang tua, bahkan sistem pendidikan itu sendiri dapat menjadi sumber ketidakadilan. Salah satu kasus yang diangkat adalah ketika seorang siswa berprestasi justru mendapat perlakuan tidak adil karena berasal dari keluarga sederhana.
Dalam menyelesaikan tugasnya sendiri, Na Hwa Jin dan timnya sering menggunakan metode yang berbeda-beda. Kadang mereka turun langsung sebagai pengawas yang tak segan menghukum murid bermasalah, namun sesekali juga anggota BPHP ini melakukan penyamaran untuk bisa mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari para murid. Metode inilah yang kemudian menjadi daya tarik sekaligus perdebatan utama dalam drama Teach You a Lesson.
Meski setiap episode mengangkat kasus yang berbeda, semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter anak. Setiap episode menghadirkan konflik yang berbeda sehingga tidak terasa membosankan. Justru dari setiap kasus tersebut, penonton diajak melihat berbagai sisi permasalahan yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan.
Bagi saya pribadi, episode yang paling berkesan adalah episode lima dan episode delapan yang sama-sama berkaitan dengan peran orang tua.
Pada episode lima, diceritakan seorang guru yang terus-menerus diteror oleh orang tua murid karena dianggap tidak mendidik anak sesuai keinginan mereka. Sementara itu, episode delapan menampilkan sosok ibu yang begitu terobsesi agar anaknya bisa masuk fakultas kedokteran hingga rela melakukan berbagai cara demi mewujudkan ambisinya. Mungkin karena posisi saya sebagai seorang ibu, dua episode ini memberikan pelajaran yang cukup berarti terkait dunia parenting.
Meski sempat menuai kritik dari organisasi guru di Korea Selatan karena menampilkan adegan kekerasan, drama ini tetap berhasil menarik perhatian penonton. Bahkan banyak yang menilai drama ini berani mengangkat berbagai persoalan pendidikan yang selama ini sering dianggap tabu.
Karakter dalam Drama Korea Teach You a Lesson
Choi Gang Seok
Choi Gang Seok adalah Menteri Pendidikan yang menjadi penggagas berdirinya BPHP. Kematian tragis putrinya membuat ia menyadari bahwa sistem pendidikan membutuhkan perubahan. Alih-alih memilih jalan balas dendam, ia berusaha menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman bagi guru maupun murid.
Na Hwa Jin
Na Hwa Jin merupakan mantan tentara sekaligus tokoh utama dalam drama ini. Setelah kehilangan tunangannya akibat tindakan seorang murid yang terlibat narkoba, ia bergabung dengan BPHP dan menjadi sosok yang turun langsung ke lapangan untuk menangani berbagai kasus.
Im Han Rim
Im Han Rim adalah salah satu pengawas BPHP yang direkrut oleh Na Hwa Jin. Saat masih bersekolah, ia pernah menjadi korban perundungan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami penderitaan para korban dan mendorongnya untuk membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman.
Bong Geun Dae
Bong Geun Dae adalah sarjana lulusan KAIST yang bertanggung jawab atas riset dan pengumpulan informasi kasus yang akan ditangani. Meski lebih sering bekerja di balik layar, perannya sangat penting dalam membantu proses investigasi. Kecerdasannya bahkan membuatnya beberapa kali menyamar sebagai siswa untuk mengumpulkan informasi.
Pelajaran dari Drama Korea Teach You a Lesson
Sebagai drama yang mengangkat tema pendidikan, Teach You a Lesson menyimpan banyak pelajaran berharga. Dengan sepuluh kasus yang beragam, drama ini berhasil menggambarkan berbagai persoalan yang tidak hanya terjadi di Korea Selatan, tetapi juga di banyak negara lain, termasuk Indonesia.
Berikut beberapa pelajaran dan pesan moral yang bisa diambil dari drama Korea Teach You a Lesson:
1. Jika Orang Tua Takut pada Anak-anak, Dunia Akan Hancur
Ini merupakan salah satu kalimat yang diucapkan Na Hwa Jin di awal kemunculannya dalam drama Teach You a Lesson. Beberapa episode menunjukkan bagaimana orang tua memilih diam ketika anak melakukan kesalahan. Mereka takut menegur, takut kehilangan kedekatan dengan anak, atau bahkan memilih membela anak meski jelas-jelas bersalah.
Padahal, kasih sayang tidak berarti membiarkan semua perilaku anak. Orang tua tetap perlu memberikan batasan dan mengajarkan tanggung jawab agar anak memahami konsekuensi dari setiap tindakannya. Anak yang tumbuh tanpa batasan berisiko kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
2. Orang Tua Seharusnya Menjadi Orang Pertama yang Menegur Anak Jika Membuat Kesalahan
Orang tua kadang menunjukkan kasih sayang mereka dengan cara yang salah. Alih-alih menegur anak saat melakukan kesalahan, orang tua kadang malah membela dan membiarkan anak melakukan kesalahan tersebut.
Hal ini terlihat dalam salah satu episode ketika sekelompok siswa SMP terlibat dalam tindakan kriminal. Bukannya membantu anak memahami kesalahannya, para orang tua malah berusaha melindungi mereka dari konsekuensi hukum yang seharusnya diterima.
Padahal, ketika orang tua terus-menerus membela anak tanpa melihat kesalahan yang dilakukan, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang merasa kebal terhadap aturan. Mereka tidak takut pada konsekuensi karena yakin akan selalu ada orang tua yang melindungi mereka. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru dapat membentuk karakter yang kurang bertanggung jawab.
3. Orang Tua Tidak Seharusnya Menekan Guru
Dalam episode lima, diperlihatkan seorang guru yang "diteror" oleh orang tua salah satu muridnya berkaitan dengan pola pendidikan yang harus digunakan. Ibu ini selalu mengingatkan guru tentang bagaimana anaknya harus diperlakukan, apa yang boleh dan tidak boleh. Awalnya memang terlihat normal, namun nyatanya orang tua murid ini sampai mencampuri kehidupan pribadi sang guru dan menganggu kesehatan mental sang guru.
Drama ini mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Orang tua tentu berhak menyampaikan masukan, tetapi tetap perlu memberikan kepercayaan kepada guru sebagai tenaga profesional. Kecuali jika memang terdapat tindakan yang merugikan atau membahayakan anak, hubungan antara orang tua dan guru seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati dan bekerja sama.
4. Orang Tua Tidak Seharusnya Memaksakan Keinginannya pada Anak
Sebagai orang tua, tidak bisa dipungkiri kalau kita pasti menginginkan hal yang terbaik untuk anak. Karena itu tak heran jika kita melihat orang tua yang sejak dini sudah mengarahkan pendidikan anaknya.
Namun niat baik tersebut terkadang berubah menjadi ambisi yang berlebihan. Dalam drama ini digambarkan seorang ibu yang sangat terobsesi agar anaknya dapat masuk fakultas kedokteran. Demi mewujudkan impian tersebut, ia rela melakukan berbagai cara tanpa mempertimbangkan keinginan dan kondisi psikologis anaknya.
Padahal, setiap anak memiliki minat, bakat, dan cita-cita yang berbeda. Tugas orang tua bukan menentukan jalan hidup anak, melainkan membantu mereka menemukan potensi terbaik yang dimiliki. Jangan sampai ambisi orang tua justru membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.
5. Anak-anak Perlu Diberi Pengarahan untuk Menentukan Masa Depannya
Memberikan kebebasan kepada anak memang penting. Namun kebebasan tanpa arahan juga dapat membuat anak merasa bingung dalam menentukan masa depannya.
Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang membantu anak mengenali potensi, minat, dan bakat yang mereka miliki. Dengan begitu, anak dapat mengambil keputusan yang lebih matang mengenai pendidikan maupun karier yang ingin ditempuh.
Mengarahkan berbeda dengan memaksa. Orang tua tetap bisa memberikan masukan dan pertimbangan, tetapi keputusan akhir sebaiknya dibuat dengan mempertimbangkan kemampuan serta keinginan anak itu sendiri.
6. Guru Juga Membutuhkan Perlindungan
Selama ini perhatian kita mungkin lebih banyak tertuju pada anak-anak yang menjadi korban perundungan. Padahal nyatanya guru juga saat ini mengalami banyak tekanan dalam menjalankan profesinya.
Tekanan ini bisa berasal dari para murid yang bermasalah, orang tua yang selalu berusaha membela anak mereka hingga lembaga atau institusi. Bahkan sekarang kita sudah cukup sering menonton berita seorang guru yang dipolisikan hanya karena ingin menertibkan perilaku siswa.
Padahal, layaknya murid, guru juga merupakan manusia yang memiliki hak untuk merasa aman dan dihargai. Sulit bagi guru menjalankan tugasnya dengan baik jika mereka terus-menerus hidup dalam tekanan dan ketakutan.
Penutup
Sebagai sebuah drama berlatar pendidikan, Teach You a Lesson berhasil memberikan sebuah kisah yang kompleks dan relevan dengan berbagai persoalan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Tidak hanya menyoroti perundungan di sekolah, drama ini juga mengangkat hubungan antara murid, guru, orang tua, dan sistem pendidikan yang saling memengaruhi satu sama lain.
Meski metode yang digunakan BPHP dalam menyelesaikan kasus sering kali memicu kontroversi, drama ini tetap berhasil mengajak penonton merenungkan berbagai persoalan yang selama ini kerap diabaikan. Mulai dari pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak, perlunya perlindungan bagi guru, hingga bagaimana lingkungan sekolah dapat memengaruhi masa depan seorang anak.
Bagi saya sendiri selaku bunda belajar, kekuatan utama Teach You a Lesson bukan terletak pada adegan aksi atau hukuman yang diberikan kepada pelaku perundungan, melainkan pada pesan-pesan moral yang disampaikan di setiap episodenya. Drama ini mengingatkan bahwa menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
Demikian review drama Korea Teach You a Lesson yang bisa saya bagikan dan rekomendasikan bagi orang tua dan pecinta drama Korea lainnya. Baca juga review drama Korea Sky Castle di blog ini yang berkisah tentang ambisi orang tua di Korea Selatan akan pendidikan anaknya.
Baca Juga
0 Komentar