"Siapa yang mau ikut ke minimarket A?" tanya saya siang itu pada kedua anak saya.
Tentunya tanpa perlu ditanya dua kali, kedua anak saya langsung berebut untuk mengacungkan tangannya. Bagi mereka, bisa ikut ibunya berbelanja merupakan kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Selain bisa jalan-jalan sebentar, biasanya mereka juga berharap mendapat kesempatan memilih camilan favorit.
Padahal belakangan ini saya sebenarnya sedang berusaha mengurangi frekuensi berbelanja ke minimarket, terutama bersama anak-anak. Hal ini karena kadang kalau belanja bersama anak, maka uang yang harus dikeluarkan akan lebih besar dari yang seharusnya mengingat adanya tambahan cemilan dan lain sebagainya.
"Tapi ingat ya kalian kalau mau belanja cemilan masing-masing cuma boleh dua puluh ribu," kata saya sebelum menyalakan motor.
"Siap," kata kedua anak saya dengan kompak. Dan kami pun melaju menuju minimarket yang menjadi pilihan untuk berbelanja beberapa kebutuhan rumah yang sudah menipis.
Urusan Belanja Bulanan yang Tak Bisa Diabaikan
Sebagai seorang ibu, urusan belanja kebutuhan rumah tangga pastinya merupakan hal yang krusial dalam pengaturan keuangan. Kebutuhan rumah tangga ini merupakan jenis pengeluaran yang pasti setiap bulannya sehingga memiliki anggaran tersendiri. Untuk saya sendiri, berdasarkan
catatan pengeluaran harian, saya mengetahui kalau pengeluaran untuk belanja kebutuhan rumah tangga di keluarga kami adalah sekitar 20% dari total pengeluaran keseluruhan.
Dalam kegiatan belanja kebutuhan rumah tangga ini sendiri, setiap keluarga juga memiliki kebiasaannya masing-masing. Ada yang memilih belanja bulanan ada juga yang memilih belanja mingguan, bahkan mungkin belanja saat barang di rumah sudah habis alias saat memang diperlukan. Setiap metode belanja pastinya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi setiap keluarga.
Menariknya, tidak ada satu metode yang benar untuk semua keluarga. Ada yang merasa lebih tenang jika semua kebutuhan sudah tersedia sejak awal bulan. Namun ada juga yang justru lebih nyaman membeli sedikit demi sedikit agar pengeluaran terasa lebih terkendali.
Ketika Urusan Belanja Menjadi Konten
Di era digital seperti sekarang, perkara belanja kebutuhan rumah tangga ternyata juga bisa dijadikan konten yang bisa menghasilkan cuan. Satu waktu saya sempat melihat sebuah konten belanja di salah satu media sosial. Dalam kontennya ini, seorang ibu berbagi terkait belanja bulanan yang baru saja ia selesaikan. Barang yang dibelinya sangat banyak karena akan dijadikan stok selama satu bulan. Entah berapa rupiah yang dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tersebut.
Selain memperlihatkan hasil belanja bulanan ini, ibu itu juga membagikan cara menyusun belanjaan tersebut ke berbagai wadah penyimpanan sehingga terlihat rapi dan estetik. Kadang saya berpikir, "Apakah semua bahan makanan tersebut benar-benar habis digunakan?" Soalnya kalau saya belanja sayur dalam jumlah banyak kadang ujung-ujungnya nggak kemasak dan malah jadi busuk di kulkas.
Di sisi lain, ada juga yang membuat konten yang berbeda namun dengan tema sama. Ibu ini memilih berbelanja harian karena memang uang belanja yang diberikan suaminya bersifat harian. Jadi setiap hari ibu ini ke pasar untuk membeli sayur dan ikan dan memasaknya untuk konsumsi hari itu bersama keluarga.
Ironisnya, kadang konten seperti ini rentan dihujat karena nominal yang ditunjukkan sangat kecil seperti Rp10.000 per hari. Memang, bagi sebagian keluarga, uang belanja Rp10.000 per hari terasa sangat sulit mencukupi kebutuhan, apalagi dengan harga bahan pokok yang terus meningkat. Namun, bisa jadi keluarga tersebut memiliki kondisi yang berbeda, misalnya sebagian bahan makanan sudah tersedia di rumah atau jumlah anggota keluarganya lebih sedikit.
Dari berbagai konten tersebut saya jadi sadar bahwa urusan belanja rumah tangga ternyata juga bisa menjadi bahan perbandingan di media sosial. Ada yang bangga menunjukkan stok dapur yang penuh, ada pula yang membagikan perjuangan memenuhi kebutuhan dengan anggaran terbatas. Menariknya, kedua jenis konten tersebut sama-sama mengundang beragam reaksi dari warganet.
Padahal, kondisi setiap keluarga tentu berbeda. Besarnya penghasilan, jumlah anggota keluarga, lokasi tempat tinggal, hingga kebiasaan memasak akan sangat memengaruhi cara seseorang berbelanja. Karena itu, rasanya kurang bijak jika langsung menilai cara belanja orang lain hanya berdasarkan potongan video berdurasi satu menit.
Belanja Bulanan vs Belanja Harian
Berbelanja kebutuhan rumah tangga memang menjadi rutinitas yang tidak bisa dilepaskan dalam sebuah keluarga. Kebutuhan ini biasanya mencakup kebutuhan dapur hingga kamar mandi. Namun, cara setiap keluarga dalam mengelolanya bisa sangat berbeda.
Bagi sebagian keluarga, belanja bulanan adalah pilihan yang terasa praktis. Dengan sekali belanja dalam jumlah besar, kebutuhan dasar untuk beberapa minggu ke depan sudah terpenuhi. Selain menghemat waktu, belanja bulanan juga sering dianggap lebih hemat karena bisa memanfaatkan promo atau membeli dalam ukuran besar. Bahkan saya pernah melihat seorang konten kreator yang rumahnya sudah seperti warung karena memiliki stok kebutuhan rumah tangga yang sangat banyak.
Di lain pihak, untuk bisa menerapkan belanja bulanan ini kadang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama keluarga ini memiliki penghasilan yang tetap setiap bulan dan memiliki alat transportasi yang memadai sehingga tidak mengalami kesulitan dalam mengangkut belanjaan bulanan. Selain itu belanja bulanan juga lebih cocok untuk produk-produk yang memiliki masa simpan lama seperti deterjen, sabun,beras, minyak goreng, gula, tisu, pasta gigi dan produk-produk lainnya.
Sebaliknya, bagi keluarga yang mungkin penghasilannya tidak menentu dan tidak memiliki sarana transportasi memadai, maka pilihannya adalah belanja mingguan atau bahkan harian. Beberapa keuntungan yang bisa diambil dari berbelanja dengan sistem harian ini adalah barang yang dibeli bisa selalu segar dan menyesuaikan menu dengan penghasilan harian.
Selain itu dengan berbelanja sistem harian atau mingguan pengeluaran tidak terasa terlalu besar karena tidak mengeluarkan uang sekaligus. Uang yang dimiliki bisa dialokasikan untuk keperluan lain yang mungkin datang belakangan.
Saya sendiri adalah tipe yang memilih berbelanja saat produk yang ada di rumah habis. Jadi saya tidak memiliki agenda rutin di awal bulan untuk belanja keperluan rumah tangga. Pokoknya kalau ada minyak atau detergen yang habis di rumah, itu artinya saya harus berbelanja.
Untuk keperluan dapur, saya juga sekarang sudah tidak lagi berbelanja dalam jumlah banyak. Sejak ada penjual ikan dan sayur di dekat rumah, saya lebih memilih untuk mampir dua atau tiga hasi sekali untuk membeli sayur dan ikan yang stoknya sudah habis di kulkas. Selain lebih praktis, ukuran kulkas di rumah juga tidak terlalu besar sehingga saya memang tidak bisa menyimpan terlalu banyak bahan makanan sekaligus dan hanya melakukan food preparation secukupnya.
Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih Pola Belanja
Ada beberapa faktor yang bisa dijadikan pertimbangan apakah sebuah keluarga memilih berbelanja harian, mingguan atau bulanan. Beberapa faktor tersebut diantaranya:
1. Penghasilan Keluarga
Penghasilan keluarga bisa menjadi penentu utama apakah sebuah keluarga berbelanja bulanan atau tidak. Keluarga yang memiliki penghasilan tetap setiap bulannya biasanya lebih mudah menyisihkan dana belanja sekaligus di awal bulan. Sebaliknya keluarga dengan penghasilan harian atau tidak tetap tentunya akan lebih nyaman jika berbelanja sistem bertahap untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada.
2. Kapasitas Penyimpanan
Kapasitas penyimpanan di rumah juga sangat memengaruhi pola belanja sebuah keluarga. Semakin besar ruang penyimpanan, baik kulkas maupun rak dapur, semakin mudah pula menyimpan stok bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga dalam jumlah banyak.
3. Jarak Menuju Tempat Belanja
Jarak menuju tempat belanja atau ketersediaan tempat belanja juga bisa menjadi faktor kebiasaan berbelanja seseorang. Biasanya semakin dekat sebuah rumah dengan minimarket, semakin sering pula seseorang memilih berbelanja dalam jumlah kecil karena kebutuhan bisa dipenuhi kapan saja. Sebaliknya jika jarak antara rumah dengan tempat belanja lumayan jauh, kadang orang akan memilih berbelanja dalam jumlah banyak secara berkala untuk menghemat biaya perjalanan.
4. Kebiasaan Memasak
Faktor berikutnya yang menentukan sebuah keluarga berbelanja bulanan atau harian adalah kebiasaan memasak keluarga tersebut. Ada keluarga yang terbiasa dengan metode food preparation untuk satu minggu dan ada juga yang terbiasa memasak harian.
Keluarga dengan kebiasaan
food preparation untuk satu minggu pastinya akan membeli bahan makanan dalam jumlah banyak untuk diolah sekaligus dan disimpan sebagai stok beberapa hari ke depan. Sementara itu, keluarga yang terbiasa memasak setiap hari biasanya lebih memilih membeli bahan makanan dalam jumlah sedikit agar kondisinya tetap segar saat akan dimasak.
5. Jumlah Anggota Keluarga
Faktor terakhir yang juga menentukan kebiasaan belanja sebuah keluarga adalah jumlah anggota keluarga. Semakin banyak anggota keluarga pastinya juga akan semakin banyak kebutuhan dan frekuensi berbelanja keluarga tersebut. Namun bisa dibilang hal ini bukan faktor mutlak karena kadang keluarga yang belum memiliki anak pun bisa berbelanja dalam jumlah besar untuk keperluan stok di rumah mereka.
Penutup
Meski berencana mengurangi frekuensi berbelanja ke minimarket, sampai sekarang saya masih cukup sering mengajak anak-anak ikut saat persediaan kebutuhan rumah tangga mulai menipis. Bedanya, sekarang mereka sudah memahami bahwa setiap orang memiliki batas anggaran.
Sebelum berangkat, saya selalu mengingatkan bahwa masing-masing hanya boleh membeli camilan senilai Rp20.000 atau memilih satu hingga dua produk saja. Cara sederhana ini sekaligus menjadi kesempatan bagi saya untuk mengajarkan mereka bahwa setiap keputusan belanja perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.
Setelah lebih dari sepuluh tahun menjalani peran sebagai istri dan ibu, saya semakin menyadari bahwa tidak ada pola belanja yang paling benar. Ada keluarga yang merasa lebih nyaman berbelanja bulanan karena lebih praktis dan dapat memanfaatkan berbagai promo. Di sisi lain, ada pula keluarga yang memilih berbelanja harian atau mingguan karena lebih sesuai dengan kondisi keuangan, kapasitas penyimpanan, maupun kebiasaan memasak mereka.
Pada akhirnya, tujuan berbelanja bukanlah memenuhi rak dapur atau mengikuti tren yang ramai di media sosial. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi tanpa membebani kondisi keuangan. Jadi, daripada sibuk membandingkan isi keranjang belanja dengan keluarga lain, saya lebih memilih menemukan pola belanja yang paling sesuai dengan kebutuhan keluarga kami dan pastinya kondisi ekonomi keluarga.
Baca Juga
35 Komentar
belanja bulanan atau belanja harian emang perlu diliat dari banyak banget faktor ya kak.. ada keluarga yang cocok dengan metode belanja bulanan, dan ada juga yang cocok dengan metode belanja harian. betul banget, tinggal sesuaikan sajaa. kalau aku, prefer belanja bulanan, karena sekali keluar aja, dan emang udah ada budgetnya, dan harus cukup untuk sebulan. kalau ga dibatesin, bisa bangkrut pemirsah :v.
BalasHapusGak pernah masak sayuran segar hijau gitu ya Kak?
HapusYang bikin saya harus belanja harian atau minimal seminggu dua atau tiga kali itu ya untuk sayuran hijau. Soalnya kan ga bisa tahan lama
Saya termasuk tipe yang belanja seminggu sekali secara pasar di tempat kami hanya ada buka dua kali dalam seminggu.
BalasHapusKalau belanja harian itu saya lakukan kalau ada pedagang sayur keliling yang mampir ke rumah. Itu pun kalau benar-benar ada yang perlu dibeli.
Jadi intinya kapan saya belanja tergantung situasi dan kondisinya.
Tapi saya juga menerapkan seperti yang Mbak Aya terapkan kepada anak-anaknya. Bahwasanya kalau mau beli, dikasih budget tertentu. Jadi anak gak bisa kalap gitu aja
Cocok enggak nya kapan kita belanja, disesuaikan aja dengan kebutuhan dan kondisinya ya
Perkara belanja bulanan itu memang harus disesuaikan dengan banyak faktor sih ya. Gak cuma perkara pendapatan aja, tapi juga disesuaikan sama kebiasaan, perhitungan dan banyak hal lainnya yang mungkin perlu didiskusikan bersama.
BalasHapusIstriku awalnya demen banget tuh, belanja bulanan. Sekali belanja seabreg-abreg. Tapi sekarang-sekarang, akhirnya aku arahin buat ngurangin yang demikian. Mending belanja tuh seperlunya aja, dan gak satu tempat. Karena kan kadang promo di tiap tempat tuh beda-beda. jadi gak perlu buru-buru, belanja sesuai keperluan aja si bagusnya.
Banyak faktor ya yang mempengaruhi cara orang belanja, bisa harian atau bulanan. Tentunya bisa disesuaikan sama sebab akibatnya juga nantinya, karena baik yang harian maupun bulanan punya keunggulan dan kekurangannya masing-masing
BalasHapusJujur kalau diminta memilih tentu belanja bulanan. Menurutku ini lebih hemat, soalnya banyak kebutuhan rumah tangga yang bisa dibeli dalam ukuran besar sekaligus. Misalnya sabun cuci piring, detergen dll itu beli galonan, ternyata lebih hemat daripada beli botolan kecil2 ataupun sachetan. Trus kalau keluarnya sebulan sekali juga bisa meminimalisir jajan2 di luar, apalagi kalau bocil2 ikut belanja tuh hehe.
BalasHapusKalau soal makanan buat dimasak sehari2 aku mingguan belinya supaya dapat yang fresh.
Eh tapi aku beli gitu bukan karena trend, emang duitnya ngepas aja wkwkwk, jadi kudu pinter2 menghemat pos belanja =))
Namun, aku pun menyadari hal kyk gini sebenarnya privilege juga.
Beginilah yang terjadi di negara kita, orang2 yang misalnya pendapatannya harian, yang mungkin lebih kecil dari kita, belanja harian kadang bukan karena keinginan, tapi ya terpaksa aja. Mereka juga dipaksa membeli lebih mahal dari kita, kek soal beli sachetan atau galonan tadi, yang sachetan ibarat beli dikit2 ya pasti nantinya jadi mengeluarkan uang lebih banyak dari yang beli galonan.
Yah, kuat2lah kita yaa jadi WNI yang diginiin banget sama sistem, semangat.
Setujuuuu mba. Ini semua tergantung dari banyak hal. Jumlah anggota keluarga, pendapatan bulanan, dll.
BalasHapusAku sendiri setelah mencoba beberapa metode, yg akhirnya aku pilih sudah pasti belanja bulanan.
Baik itu keperluan rumah tangga kayak sabun, detergen, skincare, beras dll, juga keperluan pasar kayak bawang, cabe, lauk hewani, dan sayur. Itupun belanja bulanan.
Apalagi aku pakai jastiper yg tugasnya ke pasar beli semua keperluan yg aku tulis. Utk sayuran, aku juga lebih suka memilih yg tahan lama, kayak labu Siam, wortel, terong, itu semua bisa tahan lama simpan kulkas.
Juga selalu ada stok rumput laut kering, yg bisa dijadikan sayur saat mau dimasak. Tinggl rendam air panas.
Tp kalau sayur kayak bayam, toge, biasanya akan dimasak di hari2 awal setelah belanja. Supaya habis dulu.
Cabe , jahe, sereh, dll, itu semua masuk freezer, dan bisa bertahan bahkan LBH dr 6 bulan. Makanya aku selalu beli banyak.
Keperluan rumah tangga kayak detergen, sabun dll apalagi itu, selalu bulanan Krn memang tahan lama. Dan aku tinggal pakai aplikasi kayak happy fresh. Beli online, mereka tinggal antar ke rumah. Lebih hemat, Krn semua sesuai dengan list belanja.
Kalau belanja langsung, udahlah hrs keluar biaya parkir, capek, antri bayar, trus kdg beli barang yg tidak ada di list belanja.
Tapi balik lagi, semua memang tergantung keluarganya. Kalau keluarga kecil, biasanya lebih untung jika beli harian atau mingguan. Apalagi kalau Deket rumah ada yg jualan sayur. Itung2 bantu penjual kecil
Memang nggak ada pola belanja yang paling benar karena kondisi tiap rumah tangga pasti beda-beda.
BalasHapusSaya juga sering relatable sama bagian belanja sayur. Dulu pernah coba belanja bulanan buat bahan makanan, ujung-ujungnya malah banyak yang layu dan busuk di kulkas karena nggak sempat dimasak. Sekarang jadi lebih fleksibel aja, beli pas butuh atau 2-3 hari sekali biar tetep segar.
Suka juga sama cara Mbak Antung ngajarin anak batasan belanja cemilan. Sederhana, tapi efektif banget buat ngelatih mereka paham budget sejak dini!
Iya bener. Soal pola belanja ini tiap keluarga bisa berbeda, dan itu tergantung faktor yang sudah Mbak Antung sebutkan. Kalau saya pribadi, tergantung apa yang akan dibeli. Kalau kayak beras, minyak goreng, deterjen, tisu, dan produk2 yang daya tahannya lama seperti itu, saya akan beli bulanan. Kalau lauk seperti daging, ikan, ayam, itu mingguan. Kalau kayak sayur dan buah, 3 hari sekali. Tapi kalau kayak tempe, pastinya harian ya. Meski begitu, kadang tiba-tiba aja belanja lagi, misal kayak susu, telur, dan kebutuhan2 yang cepet habis. Jadi meski udah teratur beli ini itu harian, mingguan, bulanan, tetep aja ada kejadian belanja lagi hehe.
BalasHapusSelama ini memang sering muncul anggapan kalau belanja bulanan pasti lebih hemat, padahal kenyataannya sangat bergantung pada kebiasaan setiap keluarga. Ada yang justru lebih boros karena tergoda membeli barang di luar daftar, sementara ada juga yang lebih cocok belanja harian supaya bahan makanan selalu segar dan tidak banyak terbuang. Menurutku, yang paling penting bukan memilih sistem bulanan atau harian, tetapi mengenali pola konsumsi sendiri.
BalasHapusKalau aku sendiri lebih suka belanja malah mingguan mbak. Kalau bulanan buat kebutuhan kayak beras, air mineral sama minyak aja. Karena barang kayak beras kan udah ada recordnya. Namun kalau konsumsi yang cepat habis, lebih prefer mingguan, karena bisa sangat fluktuatif. :D
kalau soal belanja bulanan atau harian, menurut saya disesuaikan dengan sikon keluarga itu. Kalau yang penghasilan tetap bulanan, lebih baik sekalian belanja bulanan. Hemat waktu dan tenaga. Tapi kalau kayak saya freelance, memang lebih ringan belanja harian. Belanja sesuai kebutuhan saja.
BalasHapusBener banget Mbak. Belanja bulanan/mingguan/harian, tentu banyak pertimbangannya. Salah satunya pola gajian atau mendapatkan penghasilan. Waktu aku kerja full timer. Aku bisa kasih uang bulanan tetap ke Mama dan Bapak, mereka belanja bulanan bahan pokok, sayur mayur mingguan. Memang lebih terukur dan hemat.
BalasHapusNamun, saat jadi freelance kayak sekarang. Aku pilih kasih uang setiap dapat bayaran dari project. So pasti pola belanja berubah juga. Intinya sesuai kemampuan keuangan, diatur sedemikian rupa yang penting tercukupi. Jadi, tiap keluarga bisa beda pola belanja nya.
Sebagai anak lelaki yg sering nganter ibu ke pasar/belanja, aku paham dgn hal ini. Kadang belanja tuh ga bs sekali doank. Bisa harian, dua harian, mingguan atau bahkan bulanan.
BalasHapusIbuku termasuk yg belanja harian. Kecuali emg lagi ada diskon khusus dan barang tsb bs ditimbun lama. Ga masalah. Yg penting, duit buat belanja selalu ada. Saat ada kebutuhan mendadak, kita bs lgsg belanja ke toko sebelah atau minimarket atau supermarket yg lagi ngadain diskon.
Yg pnting barang fresh, kedaluwarsa masih lama. Jgn lupakan itu ya.
Pola belanja tiap rumah tangga beda beda ya Mba .
BalasHapusMenyesuaikan dengan banyak hal.
Jumlah orangnya berapa.
Budget nya (tentu saja!)
Trus ritme aktivitas Mrnkeu domestik🫣
aku sih kombinasi semuanya ya.
kadang bulanan
kadang mingguan.
kadang harian.
kadang impulsif 🫣🫰
kalau sama istri pasti akan lebih lebih belanja bulanan karena memang digaji bulan dan pastinya belanja di awal bulan karena sedang kencang-kencangnya pemasukan. tapi kalau sudah di akhir bulan, maka siap-siap akan ada pengeluaran super ketat
BalasHapusKlo untuk sembako, biasanya aq belanja bulanan
BalasHapusTapi klo untuk bahan memasak, aq biasanya belanja seminggu sekali mbak
Kalau sya untuk bahan-bahan yang awet biasanya bulanan, tapi untuk bahan segar tentu memilih harian. Apalagi listrik sering byar pet jadi tidak memungkinkan menyimpan bahan segar dalam waktu agak lama. Tapi untuk air (khusu air minum dan masak kamren kami pisah) biasanya saya belanja mingguan. tapi kdang-kadang menyesuaikan budget juga, dipilah lagi mana yang lebih urgent he...he...
BalasHapusSetuju banget, tiap keluarga punya kebiasaan belanja berbeda-beda kalau aku biasanya belanja seperlunya di awal bilang terus kalau ada yang kurang ya beli pas keluar atau pas habis.. jadi nggak stok, beli kalau habis saja..
BalasHapusBetul mbak pola belanja itu nggak bisa disamaratakan. Tergantung kondisi masing-masing keluarga. Buat yang penghasilan bulanan, belanja bulanan atau mingguan lebih praktis, tapi buat orang-orwng yang dapat uang hari ini buat makan besok, tentu nggak bisa begitu.
BalasHapusYang penting bijak mengelola uang aja apapun cara belanjanya.
Nah iya bener, aku sepakat banget. Balik lagi ke kondisi keuangan setiap keluarga dan model penghasilannya. Kalau mama dan Bapak, dengan kondisi aku freelance kayak sekarang, semisal ad project aku kasih uang, bapak akan ke pasar beli kebutuhan yang penting dan di simpan rapi di kulkas. Jadi memang lebih ke kontrol dan ada stok. Pun beras, beliau sekalian beli banyak dan di simpan rapi di tempat beras.
HapusPaling penting bijak kelola uang dan di mahi-mahi keun kalau kata Sunda mah.
Jadi inget kalo kayanya sejak anak-anak gak di rumah, aku jarang belanja.
BalasHapusMau belanja, uda suami yang belanjain.. Alhamdulillah.. jadi istilah belanja bulanan atau harian, jadi gak ada lagi..
Mungkin juga ini bentuk penyesuaian keuangan kami yaa.. karena belanja kami yang tinggal berdua juga dibagi ke belanja keperluan anak di pesantren. Jadi dapurnya banyak nih..
Challengingnya di sini yaa..
Ketika kondisi keuangan yang fluktuatif, harga-harga terus meninggi.
Semoga Allah mampukan kita semua untuk senantiasa bersabar dan bersyukur di tengah kondisi apapun.
Amiin allahumma amiin.
Aku team belanja mingguan kak meski endingnya bisa jadi bulanan saking lamanya nggak masak hihihi tapi kalau sayuran biasa per 2 hari sekali belanja di tukang sayur
BalasHapusDi kondisi ekonomi seperti sekarang ini, belanja rumah tangga yang bulanan atau harian memang perlu banget banyak pertimbangan ya Mba, budget dan urgent kebutuhan kalau buat saya menjadi faktor utama, lainnya menyesuaikan. Btw saya tim belanja mingguan, tapi pertimbangannya tetap sama saja dengan yang bulanan dan harian
BalasHapusBenar juga ya. Kategori belanja harian dan bulanan, kalau tidak dicatat dengan teliti, bisa termasuk jenis pengeluaran keuangan keluarga yang cukup besar.
BalasHapusBahkan jika misal kita di daerah yg sudah ketat dengan penggunaan tas plastik
Setiap kali belanja kecil, dengan tambahan 2 sampain5 ribu hanya utk harga tasnya saja, ternyata ya kalau dikalkulasi, bisa lumayan juga. Ibarat kata, bisa seharga bumbu penyedap yg bisa dipakai untuk memasak selama seminggu. Kan lumayan itu..
Kalau saya gak pernah menyengaja belanja bulanan mbak Antung. Sehabisnya stok di rumah aja, jadi kadang gak belanja dalam satu bulan. List kebutuhan yang penting penting saja seperti sabun, ditergen. Kalau kebutuhan dapur beli di warug depan rumah saja. Yang penting masih masuk dalam budget yang dianggarkan.
BalasHapusKetika anak-anak masih kecil, belanja bulanan di supetmarket jadi satu rutinitas bulanan yang paling ditunggu. Karena sekalian ngajak anak jalan-jalan. Jadwal mereka beli mainan juga sebulan sekali. Jadi sekalian aja sama belanja.
BalasHapusKalau sekarang sesuai kebutuhan dan mood aja. Malah saya lagi sering belanja online saking lagi magernya keluar rumah.
Belanja bulanan adalah aktivitas wajib buat saya, membeli perlengkapan rumah yang pokok supaya kalau pas uang habis kebutuhan rumah sudah ada, jadi tinggal mengatur sisa uang untuk keperluan sehari-hari.
BalasHapusBelanja bulanan adalah aktivitas wajib buat saya, membeli perlengkapan rumah yang pokok-pokok supaya pas tidak ada uang keperluan rumah sudah tercukupi, tinggal mengatur sisa uang yang ada untuk kebutuhan sehari-hari.
BalasHapusNah ini menarik, karena urusan belanja rumah tangga ternyata bisa jadi strategi tersendiri biar pengeluaran nggak bocor ke mana-mana. Aku sendiri merasa belanja bulanan dan harian punya plus-minus masing-masing. Kadang niatnya belanja kebutuhan, eh pulangnya malah bawa “kebutuhan tambahan” yang nggak ada di daftar. Jadi memang harus tahu pola mana yang paling cocok buat kondisi rumah masing-masing.
BalasHapusAku tuh kalau urusan belanja rumah tangga selalu merasa ini perang antara “harus hemat” dan “eh sekalian aja deh beli ini”. Belanja bulanan memang terasa lebih terencana, tapi belanja harian juga kadang lebih aman karena bisa menyesuaikan kebutuhan. Pada akhirnya memang balik lagi ke kebiasaan dan kondisi masing-masing rumah ya. Artikelnya bikin aku ikut evaluasi pola belanja sendiri nih.
BalasHapusWaktu anak masih 2, isteri sering ngajak belanja bulanan. Tapi sejak anak 4, udah gak pernah lagi belanja bulanan. Entahlah, mungkin memang berbeda kebutuhan ya...
BalasHapusSelama ini saya lebih sering belanja harian karena terasa lebih fleksibel dan bisa menyesuaikan kebutuhan. Tapi kalau dihitung-hitung, belanja bulanan ternyata bisa lebih hemat dan bikin pengeluaran lebih terkontrol.
BalasHapusDulu saat anak2 masih kecil2 aku memilih belanja bulanan, karena kebutuhan, jumlah, dan tentu kesediaan uangnya memang bulanan. Selain tentu masalah waktu. Jadi terasa lebih plong aja klo sudah belanja rasanya insyaAllah sebulan ke depan kebutuhan terutama untuk anak-anak bisa aman. Nah hanya belakangan aku malah tidak lagi punya kebiasan rutin belanja bulanan, terlebih anak2 sudah besar dan diberi uang bulanan/mingguan utk kebutuhan mrk, praktis kebutuhan rumah lebih ke logistik dan sekarang lebih santai dan random utk membeli keperluan dapur.
BalasHapusKalau saya benar-benar menyesuaikan kebutuhan saja. Kalau banyak yang perlu dibeli yaa sekaligus saja belanja bulanan. Tapi kalau hanya sedikit yaa seperlunya saja, Tapi memang lebih enak bulanan sih kalau saya jadi gak cape bolak-balik ke warung atau ke pasarnya. sekalian aja gitu
BalasHapusKebiasaan belanja memang gak bisa disamain di setiap rumah tangga ya. Kalau aku biasanya belanja bulanan (beras, minyak, sabun-sabunan) dan belanja mingguan (untuk sayur dan makan harian).
BalasHapusTapi kadang ya gitu suka ada aja bahan kesisa yg akhirnya nggak kemasak. Makanya aku mesti lebih aware lagi nih soal menu makanan yg mau dibikin. Mesti lebih matang lagi meal plannya.. :)