Hubungan Orang Tua dan Guru di Era Digital: Semakin Dekat, Tetap Perlu Batas

Hubungan Orang Tua dan Guru di Era Digital: Semakin Dekat, Tetap Perlu Batas


"Buibu, besok habis bagi rapor kita makan siang dengan Bu Dina di Duta Mall ya. Yang bisa ikut, tulis namanya di sini."

Begitulah isi pesan yang muncul di grup WhatsApp orang tua murid kelas 1 tempat putra saya bersekolah. Sehari menjelang pembagian rapor kenaikan kelas, pengurus paguyuban mengusulkan makan siang bersama wali kelas sebagai penutup tahun ajaran.

Karena hari pembagian rapor adalah hari Jum'at di mana saya hanya bekerja setengah hari, maka saya pun menuliskan nama saya sebagai orang tua yang mengikuti acara makan siang tersebut. Agar tidak repot bolak-balik ke rumah, saya meminta kedua anak membawa pakaian ganti dari rumah. Jadi setelah pembagian rapor selesai dan jam kerja saya berakhir, kami bisa langsung menuju Duta Mall.

Keesokan harinya, setelah acara pembagian rapor dan jam kerja saya usai, kami bertiga langsung menuju Duta Mall Banjarmasin yang lokasinya tak jauh dari perusahaan tempat saya bekerja. Sesampainya di sana, beberapa ibu yang mendaftar sudah duduk di restoran yang telah disepakati. Bu Dina, wali kelas Yafiq, juga sudah bergabung bersama mereka. Saya dan kedua anak kemudian mengambil tempat duduk yang masih kosong sebelum memilih makanan dari daftar menu.

Setelah makan siang selesai, kami mengobrol santai tentang berbagai hal seputar sekolah. Sementara itu, anak-anak sudah asyik bermain bersama di area mal. Kami tentu tetap mengawasi mereka, meski dalam hati sempat berharap tidak ada yang menjulidi kami karena membiarkan mereka berlarian dan bukannya mengajak anak ke playground yang ada di Duta Mall. Sekitar pukul satu siang, acara pun berakhir dan masing-masing orang tua kembali melanjutkan aktivitasnya.

Dalam perjalanan pulang, saya jadi berpikir bahwa makan siang sederhana itu mungkin tidak akan terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Dulu, hubungan orang tua dan guru terasa jauh lebih formal. Kini, komunikasi di antara keduanya terasa jauh lebih dekat, bahkan terkadang melampaui urusan sekolah.

Hubungan Orang Tua dan Guru Kini Semakin Dekat

Di era gen alpha, saya melihat ada sedikit perubahan antara hubungan orang tua murid dan guru di sekolah. Seperti yang saya ceritakan di atas, kami para orang tua murid duduk dan makan bersama dengan wali kelas anak kami. Di lain waktu, saya bahkan secara tak sengaja bertemu dengan wali kelas anak saya saat menonton konser Sheila on 7. Kami pun bertegur sapa sebentar, sebelum akhirnya berkumpul dengan teman nonton masing-masing.

Bagi generasi milenial seperti saya, sulit sekali rasanya mendapati adanya komunikasi yang intens orang tua murid dengan guru atau wali kelas, kecuali saat pembagian rapor. Bahkan, sebagian besar orang tua gen millenial mungkin hanya mengetahui nama wali kelas anaknya karena pernah disebutkan oleh sang anak atau guru tersebut adalah guru senior yang juga pernah menjadi guru orang tua. Keterbatasan dunia komunikasi di tahun 90-an menjadi salah satu alasan mengapa hubungan antara orang tua dengan guru atau wali kelas menjadi sangat terbatas atau bahkan tidak pernah terjadi. 

Sementara untuk sekarang, setiap kali seorang anak memasuki jenjang pendidikan baru, maka orang tua juga akan berkenalan dan berkomunikasi dengan sang guru baik secara pribadi ataupun lewat grup sekolah. Komunikasi ini bisa jadi lebih intens jika anak masih dalam tahap awal bersekolah. Dengan semakin mudahnya komunikasi di era sekarang, guru bisa membagikan secara langsung kegiatan anak di sekolah dan juga informasi terkait tugas anak. 

Bagi orang tua, hal ini tentunya merupakan hal yang positif karena mereka bisa memantau perkembangan anaknya di sekolah sekaligus lebih cepat mengetahui jika ada kendala yang dialami anak selama proses belajar. Contoh sederhana ketika anak terlihat sakit saat di sekolah, guru bisa langsung menghubungi orang tua sehingga orang tua juga bisa langsung menjemput anak yang sakit tersebut.

Namun, Kedekatan Juga Bisa Menimbulkan Gesekan

Di balik berbagai kemudahan dalam hal komunikasi orang tua dan murid, muncul pula tantangan baru. Hal ini bahkan digambarkan dalam sebuah drama Korea bertema dunia pendidikan yang pernah saya tonton. Di sana, seorang guru merasa begitu tertekan karena terus-menerus diteror pesan dari orang tua murid mengenai perkembangan anaknya di sekolah.

Tak hanya itu, sekarang orang tua juga tak segan-segan melaporkan guru yang dianggap melakukan hal yang merugikan pada anaknya. Hal yang rasanya hampir tidak pernah ditemui bagi Gen milenial. Kondisi seperti ini membuat sebagian guru merasa berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi mereka ingin memberikan didikan yang baik untuk muridnya, tetapi di sisi lain mereka juga harus berhati-hati karena setiap keputusan yang diambil berpotensi menimbulkan komplain.

Selain kemudahan komunikasi yang bisa menimbulkan gesekan, kehadiran media sosial juga bisa menjadi salah satu hal berisiko. Saat ini, sudah bukan hal aneh lagi jika guru dan orang tua murid saling follow di akun media sosial. Sayangnya saling follow di media sosial ini juga bisa menimbulkan efek negatif ketika orang tua memberikan komentar terhadap kehidupan pribadi guru yang sebenarnya berada di luar urusan sekolah.

Menurut Saya, Hubungan Orang Tua dan Guru Sebaiknya Seperti Apa?

hubungan sehat orang tua dan guru


Lalu bagaimana seharusnya relasi yang terjalin antara orang tua dan guru? Mungkin beberapa hal ini bisa menjadi perhatian:

1. Guru Bukan Pengganti Orang Tua

Kehadiran guru di sekolah memang kadang dianggap sebagai pengganti orang tua. Namun hal ini hanya berlaku di sekolah. Orang tua tetap harus ingat kalau anak adalah tanggung jawab mereka baik di sekolah maupun di rumah. Tugas guru di sekolah adalah memberikan pelajaran dan mengawasi perilaku anak sementara tugas utama orang tua adalah memberikan pendidikan yang baik untuk anak.

2. Komunikasi itu Penting, Tetapi Ada Batasnya

Kehadiran handphone dan berbagai aplikasi percakapan saat ini memang sangat memudahkan orang tua dalam berkomunikasi dengan guru atau wali murid anaknya. Namun orang tua tetap harus memiliki batasan dalam berkomunikasi dengan guru ini. Hindari mengubungi guru di luar jam kerja atau bahkan di waktu istirahatnya, kecuali jika hal tersebut sangat penting. Guru juga memiliki keluarga dan kehidupan pribadi sehingga tidak selalu bisa membalas pesan saat itu juga.

3. Menghormati Privasi Masing-masing

Meski komunikasi antara orang tua dan guru kini semakin dekat, bukan berarti keduanya bebas mencampuri kehidupan pribadi masing-masing. Jika saling terhubung di media sosial, sebaiknya interaksi tetap dilakukan dengan bijak dan menghormati batas antara urusan sekolah dan kehidupan pribadi.

4. Menghormati Privasi Anak dalam Konten Media Sosial

Saat ini memang bukan hal aneh jika seorang guru membuat konten terkait profesi atau proses belajar mengajarnya. Namun tidak semua anak nyaman wajah atau aktivitasnya dipublikasikan. Karena itu, guru dan sekolah sebaiknya memastikan adanya persetujuan dari orang tua, serta mempertimbangkan kenyamanan anak, terutama jika konten akan diunggah ke media sosial yang bersifat publik.

5. Fokus pada Tujuan yang Sama

Kita semua tentunya sepakat kalau baik orang tua maupun guru memiliki tujuan yang sama dalam mendidik anak. Kita ingin anak mendapatkan pendidikan yang baik dan ilmu yang berguna bagi masa depan mereka. Karena itu jika ternyata ada masalah terkait anak di sekolah, orang tua dan guru bisa duduk bersama untuk menemukan solusi dari masalah tersebut.

Penutup

Makan siang bersama orang tua dan guru hari itu menyadarkan saya akan satu hal. Di era digital seperti sekarang, hubungan antara orang tua dan guru memang bisa terjalin dengan lebih dekat, santai, dan hangat. Namun, kedekatan tersebut tetap perlu diiringi dengan sikap saling menghormati serta menjaga batas profesional masing-masing.

Sebagai orang tua, saya bersyukur bisa berkomunikasi dengan wali kelas anak lebih mudah daripada generasi sebelumnya. Namun saya juga percaya bahwa komunikasi yang baik bukan hanya soal seberapa sering kita bertukar pesan, melainkan juga tentang saling menghormati peran, menjaga batas profesional, dan mengingat bahwa guru dan orang tua sedang berada di tim yang sama: mendampingi anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang baik.
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar