Hari itu, sebuah kabar duka masuk ke grup whatsapp alumni SMA yang saya ikuti. Salah satu teman meninggal dunia setelah melahirkan anak keduanya. Ini adalah kali kedua ada kabar kematian di grup alumni SMA. Sebelumnya, seorang teman lain harus pergi meninggalkan anak dan istrinya setelah terkena sengatan listrik.

Hanya selang beberapa hari, berita duka lain mampir ke grup yang sama. Salah satu usaha milik anggota grup terbakar. Kebakaran yang terjadi ini cukup sukses membuat kemacetan di sepanjang jalan utama di kota saya. Berita duka yang hadir berdekatan ini kemudian menggerakkan teman-teman di grup untuk mengumpulkan uang duka cita dan bantuan bagi teman-teman yang sedang terkena musibah.

Semenjak hadirnya media sosial dan aplikasi chatting online, tak bisa dipungkiri kita pun semakin dimudahkan bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah kita kenal di masa lampau. Entah itu teman sekolah, kuliah, atau sekadar teman yang kita kenal dalam sebuah perjalanan. Bermula dari sapaan di facebook, lalu kemudian bergabung di sebuah grup dalam aplikasi chatting. 

Masih ingat kan iklan sebuah aplikasi chatting yang mempertemukan kembali Rangga dengan Cinta setelah sekian purnama? Yah, walaupun kesannya telat banget ya si Rangga tapi lewat iklan ini kita bisa melihat bagaimana Rangga dan Cinta akhirnya bisa berkomunikasi kembali hingga akhirnya dibuatlah sekuel dari film legendaris mereka. Heu.

Manfaat Grup Alumni

Saya sendiri tentunya juga memiliki beberapa grup dalam aplikasi chatting yang saya miliki. Salah satu grup tersebut adalah grup alumni. Meski sebenarnya bukan anggota yang aktif di grup, namun saya tetap berusaha mengikuti perkembangan kabar yang ada dalam grup alumni ini. Bagi saya sendiri, ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan dari grup alumni. Keuntungan tersebut antara lain:

Menyambung/mempererat tali silarurahmi antara sesama alumni. 

Seperti yang kita tahu, kadang setelah lulus dari sekolah atau kampus, sebagian dari kita menyebar ke berbagai penjuru daerah. Ada juga yang tinggal 1 kota namun jarang sekali bertemu. Dengan adanya grup alumni ini, tentunya akan memudahkan komunikasi antara teman sesama alumni.

Saling berbagi informasi

Adakalanya, grup alumni juga menjadi wadah bagi kita untuk berbagi berbagai informasi. Entah itu undangan akikah anak, penerimaan PNS, pemadaman bergilir, hingga info dokter gigi mana yang bagus untuk dikunjungi. Bahkan kadang saling berbagi informasi ini bisa melebar menjadi sebuah ajang diskusi yang bisa menambah wawasan kita.

Memperluas jaringan dalam usaha atau urusan pekerjaan

Selain sebagai wadah menyambung tali silaturahmi dan berbagi informasi, grup alumni juga bisa menjadi sarana bagi mereka yang memiliki usaha untuk bisa mempromosikan usahanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan lewat grup alumni ini terjalin sebuah kerja sama bisnis antara satu teman dengan teman lainnya.

Hal yang Membuat Grup Alumni tak Asyik Lagi


Sayangnya, adakalanya grup alumni ini juga menjadi tak asyik lagi diikuti, yang berujung pada keluarnya beberapa anggota dari grup alumni. Beberapa hal yang bisa membuat grup alumni tak asyik lagi antara lain:

Terlalu banyak perdebatan 

Di zaman sekarang, kayaknya nggak seru ya kalau tidak berdebat di media sosial. Kalau di dunia media sosial perdebatan bisa berupa hal-hal berat seperti politik, maka dalam grup alumni, perdebatan ini bisa terjadi karena hal-hal sepele seperti pertanyaan yang tak ditanggapi atau malah mempermasalahkan pelayanan dari kantor salah satu teman yang dirasa kurang memuaskan. Si teman yang dikomplain sudah berusaha memberikan konfirmasi, eh teman yang komplain tetap nyolot dengan pernyataannya. Jadilanya grup memanas karena perdebatan kedua orang ini.

Terlalu banyak bercanda dan obrolan tak penting

Satu kali, pernah ada teman di grup alumni mengajukan sebuah pertanyaan yang malah dianggap bercanda oleh teman lainnya. Akibatnya, grup sempat menjadi panas karena masalah ini. Memang kadang dalam komunikasi via aplikasi chatting ini kita sulit menebak emosi yang tersimpan dalam tulisan tersebut. Tak jarang seseorang tersinggung hanya karena sebuah komentar dari teman lain yang sebenarnya bercanda. Selain itu, kita juga kadang lupa kalau teman yang berada di grup alumni bukan teman yang sama dengan yang kita temui di masa SMA atau kuliah dulu.  

Jumlah anggota laki-laki dan perempuan tidak seimbang

Jumlah anggota laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang juga bisa menjadi alasan grup alumni menjadi tak asyik lagi. Grup alumni kuliah saya, misalnya. Isinya rata-rata laki-laki. Akibatnya tentu saja pembicaraan di grup ini kebanyakan candaan laki-laki. Beberapa teman perempuan pun akhirnya memilih melipir dari grup atau malah jadi silent reader yang hanya nongol kalau ada berita penting.

Menyebar HOAX dan isu SARA

HOAX dan isu SARA juga merupakan salah satu penyebab tidak asyiknya lagi grup alumni. Di masa sekarang, kadang orang cenderung mudah menyebarkan berita tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Belum lagi kalau sudah musim pilkada, tambahlah panas grup alumni karena mungkin adanya perbedaan pilihan. Heu. Kalau sudah begini, biasanya saya memilih untuk mematikan notifikasi grup untuk sementara agar tak terganggu dengan panjangnya perdebatan di grup.

Terlepas dari beberapa hal yang membuatnya menjadi tak asyik lagi, bagi saya grup alumni tetap merupakan grup yang sebaiknya kita ikuti. Meski mungkin status hanya sebagai silent reader, setidaknya kita jadi tahu kabar terbaru dari kawan-kawan yang dulu pernah satu perjuangan dalam menempuh pendidikan.
Baca Juga