Saat Ocehan Anak Terasa Melelahkan: Tanda Ibu Mengalami Overstimulasi

Saat Ocehan Anak Terasa Melelahkan: Tanda Ibu Mengalami Overstimulasi


Anak kedua saya, Yafiq bisa dibilang sebagai anak yang sangat suka bicara. Setiap harinya, sepanjang perjalanan kami dari rumah ke kantor dan sebaliknya, ada saja ocehan yang keluar dari mulutnya. Mulai dari mengomentari papan iklan di jalan hingga berbagai cerita di sekolah. Bahkan Yafiq kerap berkata kalau dalam sehari dia harus menghabiskan puluhan ribu kata baru bisa istirahat.

Hal ini cukup berbanding terbalik dengan sang kakak. Meski katanya perempuan itu lebih banyak bicara, namun Yumna putri saya malah hanya berbicara seperlunya saja. Kalau saya tidak bertanya, maka dia tidak akan bercerita. 

Jujur untuk bagian ini kadang membuat saya jadi khawatir kalau-kalau Yumna merasa tidak nyaman bercerita dengan ibunya sendiri. Padahal salah satu impian saya adalah agar anak-anak bisa nyaman curhat dengan orang tua seperti yang ditulis teman saya blogger Surabaya di blognya.  

Sebagai seorang ibu, menghadapi anak yang "banyak bicara" pastinya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihannya saya tak perlu repot mencari bahan obrolan. Bahkan kadang saya sambil bercanda menyarankan agar Yafiq belajar berpidato atau jadi MC saja nanti untuk menyalurkan bakat bicaranya.

Di lain pihak, jujur kadang saya dibuat pusing dengan ocehan yang keluar dari mulut Yafiq. Bahkan Yumna sang kakak pernah menangis karena Yafiq yang tak berhenti berbicara saat akan tidur. Dan kadang ada masanya saya akhirnya jadi kesal lalu berujung marah-marah karena terus-terus mendengar ocehan Yafiq.

Belakangan saya baru tahu kalau apa yang saya rasakan itu termasuk dalam overstimulasi. Jadi mungkin selama ini kita hanya tahu kalau overstimulasi hanya ada pada anak-anak. Padahal nyatanya orang tua juga bisa mengalaminya sebagai akibat dari berbagai peran yang harus dijalani setiap harinya. 

Apa Itu Overstimulasi pada Ibu?

overstimulasi pada ibu


Dari berbagai sumber yang saya baca, overstimulasi adalah kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu bersamaan, sehingga akhirnya kewalahan. Bagi para ibu, rangsangan ini bisa datang dari hal-hal sederhana seperti:
  • suara anak yang terus-menerus
  • notifikasi HP yang tidak berhenti
  • pekerjaan rumah yang menumpuk
  • tekanan pekerjaan
  • bahkan pikiran sendiri yang tidak pernah diam
Saat semua itu terjadi bersamaan, otak kita seperti “penuh” dan di situlah emosi mulai sulit dikendalikan.

Penyebab Ibu Mengalami Overstimulasi

Beberapa hal yang menyebabkan ibu mengalami overstimulasi diantaranya:

1. Paparan Gadget atau Media Sosial yang Berlebihan

Media sosial dan gadget memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Bahkan ada juga para ibu yang bekerja menggunakan gadget dan media sosialnya. Namun seperti yang saya tuliskan dia artikel Media Sosial, Sumber Me Time atau Lelah, terlalu sering mengakses media sosial akan memberikan akibat yang kurang baik salah satunya adalah overstimulasi pada otak.

2. Lingkungan yang Terlalu Ramai atau Bising

Berada di lingkungan yang terlalu ramai atau bising memang pastinya akan membuat indera penglihatan dan pendengaran kita bekerja lebih aktif. Hal ini secara tidak langsung juga akan membuat kedua indera kita itu mengalami overstimulasi dan berpengaruh pada otak.

3. Tuntutan Menyelesaikan Banyak Pekerjaan Sekaligus

Para ibu biasanya dituntut untuk bisa menyelesaikan banyak hal, terutama saat berada di rumah. Dalam sehari entah berapa pekerjaan yang harus diselesaikan para ibu yang berkaitan dengan urusan rumah tangga. Sementara bagi ibu bekerja, tuntutan pekerjaan di kantor dan pekerjaan rumah juga bisa menjadi penyebab terjadinya overstimulasi pada otak. Apalagi jika ibu memutuskan untuk tidak memiliki ART di rumahnya

4. Kurang Tidur

Tidur merupakan rutinitas yang bisa membantu tubuh dan otak kita memulihkan diri. Jika ibu kurang tidur, bisa jadi kemampuan ibu untuk menghadapi stimulasi harian berkurang dan juga berpengaruh pada kemampuan berpikir.

Tanda-Tanda Overstimulasi pada Ibu

Kenyataannya, banyak ibu tidak menyadari bahwa dirinya sedang overstimulasi. Seperti saya, yang pernah tantrum dan menangis karena sangat pusing mendengar Yafiq dan rengekannya. Saat itu saya pikir itu karena emosi saya yang sulit dikendalikan. Namun sekarang saya baru sadar kalau saat itu saya mengalami overstimulasi. 

Beberapa tanda yang sering muncul saat ibu mengalami overstimulasi antara lain:
  • Mudah marah, bahkan karena hal kecil
  • Sensitif terhadap suara atau keramaian
  • Merasa sesak atau “sumpek” tanpa alasan jelas
  • Cepat lelah secara mental
  • Sulit fokus atau sering lupa
  • Ingin menjauh atau menyendiri

Kenapa Ibu Rentan Mengalami Overstimulasi?

Menjadi ibu berarti menghadapi banyak hal dalam satu waktu. Kadang dalam satu hari, seorang ibu harus melakukan berbagai hal dan kegiatan entah itu pekerjaan rumah ataupun pekerjaan di tempat kerja. Belum lagi jika ibu juga memiliki anak, pastinya juga menambah beban kerja dan stimulasi yang dirasakan ibu sepanjang hari. 

Selain berbagai kegiatan yang dilakukan ibu setiap hari, hal lain yang bisa membuat ibu rentan mengalami overstimulasi ini diantaranya:
  • Multitasking hampir sepanjang hari, hal yang mungkin terlihat wajar dilakukan para ibu namun sebenarnya melelahkan
  • Jarang punya waktu sendiri dan harus memprioritaskan orang lain.
  • Harus selalu siap merespons kebutuhan orang lain
  • Menanggung beban mental (mental load) yang besar
Tambahan lagi, jika kamu adalah tipe yang terbiasa “meng-handle semuanya sendiri”, beban ini bisa terasa berlipat.

Apa Bedanya Overstimulasi dengan Mental Load

Ada kalanya ibu kesulitan membedakan apakah dirinya sedang mengalami overstimulasi atau mental load yang berlebih. Ini mengingat kedua kondisi ini sama-sama berpengaruh pada mental dan emosi yang terjadi pada ibu. 

Seperti yang saya tuliskan di atas, overstimulasi adalah kondisi ketika otak mengalami terlalu banyak rangsangan dalam satu hari. Sementara mental load merupakan beban yang terus-menerus ada di pikiran kita setiap harinya sehingga membebani otak. 

Secara singkat, berikut adalah perbedaan antara overstimulasi dengan mental load pada ibu:

OverstimulasiMental Load
Terlalu banyak rangsanganTerlalu banyak pikiran
Cepat terjadiTerus-menerus
Reaktif (emosi meledak)Akumulatif (capek pelan-pelan)
Contoh: berisik, chaosContoh: mikir semua hal sendiri

Cara Mengatasi Overstimulasi pada Ibu

Dulu, sebelum saya memahami tentang overstimulasi, setiap kali merasa kesal saya cenderung menyalahkan anak-anak. Namun setelah memahami kondisi ini, saya mulai belajar mengenali bahwa otak saya sedang lelah dan membutuhkan jeda.

Nah, jika ibu merasa otak sudah mengalami overstimulasi dan emosi sulit dikontrol, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni:

1. Ambil Waktu Sejenak

Saat otak sudah mulai terasa penuh dan suara anak-anak mulai mengganggu, maka sebaiknya ibu ambil waktu 5-10 menit untuk menenangkan diri tanpa gangguan dari orang lain.

2. Kurangi Stimulasi

Mengurangi stimulasi bisa dilakukan dengan mematikan televisi, menjauhkan diri dari keramaian, hingga cari tempat yang lebih tenang.

3. Batasi Penggunaan Gadget

Jika dulu ibu menggunakan gadget seharian, maka ada baiknya jika kita memilih jam-jam tertentu dalam menggunakan gadget dan membuka media sosial yang bisa memicu berbagai kecemasan dalam diri. 

4. Kenali Batas Diri

Dalam hal pekerjaan, kita juga harus mengenali kemampuan diri sendiri. Kurangi multitasking dan tidak usah ngoyo mengerjakan semua pekerjaan. 

5. Komunikasikan dengan Anak

Komunikasi juga bisa menjadi kunci dalam mengatasi overstimulasi pada ibu. Saat anak mulai rewel atau memaksa ingin bercerita, ibu bisa berkata, “Ibu lagi capek ya, nanti cerita lagi,”. 


Penutup

Dalam menjalani keseharian sebagai seorang ibu, kadang kita dihadapkan pada situasi yang membuat hari terasa seperti roller coaster. Pekerjaan yang tak ada habisnya, anak-anak yang rewel dan berbagai beban pikiran yang pada akhirnya mempengaruhi emosi kita. 

Di tengah semua itu, wajar jika ada momen di mana kita merasa lelah, penuh, bahkan kehilangan kendali. Bukan karena kita ibu yang tidak sabar, tapi karena otak kita sudah menerima terlalu banyak hal dalam satu waktu. 

Untuk bisa menjadi seorang ibu yang baik, memang ada proses panjang yang harus dilewati. Dan dalam proses itu, kita juga perlu belajar untuk mengenali diri sendiri. Kapan harus melangkah, dan kapan harus berhenti sejenak. Karena menjadi ibu bukan tentang selalu kuat, tapi juga tentang tahu kapan kita perlu menjaga diri sendiri. 

Kalau kamu sedang berada di fase merasa “penuh” seperti ini, mungkin kamu juga perlu mulai mengenali dan mengelola emosi dengan lebih sadar. Aku sempat berbagi pengalaman tentang bagaimana belajar mengelola stres dan melatih mindfulness di blog ini.
Baca Juga

Posting Komentar

23 Komentar

  1. Kalau terlalu banyak suara memang melelahkan. Pernah Saladin nonton video lalu ada suara pengumuman dari luar dan tetangga nyetel lagi keras2. Pusing dahh.
    Tapi itu masih mending karena terjadi siang hari.
    Biasanya over stimulasi terjadi malam hari. Capek fisik, capek pikiran. Mau tidur malah bocah minta ditemenin melekan. Akhirnya ngamuk, hiks.

    BalasHapus
  2. ternyata bnyk hal yg dpt menyebabkan over stimulasi pd ibu ya.. terims kasih sharingnya mba..pembahasan yg keren dan insyaAllah bnyk berguna bagi pembacanya..

    BalasHapus
  3. semangat untuk para ibu, sehat dan bahagia selalu ya

    BalasHapus
  4. Jangankan soerang manusia atau ibu yang memniliki perangkat perasaan, mesin saja kalo sudah terlalu banyak yang dikerjakan / multitasking pasti ada nge Hang nya, laptop / HP terlalu banyak yang di input suka eror.
    Betul sekali berarti kita juga manusia harus me Restart, berhenti sejenak, tenangkan fikiran sebelum kembali lagi ke aktivitas seperti sediakala.

    BalasHapus
  5. Aku sepertinya sedang mengalami ooverstimulated gegara gadget nie ato jangan2 sudah ketergantungan sama hp yaa,,,rasanya terlalu lama pegang hp jadi berasa pusing juga...tp dialihkan dikit rasanya pengen pegang hp lagi..spertinya harus puasa dr hp dl selama bbrp saat deh ini biar pikiran bisa kembali segar dan fokus

    BalasHapus
  6. Samaan kyk anakku yang kedua, hobinya ngomooong terus tanpa stop, padahal kakaknya diieem aja haha.
    Kadang caraku supaya dia nggak banyak ngomong, aku kasi makanan biar dia ngunyah atau aku kasi soal matematika yang buanyaakk wkwk :P
    Tapi sebagai ganti ngasi soal biasanya dia minta main gadget setengah-1 jam tergantung berapa banyak soal2nya haha :P

    Tapi kyknya emang overstimulasiku nggak cuma mendengar suara anak ngomong sih, idem, paparan gadget jugaaaa. Makanya sekarang aku tu kalau malam udah lepas gagdet, kecuali kalau ada tanggungan BW IW aku sempetin malam.
    Sekarang bangun bobo juga berusaha gak buka HP dulu :D
    banyak2in keluar rumah minimal muter2 komplek biar gak overstimulasi :D

    BalasHapus
  7. Paham sih mba rasanya. Anak2ku sebenarnya tipe pendiam. Tapi di bungsu ada masanya dia banyak cerita walaupun masih yg cerita biasa. Hanya sajaaa Krn dia bercerita dj saat aku lagi ada masalah, lagi butuh fokus, yg ada aku malah marah waktu itu.
    .
    nyesel sih.

    Dulu pernah dikshtahu anak yg banyak bicara biasanya cerdas. Cocok jadi lawyer 😄.

    Tinggal ortunya mengarahkan. Tp memang kalau orangtuanya sedang overstimulasi begitu, ya pastinya rada kesel dan letih denger ocehan si anak kan.

    Thank you sharing nya mba. Bisalah sebagai reminderku utk lebih sabar menghadapi ocehan anak

    BalasHapus
  8. Orang tua juga bisa kena overstimulasi. Wajar sih. Apalagi mamak-mamak. Membatasi penggunaan gadget bisa banget nih mengurangi stimulasi kalau sudah over begitu.

    BalasHapus
  9. Jadi ketika anak tantrum, orangtua pun bisa tantrum juga alias over stimulasi. Ini perlu diwaspadai dan dikenali ya, agar bisa dicegah dan semisal pun sudah kena dapat langsung ditangani segera

    BalasHapus
  10. Kebetulan saya punya anak todler juga 2 orang, saya jadi sadar bahwa "overstimulasi" bukan hanya milik anak-anak, tapi juga nyata bagi para ayah juga sih, sudah pasti lebih berat ibu. Terkadang kita merasa bersalah saat merasa lelah mendengar ocehan anak, padahal itu sinyal alami bahwa kapasitas otak kita sudah penuh.
    Tapi saya yakin, dengan komunikasi dan penyampaian yang tepat anak anak juga bisa diajak bekerja sama, nerasa banget klo abis shoft malam sih hahaha lelah

    BalasHapus
  11. Emak2 di kolong langit relatable bangettt ini

    Beughh rasanya pengin meledaakkk, kalo bocil ngoceh mulu

    Ternyata overstimulasi kita ya🤣🤣🤣

    BalasHapus
  12. Yafid justru ini bagus, Mbak. Jadi kalau ada sesuatu yang dia alami, maka dia kan mudah bercerita dan orang tua bisa segera tahu solusinya. Nah, orang dia justru tinggal mencarikan aktivitas yang sesuai, jadi energi Yafid tang senang bercerita bisa tersalurkan. Misalnya latihan story tellling. banyak juga lombanya. Nanti Yafid bisa ikutan dan berprestasi. Nah, bagi sang bunda, bisa sebenarnya mengatasi oversimulasi dari diri sendiri. Misalnya mengurangi kontak dengan sosmed, termasuk mengatur wakru tidur yang cukup.

    BalasHapus
  13. Ternyata overstimulasi itu bukan cuma istilah buat anak-anak aja ya mbak, ibu juga bisa ngalamin. Kebanyakan “input” dari suara, sentuhan, pikiran, sampai to do list yang nggak ada habisnya, lama-lama bikin kepala penuh banget. Ujung-ujungnya jadi gampang lelah dan emosinya naik turun.

    Aku juga setuju, penting banget buat sadar kapan harus berhenti sebentar. Nggak apa-apa kok kalau sesekali “menarik diri”, cari tenang, atau sekadar diem tanpa distraksi. Itu bukan egois, tapi bentuk self care biar tetap waras :D

    Kadang yang dibutuhkan itu bukan solusi, tapi jeda… biar kepala ikut napas juga.

    BalasHapus
  14. Istriku banget nih yang sering begini mbak. kebetulan anakku ini tenaganya kan luar biasa ya, bener-bener cerewettt dan gak mau diem. meleng dikit, langsung satu rumah dibikin berantakan sama dia.
    Alhasil, kalo aku pulang kerja, seringkali dia tuh udah merasa capek. Saking ketempelan mulu sama bocah kali yakkk..hihihi
    Makanya kalo saya sih, biasanya ga mau ambil pusing. Kalo mau keluar, yaudah saya aja keluar rumah, muter-muter. Kalo nggak, yaudah sy bawa aja putri maen keluar berdua doang, biar dia bisa leha-leha di rumah. Ya lumayan lah ya, biar dia bisa ada jeda buat recharge lagi.

    Juragan kandang namenye solihin
    Banyak gayanye, wataknya keras
    emak anak kadang emang kudu dipisahin
    Biar semuanye, tetep pada waras

    BalasHapus
  15. Ini adalah salah satu tantangan menjadi orang tua yaitu overs stimulasi yang bisa membuat ketidaknyamanan dan pasti menjadi sebuah tantangan bagi para orang tua itulah kenapa harus dijadikan jalan yang baik supaya menguranginya dan bisa menjadi orang baik jadi jangan marah-marah dulu atau Jangan dimarahi tapi lebih ke cari solusinya

    BalasHapus
  16. Baru tahu aku pun kalau seorang ibu ternyata bisa mengalami overstimulasi. Selama ini anggapan ku ya anak-anak yang alami hal tersebut.

    Penyebabnya cukup banyak ya, salah satunya kurang istirahat nih. Jadi ortu emang menantang sekali ya, beneran bikin diri harus banyak upgrade di tengah keterbatasan yang ada. Peluk virtual untuk para Ibu,skalian keren, hebat, strong.

    BalasHapus
  17. Ini mental load, kalo lama2 dan numpuk bs jadi overstimulated tuh ya kak? Hehe. Dan bener sih. Aku bs merasakan itu. Ga cmn ibu2. Lihat si kecil ngomong sendiri, nanya macem2, kadang kita lelah ngeladenin. Di sisi lain, bgs buat dia buat ngerangsang daya nalarnya. Dan seneng sih kita bs banyak obrolan dgn anak. Bonding dgn anak mkn kuat.

    Beda halnya kalo dia lbh seneng dgn gadgetnya drpd ngobrol dgn ortunya. Kan bs lbh bahaya tuh. Mknya aku jg sering bagi2 tugas dgn istri dan anak biar ga kena mental load. Di sisi lain, ya biar ga sampe overstimulated ini akibat keseringan dan kebanyakan mental load.

    BalasHapus
  18. Ternyata ibu dirumah bisa terkena overstimulasi juga ya teh
    Aku juga mungkin pernah namun serong diabaikan hehe twrnyata enggak baik ah
    Tapi memng keadaan ini gak bisa kita hindari tapi setelh ku bacatulisan tth bisa ko kita kontrol ya teh agar kita engga terus2 kena overstimulus ya teh
    Ya ibu ibu mah giman atuh ya tejh

    BalasHapus
  19. Kadang-kadang aku juga merasakan nih overstimulasi. Apalagi anak-anakku itu tipe yang maunya ditemani sepanjang hari. Nempeeeel mulu. Nah kalau mereka nggak tidur siang, biasanya menjelang magrib mulai terasa gejalanya.

    Buat melepaskan itu, begitu mereka tidur, aku ambil jeda menyendiri sejenak. Baca atau nonton sambil ngemil sendirian cukup jadi solusi.

    BalasHapus
  20. Meski belum punya anak, tapi liat dari tanda-tandanya, kayaknya aku overstimulasi juga deh Mbak. Iya ini, dalam sehari kalau dihitung-hitung aku tu sulit lepas dari gadget plus kurang tidur pula. Tiap malem sulit tidur, kalau tidur minim-minim jam 1 terus harus bangun pagi, duh.

    Jelas aja ibu rumah tangga lebih sering kena, kerjaannya multitasking, beban mentalnya banyak juga. Bener-bener luar biasa sekali ya tantangan yang harus dihadapi oleh seorang ibu rumah tangga ya.

    BalasHapus
  21. Mba, sama banget kayak anak aku. Anak keduaku sukanya ngomooooong terus hehe..Sedangkan kakaknya lebih anteng.

    Memang benar sih ibu itu juga rentan overstimulasi. Aku tadinya nggak paham soal ini tapi seringkali aku kelelahan, jadi lebih sensitif, gampang marah, suka lupa.. Nah, pas aku cari tau ternyata itu bisa jadi tanda-tanda overstimulasi. Apalagi jadi ibu banyak banget yang diurus. Bukan cuma fisik tapi pikiran ya mba...

    Makanya aku kadang suka ambil jeda sebentar. Perbanyak me time... Alhamdulillah anak-anak juga sudah mulai besar, suami pun juga ngerti kalau aku kadang suka butuh waktu buat sendiri... :D

    BalasHapus
  22. Menjadi ibu yang masih memiliki anak balita memang sesuatu yaa...butuh effort dan perjuangan untuk mendampingi. Makanya tidak heran jika mengalami overstimulate jadi memang penting buat me time bagi para ibu , istirahat dan refreshing biar segar lagi oikiran fresh juga.

    BalasHapus
  23. Ooh.. jadi memahami proses banyaknya dan penuhnya informasi ini penting yaa..
    Kudu istirahat dan semoga dengan tangki yang penuh cinta, bisa kita isikan ke anak-anak yang butuh untuk ituu..

    Tapii.. bakalan kangen banget masa-masa ini siiyh..
    Beranjak pre-teen, anak-anak kek punya dunianya sendiri.. Huhuhu.. padahal dulu kiciknya, mashaAllah...

    BalasHapus