Ketika Anak Tidak Berprestasi Seperti yang Diharapkan, Apa yang Harus Ibu Lakukan?

 
Ketika Anak Tidak Berprestasi Seperti yang Diharapkan, Apa yang Harus Ibu Lakukan?

 
"Buibu, bagaimana caranya bisa legowo kalau anak kita tidak pintar? Soalnya baru day 1 anakku sudah menunjukkan hal itu, tidak menunjukkan tanda-tanda jadi juara kelas." Begitu bunyi utas threads yang muncul di beranda saya pagi itu. 
 
Karena kesibukan kerja, saya hanya membaca sekilas utas tersebut dan tidak membaca tanggapan para pembaca. Belakangan saya tahu kalau utas ibu itu cukup viral dan mendapat komentar negatif dari ibu-ibu yang lain. Yah, saya bisa mengerti sih kenapa ibu-ibu lain memberikan reaksi negatif dengan utas tersebut mengingat ibu ini sudah melabeli anaknya tidak pintar di hari pertamanya sekolah. 
 
Saya sendiri sebenarnya cukup mengerti dengan perasaan ibu pembuat utas tersebut. Sebagai seorang ibu, mungkin kita berharap anak kita menjadi yang terpintar di kelasnya. Bisa jadi selama di rumah, anak memang menunjukkan kemampuan yang membuat kita merasa ia lebih pintar dibandingkan anak-anak seusianya. Sayangnya begitu memasuki jenjang yang lebih tinggi, kenyataan menghantam kita ketika melihat ada banyak anak lain yang ternyata memiliki kemampuan yang tidak kalah, bahkan mungkin lebih menonjol. 
 
Meski demikian, tentunya bukan hal yang bijak untuk menyebut anak tidak pintar hanya dari hari pertama sekolah. Bagi anak, sekolah merupakan sebuah lingkungan baru. Tidak semua anak bisa beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan baru dan menunjukkan bakat yang dimilikinya. Sebagai orang tua, mungkin kita perlu memberi anak waktu untuk beradaptasi sebelum menyimpulkan kemampuan mereka.
 

Ketika Anakku Ternyata Biasa Saja

Saat putri sulung saya Yumna masuk SD, saya sempat membayangkan kalau dirinya akan bisa menjadi salah satu murid berprestasi di kelasnya. Di mata saya, Yumna termasuk anak yang cukup pintar. Apalagi sebagai ibunya, saya sudah langganan masuk tiga besar saat seusianya dulu. Jadi secara tidak sadar saya juga mengharapkan prestasi yang sama pada anak saya. 

Sayangnya hingga dirinya berada di kelas empat seperti sekarang, saya sementara harus mengubur harapan melihat anak saya berprestasi di kelasnya. Nilai rapor Yumna masih belum cukup untuk menempatkannya di peringkat lima besar kelas. Piala pun hanya beberapa karena Yumna tak mengikuti banyak lomba. 

Hobi menggambar yang disukainya saat masih TK juga tidak mengalami peningkatan berarti. Padahal di mata saya Yumna memiliki ketertarikan pada menggambar yang masih bisa dikembangkan. Saya sempat membayangkan, siapa tahu suatu hari nanti ia bisa serius menekuninya dan menjadikannya sebagai salah satu kemampuan yang ia miliki. Siapa tahu kan anak saya bisa seperti Blogger Lolita, Mbak Tanti Amelia yang kerap membagikan ilmu soal Ilustrasi Canva bagi pemula. 

Saya juga kerap mendorong Yumna untuk belajar menulis cerita-cerita seperti yang saya lakukan di blog seperti sekarang. Beberapa kali ia tampak tertarik namun sayangnya Yumna juga masih belum terlalu konsisten dengan kegiatan menulis cerita ini. Ini membuat saya kadang merasa apakah saya terlalu memaksakan anak saya untuk bisa menyukai hal yang saya sukai? 

Setelah saya amati, ternyata putri saya ini memiliki karakter yang tak jauh berbeda dengan saya. Ia cenderung tenang dan tidak terlalu suka berkompetisi. Bagi Yumna, mendapatkan nilai yang cukup baik sepertinya sudah membuatnya merasa puas. 

Kalau sudah begini apa yang harus ibu lakukan? 

Ketika Saya Mulai Membandingkan Anak Sendiri dengan Anak Lain

Sebagai ibu, jujur kadang saya sedikit merasa iri saat melihat ibu lain entah itu yang saya kenal atau di media sosial yang memposting prestasi anaknya. Ada yang juara tilawah, juara menggambar, juara matematika, juara bercerita, dan berbagai prestasi lainnya. 
 
Ada juga yang secara rutin membagikan kegiatan anaknya yang sangat aktif mulai dari les hingga kegiatan olahraga yang kadang membuat saya berpikir, "Wah pasti mereka benar-benar mengalokasikan waktu dan biaya untuk menggali minat dan bakat anaknya tersebut." Sementara untuk saya sendiri, sementara ini hanya bisa memfasilitasi Yumna dengan kursus mengaji dan les Bahasa Inggris untuk menunjang pelajarannya di sekolah. 

Saya sendiri sempat bertanya kepada seorang teman kuliah yang cukup sering membagikan prestasi anak-anaknya di sosial media. Jawabannya sebenarnya cukup sederhanya. "Ikutkan anak di berbagai kegiatan sampai menemukan yang mana yang paling cocok," begitu katanya. Sebuah jawaban yang sangat masuk akal dan realistis. 
 
Sayangnya bagi saya ada beberapa tantangan yang harus saya hadapi ketika memutuskan memberi anak berbagai kegiatan untuk menggali minat dan bakatnya. Sebagai ibu bekerja, saya harus memikirkan waktu, biaya, tenaga, dan berbagai urusan keluarga lainnya sebelum memutuskan mendaftarkan anak ke les tertentu. 
 
Saya juga tetap harus memikirkan kondisi fisik anak apakah ia memang cukup kuat untuk mengikuti banyak kegiatan atau malah terbebani dan merasa lelah dengan padatnya jadwal yang harus dilalui setiap hari. Ada momen di mana Yumna mengeluh saat mengikuti sebuah kegiatan. 
 
Dari situ saya kembali berpikir bahwa mengikuti berbagai kegiatan seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk mencoba dan menemukan hal yang disukai, bukan justru membuat mereka kehilangan waktu untuk beristirahat dan bermain.

Anak Berprestasi, Apakah Sebuah Kewajiban? 

Jika dilihat dari sisi akademik, anak yang memiliki segudang prestasi memang bisa mendapat keuntungan tertentu dalam perjalanan pendidikannya. Salah satunya adalah prestasi tersebut, baik di bidang akademik ataupun non-akademik bisa membantu anak kita menembus sekolah-sekolah favorit atau jurusan tertentu.
 
Orang tua sendiri pastinya juga merasa bangga jika memiliki anak yang berprestasi. Deretan piala di rumah memang bisa membuat orang tua merasa bangga dan menjadi bukti bahwa anak telah berusaha mencapai sesuatu.
 
Meski demikian, bukan berarti anak yang tidak berprestasi tidak memiliki peluang untuk sukses. Setiap anak pastinya memiliki bakat dan minat yang berbeda. Hanya saja, tidak semuanya terlihat dalam bentuk nilai rapor, piala, atau sertifikat penghargaan.

Ada anak yang memiliki kemampuan akademik sangat baik. Ada yang menonjol dalam bidang olahraga atau seni. Ada pula yang mungkin memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, atau keterampilan lain yang belum tentu bisa terlihat dari prestasi di sekolah.

Bagi saya sendiri, daripada mengejar prestasi, lebih baik saya fokus untuk membantu menumbuhkan minat belajar dan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. Mungkin dari segi fasilitas masih jauh dari sempurna, namun saya ingin anak-anak saya tahu kalau orang tuanya akan berusaha sebisa mungkin agar anak memiliki kemampuan menghadapi dunia luar nantinya. 

Hal lain yang lebih penting, saya sedang berusaha untuk tidak membandingkan prestasi anak-anak saya dengan anak lain sebayanya. Memiliki anak yang berprestasi memang membanggakan namun memiliki anak yang berperilaku baik dan tak gampang menyerah juga adalah nikmat yang patut disyukuri. Dan seperti sebuah dialog film Aku Sebelum Aku yang baru saja saya tonton, saya ingin bisa mencintai mereka apa adanya bukan karena prestasinya. 

Penutup

Rasa iri ketika melihat prestasi anak-anak lain jika dibandingkan dengan anak sendiri mungkin merupakan hal yang wajar dirasakan orang tua. Saya sendiri masih mengalaminya. Namun, saya berusaha untuk tidak menjadikan rasa iri tersebut sebagai alasan untuk memberikan tekanan kepada anak agar ikut berprestasi.

Bagi saya, yang terpenting saat ini adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal berbagai hal, menemukan apa yang mereka sukai, dan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki sesuai dengan minat dan keinginannya.

Saya mungkin masih akan merasa gemas ketika melihat Yumna belum berusaha maksimal atau belum memiliki prestasi seperti anak-anak lain. Namun, saya juga ingin belajar menerima bahwa setiap anak memiliki waktunya masing-masing.

Pada akhirnya, saya tidak ingin anak-anak tumbuh dengan perasaan bahwa mereka harus berprestasi agar bisa membuat orang tuanya bangga. Saya ingin mereka tahu bahwa menjadi anak yang baik, mau belajar, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha juga merupakan sebuah pencapaian yang layak dihargai. 

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar