Cara Ibu Mengatasi Mental Load Agar Tidak Berpengaruh pada Kinerja


Cara Ibu Mengatasi Mental Load Agar Tidak Berpengaruh pada Kinerja

Pertengahan tahun 2025 lalu, saya sempat merasa semakin lelah dengan rutinitas sehari-hari. Entah ini pengaruh umur yang sudah kepala empat, atau saya yang mengalami burn out dan kejenuhan dalam bekerja. Yang pasti, hampir setiap hari saya pulang dengan energi yang terkuras habis.

Bahkan, terkadang untuk menyiapkan makan malam saja rasanya sangat berat. Padahal setelah pulang bekerja, saya masih harus menghadapi berbagai pekerjaan domestik di rumah karena hingga saat ini saya tidak memiliki asisten rumah tangga.

Menjadi ibu bekerja memang pilihan saya sejak awal menikah. Bagi saya, sayang rasanya kalau harus melepaskan pekerjaan di era seperti sekarang. Selain itu, usaha yang sedang dirintis suami juga masih dalam tahap berkembang sehingga saya merasa lebih nyaman jika tetap memiliki penghasilan sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa rasa lelah yang saya alami bukan hanya karena pekerjaan kantor atau aktivitas fisik semata. Ada begitu banyak hal yang terus memenuhi pikiran setiap hari, bahkan ketika saya sedang beristirahat.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa kondisi tersebut dikenal dengan istilah mental load.

Berkenalan dengan Mental Load pada Ibu Bekerja

Dari beberapa sumber yang saya baca, mental load adalah beban mental yang muncul akibat banyaknya hal yang harus dipikirkan, direncanakan, diingat, dan dikerjakan setiap hari.

Beban ini sering kali tidak terlihat karena tidak selalu berupa pekerjaan fisik. Namun, energi yang dibutuhkan untuk terus mengingat berbagai tanggung jawab ternyata tidak kalah besar dibandingkan pekerjaan yang tampak secara kasat mata.

Bagi ibu bekerja sendiri, mental load ini bisa seiring dengan urusan rumah tangga mengingat kebanyakan ibu bekerja juga merangkap sebagai manajer rumah tangga. 

Jadi bayangkan saat bekerja di kantor, seorang ibu bekerja dituntut untuk profesional dan di waktu yang sama juga masih tetap memikirkan urusan belanja dapur, tugas sekolah anak, dan hal-hal lainnya pastinya bebannya jadi dua kali lipat. 

Terkait hal ini, sebuah penelitian dari American Psychological Association juga menyebutkan kalau ibu bekerja memiliki risiko burn out 28% lebih tinggi dibandingkan rekan kerja pria karena peran ganda dalam pekerjaan dan rumah tangga.  

Tentunya mental load yang berlebihan pada ibu bekerja ini bukanlah hal yang baik. Layaknya gawai, jika terus-terusan menyimpan memori pastinya akan berpengaruh pada kinerjanya yang semakin lama semakin lelet. Begitu pula pada ibu bekerja, jika mental load terlalu berat, pastinya akan membuat ibu kelelahan dan mempengaruhi produktivitasnya. 

Kenapa Ibu Bisa Mengalami Mental Load Berlebih?


Kenapa Ibu Bisa Mengalami Mental Load Berlebih?

Meski dalam sebuah rumah tangga seorang ibu sudah membagi tugas dengan suaminya, ibu tetap bisa terkena mental load berlebih dikarenakan hal-hal sebagai berikut:

1. Ekspektasi sosial dan budaya

Sejak lama, perempuan identik dengan peran mengurus rumah dan anak. Meskipun saat ini semakin banyak perempuan yang bekerja di luar rumah, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya hilang.

Akibatnya, banyak ibu bekerja yang tetap merasa harus bertanggung jawab terhadap hampir seluruh urusan domestik meskipun mereka juga memiliki pekerjaan penuh waktu.

2. Peran ganda dalam keseharian

Sebagai akibat dari ekspektasi sosial dan budaya ini, seorang ibu bekerja pada akhirnya memiliki peran ganda dalam kesehariannya. Di kantor ibu bekerja dengan rangkaian data dan pelanggan sementara di rumah ibu mengurus pekerjaan domestik. Ini membuat pikiran ibu pun terbagi antara pekerjaan di rumah dan kantor setiap harinya.

3. Pembagian kerja yang tidak seimbang

Idealnya, saat seorang ibu memilih bekerja di luar rumah, ia seharusnya mendapat bantuan dari pasangan entah itu dalam hal berbagi tugas atau malah bantuan dari pihak luar. Namun kenyataannya meski sudah melakukan pembagian tugas, ibu tetap kebagian tugas lebih banyak ketimbang ayah.

Sebuah riset dari University of Bath menemukan bahwa ibu melakukan 79% pekerjaan rumah sementara ayah hanya 37%. Sungguh perbedaan yang sangat signifikan, bukan? 

Tanda-tanda Ibu Mengalami Mental Load Berlebih

Karena mental load tidak selalu terlihat secara fisik, banyak ibu yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalaminya. Beberapa tanda berikut dapat menjadi sinyal bahwa beban mental yang dirasakan sudah mulai berlebihan.

1. Pikiran yang terus bekerja

Para ibu yang mengalami mental load bisa ditandai dengan pikiran yang terus bekerja. Meski dalam kondisi istirahat atau bersantai dalam kepala ibu masih memikirkan banyak hal entah itu urusan jadwal les anak, menu makan malam, daftar belanjaan hingga juga pekerjaan kantor. Pikiran yang terus bekerja ini secara tidak langsung juga menguras energi ibu. 

2. Sering merasa lelah

Mental load yang menumpuk dapat membuat seseorang merasa kelelahan meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Bahkan setelah tidur atau beristirahat, tubuh tetap terasa tidak segar dan energi terasa cepat habis.

3. Sulit fokus dan mudah lupa

Terlalu banyak informasi yang harus diproses oleh otak dapat membuat konsentrasi menurun. Akibatnya, ibu menjadi lebih mudah lupa, sulit fokus saat bekerja, atau sering melewatkan hal-hal kecil yang biasanya mudah diingat.

4. Sulit mengontrol emosi

Ketika pikiran dan tubuh sama-sama lelah, kemampuan mengelola emosi juga ikut menurun. Hal-hal kecil yang biasanya tidak menjadi masalah bisa terasa sangat mengganggu. Salah satunya ketika anak yang terus bicara dan membuat ibu overstimulasi.Tidak heran jika ibu menjadi lebih mudah marah, tersinggung, atau merasa frustrasi.

5. Kesulitan untuk tidur

Banyak ibu yang mengalami mental load merasa sulit tidur karena pikirannya terus aktif. Bahkan ketika berhasil tertidur, kualitas tidurnya sering kali tidak optimal sehingga tetap bangun dalam kondisi lelah keesokan harinya.

 

Cara Ibu Mengatasi Mental Load Agar Tidak Mengganggu Keseharian 

Mental load yang berlebihan tidak hanya bisa mempengaruhi kesehatan mental, namun juga produktivitas kerja, bahkan hubungan ibu dengan anggota keluarga yang lain. Emosi yang tak terkontrol membuat ibu bisa mudah meledak dan marah atas hal-hal kecil yang terjadi di rumah. 

Jadi sebelum mental load yang berlebihan ini semakin merugikan, ada baiknya kita mencari tahu beberapa cara untuk bisa mengatasinya. Beberapa cara yang bisa dicoba antara lain:

1. Mengakui kalau diri sedang lelah 

Sebagai seorang ibu, kita harus sadar kalau kita bukan superwoman yang bisa memikul semuanya sendirian. Mengakui kalau diri sedang lelah bukanlah tanda kalau kita lemah melainkan sebuah kewajaran karena ibu juga manusia. 

2. Bicarakan dengan pasangan

Pasangan tidak selalu mengetahui apa yang sedang kita rasakan.Karena itu, jangan ragu untuk mengomunikasikan beban yang sedang dirasakan. Dengan komunikasi yang baik, pasangan dapat membantu mencari solusi dan berbagi tanggung jawab dengan lebih seimbang.


3. Berbagi tugas 

Menjadi ibu bukan berarti kita harus melakukan semua pekerjaan rumah. Tentunya akan lebih meringankan jika kita bisa membagi tugas di rumah ini entah dengan ART, pasangan atau juga anak-anak yang diajarkan untuk mulai mengerjakan tugas sehari-hari di rumah. 

4. Ambil jeda sejenak

Saat tubuh dan pikiran mulai terasa penuh, tidak ada salahnya memberi waktu untuk diri sendiri.

Jeda ini tidak harus berupa liburan yang mahal. Bagi ibu bekerja, jeda ini bisa dilakukan dengan mengambil cuti, menikmati secangkir kopi sendirian, membaca buku, berjalan santai, atau sekadar tidur lebih awal juga bisa menjadi cara sederhana untuk mengisi ulang energi.

5. Turunkan standar yang terlalu tinggi

Ibu kadang menetapkan standar yang terlalu tinggi dalam pekerjaannya. Padahal tidak semua hal harus berjalan sempurna.

Sesekali membeli makanan jadi, menunda pekerjaan rumah yang tidak mendesak, atau membiarkan rumah sedikit berantakan bukanlah sebuah kegagalan. Terkadang yang paling dibutuhkan justru memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

6. Gunakan afirmasi positif yang realistis

Afirmasi positif dapat membantu ibu mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna. Saat mental load mulai terasa berat, cobalah mengulang beberapa kalimat sederhana yang dapat membantu menenangkan pikiran.

Salah satu contoh kalimat afirmasi positif yang sekarang mulai saya terapkan adalah, "Saya tidak harus melakukan semuanya sendirian."

Meski terdengar sederhana, afirmasi yang diulang secara konsisten dapat membantu mengurangi tekanan mental dan mengingatkan bahwa ibu juga manusia yang memiliki batas energi dan kemampuan.

Penutup 

Menjadi ibu bekerja memang bukan hal yang mudah. Selain menghadapi tuntutan pekerjaan, banyak ibu juga masih memikul tanggung jawab rumah tangga yang tidak sedikit. Akibatnya, pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.

Karena itulah penting bagi setiap ibu untuk mengenali mental load sejak dini. Ketika mulai merasa mudah lelah, sulit fokus, lebih emosional dari biasanya, atau terus-menerus memikirkan banyak hal sekaligus, mungkin itu adalah sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang membutuhkan perhatian.

Mengakui bahwa diri sedang lelah bukanlah bentuk kelemahan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan mental agar tetap mampu menjalani berbagai peran dalam kehidupan dengan lebih baik.

Saya sendiri masih terus belajar mengelola mental load sedikit demi sedikit. Belajar meminta bantuan, belajar menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi, dan belajar menerima bahwa saya tidak harus melakukan semuanya sendirian.

Karena pada akhirnya, menjadi ibu bukan tentang menjadi sempurna. Menjadi ibu adalah tentang tetap bertumbuh, menjaga diri sendiri, dan menjalani setiap peran dengan sebaik mungkin tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.

Sumber tulisan:

https://academy.sparks-edu.com/blog/mental-load/

Baca Juga

Posting Komentar

20 Komentar

  1. Ternyata berat sekali menjadi seorang ibu itu ya. Selain memang berperan pekerjaan sehari-hari dan juga ekspektasi dari banyak orang. Ada juga mental load yang harus dihadapi dan semoga dengan membaca tulisan ini bisa terinspirasi dan membebaskan beban-beban yang bisa membuat kehidupan menjadi lebih mudah

    BalasHapus
  2. Support dari pasangan sebenernya pentiiiing banget utk ibu yg overload begini mentalnya. Mau discuss ttg letihnya, bagi tugas, akan percuma kalau pasangan cuek aja. Apalagi yg ego lelakinya kuat bgt. Yg merasa kerjaan rumah wajib wanita :(.

    Tp kalau beruntung mendapatkan pasangan yg mau sampai2 berbagi tugas, mau membantu istri, itu baru membantu banget buat si istri utk refresh sejenak.

    Dulu aku sempet nerapin standard tinggi utk kerjaan rumah. Nyapu aja bisa berkali2 mba, saking ga mau ada kotoran. Tp akhirnya aku capek sendiri. Makanya belajar utk Nerima kerjaan asisten . Ga rapi sedikit yaudahlah, gapapa.... Toh ga ada yg menilai juga 😂

    BalasHapus
  3. Walaaah, saya malah kebalikannya mbak. Saya yang di rumah sering menghadapi mental load macam gini. Burnout mah udah bukan hal aneh lagi, dah jadi makanan sehari-hari euy.
    Disini tertulis ibu-ibu biasanya mengerjakan 79% kerjaan rumah, sisanya suaminya. Ku malah hampi 90% urusan rumah aku yang kerjain wkwkwkwk. Makanya kalo udah ada di titik capek, bener-bener blank dan nggak tau mau ngapain.

    Yah, namanya idup tapi ya. Dijalanin aja lah ya.

    BalasHapus
  4. mental load ini jangan sampai disepelekan apalagi jika menyangkut pada seorang ibu. hal ini sesuai dengan pengalaman keluarga yang harus cerdas mengelola pikiran ketika banyak beban sedang datang secara bersamaan

    BalasHapus
  5. Ini kejadian di aku mbak pas menjelang ujian semesteran anakku dua minggu lalu. Rasanya burn out banget, bawaannya ngamuk meski yg ngajak ngobrol itu santai.. wkwkw...

    Ngatasinya juga ga gampang juga, butuh kesediaan partner dan diri sendiri untuk menurunkan ekspektasi. Sampai sekarang pun, sisa² burn out itu masih ada, hanya tidak sebanyak sebelum²nya.
    Semangat buat para wanita di luar sana... 🥰🥰

    BalasHapus
  6. Kalau saya alhamdulillah di rumah kita berbagi tugas sehingga bisa saling meringankan, karena saya dan istri juga sama-sama kerja di luar rumah. jadinya alhamdulillah sebisa mungkin menghindari mental load baik di istri maupun suami, walaupun ya kadang ada aja yang membuat beban mental itu hadir baik internal maupun eksternal, begitulah dinamika hidup mungkin ya

    BalasHapus
  7. mental load itu nyata dan sering kali tidak kasat mata memang beneran nyata yaaa mbak Antung. .. dilema peran ganda ini memang menantang banget, apalagi data riset yang Mbak bagikan menunjukkan betapa besarnya beban domestik perempuan.
    Semoga para ibu jadi berani untuk mengambil jeda dan mengakui kelelahan. Pengingat yang sangat hangat dan menguatkan!

    BalasHapus
  8. Ibu juga manusia. Punya keterbatasan walaupun ibu dianggap ras terkuat di dunia
    Saya tidak pernah jaga image. Waktunya sakit, ya saya bilang ke semua kalau saya butuh istirahat, butuh rehat sejenak dari semua aktivitas. Risiko kalau ada yang tertunda, bahkan sampai terbengkalai
    Daripada saya tumbang mending antisipasi dengan bilang duluan dan menyembuhkan diri

    BalasHapus
  9. Siapapun kalau udah kena mental memang bahaya, bisa mempengaruhi semua sendi kehidupan. Ini yang perlu disadari untuk yang sudah kena, apalagi buat para ibu yang pastinya banyak aktivitas, biar lekas cegah dan tangani dengan cepat

    BalasHapus
  10. Aku bisa merasakan mental load seorang ibu tuh emg banyak banget. Mulai dr memasak, beberes rumah, mencuci, setrika, momong anak, belanja. Blm lagi kalo ada arisan, pengajian dll. Itu dlm satu hari loh.

    Dan aku merasakan itu saat ibu sakit bbrp bulan lalu. Kerjaan beliau, aku yg gantiin. Termasuk ngurusin ibu2 pengajian yg rutin nge-WA ibu. Kan ibuku ketua. Jadi lumayan ribet kalo ngurusin ini itu.

    Akhirnya ya aku delegasiin aja ke wakil2 dan pengurus lain. Biar aku fokus malah rumah. Eh ternyata capek jg njir. Hrs masak, mencuci, belanja, ngatur duit biar cukup. Mumet deh pokoknya.

    Makanya kalo aku lagi senggang dan aku hrs usakan, utk bantu2 nyokap. Biarin lah beliau istirahat biar mental loadnya ga kepenuhan. Kalo sakit, susah bgt tuh sembuhnya. Banyakan pikiran hrs mikir diri sendiri atau urusan keluarga dl.

    BalasHapus
  11. Semangat mbaaakk :D
    Kebayang nih mbak kepenatan sebagai working mom ditambah dengan pulang2 mesti ngerjain kerjaan domestik juga, pastinya bikin mental load.
    Emang bener kudu bisa mengelola mental load ya supaya nggak berujung burn out.
    Bener banget, kalau mungkin dulu masih bisa nahan, seiring usia kalau nahan mulu capek yaaa, kudu bener2 mau membagi beban dan mengkomunikasikan sama pasangan dan juga orang2 di rumah. Apalagi kalau anak2 dah makin besar sebaiknya juga diajak buat menangani urusan domestik, minimal bantu cuci piring sendiri setelah makan, bersihin kamar sendiri dll. Begitu pula dengan pasangan (andai nggak ada ART).
    Paling penting juga menurunkan standar dan ekspektasi tentu aja, sehingga lumayan bisa mengurangi beban di pundak dan kepala :D

    BalasHapus
  12. Mental load bisa dialami semua ibu, baik working mom maupun IRT yaa. Apalagi kalau punya anak bayi atau balita, tambah double capeknya. Memang kudu ada support system, terutama dari suami.

    BalasHapus
  13. ibu bekerja yang mana juga seorang ibu rumah tangga, sering aku liat disekelilingku, terutama temen-temen kantor yang udah berkeluarga
    kadang kalau aku main ke rumahnya, sepintas yang namanya kerjaan kantor udah disisihkan, mengurus anak-anaknya terutama yang mungkin masih aktif dan kecil, memang perlu perhatian lebih, jadi dari sini aja udah menguras tenaga, belum lagi ditambah tingkat keriweuhan di kantor.

    refreshing singkat memang perlu dilakukan oleh ibu-ibu supaya badan dan pikiran lebih rileks

    BalasHapus
  14. Relate banget tulisannya, Ka Antung. Pas baca bagian data riset yang 79% banding 37% itu langsung bikin elus dada, pantesan aja kita para ibu sering ngerasa encok luar dalam ya, haha. Saya paling setuju sama poin menurunkan standar. Kadang-kadang emang harus tega ngeliat rumah agak berantakan atau beli lauk matang demi warasnya pikiran. Makasih ya Kak udah ngingetin kalau kita itu manusia biasa, bukan superwoman yang harus selalu strong setiap saat.

    BalasHapus
  15. Jujur aku selalu salut sama Ibu bekerja. Double peran dan tuntutan yang semakin banyak pasti diterima oleh para ibu bekerja dan ya support pasangan serta kerjasama nyata mengurusi rumah itu beneran ngebantu buat para ibu bisa mengatasi mental load.

    Soalnya lelahnya kebayang double banget apalagi pembagian porsi kerjaan rumah selalu paling gede perempuan, misal nggak punya yang bantu-bantu aduh pasti capek maksimal.

    Komunikasi sama pasangan terkait kondisi mental load, penting sekali dan pasangannya pun mesti peka ya.

    BalasHapus
  16. Aku yang nggak kerja kantoran aja sering mengalami mental load, apalagi yang sambil kerja kantoran. Pasti makin banyak aja yang dipikirin.

    Berbagi tugas dengan suami memang solusi paling masuk akal jika tidak mau menggunakan ART. Selain itu penting juga menurunkan standar.

    BalasHapus
  17. Sebagai full time mom akupun sering ngerasain capek ngerjain kerjaan rumah sehari hari.. salut banget sama working mom tanpa ART yang pulang kerjapun masih ngurusin rumah.. super keren super hebat super strongggg

    BalasHapus
  18. Menjadi working mom memang sebuah tantangan tersendiri yaah..
    Di saat mau istirahat, namun ada tanggungjawab di ranah publik yang harus diselesaikan. Dan mau istirahat lagi, ada anak dan pasangan yang harus dilayani.

    MashaAllah... Allahul musta'an..
    Semoga Allah mudahkan dan in syaa Allah bernilai pahala di sisi Allah.

    BalasHapus
  19. Buat aku yang lagi LDR sama suami, jujur overload emosi tuh sering banget terjadi. Jadinya memang harus banyak banyak jujur sama diri sendiri. Dan juga berdamai dengan keadaan yang kadang tidak sesuai dengan kenyamanan pribadi.. gak kebayang kalau memang terjadi di ibu bekerja yang kapasitas menggunakan otak lebih banyak

    BalasHapus
  20. Mental load pada ibu otu nyata adanya
    Terutama bagi ibu bekerja ya
    Tak heran, ibu bekerja sebenarnya butuh support system agar terhindar dari mental load ini

    BalasHapus