Bukan Sekadar Hobi, Menulis Juga Bisa Menjadi Self Healing

Bukan Sekadar Hobi, Menulis Juga Bisa Menjadi Self Healing

Jika bicara tentang kesehatan mental, saya jadi teringat seseorang kepada seorang content creator di TikTok yang bercerita tentang awal mula dirinya membuat konten di media sosial. Jadi ceritanya, si ibu ini adalah seorang ibu rumah tangga yang merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan domestik yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya melelahkan secara fisik maupun mental.

Mulai dari bangun paling pagi, menyiapkan makanan, membereskan rumah, mengurus anak, hingga memastikan semua anggota keluarga merasa nyaman. Rutinitas tersebut dilakukan terus menerus tanpa jeda. Bahkan terkadang tidak ada apresiasi sama sekali untuk pekerjaan yang dilakukan setiap harinya.

Sampai akhirnya ia menemukan TikTok sebagai tempat untuk melepas penat. Awalnya ia hanya membuat konten sederhana seputar kehidupan rumah tangga. Namun ternyata banyak orang menyukai kontennya karena terasa dekat dengan kehidupan para ibu lainnya. 

Dari sinilah si ibu sadar bahwa ternyata ada banyak perempuan lain yang memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Sama-sama lelah, sama-sama merasa kesepian, dan sama-sama membutuhkan ruang untuk didengar.

TikTok akhirnya menjadi sarana baginya untuk mengekspresikan diri sekaligus menjaga kesehatan mentalnya tetap stabil. Bonusnya lagi, ia juga mendapat apresiasi dari orang-orang yang menikmati kontennya. Hal kecil seperti komentar positif dan dukungan dari sesama ibu ternyata mampu membuat seseorang merasa lebih dihargai.

Menjadi Ibu Tidak Pernah Semudah yang Dibayangkan

Menjadi ibu memang bukan hal yang mudah. Setiap pilihan yang diambil selalu saja menjadi bahan penilaian orang lain. Mulai dari pilihan melahirkan normal atau Caesar, menyusui langsung atau menggunakan susu formula, memilih MPASI homemade atau instan, hingga keputusan menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Semua selalu mengundang perdebatan yang seolah tidak pernah ada habisnya.

Kadang saya merasa menjadi ibu itu seperti sedang mengikuti perlombaan tanpa garis akhir. Apa pun pilihan yang diambil selalu ada saja komentar dari orang lain. Jika terlalu fokus bekerja dianggap kurang hadir untuk anak. Jika memilih di rumah dianggap tidak berkembang. Jika anak aktif dianggap tidak bisa mendidik. Namun ketika anak terlalu pendiam juga dipertanyakan.

Belum lagi media sosial yang sering kali memperlihatkan kehidupan ibu yang tampak sempurna. Rumah rapi, anak selalu nurut, makanan estetik, dan ibu yang terlihat tetap tenang setiap saat. Padahal di balik layar, setiap orang tentu memiliki perjuangannya masing-masing yang tidak selalu diperlihatkan di internet.

Tanpa sadar, konten-konten seperti ini kadang membuat para ibu membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Akibatnya muncul rasa tidak percaya diri dan pertanyaan dalam hati, “Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik?” 

Ketika Emosi Meledak di Hadapan Anak

Saya sendiri adalah seorang ibu bekerja yang kalau boleh jujur jauh sekali dari kata sabar sebagai seorang ibu. Ada masa di mana saya menjadi sangat mudah marah saat menghadapi kedua anak saya yang sedang aktif-aktifnya. Rasanya energi habis untuk pekerjaan, rumah tangga, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Hal-hal kecil yang sebenarnya sepele bisa berubah menjadi pemicu emosi dan membuat saya overstimulasi. Rumah berantakan sedikit saja sudah membuat kepala terasa penuh. Anak-anak rebutan mainan bisa langsung membuat saya kehilangan kesabaran. 

Bahkan pernah di satu titik, bukan hanya marah, saya sampai tantrum di hadapan anak-anak sendiri. Padahal sejak melahirkan anak  kedua, saya cukup sering membaca berbagai artikel terkait tips parenting modern. Namun tetap saja ada masanya saya kesulitan mengontrol emosi saya. 

Dan seperti kebanyakan ibu lainnya, setelah emosi mereda yang datang justru rasa bersalah. Saya merasa gagal menjadi ibu yang baik. Menyesal sudah meluapkan emosi dengan cara yang tidak sehat di depan anak-anak. Saya tahu anak-anak tidak sepenuhnya salah, tetapi saat itu saya sendiri juga sedang kelelahan secara mental.

Sayangnya, banyak ibu yang memendam perasaan seperti ini sendirian karena takut dianggap buruk sebagai orang tua. Padahal kenyataannya, banyak ibu mengalami hal serupa tetapi memilih diam.

Curhat di Media Sosial dan Perasaan yang Sedikit Lebih Lega

Atas ketidakdewasaan yang saya alami itu, saya sempat menuliskannya dalam sebuah status di Facebook. Awalnya saya hanya ingin meluapkan isi hati karena rasanya terlalu penuh jika dipendam sendiri. Saya tidak terlalu berharap akan mendapat respons berarti.

Namun ternyata beberapa komentar dari teman-teman Facebook justru membuat hati saya sedikit lebih tenang. Ada yang mengatakan bahwa mereka juga pernah mengalami hal serupa. Ada yang mengingatkan bahwa menjadi ibu memang melelahkan. Bahkan ada juga yang menyarankan saya untuk menulis surat kepada diri sendiri sebagai salah satu cara menghadapi inner child dan emosi yang selama ini dipendam.

Saat membaca komentar-komentar tersebut saya merasa lebih lega karena ternyata saya tidak sendirian. Kadang yang dibutuhkan seorang ibu bukan solusi yang rumit, tetapi hanya validasi bahwa perasaannya manusiawi. Bahwa lelah, marah, dan kecewa bukan berarti ia ibu yang buruk.

Menulis sebagai Salah Satu Cara Menjaga Kesehatan Mental

Setiap orang tentunya memiliki caranya masing-masing untuk melepaskan diri dari tekanan ataupun stres yang dialami, baik akibat pekerjaan maupun permasalahan hidup lainnya. Ada yang melakukannya dengan membuat konten, karaoke, berbelanja, memasak, travelling, curhat kepada sahabat, atau menulis. Bahkan ada juga orang yang merasa lebih tenang setelah melakukan hal sederhana seperti mencuci piring. Setidaknya, hal-hal tersebut bisa membuat hati terasa sedikit lebih ringan.

Saya sendiri seperti yang ditulis di atas, lebih senang menenggelamkan diri dalam dunia tulisan. Bagi saya sendiri, menulis adalah salah satu cara untuk membuat hati terasa lebih lega. Saat menulis, saya seperti sedang berbicara dengan diri sendiri tanpa takut dihakimi. Semua emosi yang sebelumnya terasa sesak perlahan bisa keluar lewat kata-kata.

Bahkan dalam sebuah drama Korea yang saya tonton, salah satu karakternya dianjurkan untuk melakukan aktivitas menulis sebagai salah satu metode penyembuhan dari luka batin dan tekanan yang dialaminya. Dari situ saya sadar bahwa menulis memang bisa menjadi ruang aman untuk seseorang mengenali sekaligus melepaskan emosinya.


Tipe Tulisan yang Bisa Menjadi Media Self Healing



Banyak orang mungkin mengira bahwa tulisan untuk self healing harus selalu berupa curhatan panjang atau diary yang penuh keluh kesah. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menuangkan emosi melalui tulisan.

Bahkan tulisan sederhana seperti review buku, pengalaman parenting, atau cerita keseharian pun bisa menjadi media healing jika ditulis dengan lebih personal dan jujur.

Beberapa tipe tulisan yang bisa dicoba untuk self healing di antaranya:

1. Journaling atau Diary

Menulis apa yang dirasakan hari itu tanpa perlu memikirkan bagus atau tidak tulisannya. Kadang hanya menuliskan kalimat sederhana seperti “hari ini capek banget” saja sudah cukup membuat hati terasa lebih lega.

2. Tulisan Reflektif

Tulisan reflektif biasanya berupa pengalaman pribadi yang dikaitkan dengan pelajaran hidup atau perasaan tertentu. Tulisan seperti ini sering terasa lebih hangat karena pembaca bisa melihat sisi manusiawi dari penulisnya.

3. Review yang Personal

Review buku, film, atau drama ternyata juga bisa menjadi media healing dan hal inilah yang kerap saya lakukan. Jika ada buku atau film yang terasa relate dengan kondisi yang sedang saya alami, biasanya saya akan dengan penuh semangat menuliskan reviewnya. Dari situ, tulisan review tidak lagi sekadar membahas isi cerita, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan.

4. Menulis Surat

Bisa berupa surat untuk diri sendiri, inner child, orang tua, pasangan, atau bahkan surat yang tidak pernah dikirimkan kepada siapa pun. Cara ini sering membantu seseorang mengeluarkan emosi yang selama ini dipendam.

5. Gratitude Journal

Gratitude Journal atau jurnal syukur ini juga menjadi media menulis cukup populer sekarang. Lewat jurnal ini kita diajak untuk menuliskan hal-hal kecil yang disyukuri setiap hari. Kelihatannya sederhana, tetapi kebiasaan ini cukup membantu menenangkan pikiran dan membuat kita lebih fokus pada hal-hal baik dalam hidup.

6. Morning Pages

Kita juga bisa mencoba memulai hari dengan morning pages ini. Di sini kita bisa menulis bebas di pagi hari tanpa diedit. Isinya bisa apa saja yang sedang memenuhi kepala. Tujuannya bukan membuat tulisan yang bagus, melainkan “membersihkan” isi pikiran sebelum memulai hari.

7. Puisi atau Tulisan Pendek Emosional

Buat mereka yang suka membaca atau menulis puisi, jenis tulisan ini juga sangat bisa dijadikan media untuk melepaskan rasa lelah kita. Kadang emosi justru lebih mudah keluar lewat tulisan singkat daripada artikel panjang. Tidak harus puitis atau indah, yang penting mampu mewakili apa yang sedang dirasakan.

Menulis sebagai Ruang Kecil untuk Bernapas

Menulis mungkin tidak bisa langsung menghilangkan semua rasa lelah atau menyelesaikan setiap masalah yang ada di hidup kita. Namun setidaknya, lewat tulisan seseorang bisa memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berhenti sejenak, bernapas lebih tenang, lalu memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Bagi saya pribadi, kegiatan menulis bukan hanya soal mengisi blog atau menghasilkan artikel semata. Ada rasa lega setiap kali berhasil menuangkan isi kepala menjadi tulisan. Bahkan dari tulisan sederhana tentang buku, parenting, atau kehidupan sehari-hari, saya merasa tetap memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri di tengah banyaknya peran yang harus dijalani.

Dan mungkin itulah alasan mengapa banyak orang tetap bertahan menulis hingga sekarang, seperti salah satu teman blogger Mbak Rani dengan Catatan Harian Rani R Tyas miliknya. Karena tanpa disadari, tulisan sering menjadi tempat paling aman untuk menyimpan emosi, menenangkan pikiran, sekaligus menemukan bahwa kita tidak benar-benar sendirian.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar