Media Sosial dan Ibu Bekerja: Me Time atau Sumber Lelah?

Media Sosial dan Ibu Bekerja: Me Time atau Sumber Lelah?


Di era digital seperti sekarang, rasanya sulit sekali ya bagi kita untuk bisa lepas dari yang namanya media sosial. Saya, contohnya. Di tengah jam kerja di siang hari, biasanya tetap menyempatkan diri untuk memantau perkembangan dunia, pertemanan dan yang lainnya lewat akun media sosial yang dimiliki entah itu lewat X, Instagram, Tiktok hingga mungkin yang paling baru di aplikasi threads.

Ada banyak informasi dan cerita yang bisa saya dapat dari media sosial ini. Baik itu dalam bentuk video, gambar bahkan utas beserta komentarnya. Namun ironisnya, kadang niat untuk sekadar mengupdate perkembangan dunia sekitar ini berujung jadi scrolling tanpa henti. 

Awalnya mungkin hanya sepuluh menit.  Eh, ternyata tanpa terasa bisa hampir satu jam jari saya terus menggeser layar. Bahkan tak jarang, kalau misalnya saya membuka media sosial ini di malam hari, ujung-ujungnya saya jadi begadang karena tak bisa berhenti scrolling. Yang membuat saya semakin tidak nyaman adalah ketika sadar waktu habis untuk scrolling, sementara anak justru menunggu untuk ditemani atau ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. 


Media Sosial, Update Dunia dan Hingga Ladang Cuan

Media Sosial dan Ibu Bekerja: Me Time atau Sumber Lelah?


Perkembangan dunia digital selama sepuluh tahun terakhir memang sangat luar biasa. Siapa yang menyangka kini hanya dengan membagikan story di Instagram seseorang bisa menghasilkan jutaan rupiah? Bahkan ada yang rela membayar hanya untuk menonton atau membaca sebuah konten eksklusif dari seorang kreator. 

Bagi seorang blogger, kehadiran media sosial bisa menjadi pisau bermata dua untuk mereka. Media sosial bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan tulisan di blog dan memperkuat branding diri. Salah satu contohnya seperti Teh Okti yang membagikan kesehariannya di akun instagram indungbageur.

Namun di sisi lain, dengan semakin menggiurkannya penghasilan dari konten media sosial membuat banyak blogger yang mungkin berpindah haluan menjadi konten kreator di media sosialnya ketimbang di blog pribadi. 

Sementara itu, bagi para penikmat konten seperti saya, kehadiran media sosial ternyata juga bisa mengurangi produktivitas. Hal ini karena banyak waktu pada akhirnya dihabiskan hanya untuk menonton konten yang kadang tidak memberikan manfaat yang berarti. Sayang sekali, bukan?

Tak hanya itu, konten pendek juga pada akhirnya membuat rentang konsentrasi kita jadi menurun. Kita jadi terbiasa dengan konten instan dengan durasi hanya beberapa puluh detik. Belum lagi maraknya hoaks dan fitnah akibat video yang dipotong tanpa konteks yang jelas sehingga dapat menggiring opini masyarakat.

Hal terakhir yang menurut saya menjadi efek buruk dari terlalu banyak scrolling di media sosial adalah kita dituntut untuk menjadi lebih konsumtif. Dengan banyaknya konten yang dibuat dengan menawarkan berbagai produk entah itu keperluan rumah tangga, skincare hingga fashion, pastinya akan membuat jari tergerak untuk melakukan pembelian meski sebenarnya kita belum terlalu memerlukan produk tersebut.

Scroll di Media Sosial yang Berujung Insecure 

Tak hanya bisa memperpendek rentang konsentrasi dan membuat kita semakin konsumtif, media sosial juga bisa membuat penggunanya menjadi insecure dengan keadaan dirinya. Berbagai macam konten yang hadir di media sosial seolah menjadi standar dari pencapaian hidup seseorang. Tak hanya konten flexing yang memamerkan kekayaan, bahkan konten sederhana terkait kehidupan sehari-hari bisa membuat seseorang insecure dengan kehidupannya.

Padahal sejatinya apa yang ditampilkan di media sosial juga tidak menggambarkan kehidupan asli pemilik akun tersebut. Pasangan suami istri yang selalu terlihat harmonis bisa saja bertengkar sebelum membuat konten. Orang yang selalu posting tentang traveling bisa jadi juga memiliki masalah lain yang harus diselesaikan.

Saya pun cukup sering merasakan insecure ini saat membuka media sosial. Bagi seorang ibu seperti saya, hal yang paling membuat insecure adalah terkait tumbuh kembang anak. Memiliki anak yang susah sekali makan membuat saya selalu merasa gagal saat ada konten tentang ibu yang menyiapkan bekal anak dan anaknya bisa makan dengan lahap. 

Media Sosial dan Waktu yang Tak Terasa Hilang

Sebagai ibu bekerja, saya mulai menyadari bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga. Di pagi hari, waktu saya habis untuk bersiap dan mengurus anak. Di siang hari, fokus terbagi dengan pekerjaan dan juga urusan antar-jemput anak. Sementara di malam hari, merupakan waktu terbaik bagi saya untuk beristirahat atau membersamai keluarga.

Namun tanpa disadari, media sosial sering mengambil sebagian dari waktu-waktu tersebut. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat, justru habis untuk scrolling hingga berujung pada begadang. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membersamai anak dan suami, justru teralihkan oleh layar di tangan. Dan saya yakin ini tidak hanya terjadi pada saya, namun juga pada ibu-ibu lain di dunia.

Media Sosial, Me Time atau Sumber Lelah?

Di tengah kesibukan membagi waktu antara pekerjaan dan urusan domestik, kehadiran media sosial memang bisa menjadi me time yang menyenangkan bagi para ibu. Hanya dengan menonton video lucu di aplikasi tiktok pastinya sudah cukup membuat kita tersenyum selama beberapa menit. Atau bahkan di saat kepala sedang bingung ingin membuat menu apa untuk keluarga, maka media sosial lagi-lagi menjadi sumber jawaban kita.

Sayangnya dengan semakin banyaknya konsumsi media sosial, tanpa sadar kita pun dibuat lelah. Lelah karena terlalu banyak informasi. Lelah karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Dan lelah karena waktu yang terbuang tanpa terasa. Karena itulah saat ini kita juga harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial terutama jika itu untuk hal yang bersifat rekreatif. 

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan media sosial ini diantaranya dengan membatasi waktu membuka media sosial setiap harinya, memilih konten yang benar-benar bermanfaat bagi kita dan juga mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih produktif. 

Penutup

Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita saat ini. Sulit untuk benar-benar lepas, tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengendalikannya.

Sebagai ibu bekerja, saya belajar bahwa menjaga waktu dan energi adalah hal yang penting. Karena di tengah segala kesibukan, ada hal-hal yang tidak bisa digantikan, seperti waktu bersama keluarga dan perhatian untuk anak.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang menentukan:
apakah media sosial akan menjadi alat yang membantu kita berkembang,
atau justru menjadi sumber lelah yang perlahan menguras energi kita.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar