Terlalu Banyak Memberi Tugas Rumah pada Anak? Waspadai Parentification



Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah utas di aplikasi thread. Dalam utas ini seorang ibu memperlihatkan video anaknya ketika masih bayi dan video ketika anak tersebut ketika berusia 10 tahun. Yang menarik perhatian adalah selain fisiknya yang berubah, anak gadis tersebut kini sudah terbiasa membantu mengerjakan pekerjaan rumah sekaligus sesekali membantu sang ibu mengurus adiknya.

Sebagai seorang ibu saya tentu kagum dengan anak ini karena terlihat sudah cukup terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Anehnya, di beberapa kolom komentar saya malah menemukan komentar negatif terkait anak yang katanya diposisikan sebagai orang tua dan terlalu membebani anak. Bahkan ada juga yang mengaitkan foto dan video ini dengan trauma masa kecilnya. 

Rasa penasaran membuat saya kembali membaca berbagai komentar hingga akhirnya menemukan satu istilah yang sebelumnya belum pernah saya dengar, yaitu parentification. Istilah ini terdengar asing bagi saya. Karena itulah saya mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan parentification dan mengapa banyak orang mengaitkannya dengan trauma masa kecil.

Apa Itu Parentification? 

Sebagai orang tua, kita pastinya ingin membekali anak dengan berbagai kemampuan termasuk kemampuan dasar seperti melakukan pekerjaan rumah. Karena itu, banyak orang tua mulai mengenalkan tugas-tugas sederhana sejak anak masih kecil, seperti merapikan mainan, membereskan tempat tidur, atau mencuci piring setelah makan. Hal ini dilakukan dengan harapan anak-anak bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. 

Namun terkadang niat baik orang tua tidak selalu baik untuk anak. Alih-alih mengenalkan anak pada kemampuan dasar, orang tua malah membebani anak yang seharusnya dunianya lebih banyak bermain dan belajar. Tanggung jawab yang diberikan bisa jadi berlebihan dalam porsi maupun waktunya. 

Contohnya anak harus mengurus adik setiap hari, mengerjakan pekerjaan rumah tanpa henti dan bahkan mungkin juga ikut memikirkan masalah keluarga. Dari sinilah istilah parentification kerap muncul. 

Parentification sendiri merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Ivan Boszormenyi-Nagy, seorang psikiater dan pelopor terapi keluarga (family therapy). Ia mulai mengembangkan konsep ini pada tahun 1960-an dan kemudian menjelaskannya lebih lengkap dalam buku Invisible Loyalties yang ditulis bersama Geraldine M. Spark pada tahun 1973. 

Menurut Boszormenyi-Nagy, parentification adalah kondisi ketika terjadi pembalikan peran dalam keluarga, sehingga anak mengambil fungsi yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua. Ia mendefinisikannya sebagai situasi ketika seorang anak menjadi “orang tua” bagi orang tuanya, baik secara emosional maupun praktis.

Jenis-jenis Parentification 

Secara umum, para ahli membagi parentification menjadi dua bentuk utama.

1. Instrumental parentification

Pada kasus ini, anak mengambil tugas yang biasanya dilakukan orang dewasa yang kebanyakan bersifat fisik, misalnya:

  • Mengurus adik setiap hari
  • Masak dan bersih-bersih berlebihan,
  • Ikut memikirkan tagihan,
  • Jadi “asisten orang tua” dalam pekerjaan rumah tangga secara terus-menerus. 

2. Emotional parentification

Dalam bentuk ini, anak dijadikan tempat curhat, penengah konflik, atau penopang emosi orang tua.

Contohnya:

  • Menjadi tempat curhat orang tua mengenai masalah rumah tangga.
  • Merasa harus menjaga suasana hati orang tua.
  • Berperan sebagai penengah konflik keluarga.
  • Merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Bentuk ini sering kali lebih sulit dikenali karena tidak tampak secara fisik, tetapi dapat memberikan dampak emosional yang bertahan hingga dewas

Tanda-Tanda Parentification pada Anak



Beberapa tanda yang bisa dilihat dari anak yang mengalami parentification diantaranya:

1. Melakukan Pekerjaan Rumah di Luar Tanggung Jawabnya

Pada usia tertentu, anak-anak memang disarankan untuk diajarkan untuk melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, merapikan kamar dan beberapa pekerjaan domestik yang disesuaikan dengan usia mereka. Namun bagi anak yang mengalami parentification, pekerjaan rumah yang dilakukan bisa jadi lebih berat bahkan mengorbankan waktu bermain dan istirahatnya. 

2. Menjadi Tempat Curhat Orang Tua

Biasanya orang tua yang menjadi tempat curhat anaknya. Namun, untuk anak yang mengalami parentification, mereka malah menjadi tempat curhat orang tua dan harus mendengar masalah yang hanya dialami orang dewasa. Bahkan ada juga anak yang merasa bertanggung jawab dan turut memberikan solusi atas masalah yang dialami orang tuanya. 

3. Terlalu Cepat Dewasa untuk Usianya

Anak yang mengalami parentification sering terlihat lebih dewasa dibanding teman sebayanya. Mereka jarang mengeluh, terbiasa mengalah, dan sering disebut sebagai anak yang "paling pengertian". Meski tampak sebagai sifat yang positif, sikap tersebut terkadang muncul karena mereka merasa harus memikul tanggung jawab yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.

4. Sulit Memikirkan Kebutuhan Sendiri

Anak lebih terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain daripada dirinya sendiri. Mereka juga sering merasa bersalah ketika ingin beristirahat atau menikmati waktu bermain.

5. Takut Mengecewakan Orang Lain

Mereka cenderung menjadi people pleaser, sulit mengatakan "tidak", dan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain

Apakah Menyuruh Anak Membantu Pekerjaan Rumah Termasuk Parentification?

Inilah bagian yang menurut saya paling penting untuk dipahami. Banyak orang tua khawatir memberikan tugas rumah kepada anak karena takut dianggap melakukan parentification. Padahal keduanya adalah hal yang berbeda.

Membantu pekerjaan rumah tidak otomatis berarti anak mengalami parentification. Justru melibatkan anak dalam pekerjaan rumah sesuai usianya dapat menjadi cara untuk mengajarkan kemandirian, tanggung jawab, dan kerja sama.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah tanggung jawab tersebut masih sesuai dengan usia anak atau justru membuatnya mengambil alih peran orang tua.

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tanggung jawab sehatParentification
Anak bantu sesuai usiaBeban seperti orang dewasa
Anak masih bisa bermainAnak kehilangan masa kecil
Orang tua tetap penanggung jawab utamaAnak jadi penopang keluarga
Anak boleh punya emosi sendiriAnak harus mengalah terus
Membentuk kemandirianMembentuk tekanan emosional

Dampak Parentification pada Anak

Setiap hal yang berlebihan pastinya akan memberikan dampak yang negatif. Begitu juga dengan parentification pada anak. Anak-anak yang menerima tanggung jawab berlebihan di masa kecil ini bisa jadi menyimpan trauma dalam hatinya yang masih mengendap hingga dewasa. 

Selain rasa trauma, parentification juga memberikan dampak yang lain diantaranya:

1. Sulit Mengungkapkan Kebutuhan Sendiri

Anak yang terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain sering kali tumbuh menjadi pribadi yang merasa tidak enak jika meminta bantuan. Mereka lebih memilih memendam kelelahan daripada dianggap merepotkan.

2. Menjadi People Pleaser

Karena sejak kecil terbiasa menjaga perasaan orang lain, mereka cenderung sulit mengatakan "tidak". Mereka merasa bertanggung jawab membuat semua orang bahagia, meskipun harus mengorbankan kebutuhan diri sendiri. 

3. Rentan Mengalami Kecemasan dan Stres

Memikul tanggung jawab yang belum sesuai usia dapat membuat anak hidup dalam tekanan. Tidak sedikit penelitian yang mengaitkan parentification dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, hingga kelelahan emosional ketika anak beranjak dewasa. 

4. Sulit Menjalin Hubungan yang Sehat

Sebagian anak yang mengalami parentification tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu mengambil peran sebagai "penolong" dalam hubungan. Mereka terbiasa mengurus orang lain, tetapi kesulitan menerima perhatian atau bantuan dari orang lain. 

5. Kehilangan Kesempatan Menikmati Masa Kanak-Kanak

Dampak yang paling nyata adalah anak kehilangan ruang untuk bermain, mencoba hal baru, dan menikmati masa kecilnya. Waktu yang seharusnya diisi dengan belajar dan berkembang justru habis untuk memikirkan tanggung jawab orang dewasa.

Penutup

Setelah membaca lebih banyak tentang parentification, saya jadi menyadari bahwa ada banyak hal yang ternyata tidak saya ketahui terkait dunia parenting. Hal yang menurut saya wajar yakni memberikan tugas atau pekerjaan rumah pada anak, ternyata bisa jadi hal yang melahirkan trauma untuk anak-anak. 

Meski demikian, saya juga tetap berpegang teguh pada prinsip anak harus diberikan tanggung jawab sejak kecil. Anak tetap perlu belajar merapikan tempat tidur, mencuci piring sendiri, atau membantu pekerjaan rumah sesuai usianya. Justru melalui aktivitas sederhana seperti itulah mereka belajar mandiri, bekerja sama, dan menghargai setiap anggota keluarga. 

Yang perlu dihindari adalah ketika tanggung jawab tersebut berubah menjadi beban yang membuat anak kehilangan kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanaknya atau mengambil alih peran yang seharusnya dijalankan oleh orang tua.

Pada akhirnya, tidak semua anak yang membantu orang tua mengalami parentification. Perbedaannya terletak pada porsi, tujuan, dan batas tanggung jawab yang diberikan. Selama orang tua tetap menjadi penanggung jawab utama dalam keluarga dan tugas yang diberikan sesuai dengan usia serta kemampuan anak, melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah justru dapat menjadi bekal keterampilan hidup yang berharga. 


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar