Pengalaman Kursus Menyetir Mobil



Salah satu resolusi yang saya buat di tahun 2022 ini adalah bisa menyetir alias mengemudikan mobil. Tentunya bukan tanpa alasan dong saya menuliskan resolusi ini. Selain untuk menambah skill, keputusan ini didasarkan oleh kehadiran sebuah mobil tua di rumah kami yang dibeli tahun 2021 lalu. Rasanya rugi banget kalau punya mobil tapi tidak bisa mengemudikannya. Ya, kan?

Bicara soal belajar mengemudi sendiri, sebenarnya sebelum memutuskan untuk kursus, suami sudah sempat mengajari saya beberapa kali. Beberapa kali saat menemani anak-anak bermain sepeda di kawasan masjid raya Sabilal Muhtadin, saya diajarkan dasar-dasar mengemudi. Tapi yang namanya diajarkannya cuma sesekali, jelas saya tak kunjung berhasil menyetir mobilnya. Apalagi katanya kalau belajar menyetir ini harus rutin dilakukan setiap hari. Kalau tidak rutin pastinya bakal lupa ilmunya. 

Pada akhirnya, saya memilih salah satu LPK khusus menyetir yang sudah cukup ternama di kota saya. Saat menanyakan biaya kursus menyetir mobil di Banjarmasin LPK tersebut saya dikirimi brosur berisi pilihan jadwal dan durasi kursus. Saya bisa memilih mulai dari durasi kursus 1 jam per hari hingga 3 jam per hari. Jumlah pertemuan juga bervariasi sesuai paket yang dipilih. Atas saran suami, saya memilih paket reguler dengan jumlah pertemuan selama 8x60 menit dengan biaya Rp. 660.000,00 ditambah uang pendaftaran Rp. 30.000,00. Untuk pertemuan kursusnya saya memilih setelah jam istirahat di hari kerja.



Pertemuan pertama kursus 

Di hari pertama kursus, tentunya materi yang diajarkan adalah pengenalan terhadap mobil dan cara mengemudikan mobil. Hari pertama ini sebenarnya merupakan pertemuan ke dua karena pada pertemuan pertama saya tidak bisa datang karena hujan. Jadilah durasi pertemuan ditambah dari satu jam menjadi 2 jam. 

Untuk hari pertama ini, saya belajar menggunakan mobil jenis LCGC. Instruktur pertama-tama mengenalkan bagian-bagian mobil yang berhubungan dengan menyetir. Mulai dari kopling, rem, pedal gas dan juga seperti klakson, lampu sein hingga juga AC. Jujur saya jadi geli sendiri saat menyadari kalau saya belajar menggunakan mobil yang baru dengan sensor belakang sementara mobil saya di rumah adalah mobil tahun 2000-an yang bahkan tak memiliki AC.

Selain pengenalan mobil, hari pertama juga diisi dengan belajar maju dan mundur menggunakan kopling gigi satu dan juga berbelok dengan menggunakan U turn. Selain maju dan mundur, saya juga belajar tentang kopling setengah yang biasanya digunakan saat jalan sedang macet atau berada di tanjakan. Jujur setelah selesai latihan kopling ini kaki saya sampai gemeteran.

Pertemuan ke dua kursus 

Hari ke dua, instruktur langsung mengajak saya ke jalan raya. Saya dibiarkan menyetir dengan dipandu oleh instruktur. Kali ini mobil yang digunakan berganti dari city car menjadi mobil untuk 7 penumpang. Alhamdulillah di kali pertama menyetir mobil di jalan raya saya tidak terlalu dilanda kepanikan. Sepanjang perjalanan saya menyetir sambil dipandu oleh instruktur. Sesekali saya ditegur karena terlihat gugup dan kebingungan saat menyetir. 

Di hari ke dua ini, saya diajak mepraktikkan kopling setengah yang di hari pertama diajarkan. Jadi instruktur mengarahkan saya untuk menaiki jembatan kecil dan berhenti tepat di tengahnya. Jika tidak menggunakan kopling, dipastikan mobil akan meluncur mundur. Nah, agar mobil tidak mundur maka caranya adalah dengan menekan pedal gas dan kopling secara bersamaan lalu saat akan jalan lagi pedal kopling dilepas hingga terdengar suara derum lalu baru rem yang dilepas. 


Pertemuan ke tiga kursus

Pada pertemuan ke tiga, saya agak kaget mendapati instruktur saya diganti. Nah, untuk pertemuan ke tiga ini materinya ternyata adalah parkir mundur dan cara keluar dari garasi yang dilakukan di sebuah area kosong yang dulunya merupakan foodcourt. Seperti yang kita tahu, parkir mundur merupakan salah satu teknik yang agak sulit dikuasai dalam hal menyetir. Bahkan beberapa teman saya yang sudah lihai menyetir juga mengakui hal ini. 

Untuk bisa parkir dengan benar, tentunya memerlukan insting dan ketepatan yang baik saat akan membelokkan mobil secara mundur. Instruktur mengajarkan saya jarak yang sebaiknya diambil saat akan berbeok parkir yakni kurang lebih 1,5 meter. Tentunya saya juga harus tetap mengecek ke spion apakah badan mobil bisa masuk ke garasi atau terlalu mepet yang bisa mengakibatkan mobil tergores. 

Adapun untuk praktik mengeluarkan mobil dari garasi terbilang cukup mudah yakni menunggu hingga bagian depan mobil sudah melewati bahu kita dan kemudian setir bisa langsung kita belokkan ke arah mobil ingin ke luar. Kalau dibandingkan dengan parkir mundur, jelas pelajaran untuk mengeluarkan mobil dari garasi ini jauh lebih mudah dong. Hehe. 


Pertemuan ke empat kursus

Pertemuan di hari ke empat, saya kembali bertemu dengan instruktur yang pertama mengajari saya. Untuk pertemuan ke empat ini saya kembali diajak membawa mobil di jalan raya dan belajar cara berbelok di U turn. Teorinya sama saja dengan teori belok yakni menunggu hingga bagian ujung U turn melewati bagian bahu saya baru kemudian mobil dibelokkan secara penuh. 

Setelah mobil berbelok kurang lebih 135 derajat atau berada di posisi jam 2 baru setir diputar balik untuk meluruskan mobil. Jangan lupa dalam proses berbelok untuk putar balik ini kopling juga tetap harus diinjak dan gigi diturunkan. 

Pertemuan ke lima dan ke enam kursus

Untuk pertemuan ke lima dan ke enam ini, tidak terlalu banyak teori baru yang diajarkan. Instruktur hanya mengarahkan saya untuk menyetir di sepanjang jalan Hasan Basri. Bedanya, kali ini saya diajak untuk berbelok di sebuah gang untuk melatih kemampuan menyetir di jalan sempit. Tentunya ada perbedaan antara menyetir di jalan raya dengan di jalan sempit. Dan sebagai seorang pemula jujur melakukan adaptasi dari menyetir di jalan raya ke jalan sempit itu juga lumayan sulit. Beberapa kali instruktur menegur saya karena tidak fokus dan bahkan tidak memperhatikan spion saat menyetir.

Pertemuan ke tujuh kursus

Jika di pertemuan-pertemuan sebelumnya saya diajak menyetir di sekitar jalan Hasan Basri, maka pada pertemuan ke tujuh instruktur mengalihkan rute menuju jalan Cemara-Sultan Adam. Nah, tantangan dari rute ini adalah jalan raya yang tidak ada mediannya sehingga membuat saya kesulitan menyetir dengan lurus. Kondisi jalan tanpa median ini juga membuat lalu lintas terasa sangat ramai yang membuat saya juga tidak terlalu fokus saat menyetir. 

Permasalahan lain yang mendadak muncul di pertemuan ke tujuh adalah seringnya mobil mati saat kami harus berhenti di lampu merah. Hal ini disebabkan saya kurang menekan pedal kopling saat berhenti di lampu merah sehingga mobil mati saat saya menekan pedal rem.  

Pertemuan ke delapan kursus 

Tibalah akhirnya saya di pertemuan terakhir dari kursus menyetir yang saya ikuti. Di hari terakhir ini lagi-lagi saya mendapat instruktur yang baru. Sebelum memulai sesi menyetir, instruktur yang baru ini menanyakan kepada saya hal-hal yang sudah dipelajari selama satu minggu terakhir dan permasalahan yang masih belum teratasi. Saya menyebutkan beberapa masalah termasuk seringnya mobil mati saat harus berhenti di lampu merah.

Instruktur kemudian mengarahkan saya untuk kembali menggunakan rute yang dijalani di hari sebelumnya. Berbeda dengan instruktur yang sebelumnya, instruktur saya yang terakhir ini benar-benar santai dan membiarkan saya menggunakan insting sendiri saat menyetir. Beliau hanya memberikan beberapa isyarat saat ada hal yang harus saya lakukan seperti mengembalikan jalur mobil yang terlalu ke tengah atau memutar setir saat akan berbelok. 

Bahkan saat lagi-lagi mobil mati saat berhenti di lampu merah, instruktur bisa tetap tenang menghadapinya sementara saya mulai panik karena mobil di belakang sudah mulai menyalakan klakson. Jujur dengan ditemani instruktur yang tenang begini membuat saya bisa lebih percaya diri saat mengemudikan mobil. Pertemuan terakhir hari itu diakhiri dengan pemberian sertifikat lulus mengemudi oleh pihak LPK. 

Demikian sedikit cerita saya tentang pengalaman saat mengikuti kursus menyetir di bulan Agustus lalu. Tentunya untuk bisa benar-benar lancar dalam hal menyetir ini saya harus lebih sering menggunakan mobil yang ada karena kalau tidak sering dilatih cepat banget hilang ilmunya. Doakan saya semoga bisa segera bawa mobil sendiri ya teman-teman.  




Baca Juga
Reactions

Post a Comment

12 Comments

  1. Congrats mbaaaa, setidaknya mba berani untuk mulai. Selanjutnya memang hrs dilatih trus2an supaya bisa mahir dan insting makin keasah.

    Aku termasuk yg takut mba bawa mobil. Sebenernya dari SMA kls 1 aku udh bisa bawa mobil, Krn dulu ke sekolah juga bawa mobil. Tapiiiii SMU kls 3 aku tabrakan parah, yg Krn mukjizat aja akunya bisa selamat. Krn mobil hancur total. Sejak itu aku trauma Ampe skr. Ga berani nyentuh lagi. Jadi kemana2 selalu Ama supir atau Ama pak suami.

    Apalagi dulukan latihan mobilnya di kompl perumahan di Aceh. Sepi, jalannya lebar, aman. Lah kalo skr aku di JKT, yg mana mobil Ama motor aja saling duluan kalo udh di jalan 🤣🤣🤣. Makin lah ga berani maju wkwkkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. Selamat mbaa.. Duh pengen bisa nyetir mobil juga tapi baru baca ini aja kok udah takut duluan, wkwk.

    ReplyDelete
  3. jadi inget pas pertama kali nginjek gas mobil, cuma jalan lurus sedikit aja rasanya gemeteran

    ReplyDelete
  4. Jadi inget dulu aku sempat juga ambil kursus mobil yang mana instrukturnya sepik-sepik minta ditraktir hahaha. Aku sebetulnya udah punya basic oke sebelum belajar. Cuma masih suka takut, gugup dan ambil kursus dengan embel-embel dibantu untuk bikin SIM (walaupun ujungnya urus sendiri).

    Emang kebantu banget dengan program kayak gini mbak. Jadi lebih fokus dan bikin percaya diri. Soal mobil di rumah yang katanya bahkan gak ada AC, sama aja. Dulu kami punyanya malah mobil pick up haha. Tapi mobil itu berjasa banget untuk belajar.

    ReplyDelete
  5. waah..seru ya kursus setirnya. jadi ingat pengalamanku bljar setir dr kelg sendiri..nggsk maju2 krn mgkn gurunya krg tegas klo pas aku takut/malas, hehe.. baca ini jd termotivasi bljar setir lagi. kali ini, pakai guru profesional sj kali yaa..

    ReplyDelete
  6. Memang kursus menyetir mobil itu sebetulnya lebih ke arah teknis, selanjutnya perlu dibiasakan dengan menyetir di jalanan sekaligus juga mengasah kepekaaan insting dan emosi ketika berlalu lintas di jalanan.

    Semoga makin lancar menyetirnya ya Bu.

    ReplyDelete
  7. wahh keren banget, Mba. Saya apresiasi smangatnya belajar menyetir. saya nih udah lama belajar naik motor tapi sampe detik ini belum bisa-bisa juga, hiks

    ReplyDelete
  8. Baca artikelnya mbak Antung, saya sembari membayangkan kalau pulang Indo terus lupa gimana caranya nyetir motor bahkan mobil. Di Taiwan empat tahun nyaman naik public transportation huhuhu ngga kepikiran mau punya motor sama mobil sendiri. Yang ada cuma sepeda engkol sama sepeda listrik xD.
    Ijin save artikelnya ya mbak Antung, nanti mau saya baca lagi kalau mau ngulang kursus mobil sebaliknya ke Indo :')

    ReplyDelete
  9. MashaAllah~
    Selamat menyetir mobil, kak Antung.

    Kuncinya memang di sabar dan berani. Tiap hari bikin tantangan list yang bisa dilakukan (karena sudah selesai di tempat kursus, kan berarti tinggal menunggu SIM dan cusss jalan ke tempat yang bisa di explore)

    Aku dulu paling takut sama jalan naik..
    Jadi ngelancarin itu sendiri. Bismillah banyak-banyak agar gak merugikan orang lain juga diri sendiri, aman semua.

    ReplyDelete
  10. Wahhh enak banget nih kalau ada kursus mengemudi seperti ini, jadi mengendarai kendaraan bisa lebih paham dan mengerti terkait fungsi atau fitur apa aja yang ada di dalam kendaraan yang dinaiki. Apalagi saat pemanduan diajari juga berbagai macam hal secara terarah.

    Tapi emang sebelum berkendara harus percaya sama diri sendiri dlu sih, biar gak canggung dan bisa lolos nantinya. Congrats!

    ReplyDelete
  11. Wah aku bisa bayangin dredegnya dan gemeterannya mbak. Aku pribadi sudah didorong suami buat belajar nyetir meski sampai hari ini belum punya mobil sendiri hahaha.

    Tapi bener sih nyetir di gang sempit itu tantangan tersendiri bahkan yang mahir sekalipun masih butuh jam terbang tinggi .

    ReplyDelete
  12. Nyetir emang tricky sih kalau baru pertama
    deg degan takut cemas keriget dingin apalagi kalau yang dampingi comel bin bawel

    ReplyDelete