Bukan Sekadar Hobi, Menulis Juga Bisa Menjadi Self Healing

Bukan Sekadar Hobi, Menulis Juga Bisa Menjadi Self Healing

Jika bicara tentang kesehatan mental, saya jadi teringat seseorang kepada seorang content creator di TikTok yang bercerita tentang awal mula dirinya membuat konten di media sosial. Jadi ceritanya, si ibu ini adalah seorang ibu rumah tangga yang merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan domestik yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya melelahkan secara fisik maupun mental.

Mulai dari bangun paling pagi, menyiapkan makanan, membereskan rumah, mengurus anak, hingga memastikan semua anggota keluarga merasa nyaman. Rutinitas tersebut dilakukan terus menerus tanpa jeda. Bahkan terkadang tidak ada apresiasi sama sekali untuk pekerjaan yang dilakukan setiap harinya.

Sampai akhirnya ia menemukan TikTok sebagai tempat untuk melepas penat. Awalnya ia hanya membuat konten sederhana seputar kehidupan rumah tangga. Namun ternyata banyak orang menyukai kontennya karena terasa dekat dengan kehidupan para ibu lainnya. 

Dari sinilah si ibu sadar bahwa ternyata ada banyak perempuan lain yang memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Sama-sama lelah, sama-sama merasa kesepian, dan sama-sama membutuhkan ruang untuk didengar.

TikTok akhirnya menjadi sarana baginya untuk mengekspresikan diri sekaligus menjaga kesehatan mentalnya tetap stabil. Bonusnya lagi, ia juga mendapat apresiasi dari orang-orang yang menikmati kontennya. Hal kecil seperti komentar positif dan dukungan dari sesama ibu ternyata mampu membuat seseorang merasa lebih dihargai.

Menjadi Ibu Tidak Pernah Semudah yang Dibayangkan

Menjadi ibu memang bukan hal yang mudah. Setiap pilihan yang diambil selalu saja menjadi bahan penilaian orang lain. Mulai dari pilihan melahirkan normal atau Caesar, menyusui langsung atau menggunakan susu formula, memilih MPASI homemade atau instan, hingga keputusan menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Semua selalu mengundang perdebatan yang seolah tidak pernah ada habisnya.

Kadang saya merasa menjadi ibu itu seperti sedang mengikuti perlombaan tanpa garis akhir. Apa pun pilihan yang diambil selalu ada saja komentar dari orang lain. Jika terlalu fokus bekerja dianggap kurang hadir untuk anak. Jika memilih di rumah dianggap tidak berkembang. Jika anak aktif dianggap tidak bisa mendidik. Namun ketika anak terlalu pendiam juga dipertanyakan.

Belum lagi media sosial yang sering kali memperlihatkan kehidupan ibu yang tampak sempurna. Rumah rapi, anak selalu nurut, makanan estetik, dan ibu yang terlihat tetap tenang setiap saat. Padahal di balik layar, setiap orang tentu memiliki perjuangannya masing-masing yang tidak selalu diperlihatkan di internet.

Tanpa sadar, konten-konten seperti ini kadang membuat para ibu membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Akibatnya muncul rasa tidak percaya diri dan pertanyaan dalam hati, “Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik?” 

Ketika Emosi Meledak di Hadapan Anak

Saya sendiri adalah seorang ibu bekerja yang kalau boleh jujur jauh sekali dari kata sabar sebagai seorang ibu. Ada masa di mana saya menjadi sangat mudah marah saat menghadapi kedua anak saya yang sedang aktif-aktifnya. Rasanya energi habis untuk pekerjaan, rumah tangga, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Hal-hal kecil yang sebenarnya sepele bisa berubah menjadi pemicu emosi dan membuat saya overstimulasi. Rumah berantakan sedikit saja sudah membuat kepala terasa penuh. Anak-anak rebutan mainan bisa langsung membuat saya kehilangan kesabaran. 

Bahkan pernah di satu titik, bukan hanya marah, saya sampai tantrum di hadapan anak-anak sendiri. Padahal sejak melahirkan anak  kedua, saya cukup sering membaca berbagai artikel terkait tips parenting modern. Namun tetap saja ada masanya saya kesulitan mengontrol emosi saya. 

Dan seperti kebanyakan ibu lainnya, setelah emosi mereda yang datang justru rasa bersalah. Saya merasa gagal menjadi ibu yang baik. Menyesal sudah meluapkan emosi dengan cara yang tidak sehat di depan anak-anak. Saya tahu anak-anak tidak sepenuhnya salah, tetapi saat itu saya sendiri juga sedang kelelahan secara mental.

Sayangnya, banyak ibu yang memendam perasaan seperti ini sendirian karena takut dianggap buruk sebagai orang tua. Padahal kenyataannya, banyak ibu mengalami hal serupa tetapi memilih diam.

Curhat di Media Sosial dan Perasaan yang Sedikit Lebih Lega

Atas ketidakdewasaan yang saya alami itu, saya sempat menuliskannya dalam sebuah status di Facebook. Awalnya saya hanya ingin meluapkan isi hati karena rasanya terlalu penuh jika dipendam sendiri. Saya tidak terlalu berharap akan mendapat respons berarti.

Namun ternyata beberapa komentar dari teman-teman Facebook justru membuat hati saya sedikit lebih tenang. Ada yang mengatakan bahwa mereka juga pernah mengalami hal serupa. Ada yang mengingatkan bahwa menjadi ibu memang melelahkan. Bahkan ada juga yang menyarankan saya untuk menulis surat kepada diri sendiri sebagai salah satu cara menghadapi inner child dan emosi yang selama ini dipendam.

Saat membaca komentar-komentar tersebut saya merasa lebih lega karena ternyata saya tidak sendirian. Kadang yang dibutuhkan seorang ibu bukan solusi yang rumit, tetapi hanya validasi bahwa perasaannya manusiawi. Bahwa lelah, marah, dan kecewa bukan berarti ia ibu yang buruk.

Menulis sebagai Salah Satu Cara Menjaga Kesehatan Mental

Setiap orang tentunya memiliki caranya masing-masing untuk melepaskan diri dari tekanan ataupun stres yang dialami, baik akibat pekerjaan maupun permasalahan hidup lainnya. Ada yang melakukannya dengan membuat konten, karaoke, berbelanja, memasak, travelling, curhat kepada sahabat, atau menulis. Bahkan ada juga orang yang merasa lebih tenang setelah melakukan hal sederhana seperti mencuci piring. Setidaknya, hal-hal tersebut bisa membuat hati terasa sedikit lebih ringan.

Saya sendiri seperti yang ditulis di atas, lebih senang menenggelamkan diri dalam dunia tulisan. Bagi saya sendiri, menulis adalah salah satu cara untuk membuat hati terasa lebih lega. Saat menulis, saya seperti sedang berbicara dengan diri sendiri tanpa takut dihakimi. Semua emosi yang sebelumnya terasa sesak perlahan bisa keluar lewat kata-kata.

Bahkan dalam sebuah drama Korea yang saya tonton, salah satu karakternya dianjurkan untuk melakukan aktivitas menulis sebagai salah satu metode penyembuhan dari luka batin dan tekanan yang dialaminya. Dari situ saya sadar bahwa menulis memang bisa menjadi ruang aman untuk seseorang mengenali sekaligus melepaskan emosinya.


Tipe Tulisan yang Bisa Menjadi Media Self Healing



Banyak orang mungkin mengira bahwa tulisan untuk self healing harus selalu berupa curhatan panjang atau diary yang penuh keluh kesah. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menuangkan emosi melalui tulisan.

Bahkan tulisan sederhana seperti review buku, pengalaman parenting, atau cerita keseharian pun bisa menjadi media healing jika ditulis dengan lebih personal dan jujur.

Beberapa tipe tulisan yang bisa dicoba untuk self healing di antaranya:

1. Journaling atau Diary

Menulis apa yang dirasakan hari itu tanpa perlu memikirkan bagus atau tidak tulisannya. Kadang hanya menuliskan kalimat sederhana seperti “hari ini capek banget” saja sudah cukup membuat hati terasa lebih lega.

2. Tulisan Reflektif

Tulisan reflektif biasanya berupa pengalaman pribadi yang dikaitkan dengan pelajaran hidup atau perasaan tertentu. Tulisan seperti ini sering terasa lebih hangat karena pembaca bisa melihat sisi manusiawi dari penulisnya.

3. Review yang Personal

Review buku, film, atau drama ternyata juga bisa menjadi media healing dan hal inilah yang kerap saya lakukan. Jika ada buku atau film yang terasa relate dengan kondisi yang sedang saya alami, biasanya saya akan dengan penuh semangat menuliskan reviewnya. Dari situ, tulisan review tidak lagi sekadar membahas isi cerita, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan.

4. Menulis Surat

Bisa berupa surat untuk diri sendiri, inner child, orang tua, pasangan, atau bahkan surat yang tidak pernah dikirimkan kepada siapa pun. Cara ini sering membantu seseorang mengeluarkan emosi yang selama ini dipendam.

5. Gratitude Journal

Gratitude Journal atau jurnal syukur ini juga menjadi media menulis cukup populer sekarang. Lewat jurnal ini kita diajak untuk menuliskan hal-hal kecil yang disyukuri setiap hari. Kelihatannya sederhana, tetapi kebiasaan ini cukup membantu menenangkan pikiran dan membuat kita lebih fokus pada hal-hal baik dalam hidup.

6. Morning Pages

Kita juga bisa mencoba memulai hari dengan morning pages ini. Di sini kita bisa menulis bebas di pagi hari tanpa diedit. Isinya bisa apa saja yang sedang memenuhi kepala. Tujuannya bukan membuat tulisan yang bagus, melainkan “membersihkan” isi pikiran sebelum memulai hari.

7. Puisi atau Tulisan Pendek Emosional

Buat mereka yang suka membaca atau menulis puisi, jenis tulisan ini juga sangat bisa dijadikan media untuk melepaskan rasa lelah kita. Kadang emosi justru lebih mudah keluar lewat tulisan singkat daripada artikel panjang. Tidak harus puitis atau indah, yang penting mampu mewakili apa yang sedang dirasakan.

Menulis sebagai Ruang Kecil untuk Bernapas

Menulis mungkin tidak bisa langsung menghilangkan semua rasa lelah atau menyelesaikan setiap masalah yang ada di hidup kita. Namun setidaknya, lewat tulisan seseorang bisa memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berhenti sejenak, bernapas lebih tenang, lalu memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Bagi saya pribadi, kegiatan menulis bukan hanya soal mengisi blog atau menghasilkan artikel semata. Ada rasa lega setiap kali berhasil menuangkan isi kepala menjadi tulisan. Bahkan dari tulisan sederhana tentang buku, parenting, atau kehidupan sehari-hari, saya merasa tetap memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri di tengah banyaknya peran yang harus dijalani.

Dan mungkin itulah alasan mengapa banyak orang tetap bertahan menulis hingga sekarang, seperti salah satu teman blogger Mbak Rani dengan Catatan Harian Rani R Tyas miliknya. Karena tanpa disadari, tulisan sering menjadi tempat paling aman untuk menyimpan emosi, menenangkan pikiran, sekaligus menemukan bahwa kita tidak benar-benar sendirian.

Baca Juga

Posting Komentar

34 Komentar

  1. Saya pernah baca di ResearchGate, nulis itu memang bisa bikin self healing. Soalnya nulis itu membantu menjaga jarak antara diri sendiri dengan masalah, sehingga emosi diri itu jadi kurang reaktif, sehingga gejala-gejala kayak tantrum dan teman-temannya itu jadi berkurang.

    Efek berkurangnya tantrum itu juga akhirnya saya lihat di kehidupan sehari-hari. Begitu sebuah masalah itu diurai dalam tulisan, seringkali masalah yang kayaknya setinggi gunung Jayawijaya ternyata cuman beberapa masalah kerikil-kerikil kecil yang kebetulan dicampur dengan emosi yang lagi capek.

    BalasHapus
  2. Mampir ke sini pas banget lagi butuh asupan yang adem-adem. Setuju banget, Kak! Menulis itu emang beneran se-magis itu buat ngasih makan jiwa yang lagi capek. Kadang kalau isi kepala udah ruwet banget dan bingung mau cerita ke siapa, tumpahin lewat tulisan tuh emang jalan ninja terbaik bikin hati langsung plong.

    BalasHapus
  3. Iya, benar sekali
    Menulis membawa banyak manfaat
    Tidak sekadar menyalurkan hobi
    Tapi bisa jadi cara kita melakukan pengendalian emosi
    Makanya tiap hari aku berusaha untuk nulis, walau hanya sekadar jurnal syukur

    BalasHapus
  4. setuju kak, walau mungkin hanya sedikit lega namun intinya sudah tercurahkan

    BalasHapus
  5. Setuju banget bahwa menulis itu bisa menjadi sebuah media untuk penyembuhan diri sendiri cuman memang platformnya harus diperhatikan kalau yang sekiranya bersifat sangat pribadi sebaiknya di diari saja karena kadang-kadang kita tidak siap dengan komentar orang di dunia maya kalau di hari pribadikan apapun bisa diceritakan sekiranya bisa bermanfaat buat banyak orang bisa tulis di blog maupun di sosial media

    BalasHapus
  6. Sebelum aktif menulis dan Blog walking biasanya saya menghabiskan waktu berjam - jam memegang HP, bahkan sering sampai pagi dengan dalih mencari hiburan. Alih alih mendapat hiburan saya kok masih saja merasa kurang, bahkan akhir akhir ini merasa jengkel atas postingan2 yang banyak beredar, kadang memicu saya untuk ikut menghujat.
    sekarang punya kegiatan rutin yang berbeda tapi menyenangkan, menulis dan blog walking, serasa berada di dimensi yang berbeda.

    BalasHapus
  7. Aku merasakan sekali bagaimana menulis bisa menjadi ruang yang aman untuk menuangkan berbagai pikiran yang sulit diungkapkan secara langsung. Kadang setelah menulis, perasaan yang awalnya terasa penuh perlahan menjadi lebih ringan dan tertata. Tidak harus menghasilkan karya sempurna, yang penting prosesnya membantu mengenali diri sendiri dengan lebih baik. Menarik melihat bagaimana aktivitas sederhana seperti menulis bisa memberikan manfaat emosional yang begitu besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak semacam ada jeda gitu pas menulis ya, Kak. Jadi, nggak heran sih kalau habis menulis, emosi kita lebih tertata. Kitanya jadi semakin jernih melihat sebuah permasalahan. Bukan nggak mungkin kalau jalan keluar dari masalah yang ada akan lebih mudah didapatkan. Benar kan kak?

      Hapus
  8. Membersamai si buah hati memang tidak selalu seindah yang dibayangkan. Ada masa ketika kita justru tak bisa mengontrol emosi menghadapi tingkah polah mereka.

    Healing itu penting untuk menjaga kewarasan dan healing tak selalu identik dengan jalan-jalan. Ada banyak yang bisa kita lakukan, salah satunya dengan menulis. InsyaAllah membantu, ya

    BalasHapus
  9. Beneeer mba Antung. Menulis itu buatku metode yg bisa meringankan pikiran banget. Di saat jenuh, stress dengan semua berita , medsos kayak fb, Ig dan threads udah ga bisa bikin aku merasa terhibur. Krn itu FB dan threads udah aku uninstall. IG aku hide, supaya ga setiap saat lihat itu.

    Hiburanku akhirnya hanya blog. Di mana aku bisa menulis Macam2. Krn setelah menulis rasanya jadi plong. Teralihkan dari berita2 yg bikin mentalku ketrigger. Makanya, cuma blog yg aku ga akan tinggalin. Krn ini 1-1nya aku bisa menulis panjang utk tempat curahan hati.

    Pastinya blog yg khusus utk tulisan pribadi memang ga aku buka utk public. Hanya private saja

    BalasHapus
  10. Apapun yang dipilih sama ibu kayak nggak ada benernya di mata netizen. Padahal sering kali, mereka yang menilai juga ibu-ibu yang juga punya pilihan yang sama.

    Menulis benar-benar bisa mengalihkan pusaran fokus sehingga menjadi media healing terbaik

    BalasHapus
  11. Lewat menulis jadi healing yang mengesankan karena terapi ini bisa dilakukan siapa saja.
    Daku pun senang menulis karena bisa lebih leluasa mengeluarkan uneg-uneg hehe

    BalasHapus
  12. gak cuma buat ibu rumah tangga aja kok. Kita bapack-bapack juga kadang butuh media healing, biar kepala yang penuh ini bisa terurai secara perlahan. Dan kebetulan, menulis adalah salah satu diantaranya.
    Cumaaaaaa ya, gak semua kegiatan nulis itu bisa jadi media healing si. Kalo konteksnya jurnaling, curhat, dan berbagai hal lainnya, itu masih masuk. Tapi kalo udah buat lomba, tulisan berbayar, dan lain-lain. Boro-boro masuk itungan healing. Tambah stres yang ada, hahahaha

    BalasHapus
  13. Suka banget sama poin-poin tipe tulisannya, Kak! Aku jadi pengen coba deh bikin gratitude journal atau morning pages buat ngerapihin isi pikiran yang sering berantakan. Ternyata nulis review hal yang kita suka kayak buku atau drakor juga bisa jadi media healing ya. Thanks kak, inspiratif banget artikelnya!

    BalasHapus
  14. Benar sekali, melalui menulis kita bisa mengeluarkan uneg-uneg yang kadang susah atau takut di lepaskan melalui mulut. Tapi dengan menulis kita juga dapat melepas beban fikiran dengan kalimat yang baik.

    BalasHapus
  15. Menjadi ibu sekaligus bekerja itu memang melelahkan, dan media sosial sering kali membuat standar yang tidak realistis.
    Saya sepakat, menulis, apa pun bentuknya, bahkan sekadar review personal, adalah ruang aman paling jujur untuk bernapas tanpa takut dihakimi. Lewat tulisan, emosi yang tadinya ruwet di kepala perlahan terurai jadi lebih tenang.
    Semangat semua untuk Ibu yang punya double peran yahhh...

    BalasHapus
  16. Setuju banget! Kadang menuangkan isi kepala ke tulisan itu emang jadi terapi yang paling ampuh, ya. Rasanya beban pikiran jadi lebih enteng setelah semuanya tertulis. Tulisan yang sangat menenangkan!

    BalasHapus
  17. Sepakat banget Mbak. Menulis itu beneran bisa jadi self healing yang jitu. Apalagi journaling atau review personal. Kadang bikin puisi dan cerpen pun bisa jadi media sambat yang lebih seru.

    Menulis, secara tidak langsung memberikan waktu pada diri sendiri buat mengurai isi kepala dan hati.

    BalasHapus
  18. Daripada curhat ke temen yg tanpa solusi jelas dan dijelek2in pula, mending nulis aja, apalagi di blog. Kadang kita malah dapat teman senabis sepenanggungan akibat kisah yg kita tulis. Dari situ, malah dpt solusi bareng atau minimal ada teman ngobrol. Begitulah menulis bs menjadi self healing bagi kita.

    BalasHapus
  19. Wah sepakat banget Kak. Saya kalau kondisi suntuk juga lebih memilih menulis dibandingkan dengan cara yang lain. Jadi suntuknya tetap produktif, rahasia juga dijamin aman he...he...dan saat ini sedang belajar junk journal. Healing sambil mmengabadikan moment.

    BalasHapus
  20. Setuju banget, nulis itu nggak sekedar healing aja. Kadang salah satu yang kudapat dari menulis, bisa sekalian mengasah daya ingat sama pemahaman.

    Kayak kita ngeblog, nggak cuma buat nyalurin hobi, dapet cuan, tapi juga berbagi insight juga dan ngalihin emosi negatif ke hal positif.

    Kalau untuk healing, biasanya aku cenderung nulis diary sebelum tidur mbak. Misal kalau ada uneg² dan belum bisa keluar, aku tumpahin di diary daripada nggak bisa tidur.. heheh.. 🤭 dan itu cukup membantu mengurai emosi.

    BalasHapus
  21. Betul mbak. Menulis itu bisa menjadi salah satu media healing, tarutama bagi para ibu. Kadang mau cerita ke siapa juga bingung. Lebih puas kalau ditulis aja. Rasanya otak ibu itu benar-benar penuh, jadi sesekali butuh disalurkan, salah satunya dengan menulis ini.

    BalasHapus
  22. Kegiatan menulis belakangan kek ngetrend lagi nggak sih? Berbalut istilah "jurnaling" salah satunya hehe. Tapi baguslah, karena kadang orang kan menulis bukan bertujuan menjadi pujangga semata, tapi ada juga yang menulis demi mengeluarkan uneg2nya. Apalagi di zaman serba medsos gini, bisa postang-posting apa yang kita pikirkan tanpa khawatir dijudge soal kalimatnya salah atau gimana hehe.
    Buat para perempuan terutama ibu2 menulis juga bisa membantu mencurahkan kata2 yang memang seharusnya per-hari dikeluarkan, biar lega dan nggak jadi ganjalan hati :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seneng lagii.. ngumpulin printilan buat menghias "journaling" yang cakep cakeppzz ittuuh..
      Kalo aku bukan journaling siih.. tapi nyatet kajian tuh buatku healing banget.. terus diwarna-warni menggunakan spidol, krayon dan stabilo.. terus jadinyaaa.. lebih nyaman buat kubaca-baca lagi.

      Hapus
  23. Manfaat menulis itu emang banyak banget ya mbak
    Bukan hanya sekadar hobi saja
    Menulis juga bisa jadi cara untuk self healing ya

    BalasHapus
  24. Leganyaa setelah dapat pencerahan dari artikel ka Antung mengenai menulis sebagai self healing.
    Kadang, kita terlalu sibuk dengan pikiran kita hingga lupa berhenti sejenak dan menuliskan untuk mengurai masalah yang memenuhi isi otak.

    BalasHapus
  25. Yeeesss, semua ini memang hal yang aku lakukan untuk merasa tenang atau sedang mau berhenti sejenak dari elektronik, terutama HP yang bikin produktifitas menurun drastis. Tapi suka merasa bersalah kalau sehari aja nggak nulis, dan rasa bersalah itu bikin malas nulis ke depanya. Bingung ToT

    BalasHapus
  26. saya percaya bahwa menulis bisa dijadikan wahana untuk mencurahkan segala kelelahan hidup. Lebih jujur kepada diri sendiri. Sebaiknya kalau memang untuk kesehatan mental metode yang tepat adalah menggunakan jurnal pribadi karena kalau posting di media sosial kita harus siap dengan komentar netizen.

    BalasHapus
  27. Setuju banget ini, saya sendiri sering melakukannya khususnya nomer 1 dan tiga. Dan itu dia, salah satu fungsi dari blog. Jadi self healing. Makanya ngeblog beneran harus menyediakan waktu bukan karena deadline biar selfhealingnya dapat.

    BalasHapus
  28. Menulis memang bagus sebagai ruang untuk menyampaikan uneg-uneg, aspirasi, curhat atau apapun sih namanya, karena ini media yang paling dekat dengan kita

    BalasHapus
  29. Setuju banget! Menulis itu kayak numpahin isi kepala yang udah penuh dan ruwet ke dalam bentuk yang lebih rapi. Kadang setelah selesai nulis satu artikel atau sekadar jurnal harian, rasanya beban pikiran langsung berkurang banyak.

    BalasHapus
  30. Setuju sudah banyak tokoh yang membuktikannya, selain seni metode meregulasi emosi yang sering dilakukan adalah dengan menulis Dampak positifnya tidak sekedar self healing tapi juga membantu menjadi pribadi yg prduktif

    BalasHapus
  31. Setuju mba kalau dibilang menulis itu jadi salah satu cara orng buat self healing. Aku pun begitu. Blog ini aku buat dulu karena seperti merasa lelah juga jadi seorang ibu. Kerjaan kantor, kerjaan rumah, ngurus anak, akhirnya aku punya tempat untuk bener-bener bisa jadi diriku sendiri di blog personal. Sekarang aku juga mulai rajin journaling setiap momen-mone yang aku dan keluarga lewati.. :)

    BalasHapus
  32. Aku dulu juga ngerasa nulis sebagai selfie healing, tapi pernah juga sampai macet dan gak bisa nulis sama sekali apalagi hal yang menyangkut pribadi. Jadi ya nulis tema lain, yang gak berat-berat, gak mikir SEO juga, hahaha

    BalasHapus