Review Film Agensi Rumah Tangga : Kisah Penyalur Pembantu di Jakarta

 

Review Film Agensi Rumah Tangga : Kisah Penyalur Pembantu di Jakarta

Sebagai pembaca setia novel-novelnya Almira Bastari, senang sekali rasanya saat mengetahui novelnya yang berjudul Agensi Rumah Tangga akan difilmkan. Setelah sebelumnya sukses dengan Home Sweet Loan yang mengambil tema seorang sandwich generation yang bermimpi memiliki rumah sendiri, maka kali ini Almira mengajak kita mengikuti kisah seorang wanita pekerja  yang memulai usahanya sendiri.

Bagi seorang working mom seperti saya, menonton film memang menjadi salah satu cara saya untuk self healing dari berbagai tekanan yang membuat kepala menjadi pusing. Menonton film ini tentunya tak harus selalu ke bioskop mengingat tiket bioskop di Banjarmasin yang cukup mahal sehingga saya harus bijak jika ingin sering menonton. 

Untungnya saat ini sudah ada berbagai OTT yang menyajikan berbagai pilihan film untuk ditonton sehingga saya bisa menonton di rumah sambil melakukan pekerjaan rumah paling membosankan yakni menyetrika. 

Namun, untuk film Agensi Rumah Tangga yang baru tayang pada September 2026 ini, saya akhirnya bisa menontonnya langsung di bioskop bersama beberapa rekan kerja setelah jam pulang kerja usai. Rasanya memang lebih seru kalau sesekali bisa menonton film di bioskop bersama teman.

Lalu, apakah adaptasi dari novel Almira Bastari ini bisa sebagus film sebelumnya? Yuk, baca review ini sampai selesai!

Sinopsis Film Agensi Rumah Tangga

review film agensi rumah tangga
 

Agensi Rumah Tangga berkisah tentang Katia, seorang gadis pekerja start up yang harus menerima kenyataan kalau dirinya kena lay off alias PHK dari tempatnya bekerja. Setelah enam bulan menganggur, Katia tak kunjung mendapat tawaran pekerjaan baru sementara ibunya terus mendesak agar dirinya mendaftar tes CPNS, pekerjaan yang sama dengan ibunya. 
 
Katia sendiri sejak awal tidak ada niat untuk menjadi seorang abdi negara, namun karena desakan ibunya ini, mau tidak mau Katia mendaftar untuk menyenangkan hati sang ibu.

Suatu hari, Bi Minah, ART yang sudah bekerja di rumahnya selama puluhan tahun, harus dipulangkan karena ibunya tak bisa lagi membayar biaya pembantu. Saat mengantar Bi Minah pulang, Katia bertemu Siti yang pulang kampung karena ditipu penyalur ART. Dari sinilah tiba-tiba Katia mendapat ide untuk membuka jasa penyalur pembantu. 

Dengan bantuan Bi Minah, Katia mengumpulkan para wanita yang berasal dari kampung Bi Minah untuk disalurkan menjadi pembantu atau asisten rumah tangga di Jakarta. Katia bahkan datang sendiri ke kampung Bi Minah untuk menyeleksi calon pembantu yang akan disalurkan. Usahanya ini sendiri kemudian diberi nama Agensi Rumah Tangga.

Untuk bisa memulai usahanya ini, Katia menggunakan rumah yang sudah dikreditnya sebagai kantor dan menjual mobil miliknya sebagai modal awal. Katia banyak belajar terkait seluk beluk dunia penyalur pembantu lewat berbagai video dan bahkan memanggil salah satu ART artis untuk menjadi trainer untuk calon pekerja yang dibawanya dari desa Bi Minah. 

Berkat koneksi Sashi, salah satu sahabatnya, Katia kemudian berhasil menggaet Kafka, penyanyi pria papan atas Indonesia sebagai klien pertamanya. Sashi sendiri belakangan juga kena lay off dan akhirnya bergabung dengannya di Agensi Rumah Tangga. 

Sebagai agen penyalur pembantu, ada berbagai kisah yang harus dihadapi Katia terkait pembantu yang disalurkannya. Ada yang kedapatan menggoda suami majikan, mendapat kekerasan oleh majikan, terlalu pemilih hingga membocorkan kediaman majikan yang berprofesi sebagai artis. 
 
Berbagai kejadian inilah yang kemudian membuat perjalanan Katia dalam menjalankan Agensi Rumah Tangga menjadi semakin penuh warna. 

Kesan Setelah Menonton Film Agensi Rumah Tangga

Untuk sebuah film yang diangkat dari novel, bisa dibilang saya sangat suka dengan adaptasi dari Agensi Rumah Tangga ini. 
 
Berbeda dengan Home Sweet Loan yang terasa agak berat karena kisah sandwich generation-nya, Agensi Rumah Tangga lebih banyak mengajak penonton tertawa dengan berbagai tingkah dan kelucuan para pembantu yang direkrut oleh Katia. Bisa dibilang kehadiran para komika ini benar-benar sukses membuat kisah ini menjadi lebih ringan.

Selain itu saya juga suka sekali dengan pemilihan aktor untuk Katia dan sahabat-sahabatnya. 
 
Saat tahu Katia akan diperankan oleh Enzy Storia, saya langsung yakin kalau ini adalah pemilihan yang sangat tepat. Dan benar saja, ketika saya menonton filmnya sendiri, Enzy benar-benar sukses membawakan karakter Katia ini dengan baik.  Karakter Katia yang saya bayangkan ketika membaca novelnya terasa cukup terwakili melalui akting Enzy.

Untuk peran sahabat Katya sendiri, mulanya saya agak ragu dengan Ardit Erwanda yang berperan sebagai Banu. Mengingat dalam novelnya Banu ini berusia lebih tua dari Katia dan Sashi, saya sempat bertanya-tanya apakah Ardit bisa membawakan karakter tersebut.
 
Namun untuk versi film ini, Banu dijadikan karakter yang rentang usianya sama dengan Katia dan Sashi yang pastinya membuat persahabatan mereka lebih seru. Selain itu,  Ardit juga bisa membawakan karakter Banu dengan baik dan bahkan cukup berhasil mencuri perhatian lewat konflik yang terjadi di keluarganya.

Bicara soal plot dan alur, setelah saya baca ulang novelnya, memang ada sedikit perubahan yang dilakukan oleh penulis skenario. Meski demikian menurut saya perubahan plot ini tidak mengurangi esensi dan pesan yang ingin disampaikan penulis dalam novelnya. 
 
Saya sendiri awalnya mengira Agensi Rumah Tangga akan lebih pas jika dijadikan serial sehingga bisa mengakomodasi berbagai irisan kisah para pembantu yang disalurkan Katia seperti yang ada di novelnya.

Memang bisa dibilang, dengan banyaknya cerita yang disajikan dalam film ini, beberapa bagian terasa seperti tumpang tindih. Namun, balik lagi, menurut saya eksekusi yang dilakukan oleh Naya Anindita sudah cukup baik untuk sebuah film layar lebar.

Bisa jadi kalau filmnya sukses, mungkin produser akan tergerak untuk membuat versi serialnya. Dengan begitu, kisah para pekerja yang berada di bawah Agensi Rumah Tangga bisa dieksplorasi lebih panjang dan lebih mendalam.

Sosok yang Mencuri Perhatian di Film Agensi Rumah Tangga

Selain alur dan karakter utamanya, ternyata ada sosok yang cukup mencuri perhatian saya di film Agensi Rumah Tangga. Sosok ini adalah Nisa, putri satu-satunya Bi Minah yang juga ikut ke Jakarta untuk bekerja sebagai pembantu. 
 
Saat membaca novelnya, sosok Nisa ini bagi saya tidak terlalu menonjol dan latar belakangnya juga tidak terlalu dieksplorasi.

Namun ketika karakter Nisa dihidupkan dalam film, saya baru sadar kalau sosoknya ini bisa mewakili perasaan anak-anak lain yang ibunya bekerja sebagai ART. Lahir sebagai putri dari seorang ART, Nisa harus rela dirinya ditinggal Bi Minah untuk mengurus anak orang lain. Bisa jadi Nisa melewatkan masa-masa penting dalam hidupnya tanpa kehadiran Bi Minah yang mungkin hanya pulang setahun sekali. 
 
Hal inilah yang membuat saya melihat karakter Nisa dari sudut pandang yang berbeda. 

Ada satu adegan yang cukup menggambarkan rasa cemburu Nisa pada Katia. Saat itu Katia datang ke kediaman Bi Minah dan bahkan ketika berada di rumahnya sendiri, Bi Minah tetap sibuk melayani Katia, bukannya memperhatikan putrinya. Dan sebagai penonton, kita diperlihatkan bagaimana perubahan emosi yang terjadi pada Nisa saat ibunya lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya. 

Saya sendiri bisa memahami kalau Nisa merasa kesal.

Selama puluhan tahun bekerja melayani orang lain, Bi Minah mungkin sudah terbiasa mendahulukan kebutuhan majikannya. Sementara bagi Nisa, seharusnya dirinyalah yang mendapatkan perhatian sang ibu yang sudah pensiun dari pekerjaannya. 

Saya jadi berpikir bahwa ketika membicarakan ibu yang bekerja sebagai ART, kita sering kali hanya melihat dari sisi orang dewasa. Kita melihat bagaimana seorang ibu berjuang mencari nafkah untuk keluarganya dan ibu bekerja yang terbantu dengan kehadiran para ART ini. 

Padahal, ada anak-anak yang harus tumbuh dengan konsekuensi dari pilihan tersebut. Dan menurut saya, film ini berhasil membuat sisi tersebut terasa tanpa harus menjadikannya sebagai drama utama.

Pesan dari Film Agensi Rumah Tangga

Meski dikemas dengan balutan film komedi, Agensi Rumah Tangga sebenarnya membawa sejumlah pesan tentang kehidupan perempuan dan keluarga di tengah himpitan ekonomi. Salah satunya adalah bagaimana perempuan bisa menjadi tulang punggung keluarga ketika kondisi mengharuskannya demikian.

Katia sendiri merupakan gambaran perempuan yang kehilangan pekerjaan, tetapi kemudian memilih untuk menciptakan pekerjaannya sendiri. Dari seorang pekerja startup yang terkena PHK, ia kemudian mencoba membangun usaha dari nol meskipun awalnya tidak benar-benar memahami bisnis yang dijalaninya.

Kisah tersebut menurut saya cukup dekat dengan kehidupan banyak perempuan saat ini. Kehilangan pekerjaan bukan berarti kehidupan harus berhenti. Ada kalanya seseorang justru menemukan jalan lain setelah kehilangan pekerjaan yang sebelumnya dianggap sebagai sumber penghasilan utama.

Di sisi lain, film ini juga memperlihatkan realitas kehidupan para ART. Mereka datang ke Jakarta untuk bekerja karena membutuhkan penghasilan, tetapi dalam perjalanan mereka juga menghadapi berbagai persoalan. Ada yang mengalami kekerasan dari majikan, ada yang bermasalah dengan aturan pekerjaan, ada pula yang akhirnya membuat masalah bagi majikannya.

Artinya, menjadi ART bukan sekadar pekerjaan yang tugasnya membersihkan rumah, memasak, atau mengurus anak. Ada hubungan kerja yang juga membutuhkan kepercayaan dari kedua belah pihak.

Menurut saya, film ini juga bisa menjadi sindiran bagi sebagian pria yang merasa terlalu gengsi untuk bekerja dan akhirnya membiarkan istrinya mengambil alih tugas mencari nafkah keluarga.

Penutup

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati Agensi Rumah Tangga. Sebagai pembaca novel Almira Bastari, saya merasa adaptasi film ini tetap berhasil membawa cerita dan pesan utama dari novelnya meskipun ada beberapa perubahan.

Filmnya ringan, menghibur, tetapi tetap menyelipkan cerita tentang perempuan, pekerjaan, keluarga, dan hubungan ibu dengan anak. Dan bagi saya, justru kisah Nisa yang paling membekas setelah filmnya selesai. Mungkin karena sebagai ibu bekerja, saya jadi bisa melihat cerita ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Demikian review saya untuk film Agensi Rumah Tangga. Baca juga review saya untuk film Indonesia lainnya seperti film Aku Sebelum Aku yang berkisah tentang luka pengasuhan seorang ayah yang berpengaruh pada caranya mendidik anaknya. 

Baca Juga

Posting Komentar

26 Komentar

  1. Menariiik! Mau cari novelnya deh karena belum bisa nonton langsung ke bioskop.
    Aku tuh kepikiran Nisa karena di lingkunganku kan aku sering ngobrol dg para ART yaa. Ada yang anaknya masih balita ditinggal di kampung karena dia kerja di Jakarta ngurus anak orang. Duh sediiih anaknya yg harusnya dekat dg ibunya malah ga ada.

    BalasHapus
  2. Kayaknya nonton film ini bakal bikin semangat kerja saya menyala lagi. Saat ini terdampar di kerjaan yang saya suka sih, sesuai cita-cita, tapi secara finansial emang tidak berpihak. Tau lah, pendidikan tersingkirkan saat ini. Hehe.

    BalasHapus
  3. Menarik banget ketika cerita Katia yang kena PHK justru membawanya menemukan jalan baru dengan mendirikan Agensi Rumah Tangga. Aku juga suka sudut pandang tentang Nisa, karena selama ini cerita ART sering hanya dilihat dari perjuangan ibunya mencari nafkah, padahal ada anak yang ikut merasakan konsekuensinya. Bagian ini bikin ceritanya terasa lebih dalam meskipun filmnya dikemas dengan banyak komedi

    BalasHapus
  4. Wah..saya penasaran nih dg film ini, terutama karena banyak komedian yg ikut berperan di sini. Penasaran seberapa heboh film ini! Haha.. Terimakasih review nya yaa..sedikitnya menjawab rasa penasaran saya..hehe..

    BalasHapus
  5. Wah pembaca novel setia ya. Entah kapan terakhir baca novel. Jadi kurang update juga tentang pernovelan. Dari review ini udah terbayang film yang ringan tapi menginspirasi. Kadang kurang suka juga dari novel pas ke film dilebih - lebihin kok jadi kayak sinetron. Baca perempuan itu bisa jadi tulang punggung keluarga kok ya yes ya. Nyata adanya.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Almira Bastari salah penulis favoritku, dan siapapun yg bertanya tentang sebuah novel pasti penulis satu ini nggak pernah terlewat buat ku rekom.. Karena menurutku penulis satu ini selalu mengangkat tema ceritanya yg gk jauh2 dari kehidupan sehari-hari kita..
    menilik dari review filmnya, jadi penasaran juga nih sama kemasan versi filmnya

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Film Indonesia yang premisnya fresh ya, Mba Aryana. Angkat seputar kehidupan ART tapi kemasannya komedi gitu dan banyak pesannya juga. Aku belum nonton di bioskop, tapi lihat di Instagram rame bener sama si tokoh Siti dan majikannya karena lucu. Dan di balik tokoh yang lucu, ternyata ada kisah ART Nisa yang bikin sedih juga

    BalasHapus
  10. Paling suka nonton film adaptasi dari novel tuh. Ini premisnya unik yah, bisa aja penulisnya punya ide mengangkat cerita tentang ART. Jadi penasaran deh sama novelnya

    BalasHapus
  11. Film yang cukup ramai dibahas di berbagai media sosial. Ada yang menyebutkan lucu pakai banget, walau ada juga yang biasa saja menanggapinya. Daku sendiri belum nonton Kak.

    BalasHapus
  12. Film-film bertemakan realitas ini selalu punya daya tarik dan daya ledak yang kuat untuk menarik penonton ke dalam pengalaman si pencerita (film). Berdasarkan penceritaan dan analisisnya mbak Ayana, jelas film ini sukses menarik penonton ke dalamnya, apalagi ada sosok nisa anaknya bi Minah, yang menjadi pembeda sekaligus saya ledak film ini.

    BalasHapus
  13. Aaaaah aku galau waktu mau nonton film di bioskop, pilihannya antara ini atau Hope, dan maaf aku pilih film hope, hihihihi. Aku penasaran karena ada influencer yang aku suka, putrinya mr owner, yang kontennya aku sukaaaa, pemilik itu loh seger snow, ehehehe. Ya Astrid Juwita, polos khas eceu eceu Garut lah. Ternyata narasi filmnya baguuuus ya, ah nyesel aku gak nonton.

    kalau mau nonton dimana mba? jaid penasaran baca reviewnya, banyak banget insightnya apalagi dari sisi ART itu sendiri ya yang kadang kita lupa bahwa mereka juga "ibu". Good article mbaa!

    BalasHapus
  14. Almira Bastari ini emg keren novel2nya sampe diangkat ke layar lebar. Dan semuanya sukses loh. Filmnya ga cmn menghibur tp jg bs memberikan edukasi bahkan motivasi utk bangkit dr keterpurukan.

    Film Agensi Rumah Tangga ini ngasih tahu kalo kita disuruh kreatif di tengah peluang apapun di sekitar kita, khususnya setelah kita kena musibah/cobaan, misalnya kyk PHK.

    Filmnya lucuu bgt krn banyak aktris dr stand-up comedy. Mereka ngomong aja udh lucuuu bahkan di luar skrip awal loh katanya. Improve-nya keren2.

    BalasHapus
  15. Cerita film banyak di adaptasi dari dunia nyata ya banyak yang ngalamin kerjaaan yang gak nyaman tapi harys tetap dilakukan demi bertahan hidup

    BalasHapus
  16. Aku taunya film ART ini pas nonton podcast yang guest starnya Ummi Quari.
    Kek lucuu bangeett Ummi kalo dipasangin sama Kenzy yaak… jadi keterussaan..
    Cuma belum nonton…hehehe.. diangkag dari novelnya Almira, manteb siiyh kata aku maah… dan salut, ka Antung bisa tau detil perubahannya antara versi novel dan film. Kereenn~

    BalasHapus
  17. Saya belum sempat nonton filmnya..kalau baca bukunya sih seruuu bangeet. Gak tau deh film nya. Membaca reviewe mbak Antung jadi penasaran pengen nonton

    BalasHapus
  18. Film "Agensi Rumah Tangga" ini bener bener disajikan dengan sangat apik, hangat, dan sarat akan sudut pandang personal. Di saat Katya dengan keren nekat ngejual mobil dan menjaminkan rumahnya demi bikin usaha mandiri, pikiran saya malah terlempar ke pengalaman konyol sendiri pas nyoba sok-sokan nekat bikin usaha mandiri waktu nganggur dulu. Hahahaa ini film emang agak ada relate relatenya sih!

    BalasHapus
  19. Isu seputar dinamika rumah tangga dan urusan agensi/asisten rumah tangga memang selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari, Saya juga pernah beberapa kali menggunakan jasa agensi rumah tangga. Jadi tertarik juga untuk menonton film ini,

    BalasHapus
  20. Judul Agensi Rumah Tangga saja sudah bikin penasaran. Menarik membaca bagaimana film ini mengangkat pekerjaan rumah tangga yang selama ini dekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi jarang dijadikan tema utama. Apalagi kalau dikemas dengan konflik dan cerita yang relatable, pasti ada saja bagian yang bikin kita ikut mikir.

    BalasHapus
  21. Udah punya bukunya tapi belum sempat-sempat baca. Niatnya mau baca sebelum nonton tapi kok ternyata pas agenda bulan ini padat banget huhuhu, semoga sempat nonton sebelum turun layar. Soalnya aku sama anakku suka banget Home Sweet Loan versi buku maupun filmnya, rasanya sih cukup jadi jaminan mutu ya.

    BalasHapus
  22. Kayaknya memang next bakal diadaptasi ke series juga sih, biar eksplorasi masing-masing karakter ART-nya lebih dalam. Bisa lah konsepnya satu episode satu ART. Yang versi film ini, menurut saya memang masalah yang hadir terlalu numpuk, dan akhirnya kebanyakan peran di sini, kayak numpang lewat atau sekadar komedi saja.

    BalasHapus
  23. Kemarin udah liat trailernya dan emang seseru itu bikin penasaran pengen liat filmnya langsung di bioskop dan liat aktingnya para pemain yang menggelitik

    BalasHapus
  24. Ya betul. Film agensi rumah tangga ini di adaptasi dengan baik oleh starvision. Kebetulan aku datang ke bener screening nya di Jakarta. So far aku suka juga sama keseluruhan ceritanya yang berbobot tapi dikemas dengan ringan. Takjub sama penulis skenario film dan sutradara nya juga. Dan keren ya mbak Almira Bastari ini bukunya banyak yang diangkat jadi film.

    BalasHapus
  25. Fenomena umum yaa ternyata keinginan orang tua agar anaknya pada tes CPNS dan kelak bisa jadi PNS nan sukses. Hihihi. Saya bersaudara pun merasakan hal yang sama, oleh ibu diminta terus daftar tes CPNS, mungkin karena menurut beliau pekerjaan ini yang terjamin gajinya dan tunjangan hari tuanya.

    BalasHapus
  26. Aku baru lihat previewnya aja udah ngakak abis liat karakter di film ini. Tapi jujur yah, ini memang potret kondisi masyarakat di sebagian Jawa Barat yang notabene para perempuannya lebih memilih menjadi ART baik di perkotaan maupun luar negeri

    BalasHapus