Multitasking Ibu Bekerja: Benarkah Kita Bisa Mengerjakan Banyak Hal?

Multitasking Ibu Bekerja: Benarkah Kita Bisa Mengerjakan Banyak Hal?


Sebagai wanita, konon kita dianugerahi kemampuan untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu alias multitasking. Saya, misalnya, bisa memasak sambil mencuci piring, menyetrika sambil menonton televisi, bahkan saat mengobrol dengan teman, saya bisa dengan mudah mengganti obrolan ke topik lain. Hal yang kadang membuat lawan bicara saya protes. 
 
Saya sendiri penasaran sejak kapan kemampuan multitasking ini dimiliki oleh wanita. Bisa jadi karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan membuat kita terbiasa berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. 

Bagi ibu bekerja sendiri, kemampuan multitasking ini juga kadang tanpa sadar selalu dilakoni. Dalam satu hari ada saja urusan yang harus dipikirkan, mulai dari pekerjaan kantor, anak, rumah, hingga berbagai hal kecil yang sering kali tidak terlihat. Apalagi dengan kondisi sebagai ibu yang tidak memiliki ART, pastinya beban kerja ini semakin besar. Kalau terus-menerus dilakukan tanpa jeda, banyaknya hal yang harus dipikirkan ini bisa membuat mental load ibu semakin berat.

Dulu, saya berpikir kalau kemampuan melakukan banyak pekerjaan sekaligus seperti ini adalah sesuatu yang membanggakan. Rasanya saya menjadi ibu yang produktif karena dalam satu waktu bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. 

Namun, setelah dewasa saya baru menyadari bahwa multitasking tidak selalu membuat pekerjaan menjadi lebih cepat selesai. Dalam situasi tertentu kondisi ini justru bisa membuat kita kehilangan fokus dan lebih cepat lelah. 

Dari sinilah saya mulai berpikir bahwa mungkin ada beberapa hal yang selama ini kita salah pahami tentang multitasking.

Salah Kaprah tentang Multitasking

Berikut adalah beberapa salah kaprah terkait multitasking yang sering kita temui:

1. Multitasking Membuat Pekerjaan jadi Cepat Selesai

Selama bertahun-tahun saya sempat beranggapan kalau multitasking akan membuat pekerjaan jadi cepat selesai. Misalnya kalau saya memasak di dapur, tentunya akan lebih cepat selesai jika disambi dengan pekerjaan lain seperti mencuci wadah kotor, atau memotong bahan yang lain. 

Well, kalau untuk yang seperti ini mungkin ada benarnya. Toh, tidak mungkin juga kan saya hanya berdiri di depan kompor dan menunggu ikan matang tanpa melakukan apa-apa. Selama menunggu, ada pekerjaan lain yang memang bisa dikerjakan.

Namun, tetap saja kita perlu berhati-hati. Jangan sampai karena terlalu asyik mengerjakan pekerjaan lain, kita malah lupa dengan masakan yang sedang dimasak dan berujung ikan jadi gosong. 

Hal ini juga berlaku pada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. Ketika kita terus berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya, otak membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan fokus. Kalau dilakukan berulang kali, pekerjaan justru bisa terasa lebih melelahkan dan tidak selalu selesai lebih cepat.

Jadi, multitasking tidak otomatis membuat kita lebih efisien. Semuanya kembali pada jenis pekerjaan yang dilakukan.

 

2. Multitasking Itu Tanda Produktif

Selama ini mungkin orang berpikir kalau ibu yang dari pagi sampai malam terlihat sibuk tentu mudah dianggap sebagai ibu yang produktif. Padahal, sibuk dan produktif sebenarnya bukan hal yang sama.

Seorang ibu bisa saja melakukan banyak hal dalam satu hari, berpindah dari pekerjaan kantor ke urusan rumah, kemudian membantu anak belajar, lalu membereskan rumah. Tetapi kalau semuanya dikerjakan setengah-setengah karena perhatian terus berpindah, belum tentu hasilnya lebih baik. Saya sendiri sebenarnya juga kerap melakukan berbagai pekerjaan rumah dan karena tidak fokus pekerjaan yang kerjakan itu tidak selesai dengan sempurna. 

Jadi bisa dibilang produktif sebenarnya bukan hanya tentang seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan. Lebih penting lagi adalah apakah pekerjaan yang menjadi prioritas benar-benar selesai dengan baik.


3. Multitasking Tidak Berpengaruh pada Beban Pikiran

Dulu mungkin saya menganggap multitasking hanya membuat tangan menjadi lebih sibuk. Ternyata tidak sesederhana itu. Ketika melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, bukan hanya tangan yang bekerja. Pikiran kita juga harus mengingat apa yang sedang dikerjakan, apa yang belum selesai, dan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Apalagi bagi ibu bekerja yang urusannya tidak hanya pekerjaan kantor. Saat sedang bekerja, mungkin kita tiba-tiba ingat belum membayar tagihan. Ketika sedang memasak, teringat besok anak harus membawa sesuatu ke sekolah. Saat sedang membantu anak belajar, pikiran sudah melayang ke pekerjaan kantor yang belum selesai.

Hal-hal kecil seperti ini kalau terus menumpuk bisa membuat kepala terasa penuh.

Kita mungkin jadi lebih mudah lupa, cepat merasa kewalahan, mudah emosi, atau sekadar merasa lelah padahal aktivitas fisik yang dilakukan sebenarnya tidak terlalu berat. Karena itu, multitasking yang terlalu sering juga bisa ikut menambah beban pikiran atau mental load.

4. Semua Jenis Multitasking Itu Sama 

Ini juga salah satu hal yang menurut saya penting untuk dibedakan. Tidak semua multitasking membutuhkan tingkat perhatian yang sama.

Ada aktivitas yang bisa kita lakukan bersamaan karena salah satunya tidak membutuhkan fokus penuh. Misalnya menyetrika sambil menonton film, mengepel lantai sambil mendengarkan musik, atau menunggu air mendidih sambil mencuci piring.

Ada juga aktivitas yang memang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi. Misalnya mengikuti meeting sambil mengerjakan laporan, membalas email penting ketika sedang mendengarkan presentasi, atau bekerja sambil mendampingi anak belajar.

Keduanya sama-sama terlihat seperti multitasking, tetapi beban yang diberikan kepada pikiran tentu berbeda. Karena itu, menurut saya kita tidak perlu langsung menganggap semua multitasking sebagai sesuatu yang buruk. Kita perlu melihat pekerjaan apa yang dilakukan dan seberapa besar fokus yang dibutuhkan.

5. Ibu Harus Bisa Multitasking

Mungkin ini salah kaprah yang paling sering kita dengar. Seolah-olah menjadi ibu berarti harus bisa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Harus bisa memasak, mengurus anak, membereskan rumah, bekerja, mengingat jadwal sekolah, membayar tagihan, dan masih banyak lagi. Kalau ada ibu yang merasa kewalahan, terkadang justru muncul anggapan bahwa ia harus lebih pintar mengatur waktu atau lebih jago multitasking.

Padahal, menjadi ibu bukan berarti harus mampu mengerjakan semuanya sekaligus.

Ada pekerjaan yang memang bisa kita gabungkan. Tetapi ada juga pekerjaan yang sebaiknya dikerjakan satu per satu karena membutuhkan perhatian penuh. Jadi, menurut saya kemampuan seorang ibu tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dalam satu waktu.

Membedakan Multitasking Ringan dan Berat

Setelah memahami beberapa salah kaprah tadi, saya jadi melihat bahwa kita tidak harus menghindari multitasking namun harus bisa membedakan multitasking mana yang bisa dilakukan dan yang sebaiknya tidak dilakukan. 

1. Multitasking Ringan

Multitasking ringan biasanya terjadi ketika salah satu aktivitas tidak membutuhkan konsentrasi penuh atau kedua aktivitas masih berada dalam satu alur. 

Contohnya:

  • Memasak sambil menyiapkan bahan berikutnya.
  • Menunggu air mendidih sambil mencuci piring.
  • Melipat baju sambil mengobrol dengan anak.
  • Menyetrika sambil menonton televisi.
  • Menyapu sambil mendengarkan musik.

Dalam situasi seperti ini, kita masih bisa mengatur perhatian tanpa harus memaksa diri untuk fokus penuh pada dua pekerjaan yang berbeda. Bahkan bagi ibu, memanfaatkan waktu tunggu seperti ketika menunggu masakan matang bisa menjadi cara sederhana untuk membuat pekerjaan rumah lebih efisien.

2. Multitasking Berat

Sementara itu, multitasking berat biasanya terjadi ketika kita mencoba melakukan beberapa aktivitas yang sama-sama membutuhkan perhatian dan konsentrasi.

Misalnya:

  • Mengikuti meeting sambil mengerjakan laporan.
  • Membalas email penting sambil mendengarkan presentasi.
  • Bekerja di laptop sambil mendampingi anak belajar.
  • Mengikuti meeting online sambil memasak.
  • Berbicara serius dengan anak sambil terus mengecek pekerjaan di ponsel.

Dalam situasi seperti ini, sebenarnya perhatian kita terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Dari yang saya baca, kondisi ini sering disebut task switching, yaitu ketika kita beralih dari satu tugas ke tugas lain, bukan benar-benar mengerjakan semuanya secara bersamaan.

Misalnya, saat sedang mengikuti meeting sambil mengerjakan laporan. Perhatian kita berpindah dari mendengarkan pembicaraan ke layar laptop, kemudian kembali lagi ke meeting. Begitu juga ketika bekerja sambil mendampingi anak belajar. Sebentar melihat pekerjaan, lalu beralih memperhatikan anak, kemudian kembali lagi ke pekerjaan.

Kelihatannya seperti kita sedang melakukan dua pekerjaan sekaligus. Padahal, perhatian kita sebenarnya terus berpindah. Semakin sering perpindahan ini terjadi, semakin besar pula kemungkinan kita kehilangan fokus. Akibatnya, pekerjaan berpotensi kurang maksimal dan kita bisa merasa lebih cepat lelah.

Tips Multitasking untuk Ibu Bekerja

Tips Multitasking untuk Ibu Bekerja


Lalu, apakah setelah mengetahui hal ini kita harus berhenti multitasking? Menurut saya tidak juga. Karena dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai ibu, ada banyak pekerjaan yang memang bisa dilakukan bersamaan. Yang penting adalah mengetahui mana yang masih aman untuk digabungkan dan mana yang sebaiknya dilakukan satu per satu.

Berikut ada beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan bagi ibu yang masih gemar melakukan multitasking:

1. Manfaatkan Waktu Tunggu

Waktu tunggu bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan kecil. Misalnya ketika menunggu nasi matang, kita bisa mencuci beberapa peralatan dapur atau menyiapkan bahan masakan berikutnya. Apalagi sekarang kita tak lagi ada di era hidup analog dan semakin dimudahkan dengan berbagai teknologi untuk urusan rumah tangga. Jadi sambil menunggu alat elektronik bekerja kita bisa melakukan pekerjaan lain yang lebih ringan. 

2. Gabungkan Pekerjaan yang Ringan

Pilih pekerjaan yang tidak membutuhkan konsentrasi tinggi untuk dilakukan bersamaan. Misalnya melipat pakaian sambil menonton televisi atau menyetrika sambil mendengarkan podcast. Kalau salah satu aktivitas hanya menjadi kegiatan pendamping, biasanya kita tidak terlalu merasa terbebani.

3. Hindari Menggabungkan Dua Pekerjaan yang Sama-sama Membutuhkan Fokus

Kalau sedang mengerjakan laporan penting, mungkin bukan waktu yang tepat untuk sambil membalas banyak pesan. Begitu juga ketika sedang meeting, sebaiknya fokus pada pembicaraan daripada mencoba menyelesaikan pekerjaan lain secara bersamaan.

Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan pada waktu yang sama.

4. Gunakan Pengingat untuk Pekerjaan yang Sedang Ditinggalkan

Kalau sedang memasak dan ingin mengerjakan pekerjaan lain, gunakan timer. Sederhana memang, tetapi bisa membantu kita mengingat bahwa ada pekerjaan yang masih berlangsung. Jangan sampai niatnya memanfaatkan waktu tunggu, malah masakan lupa karena terlalu fokus mengerjakan hal lain.

5. Tidak Perlu Merasa Bersalah Saat Memilih Fokus pada Satu Hal

Ini mungkin yang paling sulit bagi ibu. Kadang kita merasa kalau sedang duduk dan mengerjakan satu pekerjaan saja berarti tidak cukup produktif. Padahal, fokus pada satu pekerjaan juga merupakan pilihan yang sah dan bisa jadi membantu kita dalam menerapkan gaya hidup mindful.

Ada kalanya pekerjaan memang membutuhkan perhatian penuh. Ada kalanya anak membutuhkan kita untuk benar-benar mendengarkan. Ada kalanya tubuh juga hanya membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Tidak semua waktu harus diisi dengan berbagai aktivitas.

Penutup

Selama bertahun-tahun, saya percaya dan menganggap multitasking sebagai sebuah kemampuan yang harus dibanggakan. Padahal, tidak semua multitasking membuat pekerjaan lebih cepat selesai dan tidak semua kesibukan berarti kita sedang produktif. 

Ada multitasking yang memang membantu, seperti memanfaatkan waktu tunggu ketika memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan sambil melakukan aktivitas lain. Namun, ada juga pekerjaan yang membutuhkan perhatian penuh. Ketika kita terus berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya, yang terjadi sebenarnya adalah task switching, dan terlalu sering melakukannya justru bisa membuat kita kehilangan fokus dan merasa lebih cepat lelah.

Jadi, mungkin bukan pertanyaan “Seberapa jago saya melakukan multitasking?” yang perlu kita tanyakan.

Melainkan,

“Pekerjaan mana yang memang bisa saya lakukan bersamaan dan mana yang sebaiknya saya kerjakan satu per satu?”

Karena menjadi ibu bukan berarti harus bisa mengerjakan semuanya dalam satu waktu. Kadang, menyelesaikan satu pekerjaan dengan tenang juga merupakan bentuk produktivitas. 

Baca Juga

Posting Komentar

29 Komentar

  1. My mom is a career woman dan beliau multitasking-nya di dapur (masih masak sendiri) walau ada ART.
    Mengenai multitasking ada plus minusnya yaa. Jangan sampai tiap hari memaksakan diri multitasking hal-hal yang berat dan jadinya burnout sampai harus berobat ke spkj

    BalasHapus
  2. Multitasking, istilah yg sangat aku hindari dalam beraktivitas 3 tahun terakhir ini. Meskipun kenyataannya aku tetap melakukannya tanpa sadar.

    Sejak tahu bahwa multitasking memang benar tidak sesederhana menyibukkan tangan atau fisik tapi berpengaruh pada cara kerja otak kita. Dari satu aku berpikir, wah g baik juga membagi fokus kayak gitu dan penjelasan mbak ttg kebutuhan konsentrasi tiap aktivitas bisa beda2 . Nah aku sepakat itu.

    Jadi, akan lebih baik jika kita bisa fokus pada satu hal sehingga bisa maksimal

    BalasHapus
  3. Dulu saya juga menganggap kemampuan mengerjakan banyak hal sekaligus itu semacam “superpower” seorang ibu. Masak sambil mikirin anak, nulis sambil buka WhatsApp, kerja sambil ingat cucian belum diangkat... belum lagi kepala sudah sibuk menyusun daftar pekerjaan berikutnya sebelum pekerjaan yang sekarang selesai. Hahaha.

    Padahal semakin ke sini saya justru merasa, ternyata menjadi ibu bukan lomba siapa yang paling sibuk dan paling banyak menyelesaikan pekerjaan dalam satu waktu. Kadang kita memang bisa melakukan beberapa hal sekaligus, tapi ada saatnya satu pekerjaan saja sudah cukup menguras pikiran.

    Saya suka sekali bagian ketika Mbak bilang bahwa kita tidak harus merasa bersalah ketika memilih fokus pada satu hal. Rasanya sederhana, tapi untuk ibu yang sudah terbiasa merasa harus selalu “berguna” setiap menit, ini justru pengingat yang penting banget.

    Dan benar, ada waktunya anak membutuhkan kita benar-benar mendengarkan, ada waktunya pekerjaan membutuhkan fokus, dan ada waktunya tubuh cuma ingin duduk sebentar tanpa merasa sedang membuang waktu.

    Ah, ternyata setelah bertahun-tahun menjadi ibu, kita bukan cuma belajar bagaimana mengurus banyak hal, tapi juga belajar bahwa tidak semua hal harus dikerjakan bersamaan. Kadang menyelesaikan satu hal dengan tenang justru jauh lebih melegakan daripada berhasil mengerjakan lima hal tapi kepala rasanya mau meledak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang kepala meledak bukan hanya multitask, tapi waktu yang terus berjalan dan hanya menyelesaikan 1 task.

      Kadang stres juga jadinya yaa..
      Sesimple pikiran “Jadi dari tadi teh, aku cuma dapet ini?”

      Hehehe.. itu terjadi kalo aku setrika, ka Tanti…
      Rasanyaaa… berjam–jam invest waktu, tumpukn baju rapi baru sependek kelingking akuu… kan cediii yaah…

      Hapus
  4. Duh, baca ini jadi senyum-senyum sendiri karena kayak lagi baca cerita kehidupan sehari-hari 😅. Ibu bekerja memang rasanya ga pernah cuma punya satu peran, belum selesai satu urusan sudah ada saja yang harus dikerjakan. Kadang hebatnya seorang ibu itu justru karena bisa tetap jalan meski sambil ngos-ngosan hahaha. Makasih sudah mengingatkan kalau di balik multitasking itu ternyata ada banyak cerita dan perjuangan juga.

    BalasHapus
  5. Terlepas dari point-point yang di tuliskan diatas, bagaimanapun seorang wanita atau ibu dengan berbagai tugas, kewajiban atau pekrjaannya, adalah pahlawan bagi kita semua, tanpa sentuhan tangan seorang wanita maka dunia menjadi tak berwarna.
    semoga segala aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan para wanita menjadikannya ladang pahala.
    Semoga juga para ibu selalu diberi kesehatan, kekuatan dalam lindunga-Nya

    BalasHapus
  6. Pembedaan multitasking ringan dan berat itu gampang dipahami, soalnya selama ini aku nganggap semua multitasking sama. Tips tidak perlu merasa bersalah saat memilih fokus pada satu hal itu juga nyentuh, apalagi buat ibu yang sering merasa harus selalu sibuk. Tulisannya menenangkan!

    BalasHapus
  7. Multitasking itu bagus. Tapi buat saya asal bisa maksimal aja dan tidak memaksakan diri. Selagi kita mampu, bagus saja mengerjakan beberapa hal sekaligus
    Tapi kalau tidak ada ilmu, lebih baik ngalah dan sadar diri

    BalasHapus
  8. AKu termasuk yang ga bisa multitasking even pekerjaan ringan yaa..
    Tapii kalo kepaksa banget.. aku kerjain barengan juga sii.. kayaaaa dengerin kajian sambil nyetrika..
    Atau goreng sambil cuci piring..

    Kalo nulis sambil dengerin kajian, gak bisa.
    Huhuu.. memang ga bakat yaa..

    Dan sekarang aku kudu bikin to do list buat seharian.. supaya ga offside.
    Serruu yaa.. jadi emak-emak tuu.. kudu semua beres dan semoga bisa jadi pahala.

    BalasHapus
  9. Saya rasa multitasking ini memang banyak melekat pada perempuan dibandingkan laki-laki. Apalagi yang mengungkapkan juga dokter Aisah Dahlan. Namun, ternyata setelah baca artikel ini, multitasking yang bagaimana dulu nih? Tidak semua bisa dilakukan multitasking dan ada kalanya butuh fokus agar hasilnya maksimal.

    BalasHapus
  10. Nah iya, diriku sering merasa harus bisa melakukan semuanya sekaligus demi dibilang produktif.... PAdahal jika ditelaah lebih lanjut tidak semua pekerjaan harus diselesaikan secara bersamaan. Terkadang, memilih fokus pada satu hal saja jauh lebih melegakan dan membuat hasil kerja terasa lebih maksimal. Jadi tidak perlu merasa bersalah kalau sedang ingin duduk tenang menyelesaikan satu tugas tanpa gangguan.

    BalasHapus
  11. Sepakat tuh kak. Emg sih multitasking itu bgs bagi kita. Bs menyelesaikan masalah dalam satu waktu sekaligus. Tp ya emg ga semua kerjaan bs dilakukan multitasking. Perlu pemilahan kerjaan, mana yg bs multitasking dan mana yg hanya fokus satu kerjaan.

    Pokoknya jgn sampai krn multitasking tp malah mengurangi hasil kerjaannya ya. Output hrs tetap sama meski inputnya dilakukan bareng2.

    BalasHapus
  12. Satu sisi mungkin multitasking terlihat keren, karena bisa sat set menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat. Eh tapi, pikirkan juga dampaknya, karena perlu waspada sama yang namanya migren, burnout, stress dan teman-temannya hehe. Jadi sih pahami diri, kalau bisanya fokus dengan satu pekerjaan, ya udah gapapa, yang penting sampai tuntas

    BalasHapus
  13. Sebagian pekerjaan khususnya yang ringan, mungkin iya. Kalau dikerjakan secara multitasking jadi cepat kelar.

    Tapi, ada juga pekerjaan yang malah jadi berantakan kalau dikerjakan secara multitasking. Khususnya pekerjaan yang butuh fokus tinggi

    BalasHapus
  14. Bener banget mbak. Nggak semua pekerjaan bisa kita lakukan dengan multitasking. Kadang bukan cepat selesai malah nambah ruwet. Dan sebenarnya ada penelitian yang memperkuat kalau tidak sebaiknya tidak terus menerus multitasking.

    Terima kasih ya artikel terkait multitasking nya. Pastilah antara ibu bekerja dan yang belum punya anak akan berbeda tuntutan kegiatannya. Semangat dan sehat selalu mbak.

    BalasHapus
  15. Saat ini saya sedang berusaha untuk jaga jarak aman dengan multi tasking, karena jujur capek banget dan malah gampang stres. Dulu saya juga sempat memiliki pemikiran yang sama, ibu yang multi tasking itu keren, karena bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan, ternyata lama-lama malah hasil kerjaan ambyar.

    BalasHapus
  16. Sebenarnya, multitasking itu nggak boleh ya. Hanya karena keadaan saja. Kadang perempuan harus multitasking. Sebab ada banyak peran yang dilakukan oleh perempuan

    BalasHapus
  17. Wuuuaaaa, saya dari dulu nggak terlalu bisa multitasking mbak. Malah banyak habis tenaga tapi kerjaan ndak kelar. Kalau pun kelar biasanya separuh atau seperempat jalan aja.

    Tapi di era sekarang multitasking tuh udah kayak bagian hidup deh. Kebayang kita yang blogging aja, sambil ngetik kadang sambil edit video atau sambil ngedit ilustrasi.

    Tapi bisa diakali juga sih, kayak yang mbak bilang. Nggak gabungin dua hal yang sama² butuh fokus. Biasanya aku lebih ke bikin isi blog kusambi dengan pilih² foto juga. Meski dua²nya butuh fokus tapi satu kegiatan fokusnya lebih minim dari bikin isi blog. 💞

    BalasHapus
  18. Saya termasuk orang yang suka menggabungkan beberapa pekerjaan sekaligus. Misal memasak sambil mencuci piring, mencuci baju di mesin, Naah ini bisa saya lakukan. Tapi memang betul jika pekerjaan yang memerlukan fokus yaa tidak bisa saya lakukan berbarengan misal menulis sambil masak kan gak bisa. Menulis itu harus fokus, bisa bisa menulisnya gak selesai selesai

    BalasHapus
  19. Kalau berkaca dari aku sendiri yang IRT, multitasking yang terbilang masih bisa ditolerir bagiku adalah menggoreng sambil nyuci piring. Masih bisa jalan dua duanya.
    Tapi kalau masak sambil ikutan workshop online, dijamin aku pasti ga jalan dua duanya hehe

    BalasHapus
  20. Setuju banget, kalau "multitasking" kita juga harus menelaah lagi, ini aku beneran bisa gabungin tugas atau malah bikin berantakan.
    Nggak semuanya bisa di-multitasking-in ya kan? Apalagi kalau beberapa aktivitas itu butuh konsentrasi tinggi atau bener2 fokus, yang ada malah berantakan semua.
    Berbeda lagi kalau aktivitasnya masih tergolong ringan dan nggak butuh terlalu fokus, maka bisa dikerjakan bareng.
    Yang penting keknya di sini adalah manajemen waktu plus juga jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kita mah emak2 nggak masalah kok walau nggak sempurna, nggak kudu cepet2 selesai juga, yang penting kerjakan dengan happy sambil jaga kewarasan. Semangat! Hehe :D

    BalasHapus
  21. Aku sungguh ga bisa 'multitasking ' yang nyambi nyambi gitu Mba. Kan pada bilang perempuan jago begitu. Aku sih sama sekali gak. Kadang aku juga sama kaya cowo yang dipanggil pas fokus tuh malah ga nyaut >.<

    BalasHapus
  22. Jujurly, multitasking itu melelahkan dan bukannya semakin cepat selesai, tapi ya sama aja sebetunya, kecuali multitasking hal yang ringan dan ga butuf fokus, misal masak disambi cuci piring, masih bisa karena satu area juga. Tapi kalau masak sambil setrika, waduh berat ini, ga bakalan bisa kalau saya.
    Pernah nih nyambi rebus daun singkong sama nyapu, yang ada saya lupa kalau lagi rbus daun singkong dan berakhir dengan daun yang gosong wkwkwk

    BalasHapus
  23. Jadi Ibu memang harus multitasking, bisa cekatan dan bisa handle masalah pekerjaan rumah tangga dan hal ini bisa di biasakan sejak dini supaya terbiasa ketika jadi seorang Ibu, karena nasib seseorang tidak ada yang tahu apakah nantinya akan cukup untuk gaji Art atau tidak, jadi ya sebagai perempuan harus punya skill mengurus rumah tangga karena penting buat bisa mandiri juga bukan saat ketika berumah tangga saja.

    BalasHapus
  24. nggak sedikit yang bilang "katanya enak ya jadi IRT yang cuman gitu gitu aja", lahhh padahal yang diurus di rumah juga banyak, dan nggak sekedar duduk manis aja. Untuk hal tertentu, multitasking memang perlu apalagi kalau kita ingin kerjaan cepet selesai.

    aku sendiri kadang juga multitasking,tapi juga melihat kondisi tertentu. Ada hal pekerjaan yang memang membutuhkan konsentrasi banget, jadi nggak aku pecah konsentrasinya

    BalasHapus
  25. Memang baik ya mengenali kemampuan diri sendiri dulu. Saya termasuk yang kurang sanggup multitasking. Makanya akhirnya memilih resign kerja. Udah di rumah pun biasanya saya kerjainnya satu per satu hehehe. Beda sama mamah saya yang bekerja kantoran memang bisa multitasking.

    BalasHapus
  26. Nah iya. Perempuan dan para ibu ini sering dapat labeling bisa banget multitasking. Padahal nggak gitu juga. Mungkin jadi gabungin beberapa kerjaan karena dirasa sama-sama ringan, ngurangin waktu, dan mode survival.

    Artikel ini mengupas detail terkait jenis multitasking, hal-hal yang sebaiknya dihindari, dan tentu menghilangkan rasa bersalah ketika memilih fokus mengerjakan satu hal yang terasa berat.

    BalasHapus
  27. baca tulisan ini kok rasanya seperti sedang membaca isi kepala emak-emak ya, hahaha. 😂 Kadang kita tuh bangga bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, sampai lupa kalau badan dan pikiran juga punya batas kemampuan.

    Aku sendiri sebagai ibu yang juga mengerjakan berbagai hal dari rumah, mulai dari urusan keluarga sampai menulis dan berkarya, sering banget merasa pikiran ini loncat-loncat ke mana-mana. Lagi mengerjakan sesuatu, eh ingat pekerjaan lain. Belum selesai yang satu, sudah kepikiran yang berikutnya. Akhirnya malah capek sendiri, sementara daftar pekerjaan seperti nggak ada habisnya.

    BalasHapus
  28. Kita memang gak bisa luput dari multitasking ya Mba, soalnya kayak pengin semua selesai dalam satu waktu tanpa mengukur diri. Ditambah lagi sama prokrastinasi, lengkap deh hahaha. Tapi baca tulisan Mba cukup bikin ringan beban, ada do's and don'ts yg jadi rambu2.

    BalasHapus