ayanapunya.com

December 07, 2017

Pengalaman Terjebak Rekrutmen Club Wisata

by , in


"Aku dapat undangan buat menghadiri acara nih," kata suami pada saya.

"Undangan apa?"

"Nggak tahu. Dia tahu-tahu nelpon dan mengundang buat acara sosialisasi pariwisata gitu," jawab suami lagi. Tak lama sebuah pesan masuk ke ponsel suami. Beliau kemudian membuka pesan tersebut.

"Nih aku dapat lagi SMS undangannya. Katanya kalau datang dapat voucher menginap di Bali," kata suami lagi.

"Di mana acaranya?" tanya saya yang mulai tertarik sejak mendengar kata sosialisasi pariwisata. Bisa jadi bahan tulisan di blog nih, begitu pikir saya.

"Mercure," suami menyebutkan nama sebuah hotel bintang 4 di kota kami.

"Oke, nanti kita ke sana," kata saya akhinya.

Percakapan di atas terjadi sekitar satu tahun yang lalu, saat saya masih hamil 9 bulan. Saya dan suami mendapat undangan untuk mengikuti sebuah acara yang katanya adalah sosialisasi pariwisata. Untuk bisa lebih menarik minat suami, diberikan juga voucher menginap di hotel bintang 4 di Bali jika suami menghadiri acara tersebut. Mendengar kata Bali, saya dan suami tentunya tertarik dong dengan penawaran ini. Apalagi untuk saya, yang merasa ini bisa menjadi bahan tulisan untuk blog. Dalam pikiran saya, acara yang ditawarkan ini semacam seminar atau obrolan tentang wisata.

Baca juga : Merencanakan Liburan ke Bali

Maka dengan penuh persiapan saya (yang saat itu hamil tua) dan suami pun berangkat ke lokasi acara. Begitu tiba di hotel, saya langsung bingung. Alih-alih menemui acara semacam seminar, saya malah menemui format acara wawancara. Meski begitu, saya dan suami tetap melangkahkan kaki menuju ruangan tempat acara akan dilaksanakan. Oh ya, sebelum masuk ke ruangan, terlebih dahulu kami melakukan pendaftaran dan diminta menunggu sampai dipanggil ke dalam ruangan.

Begitu memasuki ruangan, kami disambut oleh seorang pria dengan gaya metroseksual. Kami dipersilakan duduk dan seketika itu sadarlah saya kalau acara yang kami hadiri ini ternyata program rekrutmen sebuah klub wisata. Si Mas yang sebut saja namanya Doni memperkenalkan nama sebuah club wisata yang tergabung dalam jaringan sebuah hotel. Dalam promosinya ke saya, club wisata ini bisa mengakomodasi anggotanya untuk berlibur tanpa pusing memikirkan biaya dan tempat menginap.

Jadi dalam programnya ini, anggota yang berhasil direkrut diiming-imingi akan bisa berlibur ke berbagai tempat dengan cara mengumpulkan poin-poin tertentu. Nah poin-poinnya ini diambil dari uang yang diangsurkan setiap bulan. Yah intinya nabunglah. Jadi kalau si anggota ingin berlibur ke mana, mereka tinggal menghubungi club wisata ini dan club akan mengurus akomodasi mereka. Dengan poin yang dikumpulkannya, setiap tahun anggota akan mendapat poin untuk jatah liburan yang mana poinnya bisa digabung dengan tahun sebelumnya.

Baca juga : Menginap di Hotel Four Points Sheraton Makassar

Saya sendiri sebenarnya sejak awal sudah tidak terlalu berminat dengan penawaran yang diberikan. Alasannya karena paket yang ditawarkan mahal banget kalau untuk ukuran saya dan suami. Meski begitu, rupanya para marketing ini selalu punya banyak cara untuk menggaet "korbannya". Jadi setelah saya menolak paket yang termurah, tiba-tiba saja ada lagi satu penawaran khusus yang hanya diberikan hari itu. Harganya memang miring banget sih. Dan ternyata jurus terakhir ini sukses menggaet saya dan suami menjadi anggota si club wisata.

Begitu pulang ke rumah, saya kembali membaca kontrak kerja sama yang sudah kami tanda tangani. Begitu membaca kontrak ini, saya baru sadar kalau saya dan suami tidak mendapat banyak keuntungan dari club ini. Pertama, club ini tidak meng-cover harga tiket pesawat. Padahal saya berharap dengan untuk tiket pesawat bisa dipotong dari poin-poin yang ditabung. Saya lupa apakah ini karena paketnya yang berbeda atau memang si club tidak meng-cover tiket pesawat. Namun yang jelas hal ini cukup mengecewakan untuk saya. Alasan kedua, poin yang dimiliki hanya berlaku untuk hotel yang masuk dalam jaringan hotel mereka, dan beberapa tempat wisata. Kalau misalnya saya mau coba hotel lain, harus pakai uang sendiri dong.

Karena merasa kecewa, saya mengajak suami untuk membatalkan keanggotaan kami di club itu. Risikonya sih ya pastilah uang yang sudah disetorkan hangus. Padahal kemarin itu lumayan banget uang setoran itu untuk biaya persalinan saya. Suami minta saya pikir-pikir lagi. Namun saya sudah bulat tak ingin melanjutkan keanggotaan di club itu. Toh kami juga kayaknya tidak bakal sering liburan, kata saya pada suami. Akhirnya suami pun setuju untuk membatalkan keanggotaan kami di club itu.

Kurang lebih 1 bulan setelah mendaftar, saya melayangkan pengajuan pembatalan keanggotaan. Dan ternyata permohonan saya langsung diterima tanpa ditanyai ini itu. Saya hanya perlu mengisi formulir pembatalan dan mengirimkannya kembali ke club itu. Mudah dan ironis sih kalau kata saya sih. Kenapa? Karena seolah-olah pihak club wisata ini targetnya adalah merekrut anggota sebanyak-banyaknya di proses rekruitmen mereka. Kalau misalnya ternyata ada yang mengundurkan diri, mereka tidak rugi karena sudah mendapatkan uang pendaftaran dari si anggota itu :(

Hingga saat ini, meski sudah tidak terdaftar lagi sebagai anggota, saya masih sesekali mendapat beberapa email dari club wisata ini. Isinya tentu saja tentang jadwal tour-tour dan promo yang akan mereka adakan dan beberapa informasi terkait iuran anggota. Bagi saya pribadi, mengikuti club wisata semacam ini bisa jadi bermanfaat bagi mereka yang ingin jalan-jalan namun tidak ingin ribet soal akomodasi. Selain itu sistemnya yang nabung lumayan menggiurkan dan masuk akal sih.

Namun di jaman yang serba canggih kayak sekarang, kok kayaknya lebih asyik jalan-jalan dengan itinenary sendiri ya? Toh sekarang sudah banyak sekali aplikasi yang bisa membantu kita kalau ingin ke suatu tempat. Selain itu Mbah Google juga pastinya siap membantu kalau kita perlu informasi apapun selama dalam perjalanan. Betul begitu?
December 04, 2017

5 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Para Ibu Agar Tetap Bahagia

by , in

Beberapa hari terakhir, saya menonton sebuah drama berjudul Go Back Couple. Drama dengan 12 episode ini bercerita tentang pasangan yang sudah 14 tahun menikah dan akhirnya memutuskan bercerai. Alasan dari perceraian mereka adalah karena keduanya merasa tidak bahagia. Sang istri yang menjadi ibu rumah tangga merasa tidak bahagia dengan kondisi keluarganya. Sementara suami yang bekerja sebagai sales obat juga merasa tertekan dengan pekerjaannya yang kadang memaksanya melakukan hal yang tidak ia sukai.

Setelah bercerai, mereka kemudian tiba-tiba terlempar ke masa 18 tahun yang lalu saat mereka pertama kali dipertemukan. Berkaca dari kegagalan berumah tangga yang mereka alami, keduanya bertekad untuk tidak terlibat lagi satu sama lain. Namun rupanya kembalinya keduanya ke masa lalu ini menjadi sebuah cara bagi mereka untuk memperbaiki kembali hubungan mereka.

Selain Go Back Couple, drama Korea lain bertema kehidupan rumah tangga yang saya tonton adalah My Wife's Having An Affair This Week. Nah dalam drama ini, dikisahkan seorang suami yang tanpa sengaja mengetahui kalau istrinya akan bertemu dengan pria lain di sebuah hotel. Keduanya sudah menikah selama 7 tahun dan dikaruniai seorang putra. Mengetahui hal ini, sang suami pun merasa bingung. Selama ini dia merasa kalau rumah tangganya baik-baik saja. Mereka adalah pasangan yang menikah karena saling mencintai. Lalu kenapa sang istri tiba-tiba selingkuh?

Baca juga : Belajar Menjadi Orang Tua

Berbeda dengan Go Back Couple yang tokoh sang istri adalah ibu rumah tangga, maka dalam  My Wife's Having An Affair This Week ini sosok istri digambarkan sebagai seorang wanita karir. Meski bekerja, namun ia masih sempat mengurus rumah tangga dengan baik. Sayangnya, terlepas dari karir yang lumayan sukses dan urusan rumah yang beres, si istri tetap merasa kosong.

Setelah memiliki anak, si istri dia merasa dia bukan lagi dirinya. Kesibukannya sebagai istri, ibu dan karyawan telah memakan sebagian besar waktunya. Si istri bahkan tak sempat menyelesaikan buku yang dibacanya. Nah, si pria yang juga adalah rekan kerja sang istri datang di saat yang tepat. Sang istri pun merasa nyaman dengan kebersamaannya dengan si pria dan mulai sering bertemu di luar jam kantor.

***

Sebagai seorang pecinta drama Korea, menonton drama dengan tema kehidupan rumah tangga selalu memberikan kesan tersendiri bagi saya. Melalui drama bertema rumah tangga ini saya mendapat cukup banyak pemahaman baru seputar kehidupan setelah pernikahan. Bagi mereka yang sudah menikah, pastinya tahu kalau pernikahan tak semudah yang dibayangkan, bukan? Dua orang yang berbeda bertemu dan hidup bersama. Tak cukup hanya cinta, ada berbagai kompromi dan kesabaran yang harus dimiliki dalam menjalani sebuah pernikahan. Karena itulah seperti kata orang, kita perlu terus menumbuhkan cinta dalam sebuah pernikahan.

Dalam tulisannya yang berjudul Laki-laki Hidup Lebih Bahagia, Kok Bisa? Mbak Nurin Ainistikmalia menyebutkan sebuah fakta menarik. Jadi berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, disebutkan kalau Indeks Kebahagiaan Indonesia penduduk laki-laki sebesar 71,12, nilainya lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan yang sebesar 70,30. Hal ini didasarkan pada hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang sudah dilakukan oleh BPS.

Baca juga : Mengontrol Tontonan Anak bagi Ibu Bekerja


Menurut mbak Nurin lagi, salah satu alasan kenapa wanita bisa kurang bahagia adalah karena kehidupan mereka yang penuh tekanan, kecemasan, kekhawatiran. Bisa jadi benar tuh. Sebagai seorang ibu saya sendiri juga cukup mendapat tekanan seputar perkembangan bayi sendiri. Dan itu tekanan dari diri sendiri loh, bukan orang lain. Selain itu, alasan lainnya juga mungkin karena wanita memiliki kemampuan multitasking-nya mampu memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Bisa jadi bukan hal itu turut berpengaruh dalam kadar kebahagiaan yang mereka rasakan.

Lalu, dengan berbagai tekanan yang harus dihadapi, bagaimanakah caranya agar ibu tetap bahagia? Nah, saat ini, cukup sering kita dengar istilah Me Time untuk para ibu, terutama mereka yang berstatus ibu rumah tangga. Me Time ini bertujuan agar para ibu bisa tetap "waras" di tengah kesibukannya di rumah. Saya sendiri cukup setuju dengan adanya Me Time ini. Kesibukan mengurus keluarga dan tetek bengeknya pastilah sangat menguras energi dan emosi.

Nah, bagi saya pribadi, ada 5 hal yang bisa dilakukan agar bisa tetap bahagia. Hal tersebut antara lain:

Berkumpul bersama teman dekat
Dalam drama Korea yang kerap saya tonton, tokoh utamanya biasanya memiliki satu atau sahabat yang menjadi tempat curhat si tokoh utama. Dalam kehidupan nyata, kita juga pastinya memiliki sahabat yang kerap menjadi tempat curhat dong, ya. Entah itu di dunia nyata atau di dunia maya. Nah, jika sahabat yang dimiliki ini berada satu kota dengan kita, tentunya tak salah dong kita sesekali berkumpul dengan mereka untuk saling bercerita atau sekadar ngopi bareng.  

Menjalani hobi
Setiap orang pasti memiliki hobi. Ada yang suka memasak, merajut, berkebun. Nah, bagi para ibu, menjalani hobi ini juga bisa menjadi sarana Me Time yang bisa menenangkan pikiran. Tambahan lagi, kalau hobi tersebut bisa mendatangkan rezeki buat ibu. Pastinya semakin membuat senang dong, ya?

Melakukan perawatan tubuh dan kecantikan
Salah satu kegiatan lain yang juga bisa membuat rileks adalah melakukan perawatan tubuh dan kecantikan. Sekarang ini, perawatan tubuh juga tak harus dilakukan di salon. Sudah ada jasa salon yang bisa datang ke rumah. Tak hanya membuat rileks, perawatan tubuh juga membuat para ibu merasa lebih cantik dan bersinar. Dan percaya atau tidak, menjadi cantik itu bisa membuat bahagia loh.

Mengunjungi pasar atau pusat perbelanjaan
Meski kedengarannya konsumtif, namun kadang mengunjungi pasar atau pusat perbelanjaan ini cukup efektif dalam memberikan rasa bahagia bagi para wanita. Saya sendiri kadang kalau sedang suntuk memilih pergi ke toko buku untuk sekadar window shopping. Senang saja rasanya melihat deretan barang-barang yang disusun rapi di etalase toko. Namun mungkin ada baiknya saat berbelanja ini ditemani oleh teman yang bisa mengontrol agar kita tak belanja berlebihan.

Rekreasi
Rekreasi juga bisa menjadi sarana Me Time bagi para ibu agar tetap bahagia. Rekreasi ini bisa dilakukan bersama keluarga atau juga sendirian. Tentunya tak perlu memikirkan tempat yang jauh-jauh dulu kalau mau rekreasi. Bagi saya sih, jalan-jalan di taman kota juga sudah bisa disebut rekreasi. Hehe.

Itulah dia 5 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Para Ibu Agar Tetap Bahagia versi saya. Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan mbak Nurin Ainistikmalia dalam dalam KEBloggingCollab untuk grup Mira Lesmana. 
November 28, 2017

Pengalaman Migrasi Domain dari Wordpress ke Blogspot

by , in

"Mbak Antung kok blognya lambat sekali ya dibuka?" tanya Ruli, salah satu teman di Komunitas FBB pada saya beberapa waktu yang lalu via Whatsapp. Kebetulan hari itu adalah jadwal share link di grup Whatsapp FBB. Dan saya termasuk anggota yang mendaftarkan tulisan saya untuk dibaca.

"Ah, masa sih?" Saya balik bertanya tanda tak percaya.

"Iya. Hampir 1 menit belum kebuka-buka juga blognya," balas Ruli lagi masih lewat pesan Whatsapp.

"Bentar aku cek dulu."

Saya pun segera mencoba membuka blog saya lewat ponsel. Memang benar, loading-nya agak lebih lama dari biasanya. Saya kemudian teringat ada situs yang bisa mengecek kecepatan loading blog kita. Saya pun segera meluncur ke situs tersebut dan alangkah kagetnya ketika mengetahui kalau kecepatan loading blog saya termasuk dalam kategori parah. Duh!

Baca juga : Cerita Di Balik Migrasi ke Top Level Domain

"Apa karena kemarin diupdate ya, wordpressnya?" tanya saya dalam hati. Sebagai pengguna Wordpress, saya memang kerap mendapat pemberitahuan untuk mengupdte Wordpress saya ke versi terbaru. Dan yang namanya update biasanya menambah pemakaian kuota kan, ya?

Untuk memastikan, saya pun akhirnya menanyakan perihal ini kepada penyedia hosting yang saya pakai. Dan ternyata jawaban dari penyedia hosting lagi-lagi sukses membuat saya kaget.

Dari hasil pengecekan melalui sisi kami, untuk isu ini di sebabkan penggunaan resource yang telah mencapai limit. Untuk detailnya dapat di cek pada cPanel -> cpu and concurrent connection usage.
Kami sarankan anda dapat mengurangi penggunaan plugin atau dapat melakukan upgrade paket hosting anda.
Begitulah jawaban yang diberikan penyedia hosting yang saya gunakan. Saya langsung mengikuti instruksi yang diberikan dan benar saja. Blog saya sudah menghabiskan 70% kapasitas yang disediakan. Ini sebenarnya ironis sekali mengingat beberapa hari sebelumnya saya baru saja menghapus cukup banyak postingan di blog TLD saya. Logikanya kan harusnya berkurang ya, penggunaan kuota hosting saya. Selain itu saya juga rasanya tidak meng-instal banyak plugin untuk blog saya. Setelah saya cek lagi, ternyata salah satu penyumbang file yang cukup besar adalah back up saat saya akan melakukan update Wordpress beberapa waktu sebelumnya.

Karena tidak ada niat menambah kapasitas hosting dan sudah kadung mantah kata orang Banjar, saya pun terpikir untuk melakukan migrasi domain dari wordpress ke Blogspot. Hal ini sebenarnya sudah cukup lama terpikir di benak saya. Salah satu alasan utamanya adalah masalah kapasitas yang terbatas. Selama beberapa bulan ini saya menggunakan hosting dengan kapasitas 1,5 GB. Nah, karena saya yang kurang pandai mengelolanya, akhirnya belum setahun sudah hampir penuh deh penggunaannya. Takutnya kalau saya tidak memperpanjang atau menambah kapasitas hosting nanti blog saya tidak bisa dibuka lagi. Sayang banget jadinya.

Saya pun menanyakan perihal migrasi domain ini ke penyedia jasa. Ternyata prosesnya cukup mudah. Saya hanya perlu memasukkan nama domain baru ke blogspot dan mengubah beberapa alamat di DNS domain saya. Jika proses ini sukses dilakukan, maka dalam sekejap blog saya sudah berpindah dari Wordpress ke Blogspot.

Setelah sukses memindahkan domain dari Wordpress ke Blogspot, hal yang saya lakukan tentunya adalah menata rumah baru saya. Tahap ini lumayan bikin pusing mengingat selama ini saya sudah terbiasa dengan platform Wordpress yang menurut saya sangat user friendly. Untungnya dulu saya pernah punya blog di blogspot jadi masih bisa ingat sedikit-sedikit cara

Langkah ketiga adalah impor tulisan. Jadi sebelum melakukan migrasi domain, saya terlebih dahulu meng-ekspor tulisan saya di Worpress. Nah ternyata file xml yang didapat dari proses ekspor ini tidak bisa langsung diimpor ke Blogspot melainkan harus dikonversi lagi dengan aplikasi pihak ketiga. Setelah berhasil dikonversi, ukuran file xml tersebut akan mengecil dan bisa langsung diimpor ke blog baru saya.

Satu hal yang perlu diingat dari migrasi yang saya lakukan ini pastinya akan banyak terjadi perubahan. Perubahan pertama tentu saja dalam hal adaptasi platform. Sebelumnya, dengan menggunakan Wordpress, saya sangat dimanjakan dengan adanya aplikasi android yang user friendly. Dengan aplikasi tersebut saya bisa membuat postingan, memasukkan gambar, membaca blog yang saya ikuti, hingga membalas komentar. Intinya all in one lah kalau di Wordpress.

Nah, di Blogspot aplikasinya ternyata tidak senyaman itu. Dari hasil bertanya sana sini rata-rata teman-teman kalau nulis lewat ponsel biasanya langsung di browser. Saya sendiri akhirnya menggunakan aplikasi Blog It untuk membuat draft di ponsel dan membalas komentar yang masuk di postingan saya.

Selain masalah adaptasi, hal lain yang terjadi adalah perubahan pada blog itu sendiri saat proses impor postingan dilakukan. Beberapa hal yang berubah ini antara lain:

Gambar di postingan lama tidak terangkut
Meski berhasil mengangkut postingan berikut komentarnya, proses impor yang saya lakukan gagal membawa serta foto-foto yang ada di postingan. Ini mau tak mau membuat saya harus meng-upload kembali gambar-gambar untuk postingan yang sudah terbit. 

URL Blog berubah
Sebelumnya, di Wordpress saya membuat permalink yang sesuai dengan SEO. Nah, begitu diimpor, postingan tersebut berubah semua permalink-nya menjadi permalink default Blogspot. Ini tentu saja berpengaruh pada pencarian di Google dan internal link yang saya buat.

Komentar berantakan
Selain gambar yang tidak terangkut, proses impor juga membuat komentar di postingan saya jadi berantakan. Jadi balasan dari komentar yang sudah masuk tidak tersusun sesuai dengan postingan aslinya

Pageview turun
Ini kayaknya sudah pasti ya kalau kita mengubah alamat blog atau melakukan migrasi maka pageview blog akan menurun. Untungnya kalau di Blogspot ini setahu saya pageview-nya lebih cepat naik ketimbang Wordpress yang ngesot. Jadi ya saya tidak terlalu merasa sedih dengan urusan pageview ini. Hehe.

Itulah dia pengalaman saya saat melakukan migrasi domain dari Wordpress ke Blogspot. Meski harus adaptasi lagi, bagi saya, apapun platform yang kita gunakan, tentunya tak mengurangi semangat kita untuk tetap berkarya lewat tulisan, bukan?
November 24, 2017

Hal-hal yang Terjadi Setelah Berkenalan dengan Dunia Make Up

by , in


Hari itu, sepulang dari kantor saya menyempatkan diri mampir ke salah satu toko kosmetik di kota saya. Aslinya sih, saya cuma mau membeli bedak padat untuk. Tapi begitu memasuki toko kosmetik ini, saya tergoda pada beberapa barang lain. Ada lipstik baru dengan warna yang pas banget di bibir saya. Ada juga pensil alis yang katanya bagus warnanya. Trus ada juga merk kosmetik baru yang masuk di toko itu dan berbagai jenis kosmetik yang membuat saya harus banyak menahan diri. Akhirnya saya pulang dengan membawa beberapa kosmetik lain yang ingin saya coba di rumah.

Hal seperti ini pastinya tak hanya terjadi pada diri saya seorang. Sebagai wanita, kayaknya sulit sekali melawan godaan dari berbagai kosmetik yang bisa membuat kita terlihat lebih cantik. Apalagi kalau wanita ini sudah mengenal dunia make up. Kayaknya mau nyoba semua produk yang ada di toko kosmetik yang dikunjungi. Heu.

Saya sendiri baru benar-benar melek dengan dunia make up ini setelah menikah. Awalnya karena sering membaca review para beauty blogger tentang produk yang ingin saya coba. Nah, lama kelamaan saya semakin tertarik dan mulai menonton video dari para beauty vlogger. Dari video para beauty vlogger ini saya pun mulai menimba ilmu. Dan ternyata ada banyak sekali hal yang tidak saya ketahui dalam hal per-make up-an ini. Mulai dari teknik menggunakan foundation, cara memulas eyeshadow hingga berbagai istilah yang membuat saya terkagum-kagum.

Selain belajar dari youtube, saya juga sempat mengikuti beauty class yang diadakan kota saya. Tentunya berbeda dong, ya, belajar lewat media youtube dengan belajar secara offline. Jika belajar lewat youtube kita bisa menemukan aneka teknik ber-make up, maka dalam acara beautyclass biasanya diajarkan teknik dasar dalam menggunakan make up. Kecuali kalau beauty class yang diikuti merupakan kelas lanjutan atau kelas khusus untuk tema tertentu.

Baca juga : Serunya Blogger Gathering dan Beautyclass Female Blogger Banjarmasin bersama Wardah


Nah setelah resmi berkenalan dengan dunia make up ini, tentunya ada beberapa hal yang berubah dari diri saya. Beberapa hal tersebut antara lain:

Jadi rajin dandan
Hal pertama yang terjadi tentu saja menjadi lebih sering dandan. Dulu, saya kemana-mana hanya memakai bedak. Setelah berkenalan dengan dunia make up ini, saya mulai pede menggunakan lipstik dan bahkan nggak pede keluar rumah tanpa pensil alis. Sekarang setelah mengikuti beutyclass saya juga mulai mencoba mengenakan foundation, eyeshadow dan blush on saat akan ke luar rumah. Ke depannya nggak tahu deh bakal ada peningkatan apalagi.

Mulai mencoba berbagai jenis dan merk kosmetik
Dulunya, saya cuma tahu beberapa merk kosmetik. Itu pun merk lokal yang harganya murah meriah dan pas di kantong saya. Bahkan saat menikah dulu saya tak membeli banyak peralatan make up karena yakin bakal nggak terpakai.

Nah, setelah berkenalan dengan dunia make up barulah saya tahu kalau merk kosmetik itu sekarang ada bejibun. Mulai dari yang lokal hingga impor. Saya juga jadi tahu ada yang namanya kosmetik drugstore dan high end. Karena banyaknya merk kosmetik dan pengaruh dari para beauty influencer, maka saya pun tergoda untuk mencoba berbagai jenis kosmetik ini. Akibatnya jelas. Dana pengeluaran untuk make up saya jadi bertambah sekarang.

Baca juga : [Review] Wardah Exclusive Matte Lipcream No. 14, 16 & 17


Mulai peduli pada kondisi kulit wajah
Karena mulai suka mencoba berbagai kosmetik, maka mau tak mau saya pun mulai peduli pada kondisi kulit wajah. Sebenarnya dari dulu saya sudah lumayan peduli soal kondisi kulit wajah ini, namun pedulinya cuma sebatas rajin cuci muka dan pakai krim siang biar terlihat putih (walau tetap belang kulitnya hingga sekarang)

Nah, setelah berkenalan dengan dunia make up, saya jadi tahu ada teknik skin care ala Korea yang 10 langkah dan membuat wajah kinclong itu. Saya juga jadi tahu pentingnya toner dalam proses membersihkan wajah. Intinya, setelah berkenalan dengan dunia make up, saya jadi lebih telaten dalam merawat wajah yang tentunya berefek pada bertambahnya jumlah skincare yang saya gunakan. 

Jadi ingin berbagi
Yup, setelah berkenalan dengan dunia make up dan mencobanya, saya jadi ingin berbagi kepada orang-orang. Berbagi di sini bisa dalam bentuk review singkat produk yang saya pernah gunakan atau sekadar berbagi foto hasil mencoba sebuah produk. Dengan berbagi sedikit pendapat atau pengalaman yang didapat setelah mencoba sebuah produk saya berharap bisa memberi manfaat kepada orang lain. Dan seperti yang kita ketahui, para beauty blogger saat ini menjadi salah satu acuan orang-orang dalam membeli sebuah produk kosmetik.

Itulah dia 4 hal yang terjadi pada saya setelah berkenalan dengan dunia make up. Meski bisa dibilang telat mengenalnya, namun saya senang bisa berkenalan dengan dunia make up dan menjadi cantik karenanya.
November 20, 2017

[Aplikasi Impian] PASARKU, Aplikasi untuk Pedagang Pasar Tradisional

by , in

Setelah menikah, salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah memasak untuk suami. Meski masih tinggal dengan ibu saya,  bukan berarti saya lepas tangan begitu saja untuk urusan perut suami. Apalagi suami berasal dari suku yang berbeda dengan saya. Apa yang dimasak ibu saya belum tentu sesuai dengan seleranya. Jadilah saya yang aslinya jarang masak ini turun ke dapur setelah menikah.

Dalam hal mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak tentunya saya harus pergi ke pasar. Nah, dengan kondisi saya yang bekerja, sebenarnya agak sulit untuk bisa rutin ke pasar. Untuk menyiasatinya, kadang saya menitip belanjaan pada ibu saat beliau ke pasar. Sesekali saya juga mencuri-curi waktu ke pasar jika kerjaan sedang lowong. Untungnya saya bekerja di bagian yang ada kegiatan lapangannya jadi masih bisa diakali. Hehe. Bagaimana dengn opsi belanja mingguan? Entahlah, saya masih belum bisa merealisasikannya.

Dengan kondisi saya sebagai ibu bekerja yang sulit ke pasar, saya kok jadi kepikiran ada aplikasi yang bisa membuat saya membeli sayur dan ikan tanpa perlu repot ke pasar, ya? Dengan aplikasi ini saya hanya perlu memesan sayur dan ikan yang ingin saya beli lewat ponsel dan nantinya meminta kurir untuk mengantarkan belanjaan saya tersebut. Sebut saja aplikasi ini adalah PASARKU.

PASARKU ini merupakan aplikasi yang mengumpulkan data para pedagang di pasar tradisional yang ada di sebuah wilayah. Dalam penggunaannya, kita tinggal mengetik nama pasar yang ingin dikunjungi, kemudian aplikasi akan menunjukkan peta pasar tersebut lengkap dengan los-los yang ada di pasar tersebut. Tentunya los-los ini sudah mendaftar juga di aplikasi tersebut.

Pendaftaran

Untuk bisa tergabung dengan aplikasi ini, para pedagang di pasar tradisional terlebih dahulu mendaftarkan diri mereka berikut lokasi los mereka di pasar. Setelah mendaftar, pedagang akan mendapat ID pedagang dan juga deposit untuk keperluan transaksi pembayaran. Setelah proses pendaftaran selesai, pedagang tinggal menginput barang yang mereka jual, termasuk foto dan harganya.

Untuk pengguna sendiri, nantinya hanya perlu memilih los mana yang ingin ia beli barangnya lewat foto yang sudah diupload. Layaknya aplikasi belanja yang lain, barang yang sudah dipilih akan dimasukkan ke dalam keranjang belanja. Nah untuk memudahkan pengambilan barang belanjaan nantinya, mungkin di pasar tradisional ini akan disediakan sebuah los khusus bagi para pembeli online. Penjual tinggal meletakkan barang yang mereka jual dan tentunya sudah diberi label nama pembeli.

Pengambilan barang
Jika semua belanjaan sudah dipilih, pembeli dapat memilih mengambil belanjaanya sendiri atau dengan bantuan ojek online atau kurir. Bisa juga pihak pedagang yang mengirimkan barang belanjaan tersebut dengan bantuan kurir atau ojek online.

Pembayaran
Dalam hal pembayaran, bisa dilakukan secara tunai, transfer rekening dan menggunakan deposit seperti yang ada di aplikasi ojek online.

Dengan adanya aplikasi PASAR ini saya berharap bisa lebih memberdayakan para pedagang yang ada di pasar tradisional. Di tengah industri yang kini serba mobile, saya rasa perlu diberikan fasilitas bagi mereka untuk bisa tetap mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, adanya aplikasi seperti ini juga sangat membantu para ibu bekerja yang tak sempat ke pasar setiap harinya.

Oh, ya, aplikasi PASARKU ini merupakan ide saya yang diikutkan dalam ajang IWIC (Indosat Wireless Innovation Contest) ke-11 yang diadakan oleh Indosat Ooredo. IWIC ini sendiri merupakan lomba ide aplikasi mobile (mobile apps) yang diadakan Indosat Ooredoo sejak 2006.

Tujuan IWIC ini diadakan adalah untuk memotivasi masyarakat Indonesia dari semua kalangan dan usia untuk menjadi inisiator, ideator dan pencipta aplikasi mobile, dan tidak hanya menjadi pengguna/konsumen. Selain itu IWIC juga mendorong kita untuk bisa menciptakan ide aplikasi mobile yang bisa berguna bagi banyak orang, menyelesaikan masalah sehari-hari, meningkatkan dan memperkaya kualitas hidup masyarakat, dan bahkan yang bisa bersaing dengan produk digital dunia global.

Lomba ini tidak hanya terbuka untuk developer professional saja, namun siapapun yang punya ide (anak-anak, orang tua, siswa, karyawan, dsb), apapun idenya, bisa dituangkan di program IWIC 11 ini. Kalau teman-teman memiliki ide-ide kreatif seputar kehidupan sehari-hari bisa banget loh mengikuti ajang ini. Daftarkan ide kamu sebelum 20 November 2017 ini ya. Siapa tahu idemu bisa terpilih dan berguna bagi banyak orang.
November 17, 2017

Toilet: Ek Prem Katha, Ketika Urusan Toilet Mempengaruhi Keutuhan RumahTangga

by , in

gambar : wikipwdia

Salah satu negara yang selalu ingin saya kunjungi adalah India. Hal ini mungkin terpengaruh dari kebiasaan saya menonton film Bollywood di masa kecil dahulu, saat salah satu televisi swasta rutin menayangkan film-film Bollywood tahun 80-90an. Dalam bayangan saya, India itu adalah negara yang indah dan penuh warna. Selain itu saya tentunya juga jatuh cinta pada ketampanan dan kecantikan para aktor dan aktrisnya di masa itu.

Sayangnya seiring dengan bertambahnya umur, saya pun sadar kalau keindahan yang ditawarkan dalam film lagu-lagu di film Bollywood itu tak selalu berasal dari negara asalnya. Negara India yang asli bisa dibilang merupakan negara yang kumuh dan sangat padat penduduknya. Meski tentu saja ada beberapa tempat-tempat indah untuk dikunjungi, namun kebanyakan lagu-lagu dalam film Bollywood direkam di luar negeri. Setahu saya, baru beberapa tahun terakhir perfilman Bollywood benar-benar menggunakan lokasi asli di negaranya. Salah satunya yang terkenal adalah Kashmir yang memang sudah tak diragukan lagi keindahannya.

Belakangan, satu fakta baru juga saya ketahui. Setelah membaca tulisan para traveler yang pernah mengunjungi India, saya jadi tahu kalau di negara itu, orang-orang biasa membuang hajat sembarangan. Entah itu di pinggir jalan atau bahkan di dekat rel kereta. Awalnya saya berpikir kalau hal ini disebabkan karena kurangnya toilet dan banyaknya jumlah penduduk di India. Namun kemudian saya pun mengetahui kalau hal ini ada juga kaitannya dengan agama tradisi yang mereka anut. Dari mana saya mengetahui tentang hal ini? Dari sebuah film berjudul Toilet: Ek Prem Katha.

Baca juga : Hindi Medium, Cerita tentang Pencarian Sekolah Terbaik untuk Anak

November 13, 2017

Mengurus Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor Kena Denda (Pemutihan) di Samsat II Banjarmasin

by , in

Hari itu saya menyempatkan diri mengunjungi Samsat Corner yang ada di Duta Mall Banjarmasin. Tujuan saya adalah untuk membayar pajak kendaraan bermotor yang selama ini saya gunakan sehari-hari.  Saat di Samsat Corner, segera saya tunjukkan kelengkapan pembayaran berupa BPKB, STNK dan KTP asli pemilik motor. Sayangnya saat berkas-berkas saya diperiksa, petugas menolaknya.

"Ini telat ya bayar pajaknya?" tanya petugas ketika mengecek surat-surat tersebut.

"Iya,  Pak," jawab saya pendek. Saya memang telat membayar pajak kendaraan bermotor karena saat pajak tersebut jatuh tempo saya masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan.

"Wah, kalau begitu Ibu harus bayar pajaknya langsung ke kantor Samsat yang di Kayu Tangi," kata petugas itu lagi.

Seperti yang kita ketahui, jika telat membayar pajak, maka denda akan diberlakukan. Untungnya, ternyata sejak bulan Agustus lalu ada program pemutihan bagi mereka yang terlambat membayar pajak kendaraan bermotor. Saya sih berpikirnya bisa saja membayar pajaknya di Samsat Corner atau mobil Samsat yang biasanya ada di beberapa lokasi di kota Banjarmasin.

"Nggak bisa di sini, ya, Pak," tanya saya lagi berusaha menego.

"Nggak bisa," jawab petugas menutup pembicaraan kami.

Baca juga : Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengajarkan Anak Mengendarai Motor

Akhirnya, beberapa hari kemudian, saya pun mengunjungi Samsat II Banjarmasin yang berlokasi di Jalan Hasan Basri Kayu Tangi. Samsat II Banjarmasin merupakan bangunan baru Samsat yang melayani pembayaran pajak kendaraan bermotor untuk wilayah Banjarmasin Utara, Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Tengah.

Tanpa berlama-lama, saya pun langsung menanyakan proses pembayaran pajak untuk motor saya. Beberapa berkas yang perlu disiapkan dalam pembayaran pajak kena denda (pemutihan) ini antara lain:

1. Fotokopi KTP pemilik kendaraan
2. Fotokopi STNK
3. Fotokopi BPKB
4. Surat kuasa jika diwakilkan

Saya pun menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Setelahnya, saya langsung menuju gedung tempat pengurusan pajak ini. Ada cukup banyak orang di dalam ruangan yang cukup luas tersebut. Untuk memudahkan pengunjung, pada bagian dinding terdapat keterangan loket-loket yang harus dikunjungi selama proses pembayaran pajak. Kepada satpam yang bertugas, saya tanyakan kemana saya harus mengurus pembayaran pajak. Satpam tersebut langsung mengarahkan saya ke loket pendaftaran yang terletak di pojok sebelah kiri.

Adapun urutan dari proses pengurusan pembayaran pajak ini antara lain:

Pendaftaran

Pada proses pendaftaran ini, saya meletakkan berkas yang saya siapkan di wadah yang sudah disediakan. Setelahnya, petugas nanti akan memanggil nama yang tertera di STNK dan diberikan formulir pendaftaran untuk diisi.

Penetapan

Setelah formulir diisi, saya berpindah ke loket di sebelahnya dan meletakkan berkas + formulir yang sudah diisi di wadah yang sudah disediakan. Untuk kali ini, ada 2 wadah yang tersedia. Wadah pertama adalah untuk pajak 5 tahun dan wadah kedua untuk pajak 1 tahun. Karena saya membayar pajak untuk 1 tahun, tentunya saya meletakkan berkas di wadah kedua untuk diverifikasi.

Pembayaran

Jika verifikasi telah dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah pembayaran pajak kendaraan bermotor. Untik pembayaran pajak ini, disediakan 3 loket untuk melayani para pengunjung.



Penyerahan STNK dan bukti pajak

Nah, jika pajak sudah dibayar, kita akan diarahkan menuju loket selanjutnya untuk menerima STNK dan bukti pembayaran pajak kendaraan bermotor yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah STNK dan bukti pajak di tangan selesai deh proses pengurusan pajak kendaraan bermotornya.

Jika dihitung-hitung, dalam pengurusan pembayaran pajak kendaraan bermotor kena denda ini saya menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam. Ini tentunya tergantung pada jumlah orang yang datang hari itu dan sepagi apa kita datang ke kantor Samsat.

Nah itulah dia sedikit pengalaman saya mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor kena denda (pemutihan) di Samsat II Banjarmasin. Semoga bermanfaat.