Pengalaman Sunat Pen Sealer untuk Anak Usia 7 Tahun: Minim Nyeri dan Mudah Dirawat


Pengalaman Sunat Pen Sealer untuk Anak Usia 7 Tahun

Selain mengajak anak-anak liburan ke pantai, salah satu rencana saya setelah tahun ajaran 2025/2026 berakhir adalah menyelenggarakan sunat untuk Yafiq, anak kedua saya. Rencana sunat untuk Yafiq ini sebenarnya sudah hadir sejak usianya memasuki enam tahun. Namun karena berbagai alasan akhirnya saya putuskan untuk memundurkan hingga Yafiq berusia tujuh tahun.

Tentunya untuk bisa merealisasikan rencana sunat ini saya dan suami sudah melakukan sounding sejak jauh-jauh hari. "Nanti pas kamu umur tujuh tahun siap sunat, ya," begitu kata saya pada Yafiq. 

Yafiq sendiri sebenarnya memiliki ketakutan tersendiri dengan proses sunat. Wajarlah, ya soalnya dia tahu kalau sunat itu artinya ada bagian yang dipotong dari alat kelaminnya. Apalagi Yafiq juga pernah trauma saat cabut gigi pertamanya yang lumayan sakit. Karena itulah meski sudah di-sounding ia memberikan syarat mutlak sebelum disunat. "Pokoknya mama harus cari tahu dulu sunat mana yang nggak sakit," begitu katanya setiap kali saya melakukan sounding sunat ini. 

Setelah membandingkan beberapa metode sunat yang tersedia, saya dan suami akhirnya memilih metode Pen Sealer karena dianggap minim perdarahan dan perawatannya relatif mudah.

Mencari Metode Sunat yang Minim Rasa Sakit

Sebelum merealisasikan rencana sunat untuk Yafiq, saya sudah melakukan berbagai riset terkait metode sunat ini baik lewat internet, pengalaman adik perempuan saya yang kedua anaknya laki-laki dan juga beberapa rekan kerja. Saat ini memang ada cukup banyak metode sunat yang bisa dipilih untuk meminimalisir rasa sakit saat proses sunat. 

Kalau saya pribadi, selain minim rasa sakit, saya juga mencari metode sunat yang proses perawatannya tidak ribet mengingat saya juga harus bekerja dan mungkin takkan bisa merawat Yafiq dengan telaten. 

Selain bertanya pada orang tua yang sudah berpengalaman menyelenggarakan sunat anaknya, saya juga kemudian mencari info sunat lewat Instagram untuk memastikan tempat sunat nantinya tidak terlalu jauh dari rumah. Dari hasil pencarian, saya menemukan tiga tempat sunat yang lokasinya tak jauh dari rumah kami dengan radius sekitar 6 kilometer. 

Saya pun mencoba bertanya terkait metode sunat dan biaya yang harus dikeluarkan. Tenyata untuk dua rumah sunat yang saya tanyai mematok harga yang sama yakni 1,5 juta rupiah sementara yang terakhir mematok harga 2,5 juta rupiah untuk metode yang sama yakni pen sealer. 

Lalu bagaimana dengan sunatan massal? Apakah saya tidak terpikir untuk mencoba metode ini? Mungkin ada yang bertanya demikian. 

Nah, sebagai ibu yang pengennya irit tentu saja saya awalnya berniat agar Yafiq ikut sunatan massal saja yang biasanya diadakan pada libur sekolah. Sayangnya waktu itu info sunatan massal yang saya dapat memiliki syarat domisili kota Banjarmasin sementara saya tinggal di Kabupaten Banjar. Ini membuat saya akhirnya mengurungkan niat untuk ikut sunatan massal.

Memilih Rumah Sunat Alvazka untuk Yafiq



pengalaman sunat dengan metode pen sealer


Setelah keinginan untuk mengikutkan Yafiq ke sunatan massal gagal, saya dan suami akhirnya sepakat untuk memilih salah satu dari dua rumah sunat yang sudah saya incar sebelumnya. Rumah Sunat yang pertama, ternyata sudah penuh slotnya dan hanya ada slot kosong tanggal 17 Juli 2026. Padahal tahun ajaran baru dimulai pada 13 Juli 2026. Jelas sekali saya tidak mungkin mendaftarkan Yafiq untuk sunat di sana. 

Harapan terakhir saya akhirnya ada pada Rumah Sunat Alvazka yang lokasinya kurang lebih 5 km dari rumah. Saya pun menghubungi admin Rumah Sunat tersebut dan alhamdulillah ternyata ada slot kosong untuk hari Rabu dan Kamis alias dua hari ke depan. Saya pun berkonsultasi dengan suami dan akhirnya kami putuskan untuk mendaftar sunat di hari Kamis, 25 Juni 2026 pukul 14.00 Wita.

Apa Itu Metode Sunat Pen Sealer?




Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, sekarang ini ada banyak pilihan untuk metode sunat. Mulai dari yang konvensional, Electrocautery (laser), ring, metode clamp dan yang terbaru adalah metode dengan menggunakan pen sealer. Nah, untuk ketiga rumah sunat yang saya hubungi juga menawarkan metode pen sealer ini namun dengan nama yang berbeda. Rumah Sunat Alvazka sendiri memberi nama metode yang digunakannya dengan sebutan tekno pen sealer dengan biaya 1,5 juta Rupiah.

Dari penjelasan dokter, metode Pen Sealer bekerja menggunakan alat berbentuk menyerupai pena yang dapat memotong kulup sekaligus menyegel pembuluh darah kecil. Karena pembuluh darah langsung tertutup, perdarahan selama proses sunat menjadi sangat minimal. Hal inilah yang membuat metode ini umumnya tidak memerlukan jahitan dan proses penyembuhannya relatif lebih cepat dibanding metode konvensional.

Sebelum akhirnya memilih metode Pen Sealer, saya sempat membandingkannya dengan beberapa metode sunat lain yang umum digunakan di Indonesia. Berikut perbedaannya:


MetodeTeknikLama SembuhKisaran Biaya
KonvensionalKulup dipotong menggunakan pisau bedah kemudian dijahit.2–4 mingguRp500 ribu–Rp1,5 juta
Laser (Electrocautery)Menggunakan pisau listrik untuk memotong sekaligus menghentikan perdarahan.2–3 mingguRp800 ribu–Rp2,5 juta
ClampKulup dijepit menggunakan alat khusus, kemudian dipotong.7–14 hariRp1 juta–Rp2,5 juta
Ring (Plastibell)Kulup diikat menggunakan cincin plastik hingga lepas sendiri.7–14 hariRp700 ribu–Rp1,8 juta
Pen SealerAlat khusus memotong sekaligus menyegel pembuluh darah.7–14 hariRp1,5 juta–Rp3,5 juta

Pengalaman Sunat Pen Sealer di Rumah Sunat Alvazka



Kamis, 25 Juni 2026, sesuai dengan jadwal kami sekeluarga datang ke Rumah Sunat Alvazka yang beralamat di Jl. Bunyamin Residence km. 8 Kab. Banjar. Saat kami tiba, rupanya dokter sedang menunggu satu pasien yang sepertinya belum datang. Akhirnya setelah dipastikan pasien tersebut tidak datang, Yafiq pun dipersilakan memasuki ruang sunat.

Ruang sunat yang ada di Rumah Sunat Alvazka ini memiliki desain yang sangat ramah anak. Dindingnya dicat warna warni dengan berbagai pajangan mobil dan juga boneka. Sebuah ranjang pemeriksaan diletakkan di tengah ruangan yang nantinya akan menjadi tempat proses sunat dilakukan. Untuk nama metodenya sendiri, Rumah Sunat Alvazka menggunakan sebutan Tekno Pen Sealer.

Begitu memasuki ruangan, Yafiq langsung diminta untuk berbaring di ranjang tersebut dan penisnya diolesi salep yang akan memberikan efek kebas. Selama menunggu salep bekerja, dokter meminta kami ke mejanya untuk memberikan penjelasan terkait proses sunat dan juga perawatan pasca sunat. Selain itu kami juga diminta menandatangani surat persetujuan tindakan sunat untuk Yafiq.

Setelah sesi penjelasan selesai, sekarang waktunya untuk sunat pada Yafiq. Setelah efek salep mulai bekerja, dokter dan seorang asistennya kemudian mulai memberikan suntikan anestesi lokal. Setelah area tersebut benar-benar mati rasa, dokter memasang alat cetak untuk menentukan ukuran kulup yang akan dipotong. Selanjutnya proses pemotongan dilakukan menggunakan Pen Sealer yang sekaligus menyegel pembuluh darah sehingga hampir tidak terlihat adanya perdarahan.


sunat metode pen sealer

Selama proses sunat sendiri, Yafiq diberikan sebuah konsol PS5 untuk mengalihkan perhatiannya saat dokter mulai bekerja. Saya sendiri juga tidak melihat secara langsung proses sunatnya dan hanya bisa mencium bau daging terbakar selama proses sunat dilakukan. Baru setelah proses sunat selesai dokter memperlihatkan hasil sunat yang sudah rapi dan memang tanpa jahitan. 

Setelah semua proses sunat selesai, dokter memasangkan celana sunat yang sudah disiapkan dan Yafiq sudah bisa bangun dari tempat tidur dan kami semua bisa pulang ke rumah. Untuk 

Proses Penyembuhan Setelah Sunat Pen Sealer

Tak berapa lama setelah kami keluar dari rumah sunat, Yafiq sempat merasakan sakit pada area yang baru selesai disunat. Rupanya efek obat bius yang diberikan dokter sudah menghilang. Kami pun dengan tanggap memberikan obat antibiotik dan pereda nyeri sesuai dengan petunjuk dokter untuk meredakan nyeri yang dirasakan Yafiq.

Untuk perawatan setelah sunat dengan metode Pen Sealer juga terbilang cukup mudah. Sesuai anjuran dokter, area sunat tidak boleh terkena air selama 24 jam pertama. Selanjutnya, perawatan cukup dilakukan dengan menyemprotkan cairan sesuai petunjuk dan mengompres area luka menggunakan kasa sebanyak 3–5 kali sehari.

Lucunya, setelah proses sunat selesai Yafiq benar-benar tidak mau lagi memperlihatkan alat kelaminnya, bahkan kepada ayahnya sendiri. Ia memilih melakukan penyemprotan dan pengompresan secara mandiri di kamar mandi. Saya dan suami hanya bisa mengingatkan jadwal perawatannya sambil sesekali memastikan kondisinya baik-baik saja.

Sebagai ibu, tentu saya tidak berhenti bertanya apakah masih terasa sakit atau apakah ada perdarahan pada area sunat. Syukurlah, setiap kali saya bertanya jawabannya selalu sama. Tidak ada perdarahan, rasa nyeri pun semakin berkurang dari hari ke hari. Alhamdulillah, proses penyembuhan luka setelah sunat berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Melihat proses penyembuhan Yafiq yang berjalan lancar membuat saya merasa keputusan memilih metode Pen Sealer memang tepat. Kekhawatiran saya tentang rasa sakit, perdarahan, hingga perawatan pascasunat yang rumit ternyata tidak terbukti. Meski setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda, setidaknya pengalaman ini bisa menjadi gambaran bagi orang tua yang sedang mencari metode sunat yang minim perawatan dan memungkinkan anak kembali beraktivitas lebih cepat.

Kesimpulan: Apakah Metode Pen Sealer Layak Dipilih?

Sebagai orang tua, tentunya ada rasa lega ketika saya dan suami akhirnya bisa menyelenggarakan sunat untuk anak laki-laki kami. Alhamdulillah, proses sunat berjalan lebih baik dari yang Yafiq bayangkan. 

Berkat metode Pen Sealer yang kami pilih, tindakan berlangsung lancar dan proses perawatannya pun relatif mudah. Saya juga tidak mengalami kerepotan berarti selama mendampingi masa pemulihannya, sesuatu yang sejak awal cukup saya khawatirkan karena tetap harus bekerja setiap hari.

Demikian pengalaman kami memilih metode Pen Sealer untuk Yafiq. Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu referensi bagi orang tua yang sedang mencari metode sunat yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi buah hati mereka. Selain cerita sunat, baca juga pengalaman saya mengajak anak rontgen gigi di RSGM Gusti Hasan Aman di blog ini ya!

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar