Pagi itu, seperti biasa saya dan kedua anak bersiap untuk berangkat ke kantor dan sekolah. Anak-anak saya minta membuka pintu sementara saya menyiapkan semua barang bawaan. Begitu pintu terbuka, saya dibuat kaget dengan kondisi di depan rumah.
"Duh kabutnya ternyata tebal. Ayo anak-anak pakai masker dulu," kata saya pada anak-anak begitu melihat tebalnya kabut asap yang terlihat di depan rumah.
Beberapa hari bahkan mungkin beberapa minggu sebelumnya, kabut asap memang sudah mulai terasa di daerah tempat saya tinggal. Namun hari itu kondisinya berbeda. Kabut asap ternyata lebih tebal dan pastinya akan cukup berpengaruh pada perjalanan kami ke kantor dan sekolah nanti.
Setelah anak-anak mengenakan masker, saya pun menyalakan motor dan melaju melintasi jalan A. Yani menuju kota Banjarmasin dari rumah kami di perbatasan kota. Hari itu kami berangkat dengan kondisi jalanan diselimuti kabut asap. Jarak pandang sebenarnya masih aman untuk berkendara, tetapi tetap saja ada rasa tidak nyaman ketika harus membawa anak-anak melewati udara yang dipenuhi asap.
Karhutla, Ancaman yang Berulang di Kalimantan
Sebagai warga pulau Kalimantan, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kami syukuri. Dibandingkan beberapa wilayah Indonesia lainnya, Kalimantan relatif lebih jarang mengalami bencana seperti letusan gunung api dan gempa bumi besar.
Namun bukan berarti pulau ini sepenuhnya bebas dari bencana.
Meski cenderung aman dari bencana alam, ada bahaya lain yang juga mengintip bagi para penduduk Kalimantan sebagai akibat dari eksploitasi alam yang terjadi di pulau ini. Salah satu contohnya adalah
banjir yang pernah terjadi di Banjarmasin di tahun 2021, di mana kejadian ini merupakan kali pertama kota Banjarmasin mengalami banjir yang merendam kota.
Padahal sebagai penduduk asli Kalimantan Selatan, kami selalu menganggap air pasang sebagai hal biasa mengingat posisi kota Banjarmasin yang memang berada di dataran rendah. Calap, begitu kami kerap menyebut air pasang ini setiap kali ia muncul. Namun nyatanya sampai juga waktunya air pasang dan musim hujan menjadi sebuah bencana dan merendam ratusan rumah di Banjarmasin.
Bahaya kedua yang juga mengintai warga pulau Kalimantan adalah adanya kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan. Sejak beberapa tahun terakhir, kebakaran lahan dan hutan itu sudah menjadi masalah yang harus dihadapi warga pulau Kalimantan, terutama di musim kemarau.
Saya ingat terakhir kali terjadi musim kemarau panjang dan kebakaran hutan adalah di tahun 2019 yang membuat warga Kalimantan juga harus menggunakan masker setiap hari karena kabut asap yang pekat. Bahkan seingat saya saat itu sekolah juga sempat diliburkan beberapa hari karena pekatnya asap yang masuk kota.
Tahun 2026, sepertinya kasus kebakaran lahan dan hutan ini kembali sampai pada titik ekstrimnya. Sejak bulan Juli, warga Kalimantan sudah mulai merasakan hadirnya kabut asap akibat pembakaran hutan. Dan bahkan hingga akhir September, musim kemarau masih terasa dan kabut asap tak kunjung berhenti malah kebakaran yang terjadi semakin parah dan dekat dengan perumahan terutama yang lokasinya dekat dengan area sawah.
Karhutla Bukan Sesuatu yang Bisa Dianggap Biasa
Setelah satu bulan menghadapi kabut asap, akhirnya bencana kebakaran hutan di pulau Kalimantan sampai juga luar pulau Kalimantan. Cuitan dari berbagai influencer hingga artis ibukota mulai hadir mempertanyakan kondisi Pulau Kalimantan yang hutannya terbakar dan bahkan hingga diprotes negara tetangga.
Hal ini tentunya menjadi hal yang sangat saya syukuri karena ternyata memang banyak yang tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi pulau Kalimantan yang cukup dikenal sebagai penghasil sawit dan batubara di Indonesia ini. Mungkin di luar sana, orang-orang berpikir bahwa penduduk pulau Kalimantan masih baik-baik saja karena memang tidak banyak berita yang meliput apa yang terjadi pulau ini.
Sayangnya di tengah perhatian tersebut, ada saja pihak yang menganggap hal yang berlebihan karena katanya masalah pembakaran lahan adalah hal yang terjadi setiap tahun. Kita tinggal menunggu hujan datang dan masalah berakhir. Pertanyaannya adalah kapan hujan itu akan datang?
Kemarau yang panjang menjadi salah satu hal yang membuat kebakaran hutan di Kalimantan tahun ini sangat parah. Belum lagi kondisi tanah di Kalimantan yang berupa lahan gambut membuat sisa-sisa pembakaran pun masih mengandung api di dalamnya.
Lalu jika kita bicara tentang kebiasaan, saya juga sebagai warga asli Kalimantan tidak bisa menyangkal hal itu. Tinggal di perumahan yang masih berdekatan dengan sawah membuat saya bisa melihat sendiri bagaimana lahan sawah setelah panen terbakar dan menyisakan atap dan jerebu di dalam rumah.
Bahkan terakhir kali, ketika saya dan anak-anak pulang ke rumah kami melewati sendiri sisa pembakaran lahan sawah yang lokasinya benar-benar tak jauh dari perumahan tempat kami tinggal. Ini sungguh membuat was-was dan khawatir untuk meninggalkan rumah karena takut sisa asap akan membesar menjadi api seperti yang beberapa kali muncul di beranda media sosial saya.
Ketika Kabut Asap Mengubah Rutinitas Sekolah
Hidup dengan kepungan asap setiap hari sebenarnya sangatlah membahayakan. Namun hidup harus terus berjalan dan anak-anak tetap harus bersekolah. Untuk tetap mendukung proses pembelajaran siswa, dibuat kebijakan jam pembelajaran diundur menjadi pukul 09.00 oleh Dinas Pendidikan setempat. Namun ketika kabut asap semakin menebal maka akhirnya muncul kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk siswa sekolah di Banjarmasin.
Pembelajaran Jarak Jauh di masa kabut asap ini sendiri mengingatkan saya pada konsep
Sekolah Blended Learning yang menggabungkan metode tatap muka dengan pembelajaran daring (online) secara seimbang. Jadi kalau dari yang saya baca dari teman blogger yang anaknya sekolah dengan sistem ini, anaknya kadang masuk sekolah dan kadang belajar di rumah saja dengan menggunakan aplikasi Learning Management System.
Dan serunya lagi kadang ada proyek-proyek yang dikerjakan anak seperti yang diceritakan Mbak Dian Kusumawardani di blog
Home Education Centre-nya. Namun tentunya PJJ yang dijalankan anak saya berbeda dengan Sekolah Blended Learning ini karena sifatnya memang darurat.
Bagi ibu bekerja seperti saya, kebijakan PJJ sebenarnya membawa tantangan tersendiri. Di satu sisi, saya memahami bahwa anak-anak perlu mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Namun, di sisi lain, saya tetap harus berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan seperti biasa.
Karena tidak memiliki ART, saya harus memikirkan bagaimana anak-anak bisa tetap belajar dan berada di rumah dengan aman selama saya bekerja. Suami pun terkadang harus keluar rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya sehingga tidak selalu bisa menemani mereka. Ini membuat saya juga harus pulang ke rumah di siang hari untuk mengecek kondisi anak-anak dan pastinya menyiapkan makan siang mereka.
Untungnya, kami memiliki CCTV di rumah. Setidaknya, saya masih bisa memantau keadaan anak-anak dari jauh. Meski begitu, memantau lewat kamera tentu berbeda dengan berada langsung di samping mereka.
Yang jelas, saya tidak bisa memastikan anak-anak tetap belajar selama jam pembelajaran. Anak-anak juga tentu lebih mudah terdistraksi ketika belajar di rumah dibandingkan saat berada di sekolah. Saya pun harus beberapa kali mengingatkan mereka untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru, terutama Yafiq yang masih perlu didampingi agar bisa menyelesaikan tanggung jawab belajarnya.
Situasi ini membuat saya menyadari bahwa kebijakan PJJ tidak serta-merta membuat urusan orang tua menjadi lebih mudah. Bagi keluarga yang kedua orang tuanya bekerja, ada tantangan tersendiri untuk memastikan anak tetap belajar sekaligus berada dalam pengawasan yang cukup.
Namun, di tengah kerepotan multitasking itu, saya memahami bahwa PJJ merupakan salah satu upaya agar anak-anak tidak perlu terlalu lama beraktivitas di luar rumah ketika kabut asap sedang pekat. Saya tentu berharap kondisi segera membaik sehingga mereka bisa kembali belajar di sekolah seperti biasa, tanpa harus mengkhawatirkan udara yang mereka hirup setiap hari.
Jangan Sampai Kita Terbiasa dengan Bencana
Sebagai warga Kalimantan sekaligus ibu bekerja, saya berharap masalah kebakaran hutan dan lahan ini bisa segera teratasi. Saya ingin anak-anak bisa kembali bersekolah dan beraktivitas dengan nyaman tanpa harus khawatir menghirup udara yang dipenuhi kabut asap.
Saya menyadari bahwa karhutla bukan masalah sederhana yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, bukan berarti kita harus terus menganggapnya sebagai hal biasa hanya karena terjadi setiap tahun. Perlu ada upaya pencegahan dan penanganan yang lebih serius terutama dari para pejabat dan pemerintah daerah agar masyarakat tidak terus-menerus merasakan dampaknya.
Saya juga berharap ke depannya masalah kebakaran hutan dan lahan ini tak lagi terjadi sehingga generasi mendatang hanya mengetahui masalah kabut asap dari cerita dan tidak perlu mengalaminya sendiri.
Baca Juga
0 Komentar