Alasan Memberi Tugas Rumah pada Anak
Kalau dipikir-pikir, pekerjaan rumah yang saya kenalkan kepada anak-anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dulu saya lakukan ketika masih kecil.
Sebagai generasi milenial, saya masih sempat merasakan masa ketika banyak pekerjaan rumah dilakukan secara manual. Mencuci pakaian dengan tangan, menyapu dan mengepel tanpa bantuan alat elektronik canggih, sampai berbagai pekerjaan kecil di rumah yang mau tidak mau harus dikerjakan sendiri.
Sekarang tentu zamannya sudah berbeda.
Anak-anak generasi Alpha tumbuh dengan berbagai kemudahan teknologi. Mau mencuci pakaian sudah ada mesin cuci, bahkan kalau sedang tidak sempat bisa menggunakan jasa laundry. Memasak juga sekarang tak perlu lagi menggunakan kompor karena sudah ada rice cooker. Membersihkan lantai juga semakin mudah dengan berbagai alat penyedot debu dan perangkat rumah tangga lainnya. Belum lagi kalau di rumah ada asisten rumah tangga yang membantu mengerjakan berbagai pekerjaan.
Kemudahan-kemudahan tersebut tentu bukan sesuatu yang harus kita hindari. Saya sendiri juga merasa sangat terbantu dengan adanya berbagai teknologi yang membuat pekerjaan rumah menjadi lebih ringan mengingat saya adalah seorang ibu bekerja tanpa ART.
Namun, saya juga berpikir, jangan sampai karena semua pekerjaan sudah dimudahkan, anak justru tidak pernah belajar mengurus dirinya sendiri. Saya tidak berharap Yumna harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Saya juga tidak ingin pekerjaan rumah dianggap sebagai tanggung jawab anak karena mereka tinggal bersama orang tua.
Saya hanya ingin ia terbiasa melakukan hal-hal sederhana yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Ketika selesai makan, misalnya, setidaknya piring bekas makan bisa dibawa ke tempat cucian. Ketika menggunakan handuk, ya dikembalikan ke tempatnya. Setelah bermain, mainan dirapikan kembali. Hal-hal sederhana seperti itu menurut saya bukan sekadar pekerjaan rumah, tetapi juga bagian dari proses belajar bertanggung jawab, terutama terhadap barang dan kebutuhan dirinya sendiri.
Nah, setelah mengenal istilah parentification, saya juga menyadari bahwa mengajarkan tanggung jawab kepada anak tetap membutuhkan batas.
Anak boleh belajar membantu orang tua, tetapi bukan berarti mereka harus mengambil alih tanggung jawab orang dewasa. Anak juga boleh membantu mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi bukan berarti seluruh urusan rumah tangga menjadi beban mereka.
Dari sinilah saya mulai belajar bahwa ada perbedaan antara mengajarkan anak mandiri dengan menjadikan anak sebagai penanggung jawab.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memberikan Tugas Rumah ke Anak
1. Sesuaikan tugas dengan usia dan kemampuan anak
Tugasnya pun tidak perlu langsung yang berat. Anak yang masih kecil bisa mulai dari merapikan mainan atau membawa piring bekas makan ke dapur, sementara anak yang lebih besar mungkin sudah bisa belajar mencuci piring, merapikan kamar, atau membantu pekerjaan rumah lainnya.
2. Jadikan tugas rumah sebagai proses belajar, bukan kewajiban orang dewasa
Menurut saya, ada perbedaan antara meminta anak membantu pekerjaan rumah dengan menjadikan anak sebagai penanggung jawab pekerjaan rumah. Ketika anak diminta mencuci piring bekas makannya sendiri, misalnya, yang ingin diajarkan adalah tanggung jawab setelah menggunakan sesuatu, bukan menjadikan mencuci piring sebagai tugasnya.
Dengan begitu, pekerjaan rumah bisa menjadi sarana bagi anak untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab. Anak boleh membantu, tetapi bukan berarti mereka harus mengambil alih pekerjaan yang sebenarnya menjadi tanggung jawab orang tua.
3. Berikan apresiasi, bukan tekanan
Saya juga belajar bahwa mengajarkan tanggung jawab tidak harus selalu dilakukan dengan teguran. Anak mungkin membutuhkan banyak pengingat sebelum sebuah pekerjaan menjadi kebiasaan. Seperti Yumna yang sampai sekarang masih harus saya ingatkan untuk meletakkan handuk pada tempatnya.
Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, apresiasi sederhana menurut saya jauh lebih baik daripada terus memberikan tekanan. Tidak harus berupa hadiah, ucapan seperti “Terima kasih sudah dibereskan” atau “Wah, sekarang sudah ingat sendiri” pun bisa membuat anak merasa usahanya dihargai.
4. Orang tua tetap menjadi penanggung jawab utama pekerjaan rumah
Anak boleh membantu pekerjaan rumah dan belajar mandiri, tetapi bukan berarti seluruh pekerjaan rumah kemudian menjadi tanggung jawab mereka. Rumah memang tempat yang ditinggali bersama, sehingga anak bisa dilibatkan dalam pekerjaan sesuai usia dan kemampuannya.
Namun, orang tua tetap menjadi penanggung jawab utama. Saya sendiri masih belajar membedakan mana tanggung jawab yang memang perlu dikenalkan kepada anak dan mana yang seharusnya tetap menjadi bagian saya sebagai orang tua.
Perlukah Menghukum Anak yang Tidak Mengerjakan Tugas Rumah?
Penutup
Pada akhirnya, mengajarkan anak bertanggung jawab ternyata tidak sesederhana meminta mereka melakukan pekerjaan rumah lalu berharap mereka akan langsung terbiasa. Hingga kini, saya masih perlu banyak belajar untuk bisa mengingatkan anak tanpa terlalu banyak mengomel dan belajar memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu sendiri.
Mungkin sampai Yumna berusia sepuluh tahun atau sebelas tahun pun saya masih akan menemukan handuk yang tergeletak sembarangan atau piring bekas makan yang belum dibawa ke dapur. Bisa jadi beberapa tahun lagi saya juga masih harus mengingatkan hal yang sama kepada adiknya nanti.
Tetapi sekarang saya mencoba melihatnya sebagai bagian dari proses panjang dalam melatih kemandirian anak yang hasilnya akan terlihat saat mereka dewasa nanti. Lebih dari itu, saya juga perlu terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak membebani anak dengan tanggung jawab di luar kapasitas mereka.
Berangkat dari istilah parentification yang saya ketahui baru-baru ini, saya sadar kalau menjadi orang tua bukan hanya tentang mengajarkan anak untuk mandiri, tetapi juga belajar mengenali batas. Ada hal-hal yang memang perlu mereka lakukan karena itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga. Namun, ada pula beban yang seharusnya tetap berada di pundak orang tua.
Demikian sedikit sharing saya tentang cara mengajarkan anak tugas rumah. Buat teman-teman yang tertarik dengan tulisan seputar dunia parenting, bisa juga mampir ke blog Mbak Alienda Sophia yang juga kerap membagikan kisahnya seputar lifestyle ibu dan hal-hal terkait lainnya.
.jpg)

2 Komentar
Aku sejak kecil pun sudah diberi tugas sama ibu. Sesederhana merapikan tempat tidur sendiri, cuci piring dan siram tanaman. Walau dulu didikan ibuku agak VOC sih ya haha soalnya kalo aku males ngerjain suka dihukum minimal diomelin :)
BalasHapusTapi sekarang ilmu parenting kayak yang mbak Yana tuliskan ini semakin marak. Dan pemahaman orang tua bahwa ini proses belajar bukan kewajiban anak pun semakin baik. Ibaratnya, anak cuci piring tapi masih berminyak ya sudah gakpapa nanti ortu akan membersihkan ulang yang penting anak mau lakukan dulu. Beda kalau zaman dulu, nyuci piring gak bersih alamat kena omel 4 SKS hahaha
Wkwkwk iya banget bahkan bisa kena cubit kalau jaman dulu itu
Hapus