Cara Mengajarkan Anak Tugas Rumah untuk Belajar Bertanggung Jawab

Cara Mengajarkan Anak Tugas Rumah untuk Belajar Bertanggung Jawab


Tahun ini, putri sulung saya, Yumna, akan genap berusia sepuluh tahun. Dalam bayangan saya, di usianya sekarang ia sudah bisa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sederhana, seperti mencuci piring bekas makan dan merapikan kamarnya sendiri. 

Sayangnya, harapan itu tampaknya masih jauh panggang dari api. Jangankan mencuci piring, meletakkan handuk di tempatnya saja saya masih harus mengingatkan berkali-kali. Entah ke mana perginya anak berusia tiga tahun yang dulu begitu bersemangat membantu saya di dapur kala itu.

Uniknya, meski sebagai orang tua saya ingin Yumna belajar bertanggung jawab dan lebih mandiri. Namun di sisi lain, belakangan saya baru mengenal istilah parentification, yaitu kondisi ketika seorang anak memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa. Sejak mengetahui istilah itu, saya jadi lebih berhati-hati dalam memberikan tugas rumah kepada Yumna.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri. Apakah saya sudah terlalu banyak melibatkannya dalam urusan rumah tangga? Atau tanpa sadar menjadikannya tempat mencurahkan keluhan atas berbagai masalah yang saya hadapi? 

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya semakin ingin memahami batas antara mengajarkan tanggung jawab dan membebani anak.

Alasan Memberi Tugas Rumah pada Anak

Kalau dipikir-pikir, pekerjaan rumah yang saya kenalkan kepada anak-anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dulu saya lakukan ketika masih kecil.

Sebagai generasi milenial, saya masih sempat merasakan masa ketika banyak pekerjaan rumah dilakukan secara manual. Mencuci pakaian dengan tangan, menyapu dan mengepel tanpa bantuan alat elektronik canggih, sampai berbagai pekerjaan kecil di rumah yang mau tidak mau harus dikerjakan sendiri.

Sekarang tentu zamannya sudah berbeda.

Anak-anak generasi Alpha tumbuh dengan berbagai kemudahan teknologi. Mau mencuci pakaian sudah ada mesin cuci, bahkan kalau sedang tidak sempat bisa menggunakan jasa laundry. Memasak juga sekarang tak perlu lagi menggunakan kompor karena sudah ada rice cooker. Membersihkan lantai juga semakin mudah dengan berbagai alat penyedot debu dan perangkat rumah tangga lainnya. Belum lagi kalau di rumah ada asisten rumah tangga yang membantu mengerjakan berbagai pekerjaan.

Kemudahan-kemudahan tersebut tentu bukan sesuatu yang harus kita hindari. Saya sendiri juga merasa sangat terbantu dengan adanya berbagai teknologi yang membuat pekerjaan rumah menjadi lebih ringan mengingat saya adalah seorang ibu bekerja tanpa ART. 

Namun, saya juga berpikir, jangan sampai karena semua pekerjaan sudah dimudahkan, anak justru tidak pernah belajar mengurus dirinya sendiri. Saya tidak berharap Yumna harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Saya juga tidak ingin pekerjaan rumah dianggap sebagai tanggung jawab anak karena mereka tinggal bersama orang tua. 

Saya hanya ingin ia terbiasa melakukan hal-hal sederhana yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Ketika selesai makan, misalnya, setidaknya piring bekas makan bisa dibawa ke tempat cucian. Ketika menggunakan handuk, ya dikembalikan ke tempatnya. Setelah bermain, mainan dirapikan kembali. Hal-hal sederhana seperti itu menurut saya bukan sekadar pekerjaan rumah, tetapi juga bagian dari proses belajar bertanggung jawab, terutama terhadap barang dan kebutuhan dirinya sendiri. 

Nah, setelah mengenal istilah parentification, saya juga menyadari bahwa mengajarkan tanggung jawab kepada anak tetap membutuhkan batas.

Anak boleh belajar membantu orang tua, tetapi bukan berarti mereka harus mengambil alih tanggung jawab orang dewasa. Anak juga boleh membantu mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi bukan berarti seluruh urusan rumah tangga menjadi beban mereka.

Dari sinilah saya mulai belajar bahwa ada perbedaan antara mengajarkan anak mandiri dengan menjadikan anak sebagai penanggung jawab.


Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memberikan Tugas Rumah ke Anak



Dalam hal memberikan tugas rumah pada anak, tentunya tidak bisa dilakukan secara dadakan. Ada berbagai proses yang harus dilalui hingga anak bisa melakukan tugas rumah dengan lebih mandiri.

1. Sesuaikan tugas dengan usia dan kemampuan anak

Hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum memberikan anak tugas rumah adalah menyesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Kemampuan anak berusia lima tahun tentunya berbeda dengan anak berusia sepuluh tahun. Semakin bertambah usia, biasanya anak bisa diberikan tanggung jawab yang lebih besar sesuai dengan kemampuan dan kemandiriannya.

Tugasnya pun tidak perlu langsung yang berat. Anak yang masih kecil bisa mulai dari merapikan mainan atau membawa piring bekas makan ke dapur, sementara anak yang lebih besar mungkin sudah bisa belajar mencuci piring, merapikan kamar, atau membantu pekerjaan rumah lainnya.

2. Jadikan tugas rumah sebagai proses belajar, bukan kewajiban orang dewasa

Menurut saya, ada perbedaan antara meminta anak membantu pekerjaan rumah dengan menjadikan anak sebagai penanggung jawab pekerjaan rumah. Ketika anak diminta mencuci piring bekas makannya sendiri, misalnya, yang ingin diajarkan adalah tanggung jawab setelah menggunakan sesuatu, bukan menjadikan mencuci piring sebagai tugasnya.

Dengan begitu, pekerjaan rumah bisa menjadi sarana bagi anak untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab. Anak boleh membantu, tetapi bukan berarti mereka harus mengambil alih pekerjaan yang sebenarnya menjadi tanggung jawab orang tua.

3. Berikan apresiasi, bukan tekanan

Saya juga belajar bahwa mengajarkan tanggung jawab tidak harus selalu dilakukan dengan teguran. Anak mungkin membutuhkan banyak pengingat sebelum sebuah pekerjaan menjadi kebiasaan. Seperti Yumna yang sampai sekarang masih harus saya ingatkan untuk meletakkan handuk pada tempatnya.

Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, apresiasi sederhana menurut saya jauh lebih baik daripada terus memberikan tekanan. Tidak harus berupa hadiah, ucapan seperti “Terima kasih sudah dibereskan” atau “Wah, sekarang sudah ingat sendiri” pun bisa membuat anak merasa usahanya dihargai.

4. Orang tua tetap menjadi penanggung jawab utama pekerjaan rumah

Anak boleh membantu pekerjaan rumah dan belajar mandiri, tetapi bukan berarti seluruh pekerjaan rumah kemudian menjadi tanggung jawab mereka. Rumah memang tempat yang ditinggali bersama, sehingga anak bisa dilibatkan dalam pekerjaan sesuai usia dan kemampuannya.

Namun, orang tua tetap menjadi penanggung jawab utama. Saya sendiri masih belajar membedakan mana tanggung jawab yang memang perlu dikenalkan kepada anak dan mana yang seharusnya tetap menjadi bagian saya sebagai orang tua.

Perlukah Menghukum Anak yang Tidak Mengerjakan Tugas Rumah?

Pertanyaan lain yang mungkin akan muncul terkait tugas rumah untuk anak adalah apakah anak perlu diberi hukuman jika tidak mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya? 

Saya sendiri sebenarnya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan terkait pengasuhan orang tua di masa lalu yang kerap memberikan hukuman jika saya lalai dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Hal inilah yang kadang membuat saya takut akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak. 
 
Jika berkaca dengan pola parenting yang sering saya baca setelah menjadi orang tua, pemberian hukuman pada anak bukanlah satu-satunya cara untuk mengajarkan anak disiplin dan bertanggung jawab. Apalagi jika hukuman tersebut berbentuk kekerasan seperti cubitan atau pukulan yang justru bisa memberikan pengalaman buruk bagi anak. 
 
Di era parenting sekarang, saya kerap mendengar istilah konsekuensi yang harus anak tanggung jika melakukan kesalahan atau lalai dalam menjalankan kewajibannya. Jadi alih-alih menghukum anak orang tua bisa menerapkan konsekuensi ang masih berhubungan dengan tindakan mereka. 

Misalnya, ketika anak belum merapikan mainannya, ia perlu menyelesaikannya sebelum mengambil mainan yang lain. Atau jika lupa membawa piring bekas makan ke dapur, ya piring tersebut tetap perlu dibawa setelah diingatkan. 

Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, tetapi konsekuensi tersebut bukan bentuk hukuman untuk menakut-nakuti, melainkan bagian dari proses belajar bertanggung jawab.

Penutup

Pada akhirnya, mengajarkan anak bertanggung jawab ternyata tidak sesederhana meminta mereka melakukan pekerjaan rumah lalu berharap mereka akan langsung terbiasa. Hingga kini, saya masih perlu banyak belajar untuk bisa mengingatkan anak tanpa terlalu banyak mengomel dan belajar memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu sendiri. 

Mungkin sampai Yumna berusia sepuluh tahun atau sebelas tahun pun saya masih akan menemukan handuk yang tergeletak sembarangan atau piring bekas makan yang belum dibawa ke dapur. Bisa jadi beberapa tahun lagi saya juga masih harus mengingatkan hal yang sama kepada adiknya nanti. 

Tetapi sekarang saya mencoba melihatnya sebagai bagian dari proses panjang dalam melatih kemandirian anak yang hasilnya akan terlihat saat mereka dewasa nanti. Lebih dari itu, saya juga perlu terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak membebani anak dengan tanggung jawab di luar kapasitas mereka. 

Berangkat dari istilah parentification yang saya ketahui baru-baru ini, saya sadar kalau menjadi orang tua bukan hanya tentang mengajarkan anak untuk mandiri, tetapi juga belajar mengenali batas. Ada hal-hal yang memang perlu mereka lakukan karena itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga. Namun, ada pula beban yang seharusnya tetap berada di pundak orang tua.

Demikian sedikit sharing saya tentang cara mengajarkan anak tugas rumah. Buat teman-teman yang tertarik dengan tulisan seputar dunia parenting, bisa juga mampir ke blog Mbak Alienda Sophia yang juga kerap membagikan kisahnya seputar lifestyle ibu dan hal-hal terkait lainnya. 

Baca Juga

Posting Komentar

27 Komentar

  1. Aku sejak kecil pun sudah diberi tugas sama ibu. Sesederhana merapikan tempat tidur sendiri, cuci piring dan siram tanaman. Walau dulu didikan ibuku agak VOC sih ya haha soalnya kalo aku males ngerjain suka dihukum minimal diomelin :)

    Tapi sekarang ilmu parenting kayak yang mbak Yana tuliskan ini semakin marak. Dan pemahaman orang tua bahwa ini proses belajar bukan kewajiban anak pun semakin baik. Ibaratnya, anak cuci piring tapi masih berminyak ya sudah gakpapa nanti ortu akan membersihkan ulang yang penting anak mau lakukan dulu. Beda kalau zaman dulu, nyuci piring gak bersih alamat kena omel 4 SKS hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk iya banget bahkan bisa kena cubit kalau jaman dulu itu

      Hapus
  2. Pas jaman-jaman aku sekolah, emakku nggak memberikan tugas apapun. Paling kalau pas masak suka minta bantu belikan apa, motong apa, nyuci apa gitu.

    Giliran sekarang sudah dewasa begini, belum menikah dan masih tinggal sama emak. Aku rasanya nggak enak kalau cuma diem di rumah dan nggak ngerjain apapun.

    Tapi, emang bener sih. Mengajarkan anak tugas rumah tuh emang kudu bertahap. Dan nggak berarti orang tua lepas tangan begitu saja.

    BalasHapus
  3. Semangat untuk yumnaa hihii gini toh perasaan orang tua sama anak gadisnya biar bisa mandiri dan bertanggungjawab. Yumna pasti akan menyadarinya saat dewasa kelak. Bahwa tugas itu bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri.

    BalasHapus
  4. Nggak tau kenapa, saya ngerasa anak-anak lebih mudah diajari justru pas masih usia dini gitu. Dulu anak saya yang sekarang usianya otw 8 tahun rajin banget bantuin kayak nyuci baju, jemur, nyapu, beres-beres. Makin besar, masih juga sih saya biasakan seperti itu, tapi kok jadi malah harus disuruh ya? Apa karena kegiatannya sudah banyak yang lebih menarik, jadi ngerjain kerjaan rumah nggak selalu sukarela kayak masih kicik usia 2 3 tahun gitu yang masih ngintilin emaknya ke mana-mana.. Tpi memang pembiasaan ini nggak bisa instan sih, bisa kita lihat hasilnya nanti saat mereka sudah mulai hidup mandiri.

    BalasHapus
  5. Mengajarkan anak pekerjaan rumah sebenarnya bukan sekadar supaya rumah jadi lebih rapi, tetapi bagian dari proses belajar bertanggung jawab dan mandiri. Kadang sebagai orang tua kita memang perlu belajar menahan diri untuk tidak terlalu banyak menuntut. Anak perlu dibiasakan, tapi tetap sesuai usia dan kemampuannya. Semoga Yumna makin mandiri dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang ditanamkan sekarang menjadi bekal baik saat dia dewasa nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Kak. Bayangan anak nggak akan selamanya bersama kedua orang tuanya membuat mengajarkan anaak pekerjaaan rumah jadi kyk seebagaai persiapan gitu sih.

      Hapus
  6. Ya mengajarkan anak pekerjaan rumah adalah salah satu tanggung jawab orang tua.. Karena ini bagian dari pelajaran kehidupan hidup

    BalasHapus
  7. Bagi saya mengajarkan anak pekerjaan rumah setidaknya sebagai bekal mereka saat annti tidak bersama kami lagi, misal kos atau di rumah saudara jadi lebih ke skill of life karena orang tua tidak selamanya mendampingi anak. Namun, tetap penanggung jawabnya ortu sih mbak

    BalasHapus
  8. Walaupun anak saya dua-duanya laki-laki saya tetap mengajarkan pekerjaan rumah kepada mereka seperti menaruh handuk, merapikan dan membersihkan kamar masing-masing sebagai life skill dan sekarang sangat berguna saat mereka harus ngekost.

    BalasHapus
  9. Akh setujuuuu nih. Kita ngajarin anak kerjaan rumah, bukan berarti mengalihkan tugas dewasa, tapi aku pun niatnya supaya dia belajar bertanggung jawab. Dan semua didikan itu akan berguna ketika mereka nantinya akan meninggalkan rumah, hidup mandiri.

    Ga kebayang kalah sampai ga bisa melakukan at least kerjaan basic rumah tangga. Kalau semisal kuliah di luar negeri, kan ga mungkin pake asisten rumah tangga, dikira murah 😅😅.

    Makanya mereka aku ajarin pelan2 kerjaan yang mudah2 dulu mba.

    Memang ga bisa berharap mereka akan langsung rapi dan ingat..aku sendiri dulu baru Muali disiplin ya setelah tinggal jauh dari ortu. Pas masih Ama ortu, ttp aja, handuk kadang lupa lah, tempat tidur ga dirapihin 🤣.

    Setelah merantau, ga bisa kayak begitu. Ada aturan di tempat kos yg hrs diikuti. Bersyukur mama ngajarin semuanya.

    BalasHapus
  10. nah aku juga baru ngeuh ni ada istilah parentification. nambah ilmu baru lagi aja deh, hihihi.

    Tp kalau ngasih anak tanggung jawab, menurutku masih wajar-wajar aja kok. Selagi konteksnya apa yang ditugaskan masih sederhana, bukan hal rumit yang menghabiskan banyak tenaga. Sama satu lagi : kudu ditemenin.

    Misal, kayak rapihin kasur.. ngelipetin baju. Menurutku itu tuh hal yang baiknya diajarkan sejak dini si. Supaya anak tuh timbul kemandirian, bisa hidup tanpa bergantung orang lain.

    BalasHapus
  11. Sepakat, Mbak Ayana. Anak memang perlu diajari untuk lebih bertanggung jawab. Salah satunya dengan mengerjakan tugas rumah tangga yang sesuai dengan usianya.
    Saladin sudah lumayan, bisa naruh piring bekas sendiri, cuci gelas, menyapu, ngepel, angkat jemuran. Dia kuajari kalau tidak ada yang namanya tugas perempuan / tugas laki-laki karena semua penghuni rumah harus bertanggung jawab akan kerapian dan kebersihannya.

    BalasHapus
  12. Saya juga sering merasa gemas sendiri kalau anak diingatkan berkali-kali tapi rasanya seperti angin lalu. Lucunya memang begitu, giliran sudah besar kita baru sadar kalau masa kecil mereka dulu justru sangat menikmati saat diajak sibuk di dapur.
    Terkadang tanpa sadar kita menuntut terlalu banyak karena ingin hidup terasa lebih ringan, padahal mereka masih berproses belajar mengurus diri sendiri. Pendekatan memberikan konsekuensi logis alih-alih hukuman fisik juga jauh lebih masuk akal agar anak mengerti sebab akibat dari tindakannya.

    BalasHapus
  13. Ini tantangan memang bagi para orang tua sekarang, anak-anak generasi alpha butuh pendekatan yang berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Saya sendiri membebani anak juga tidak terlalu berat kok, yang penting mereka ada sedikit gerak daripada main HP terus.

    BalasHapus
  14. Memberikan apresiasi bisa dikatakan sebagai penyemangat juga buat si anak, karena dianya makin semangat dan merasa dapat penghargaan pula. Hal ini, daku perhatikan ketika ponakan daku yang melakukan suatu hal keren, lanjut daku kasih apresiasi, eh dianya happy banget dengan hal itu

    BalasHapus
  15. Memang tantangan besar ya dalam mendidik anak. Orangtua tentu tidak ingin memindahkan beban yang memang jadi tanggung jawab orangtua. Tapi di sisi lain, orangtua tentu berharap agar dengan melakukan tugas2 seperti mencuci piring, meletakkan handuk di tempatnya dan tidak piknik kemana2, anak bisa mandiri. Semoga anaknya ngerti lah ya maksud mamanya.

    BalasHapus
  16. saya baru tahu istilah parentification ini. tapi sebenarnya orang tua, termasuk ibu saya sudah menerapkan. Misalnya habis makan, piring dan gelas cuci sendiri. Jadi hanya gelas dan piring yang dipakai sendiri. bukan serumah. Dan ini sesuai kemampuan anak, plus belajar tanggung jawab. Bersihkan tempat tidur juga, tempat tidur sendiri. saat bantu masak di dapur, juga bantu sesuai kemampuan. Hanya menurut saya, anak sekarang agak malas. beda anak zaman dulu hehehe.

    BalasHapus
  17. Emang sih didikan anak tuh tergantung orangtuanya. Ga ada yang baku harus begini begitu di usia segini segitu. Semua tentu punya konsekuensi masing2.

    Kalo aku sih ada handuk tergeletak, pasti udah marah2 sih. Ya marahnya ga sambil bentak2 juga. Mengingat anak zaman now tuh ga bs dikasarin. Pokoknya sambil dikasih konsekuensi aja.

    Nanti kalo handuknya digeletakin gt, ada kuman loh, bikin kamu gatal2. Mau gatal? Kamu dibawa ke dokter utk disuntik ya? Mau? Krn dia males disuntik, mknya dia segera kabur deh jemur handuknya sendiri.

    Pokoknya dibikin fun sambik canda gt lah ya. Biar anak ga kena beban mental. Meski ada aja jawabannya kalo disuruh mah. Wkwk.

    BalasHapus
  18. mengajarkan anak tentang tugas rumah kepada anak memberikan rasa tanggung jawab sejak dini. anak diajarkan untuk memliki rasa percaya diri untuk terus bersikap mandiri dan tidak mengandalkan bantuan orang lain. catatannya memang harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak, baik tenaga, pikiran, dan moral.

    BalasHapus
  19. Sebagai alumni didikan ala VOC, saya memilih menerapkan parebting yang berbeda Ka, soalnya kadang kalau ingat hukuman yang diterima saat lalai mengerjakan tugas rasanya cukup nyesek, jadi saya berusaha untuk tidak mewariskan pola asuh seperti itu. Jadi memilih trik berbeda ketika mau menganlkan anak tentang tanggung jawab, dan sejauh ini mereka terlihat happy dan minim keluhan. Jadi mereka tetap saya libatkan dalam kegiatan di rumah tetapi saya usahakan mereka paham tujuan saya mengajarkan hal tersebut. Biasanya saya akan sounding bahwa ketrampilan yang saya ajarkan ini bukan untuk membebani tapi agar mereka paham dan bisa survive tanpa ibunya pas nanti mereka masuk pondok.

    BalasHapus
  20. Relate banget masalah anak waktu balita lebih rajin bantu kerjaan rumah dibanding setelah masuk usia sekolah. Mungkin sekarang mereka udah ngerti kalau kerjaan rumah itu nggak asyik hahaha...

    Masalah kerjaan rumah, saya juga masih lebih sering minta tolong. Belum sepenuhnya tanggung jawab dia. Yang wajib dia tanggung jawab sendiri sih yang berhubungan langsung sama dia. Kayak menyimpan handuk habis mandi, menyiapkan buku sekolah, meletakkan piring sesudah makan, merapikan tempat tidur. Belum banyak sih.

    BalasHapus
  21. Begitulah jadi orang tua zaman now, puyeng2 mumet haha, terutama di bagian ngajarin anak2 melakukan pekerjaan rumah.
    idem sih anak2 juga kuajarin bangun bobo rapikan kamar, tapi ini kadang ya suka miss kalau nggak diawasin. Akhirnya paling aku bilang nggak boleh makan kue kalau belum bener2 rapi.
    Kalau soal mencuci piring di rumah udah lama pokoknya abis makan dan minum masing2 bertanggungjawab sama piringnya masing2.
    Cuma kadang melesetnya misal ada satu dua gelas, maksudku kan cuciin sekalian aja kalau melihat di wastafel. tapi kadang masih kurang sepeduli itu buat nyuciin, masih kek apaan sih itu bukan punyaku kok. Aaarrghhh, tugas ortu emang berat siihhh, yaa salah satunya ngarahin anak2nya lha yaa. Semangaatt.

    BalasHapus
  22. Penting banget nih mengajarkan anak bertanggung jawab sesuai usianya lewat kegiatan atau pekerjaan rumah. Tentu bukan berarti melempar tanggung jawab orang dewasa ke anak ya. Melainkan melatih anak dan pemberian konsekuensi pun terbilang sangat realistis serta masuka akal banget sih. Setidaknya anak jadi paham kalau dunia ini berjalan selalu ada konsekuensi setiap tindakan dan pilihan yang dibuatnya. Semoga dimudahkan dan dilancarkan dalam membersamai serta mendidik anak-anaknya ya mbak, semangat terus.

    BalasHapus
  23. MashaAllah.. bener banget, ka Antung.. untuk memberikan anak-anak tanggungjawab sesuai dengan usianya. Sebenernya, anak-anak seneng kok dapet tugas delegasi membantu ibu. Hanya kadang banyak orangtua yang ngerasa "kasihan" sama anaknya.. dan ini bibit dari anak malas dan tidak peduli dengan kelelahan kedua orangtua.

    Sukkaa banget sama parenting ka Antung.
    Karena memilih untuk gak punya ART juga bagian dari parenting.

    BalasHapus
  24. Tulisan Mba menyenggolku, ini terlalu relate wkwkwk.. penting banget nih buat para orang tua, karena ngajarin anak tugas rumah memang perlu dibiasakan sejak kecil ya. Kadang kita sebagai orang tua suka gemas pengin cepat beres, akhirnya malah dikerjakan sendiri 😅 Padahal dari tugas-tugas kecil itu anak belajar mandiri

    BalasHapus
  25. Anak anak perlu diberi tugas meski masih kecil. Tujuannya adalah agar memiliki rasa tanggung jawab sejak kecil. Bahkan anak kecil juga sudah bisa lho diberi tugas. Seperti kalau abis main maka mainannya harus dibereskan kembali.Atau memberi tugas untuk membereskan kamarnya sendiri. Namun, jangan lupa orang tua juga harus memberi contoh. Agar anak mau mengerjakan tugas karena orang tua pun mengerjakan tugasnya.

    BalasHapus