Tahun ini memasuki tahun ke dua puluh saya menjalani kehidupan sebagai wanita yang bekerja. Tentunya ada banyak kisah yang hadir selama perjalanan saya di dunia kerja ini. Apakah ada rasa lelah? Tentu saja ada. Apalagi kini saya sudah berstatus sebagai ibu. Kadang saat hari libur atau masa cuti tiba saya berpikir alangkah enaknya kalau bisa libur terus seperti ini menikmati momen di rumah tapi tetap digaji. Hehehe.
Jika bicara tentang perjalanan dunia kerja, setiap orang pasti memiliki kisahnya masing-masing. Ada yang mungkin harus berpindah-pindah kerja selama sekian tahun. Ada juga yang mungkin sejak awal bekerja tetap setia dengan tempatnya bekerja tersebut.
Selama belasan tahun menjalani karier sebagai wanita pekerja, saya juga menyaksikan langsung bagaimana dunia kerja mengalami banyak perubahan. Kalau dulu, ketika saya baru lulus kuliah, pekerjaan impian mungkin identik dengan bekerja kantoran, memakai pakaian rapi, duduk di balik meja, dan menerima gaji setiap bulan, sekarang gambaran pekerjaan impian rasanya sudah mulai berubah.
Bekerja dari rumah atau di mana saja, punya waktu yang lebih fleksibel, tetapi tetap mendapatkan penghasilan yang besar, mungkin justru menjadi impian banyak orang sekarang.
Begitu pula dengan cara mencari pekerjaan. Dulu saya masih ingat bagaimana rasanya membuat surat lamaran, memasukkannya ke dalam amplop, lalu mengantarkannya langsung ke kantor atau perusahaan yang sedang membuka lowongan. Sekarang, seseorang bisa saja mendapatkan tawaran pekerjaan hanya karena memiliki portofolio dan profil yang menarik di LinkedIn.
Belum lagi hadirnya generasi baru di dunia kerja. Perbedaan karakter antara generasi milenial dan generasi Z membuat dinamika dunia kerja sekarang terasa semakin menarik untuk diamati. Saya sendiri termasuk generasi milenial yang mengalami masa ketika dunia kerja perlahan-lahan beralih dari cara-cara konvensional menuju era digital.
Di era digital ini, kita kemudian berkenalan dengan profesi-profesi baru yang tak pernag kita bayangkan seperti influencer, social media specialist, affiliator, podcaster bahkan bisa jadi ada juga pekerjaan penyiar radio tiktok sebagai ganti stasiun radio yang dulu pernah saya dengarkan.
Rekam Jejak Perjalanan Karir
Perkenalan saya di dunia kerja dimulai ketika memasuki semester enam kuliah, saya melamar menjadi penjaga rental komik tak jauh dari indekos tempat saya tinggal. Saat itu memang rental buku tersebut membuka lowongan pekerjaan dan setelah melewati wawancara saya akhirnya diterima bekerja bersama dua orang karyawan lainnya. Pekerjaan menjaga rental komik ini saya lakoni kurang lebih satu setengah tahun hingga akhirnya saya putuskan berhenti untuk bisa fokus dengan tugas akhir kuliah.
Selepas kuliah, inilah masa di mana saya memasuki dunia kerja yang sebenarnya.
Layaknya lulusan sarjana lainnya, saya mengirimkan lamaran ke beberapa tempat termasuk bank dan pastinya juga
mendaftar tes CPNS. Sayangnya baik untuk lamaran kerja ke bank dan tes CPNS tak ada yang berhasil saya tembus. Ada yang di tahap awal sudah gagal, ada juga yang sampai ke tahap akhir namun akhirnya gagal.
Tak ingin lama menganggur, saya kemudian melihat sebuah iklan lowongan pekerjaan untuk pengawas lapangan proyek peningkatan jalan di sebuah koran. Karena saya memang lulusan Teknik Sipil, mendaftarlah saya untuk posisi tersebut dan alhamdulillah diterima. Saat itu saya dikontrak hingga masa proyek jalan berakhir dan ternyata tetap dikontrak Saya ingat sekali gaji pertama saya kala itu adalah Rp750.000 di tahun 2006.
Sayangnya, setelah bekerja beberapa bulan, konsultan pengawas tempat saya bekerja ini pecah kongsi yang mengakibatkan hampir seluruh karyawannya juga tercerai-berai. Ada yang memilih ikut bos A, mencari pekerjaan di tempat lain, lulus tes CPNS dan yang lainnya. Saya sendiri akhirnya mengikuti bos B. Namun karena setelah beberapa bulan saya merasa konsultan ini tidak berkembang, akhirnya saya mulai mencoba mencari lowongan kerja baru.
Tak lama, saya mendapat tawaran untuk melamar pekerjaan di konsultan pengawas lain dengan gaji lebih besar. Tentunya saya tak melewatkan kesempatan ini dan melamar untuk posisi tersebut. Alhamdulillah proses rekrutmen tidak terlalu ribet dan saya bisa langsung masuk kerja. Jika di konsultan pengawas pertama saya bekerja di lapangan, maka untuk konsultan saya lebih banyak bekerja di depan komputer mengurus administrasi proyek.
Tujuh tahun bekerja di konsultan pengawas ini, saya pun mulai dilanda kebosanan. Beberapa kali saya mencoba peruntungan melamar kerja di tempat lain. Bahkan saya pernah mengajukan lamaran ke perusahaan surat kabar terbesar di Banjarmasin dan ikut tes untuk posisi
penyiar radio. Padahal aslinya saya ingin melamar menjadi jurnalis, namun ternyata posisi yang ditawarkan malah penyiar radio. Jelas saya tidak lolos karena tidak memiliki latar belakang siaran dan ilmu cuap-cuap sama sekali.
Siapa sangka kemudian salah satu rekan kerja di kantor menginfokan kalau perusahaan air minum di kota Banjarmasin sedang membuka lowongan pekerjaan dan jurusan Teknik Sipil ada di antara lowongan yang dibutuhkan. Dengan penuh semangat saya langsung mengumpulkan semua persyaratan dan mengantarkan langsung lamaran ke perusahaan. Usia saya saat itu tiga puluh tahun, batas akhir dari usia maksimal yang ditetapkan bagi pelamar.
Setelah mengikuti berbagai tes, saya pun berhasil lolos hingga tahap wawancara. Sayangnya setelah wawancara, saya tidak termasuk dalam kandidat yang dipanggil untuk tes kesehatan akhir dan hanya masuk ke bangku cadangan. Sempat kecewa, eh ternyata satu minggu kemudian saya mendapat panggilan untuk tes kesehatan. Rupanya ada kandidat yang gugur di tes kesehatan sehingga saya nama saya pun dipanggil untuk menggantikannya. Alhamdulillah ya namanya rezeki ternyata tidak pernah tertukar.
Akhirnya di awal bulan Oktober 2013 saya pun mulai bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang bersama 17 calon pegawai lainnya.
Refleksi 20 Tahun Bekerja
Tahun ini sudah memasuki tahun ke belas sejak saya resmi diangkat sebagai karyawan tetap di tempat saya bekerja sekarang. Pastinya ada banyak sekali perubahan yang terjadi selama dua belas tahun tersebut, baik dari segi fisik maupun pengalaman.
Saya yang dulu datang sebagai perempuan muda dengan semangat mencari pengalaman, kini sudah menjadi seorang ibu dengan dua anak dan menjadi rekan kerja senior bagi rekan kerja lain yang diterima setelah saya.
Kadang sempat terpikir juga apakah saya sudah menjadi senior yang bisa membagikan ilmu yang bermanfaat bagi junior atau jangan-jangan saya termasuk dalam senior julid yang kerap dinyinyiri junior? Semoga tidak begitu ya.
Satu hal yang saya sadari selama hampir dua puluh tahun menjadi pekerja adalah bagaimana saya pelan-pelan belajar belajar untuk menerima bahwa perjalanan karier setiap orang memang berbeda. Mungkin saya termasuk orang yang lambat dalam bergerak. Saya juga tidak memiliki lonjakan karier yang bisa dibilang luar biasa.Saya tidak menjadi manajer di usia tiga puluh tahun, seperti kisah sukses yang kerap saya baca di novel metropop. Saya juga tidak berpindah-pindah perusahaan untuk bisa memiliki jabatan yang lebih tinggi. Bahkan selama dua belas tahun di perusahaan sekarang, perjalanan karier saya mungkin terlihat biasa-biasa saja.
Penutup
Jika ditanya apakah saya merasa minder dengan karir rekan-rekan sejawat atau teman semasa kuliah yang kini sudah memiliki jabatan atau usaha dan pencapaian mereka sendiri? Tentu saya tidak akan berbohong dengan berkata, "Tidak." Rasa iri atau minder itu kadang masih muncul di saat-saat tertentu.
Meski demikian, saya belajar memahami bahwa perjalanan karir seseorang tidaklah sama.
Ada orang yang mendapatkan kesempatan lebih cepat karena kemampuan dan kerja kerasnya. Ada pula yang mungkin harus menunggu lebih lama. Ada yang memang memilih mengejar jabatan, sementara yang lain lebih memilih kestabilan atau punya lebih banyak waktu untuk keluarga.
Ada begitu banyak faktor yang bisa memengaruhi perjalanan dan perkembangan karier seseorang. Karena itu, rasanya tidak adil jika saya terus-menerus membandingkan perjalanan saya dengan perjalanan orang lain.
Bukan berarti saya tidak lagi ingin berkembang. Justru di usia empat puluh seperti sekarang, saya merasa masih ada banyak hal yang ingin saya pelajari kembali. Banyak kemampuan yang ingin saya asah, banyak hal yang ingin saya coba, dan mungkin ada beberapa mimpi yang dulu sempat saya abaikan. Bisa jadi, ini adalah bentuk kompensasi atas kelalaian saya ketika menjalani usia dua puluhan yang lebih banyak bersantai dan kurang mengasah kemampuan.
Dulu saya mungkin berpikir bahwa usia empat puluh adalah masa ketika seseorang sudah seharusnya “jadi”. Karier sudah mapan, hidup sudah tertata, dan tidak perlu lagi banyak mencoba hal baru, dan hanya tinggal mempersiapkan diri untuk hari tua.
Ternyata saya salah.
Usia empat puluh justru membuat saya sadar bahwa perjalanan masih panjang. Saya mungkin tidak bisa mengulang masa dua puluhan, tetapi saya masih bisa menentukan apa yang ingin saya lakukan di usia sekarang.
Jadi, setelah hampir dua puluh tahun menjadi wanita pekerja, saya mungkin memang belum memiliki cerita karier yang luar biasa. Namun setidaknya, saya punya cerita tentang bagaimana saya bertahan, belajar, pernah merasa bosan, ingin menyerah, dan membandingkan diri dengan orang lain.
Meski begitu, saya selalu kembali melanjutkan perjalanan. Siapa tahu, di perjalanan berikutnya saya menemukan persimpangan atau jalan baru yang membawa saya menuju kesuksesan. Karena mungkin, perjalanan karier memang bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang bagaimana kita terus berjalan dan menemukan jalan yang paling sesuai untuk diri kita sendiri.
0 Komentar