Review Film Aku Sebelum Aku, Kisah tentang Luka Pengasuhan dan Hubungan Ayah-Anak

review film aku sebelum aku


Saat masih sekolah dulu, ada satu keinginan saya yang belum terpenuhi, yakni mengikuti les Bahasa Inggris. Seperti yang kita ketahui, menguasai Bahasa Inggris adalah salah satu hal yang bisa memudahkan langkah dalam berbagai hal, termasuk juga dunia kerja. Sayangnya di masa sekolah tersebut saya terlalu sungkan untuk meminta les kepada orang tua. 

Kini setelah menjadi orang tua, keinginan tersebut saya wujudkan dengan mendaftarkan kedua anak di salah satu bimbel les yang dulu menjadi tempat impian saya. Setiap dua kali seminggu, saya mengantar anak-anak menuju tempat les mereka. Melihat bagaimana anak-anak belajar bahasa Inggris entah kenapa memberikan sebuah kesenangan tersendiri bagi saya seolah saya sendiri yang mengikuti les tersebut.

Dari sini saya mulai menyadari bahwa keputusan orang tua dalam memberikan sesuatu kepada anak ternyata tidak selalu semata-mata karena kebutuhan anak. Kadang, tanpa disadari, ada keinginan masa lalu kita yang ikut terbawa. Kita ingin memberikan kepada anak sesuatu yang dulu tidak sempat kita miliki. Mungkin inilah yang sering disebut sebagai inner child.

Hal inilah yang kemudian terlintas di pikiran saya ketika menonton film berjudul Aku Sebelum Aku yang dibintangi Ringgo Agus Rahman dan juga Bima Sena. Film keluarga karya Gina S. Noer ini membungkus sebuah kisah tentang peran ayah dan juga inner child yang ternyata berpengaruh pada pola pengasuhan orang tua pada anaknya. 

Bagaimana cerita lengkap dari film ini? Yuk baca tulisan ini sampai selesai:

Sinopsis Film Aku Sebelum Aku



Film Aku Sebelum Aku berkisah tentang Jati, putra semata wayang Jaya dan istrinya. Sebagai anak, Jati mengalami tekanan dari sang ayah yang mengharapkannya untuk selalu berprestasi di sekolah. Jaya, sang ayah sendiri memiliki impian untuk bisa membersamai Jati dalam tumbuh kembangnya dan menjadikan Jati anak yang berprestasi. Untuk itu, dia rela meninggalkan pekerjaannya di Jakarta dan bekerja di sebuah hotel di Bandung agar bisa selalu memiliki waktu fleksibel untuk Jati. 

Ngomongin Bandung, saya jadi ingat sama Teh Okti, teman blogger yang merupakan Kreator Digital Cianjur. Jauh nggak sih dari kota Bandung kota Cianjur ini? 

Sayangnya dukungan yang diberikan Jaya malah memberikan tekanan yang besar pada Jati. Meski Jati memang memiliki kemampuan akademik yang baik, sang ayah terlalu berfokus pada prestasi akademiknya. Padahal, Jati juga memiliki ketertarikan pada bidang lain seperti seni dan olahraga. Tekanan untuk terus berprestasi inilah yang kemudian membuat Jati mengalami masalah di sekolah hingga akhirnya harus meninggalkan sekolah tersebut.
 
Jati kemudian memutuskan untuk masuk ke sebuah sekolah informal atau PKBM bernama Sekolah Tunas Merdeka yang berbeda sekali programnya dari sekolahnya dulu. Di sekolah ini, anak-anak tidak dituntut untuk memiliki prestasi akademik namun lebih belajar untuk mengasah minat dan bakat mereka. Keputusan ini pastinya sangat ditentang oleh Jaya namun berkat bujukan ibunya akhirnya keinginan Jati untuk bersekolah di sana bisa direalisasikan. 

Di sekolah barunya ini Jati berkenalan dengan Asa dan teman-teman lainnya. Untuk tugas akhir SMP mereka, semua anak di sekolah diberi proyeknya masing-masing. Ada yang membuat proyek melukis, proyek sejarah, hingga film pendek. Jati sendiri kemudian memilih bergabung dengan Asa yang membuat proyek dokumenter terkait asal usul dirinya. 
 
Siapa sangka ternyata proyek ini membuat Jati harus menggali kembali masa lalu keluarganya terutama sang ayah. Jati kemudian baru mengetahui trauma dan luka pengasuhan yang harus dihadapi oleh sang ayah di masa kecilnya bersama sang kakak yang ternyata masih hidup dan tinggal di kota yang sama dengan mereka. Padahal selama ini Jati diberitahu kalau sosok pamannya itu sudah meninggal. Rahasia apa sebenarnya yang disimpan sang ayah dari Jati?

Kesan Setelah Menonton Film Aku Sebelum Aku

review film aku sebelum aku

 

Sebagai penonton film Indonesia, saya sudah menonton 3 film garapan Gina S. Noer yakni Dua Garis Biru, Like & Share, Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga dan juga Dua Hati Biru yang merupakan sekuel dari Dua Garis Biru. Dari beberapa film tersebut, saya melihat satu benang merah yang cukup kuat, yaitu bagaimana Gina S. Noer banyak mengangkat persoalan keluarga dan hubungan antaranggotanya.

Hal yang sama saya temukan dalam Aku Sebelum Aku. Film ini membawa tema tentang luka pengasuhan yang ternyata dapat memengaruhi cara seseorang menjalankan perannya sebagai orang tua.

Melalui sosok Jati dan Jaya, kita diperlihatkan bagaimana pengalaman masa lalu seorang ayah dapat membentuk cara pandangnya dalam membesarkan anak. Jaya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi ayah yang berbeda dari sosok ayah yang pernah ia miliki. Ia ingin hadir untuk Jati, mendukung pendidikan Jati, sekaligus memastikan anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun, tanpa disadari, keinginan tersebut justru membuat Jaya memberikan tekanan yang besar kepada Jati. Di sinilah saya merasa film ini cukup menarik. Karena dalam kehidupan nyata, orang tua mungkin tidak selalu menyadari bahwa pola pengasuhan yang mereka lakukan sebenarnya dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.

Satu hal yang membuat saya kurang sreg dalam film ini adalah kehadiran Asa yang rasanya cukup mengaburkan fokus cerita. Meski sebenarnya kisah Asa merupakan jembatan dari bagaimana Jati akhirnya mengetahui luka pengasuhan sang ayah, namun porsi yang diberikan untuk karakternya sempat mengalihkan fokus cerita yang seharusnya antara Jati dengan ayahnya. 

Hal ini sempat membuat saya bertanya-tanya mengenai posisi Asa dalam keseluruhan cerita. Apakah kisahnya memang sengaja ditempatkan sebagai bagian penting dari perjalanan Jati, atau justru menjadi cerita lain yang berjalan berdampingan? Padahal konflik antara Jati dan rahasia luka pengasuhan ayahnya sudah cukup menjadi inti utama dari film ini yang bisa lebih digali lagi penyelesaiannya. 

Meski begitu, saya tetap memahami mengapa karakter Asa hadir dalam cerita. Tanpa Asa dan proyek dokumenter yang mereka kerjakan bersama, mungkin Jati tidak akan pernah sampai pada titik untuk membuka kembali rahasia masa lalu keluarganya.

Jadi, bagi saya, Asa memang penting dalam cerita. Hanya saja, kehadirannya terkadang terasa seperti mengambil ruang yang cukup besar dari konflik utama antara Jati dan ayahnya.

Pesan Moral Film Aku Sebelum Aku

Sebagai seorang ibu, film Aku Sebelum Aku pastinya memberikan banyak pesan moral dan pemikiran baru terutama dalam hal mendidik anak. Meski dalam film ini fokus utama adalah hubungan antara ayah dan anak, pesan yang disampaikan juga pastinya bisa diaplikasikan untuk ibu bekerja seperti saya:

1. Luka Pengasuhan Tak Selalu Dalam Bentuk Kekerasan

Tidak semua luka yang diberikan orang tua kepada anak berasal dari niat untuk menyakiti. Kadang, luka justru muncul dari sesuatu yang dilakukan karena merasa sedang memberikan yang terbaik. Selama ini kita mungkin mengira luka pengasuhan hanya berasal dari kekerasan, padahal tuntutan yang berlebihan atau perkataan dan perlakuan orang tua yang membuat anak merasa tidak cukup baik juga bisa meninggalkan luka.

Hal inilah yang terlihat dalam hubungan Jaya dan Jati. Jaya sebenarnya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, tetapi keinginannya tersebut justru membuat Jati merasa tertekan. Dari sini saya belajar bahwa niat baik saja tidak selalu cukup dalam pengasuhan. Kita juga perlu melihat bagaimana anak menerima dan merasakan apa yang kita berikan.

2. Jangan Selalu Mengukur Keberhasilan Anak dalam Bentuk Prestasi Akademik

Orang tua juga kadang mengukur keberhasilan anaknya dalam bentuk angka di prestasi akademiknya. Seperti kata Jaya dalam film ini, anak yang berprestasi pasti akan sukses dan kalau orang sukses pasti akan bahagia. Padahal tidak semua anak memiliki kemampuan untuk mengejar prestasi akademik. 

Bisa jadi anak memiliki bakat di bidang lain yang jika dikembangkan malah akan membuat anak sukses dan bahagia. Tugas orang tua bukan menentukan bidang apa yang harus membuat anak berhasil, melainkan membantu anak menemukan potensi yang dimilikinya.

3. Sayangilah Anak dengan Tulus 

Ada satu kalimat dalam dialog antara Jati dan ayahnya yang cukup mengena di hati saya. Di penghujung film, Jati mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ingin dicintai apa adanya. Ia tidak ingin ketika suatu saat gagal atau kalah, dirinya merasa tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Padahal, Jati sangat menyayangi ayahnya.

Dari sini saya kembali diingatkan bahwa sudah sepatutnya orang tua mencintai anak-anaknya tanpa menjadikan prestasi sebagai syarat untuk mendapatkan kasih sayang. Anak boleh gagal, kalah, atau melakukan kesalahan. Namun, mereka tetap harus tahu bahwa rumah adalah tempat untuk pulang dan orang tua adalah tempat mereka merasa dicintai apa adanya.

4. Jangan Jadikan Anak sebagai Tempat Menyelesaikan Luka Masa Lalu 

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki pengalaman masa lalu yang membentuk diri kita saat ini. Ada hal-hal yang mungkin dulu tidak kita dapatkan dan ingin kita berikan kepada anak. Saya sendiri mengalaminya ketika mendaftarkan anak-anak mengikuti les Bahasa Inggris di tempat yang dulu menjadi impian saya.

Memberikan sesuatu yang dulu tidak kita miliki kepada anak tentu tidak selalu buruk. Bahkan bisa menjadi bentuk kasih sayang. Namun, film Aku Sebelum Aku mengingatkan saya bahwa kita juga perlu berhati-hati agar keinginan tersebut tidak berubah menjadi tuntutan. 

Anak bukan kesempatan kedua bagi orang tua untuk menjalani kehidupan yang berbeda. Mereka adalah individu yang memiliki minat, kemampuan, impian, dan jalan hidupnya sendiri.

Penutup

Pada akhirnya, menjadi orang tua mungkin bukan tentang bagaimana membuat anak menjadi versi terbaik menurut kita. Lebih dari itu, kita perlu memberikan ruang agar anak dapat mengenali dirinya sendiri. Sebab, kita mungkin bisa menentukan sekolahnya, mendampinginya belajar, bahkan memberikan berbagai fasilitas untuk mendukung masa depannya. Namun, kita tidak bisa menentukan siapa dirinya kelak.

Dan mungkin, tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa ketika suatu hari anak mencari tahu siapa dirinya, ia tidak perlu terlebih dahulu melepaskan luka yang kita tinggalkan, seperti yang dilakukan Jati dan ayahnya. 

Demikian review saya untuk film Aku Sebelum Aku. Selain film Aku Sebelum Aku, saya juga menuliskan review drama seri Adolescence yang menurut saya memiliki pesan moral tak kalah bagus bagi orang tua. Teman-teman juga bisa membaca tulisan Blogger Cianjur yang juga cukup sering bercerita tentang dunia pesantren yang sedang dijalani oleh putra semata wayangnya.  

Baca Juga

Posting Komentar

27 Komentar

  1. Cerita tentang hubungan ayah dan anak yang sama-sama membawa luka dari masa lalu memang terasa cukup emosional. Aku suka bagian ketika film ini nggak hanya mengajak melihat kesalahan orang tua, tetapi juga bagaimana seseorang bisa belajar memahami luka dan menerima keluarganya. Pesan untuk mencintai anak bukan hanya karena prestasinya juga terasa kuat, terutama dari sudut pandang sebagai orang tua

    BalasHapus
  2. Kayaknya ini tipe film yang setelah selesai ditonton malah bikin kita refleksi sebagai orang tua. Bagian tentang anak bukan kesempatan kedua untuk mewujudkan keinginan masa lalu orang tua itu ngena banget. Kadang niatnya ingin memberi yang terbaik, tanpa sadar justru berubah jadi tuntutan.

    BalasHapus
  3. Pesan moral yg pertama: luka pengasuhan nggak selalu dalam bentuk kekerasan. aku jadi teringat salah seorang influncer terkenal yang juga sempat bikin gempar medsos karena statement dia. Yaitu dia memutuskan untuk childfree. Dan alasannya karena orang tuanya dulu sangat ambisus. Mereka tidak menelantarkan, malahan sangat memprovide tapi tidak mau mendengarkan kemauan sang anak. Memang sekarang anaknya sukses, tapi dia besar dengan luka sehingga memutuskan untuk childfree.

    BalasHapus
  4. Saya juga pernah menonton film ini. Setuju dengan reviewnya, sebagai seorang bapak yang punya masa lalu, ia ingin anaknya sukses tapi dengan standar ayahnya, bukan standar anaknya. Padahal Jati sudah cukup berprestasi bagi bapaknya belum. Berbahaya bagi anak di masa depannya.

    BalasHapus
  5. Bandung Cianjur itu bersebelahan
    Sebelah barat Cianjur, sebelah Timur Bandung
    Tempat saya tinggal di Cianjur Selatan ini, kecamatan nya berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung
    Kalau kotamadya Bandung nya kan ada di tengah, di pusat kota Bandung ya...

    Btw inner child seperti itu saya juga sering memikirkannya dulu saya begitu, sekarang ingin anak tidak seperti saya
    Makanya sebisa mungkin memberikan yg terbaik untuk putra semata wayang ini

    Btw terimakasih ya ulasannya. Kalo boleh info, kreator digital Cianjur nya ditambahkan ya....

    BalasHapus
  6. Ringgo lagi on fire banget dan peran kayak gini udah jadi makanannya banget. Aku setuju sama poin mbak Yana yang luka pengasuhan tak selalu dalam bentuk kekerasan, tapi ada banyak sekali bentuk hubungan/komunikasi yang tidak ideal antara ortu dan anak yang bisa jadi trauma luka pada anak.

    Ah jadi penasaran pengen nonton filmnya. Kudu siapin mood yang pas juga sih kalau nonton film bertema kayak gini.

    BalasHapus
  7. Waaah Ama Ringgo yg main yaaa 😍😍😍. Agak jauh bandung cianjur mba, kurleb 2 jam.

    Aku bersyukur juga papaku dulu walau keras, tp ga maksa kami harus berprestasi macam2.cukup masuk 10 besar aja, dan jangan bikin ulah 🤣. Kebayang stress kalau ortu maksa anak utk selalu berprestasi yaa.

    Sebenernya mungkin bener pengasuhan di zaman dulu bisa terbawa ke masa kini. Akupun sedikit keras terhadap anak2 Krn dulu dididik keras.

    Tapiiii aku ga mau mengikuti cara papa yg sampe menentukan segalanya ttg jurusan apa yg harus diambil, universitas mana yg boleh akh masuki, subjek apa yg wajib dikuasai etc. kalau dalam hal ini aku kasih kebebasan ke anak2 utk pilih sendiri sesuai bakat dan minat mereka.

    Krn aku ngerasain bangetttt, itu stress mba. Dan berefek hubungan ku dengan ortu ga bagus. Itu yg aku ga mau terjadi ke anakku sendiri. Aku tegas ke mereka, tp utk pilihan hidup, aku bebaskan. Selama ga melanggar agama. So anak2 pun menganggap aku tetap sebagai ibu dan teman juga. Bebas mereka curhat segala macam

    BalasHapus
  8. Film drama keluarga itu memang seru ya buat ditonton, apalagi karya Gina S. Noer itu ceritanya selalu dekat dengan masyarakat. Terlebih film ini tentang dinamika hubungan orang tua dan anak, ada trauma yang diwariskan antargenerasi, dan juga perjalanan mengenali jati diri lewat jejak masa lalu. Jadi rasa-rasanya, pasti akan selalu ada pesan moral yang bagus di dalamnya.

    BalasHapus
  9. Kadang kita nggak sadar kalau niat baik ke anak justru berakar dari inner child kita sendiri yang belum selesai.
    Film ini kayak pengingat halus buat para orang tua. Niatnya mau membahagiakan, tapi kalau keliru eksekusi malah bikin anak merasa terbebani. Bagian poin pesan moral nomor empat itu ngena banget di hati.

    BalasHapus
  10. Saya kebetulan sudah nonton film ini di Netflix, Mbak Antung. Cerita yang diawali dengan Jati menerima piala di sekolah, ternyata tidak menyenangkan baginya.kerena tertekan dangan ambisi ayahnya. Sampai ayahnya Kira Jati kena sesuatu sampai disempur denga rapalan mantra. Saya juga suka akting widuri yang ternyata hanya anak angkat.

    BalasHapus
  11. Banyak orang tua yang kayak gini. Memaksakan kehendak supaya anak bahagia. Padahal sebenarnya malah tertekan. Kalo melawan dianggap durhaka. Duh. :(

    BalasHapus
  12. Kadang kala kita sebagai orang tua suka menjafikan anak sebagai tempat pelampiasan segala hal yg dulu tidak bisa kita raih dan skgr harus anak yg melakukannya. Meski menurut kita hal tsb menyenangkan dan demi kebaikan anak. Pafahal belum tentu anak menyukainya.

    Filmnya bagus yaa koq saya belum nonton padahal tiap malam syaa membuka netflix

    BalasHapus
  13. Review film "Aku Sebelum Aku" di blognya ini disajikan dengan sangat ciamik, dalam, dan mengalir indah dari paragraf awal sampai akhir. Mba Ayana sukses membedah plot, dinamika karakter, sampai pesan moral filmnya tanpa spoilers yang mengganggu, tapi tetap berhasil nularin rasa penasaran dan emosi mendalam ke pembaca. Bener-bener ulasan film berkelas yang ditulis pake hati dan ketajaman sudut pandang pengamat sinema sejati.

    BalasHapus
  14. Pesan moral dari film ini keren banget sih menurutku. Tentang luka pengasuhan, apalagi di zaman orang tua dulu kan mana ada belajar parenting? Yang ada kebiasaan pengasuhan turun-temurun. Saya sendiri belum menonton film ini, soalnya di tempat saya tidak ada bioskop. Ndeso banget sih. Hehe.

    BalasHapus
  15. Pesan dari film Aku Sebelum Aku, ini bagus banget. Terutama buat para ortu. Mesti aku akui sih ortu ku pun kurang lebih kayak peran pak Jaya di film ke Jati tuh. Hehehe fokusnya hanya ke prestasi akademik dan agak otoriter. Padahal, kalau ortu beneran bisa sayang anak secara tulis, itu jauh lebih bagus. Impact-nya bakalan powerful juga. Jadi anak bisa berprestasi dengan bahagia. Begitulah luka pengasuhan tidak melulu kekerasan, tekanan dan tuntutan pun bisa kasih impact luar biasa.

    Mesti aku tonton nih Film Aku Sebelum Aku, menarik dan bagus.

    BalasHapus
  16. Yes banget, inner child nggak melulu tentang kekerasan ya. Baca mba antung cerita soal masa kecil yang nggak sempat les bahasa Inggris dan jadi inner child, saya juga punya pengalaman meskipun beda konteks. Dulu saya sering ikut lomba, dan kalau nggak menang tiga besar, ayah saya suka ngomong "kenapa sih juara 3 aja nggak bisa?" duh itu jleb banget dan masuk ke core memory saya. Sekarang saya punya anak, dan kalau dia ikut lomba tapi nggak menang sejujurnya saya yang kecewa banget dan pengen ngomong hal yang sama kayak bapak saya dulu. Tapi saya sadar kayaknya itu luka pengasuhan dulu yaa yang masih ada. Alhamdulillahnya sejauh ini pikiran itu udah bisa mulai terpinggirkan sih, anak saya ya bukan saya, tugas saya full support selama itu buat kebaikan dia.

    BalasHapus
  17. Komunikasi yang kurang berjalan dengan baik antara orangtua dan anak, ternyata bisa jadi penyebab luka pengasuhan. Dan kalau dipikirkan benar juga sih, semisal si anak tidak dipedulikan tentunya akan selalu terbayang olehnya hingga dewasa kelak. Film ini bisa jadi masukan ya, agar baik orangtua maupun anak bisa lebih harmonis dalam hal komunikasi

    BalasHapus
  18. Bagian soal luka pengasuhan yang nggak selalu berupa kekerasan itu poin yang sering luput disadari orang tua, termasuk niat baik yang berubah jadi tekanan tanpa disadari. Kisah Jaya dan Jati ini relate banget, sebab siapa sih orang tua yang nggak pengen anaknya sukses? Tapi cara mengekspresikannya kadang keliru.

    Kalau nonton film kayak gini, seringkali bikin aku melow mbak. Kayak merasa ditampar dengan gimana selama ini aku mendidik anak-anak. Hiksss... :(

    BalasHapus
  19. Sinopsisnya relate bgt dgn kondisi keluarga mayoritas org Indonesia nih. Biasanya emg ortu tuh ngarepin anak2 trs berprestasi. Apalagi punya cita2 yg sbnrnya malah cita2 org tuanya dulu. Krn ga kesampaian, anak2 dipaksa utk mewujudkan impian ortu yg tertunda dulu.

    Yang menarik, film ini seperti membalik pertanyaan dari “orang tua sudah memberikan yang terbaik atau belum?” menjadi “yang dianggap terbaik itu benar-benar dirasakan sebagai yang terbaik oleh anak nggak?” Bagian Jaya yang ingin anaknya berprestasi justru membuat konflik terasa lebih manusiawi, karena niatnya bukan jahat.

    Aku juga suka ketika review ini tidak sekadar memuji film, tapi berani membahas karakter Asa yang menurut kak Antung malah sempat mengaburkan fokus hubungan Jati dan ayahnya.

    Justru bagian kritik seperti itu yang bikin ngerasa review-nya lebih jujur dan bikin penasaran untuk menonton filmnya sendiri.

    BalasHapus
  20. Wah tentang Luka pengasuhan ya. Bikin kepengen nonton deh ih film yang begini. Soalnya relate banget sama hidup aku. Aku dulu gak nyadar dengan cara aku mendidik anak-anak sampai akhirnya banyak denger tentang luka pengasuhan. Sekarang, aku jadinya sebisa mungkin hati-hati kepada anak. Iya jangan sampai anak jadi sasaran dari apa yang pernah aku alamin, atau jadi ambisi aku untuk meraih apa yang tidak pernah aku raih. Orang tua kudu kayaknya ya sering2 nonton film begini.

    BalasHapus
  21. Belajar pengasuhan dari Film Aku Sebelum Aku begini bagaikan memiliki refleksi yang bagus untuk kita dari POV orangtua yaa.. Bahwa sebenernya apa yang kita curahkan belum tentu yang mereka inginkan atau butuhkan. Sedih juga kalau cinta orangtua malah membebani mereka yang dalam masa pencarian jati diri. Semoga kita bisa membimbing anak-anak ke arah yang Allah ridloi.
    Amiin allahumma amiin.

    BalasHapus
  22. Wah Agus Ringgo loh lineup nya. Gausah ditanya nih ma ya, aku percaya filmnya bagooos. Soalnya terakhir kali liat dia berperan sebagai sosok 'orang tua', itu di film Jangan Panggil Aku Ayah. Dan gillsss keren banget lho aktingnya dia.

    Perkara luka masa lalu, ini juga yang sebisa mungkin aku redam ke anak ya. Maksudnya, aku berusaha tidak menuntut dia terlalu banyak, sesuai dengan standar hidupku. Makanya sebisa mungkin aku selalu tanya, dia tuh maunya apa.. minatnya kemana. baru kemudian aku kasih arahan kesana.

    Jangan sampe deh, masa lalu kita ngaruh ke pola pengasuhan anak.

    BalasHapus
  23. Mba Gina S Noer kalau bikin film keluarga dapet banget pesannya ya. Pasti banyak yang relate juga sama cerita dari film ini. Menarik sih karena sebagai orang tua jadi bisa belajar dari ceritanya dan bisa jadi inspirasi juga gimana harus bersikap ke anak sendiri. Apalagi akalu tanpa kita sadari kita sudah berekspektasi macam-macam ke anak yang mana anak kita belum tentu suka dan mau dengan apa yang kita pilihkan ya mba..

    BalasHapus
  24. Film yang bagus mbak, suka dengan genre dan tema yang diusung. Masih bisa dicari ga ya filmnya, pengen nonton
    Ceritanya relate dengan kehidupan sekitar kita, bahkan dengan kisah saya juga. Memang ga hanya kekerasan yang membuat luka, justru kata-kata yang menancap kuat dan sulit disembuhkan

    BalasHapus
  25. Pernah nonton trailer film ini dan rasanya sedih sekali. Emang menjadi orang tua itu nggak mudah ya. Sebagai anak pun saya pernah merasa ada sesuatu dalam diri orang tua saya yang nggak sesuai, mungkin seperti Jati ini. Namun setelah merasakan jadi orang tua, saya sadar sebetulmya tujuan mereka baik. Tapi ya dulu mana paham waktu masih jadi anak hahaha... Semoga kita bisa tetap akur selama sama anak ya.

    BalasHapus
  26. Aku nonton ini banyak mikir jadinya mbaaa.. soal luka pengasuhan yang kadang muncul bukan karena orang tua berniat menyakiti, tapi justru karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Bagian tentang anak yang nggak harus berprestasi supaya layak dicintai juga terasa dalam banget. Jadi pengingat buat kita sebagai orang tua ya Mbaaa

    BalasHapus
  27. Ternyata cerita filmnya nggak cuma soal ayah dan anak, tapi juga tentang luka masa lalu yang tanpa sadar bisa ikut terbawa saat kita membesarkan anak. Bagian Jati yang cuma ingin dicintai apa adanya juga terasa cukup menyentuh. Terus aku relate juga sama cerita di awal soal les Bahasa Inggris, ternyata sebagai orang tua kita memang bisa tanpa sadar memberikan hal-hal yang dulu kita inginkan ke anak. Huaaa banyak banget renungannya di film ini!

    BalasHapus