Pengalaman Naik Transportasi Umum di Jakarta

Ketika mengetahui saya akan pergi ke Jakarta akhir tahun 2023 lalu, hal pertama yang saya lakukan adalah memburu kartu uang elektronik. Hal ini saya lakukan karena sejak tahun 2023 lalu ada peraturan baru yang mana kendaraan yang masuk ke bandara hanya bisa membayar uang parkir dengan uang elektronik. Karena itulah saya memerlukan kartu uang elektronik agar suami yang mengantar saya ke bandara bisa membayar parkir mobil. Selain itu saya juga berburu uang elektronik untuk diri saya sendiri saat berada di Jakarta nanti jika saya berniat naik angkutan umum di sana. 

Rupanya, sejak ada pemberitahuan pembayaran parkir bandara yang wajib menggunakan uang elektronik ini membuat keberadaan uang elektronik ini menjadi langka di berbagai tempat. Saat saya mencoba membeli kartu uang elektronik ini di jaringan supermarket di kota saya, ternyata rata-rata kehabisan stok. Saya sempat bingung. Meski sebenarnya saya memiliki 1 buah uang elektronik dari sebuah bank, saya masih perlu 1 lagi untuk diri saya sendiri. Untungnya kemudian saya berhasil mendapatkan satu kartu uang elektronik ini dari salah satu rekan kerja di kantor yang menjualnya kepada saya. 

Setelah urusan uang elektronik selesai, maka tibalah waktunya bagi saya untuk mencoba kartu ini. Tentunya sebelum digunakan saya harus mengisi uang elektronik ini terlebih dahulu. Saya memilih untuk mengisinya lewat sebuah marketplace. Namun entah kenapa ketika saya tiba di Jakarta dan mengecek saldo dari uang elektronik yang baru saya beli ternyata saldonya tidak bertambah. Akhirnya mau tak mau saya mengisi kembali saldo uang elektronik di atm tempat saya mengecek uang elektronik saya tersebut. 


Pengalaman naik  bus Trans Jakarta 



Sebagai sebuah kota metropolitan yang terkenal dengan macetnya, salah satu cara yang dilakukan pemerintah kota Jakarta adalah dengan meningkatkan pelayanan publik berupa transportasi umum. Di Jakarta saat ini sudah ada berbagai sarana transportasi umum yang sudah terintegrasi sepertu bus transjakarta, LRT, KRL hingga juga MRT selain angkutan umum lainnya. Saya sendiri sebenarnya sudah pernah mencoba naik bus trans Jakarta beberapa tahun lalu saat mengunjungi seorang teman di Jakarta. Namun kala itu saya ditemani oleh teman saya tersebut dan untuk kali ini saya mencoba naik transportasi umum di Jakarta seorang diri tanpa ada teman yang mendampingi.

Transportasi umum pertama yang saya coba saat berada di Jakarta adalah busway yang memang haltenya dekat sekali dengan hotel tempat saya menginap. Hanya dengan jalan kaki beberapa menit saya sudah berada di halte. Untuk mempermudah memilih bus yang akan digunakan saat saya sudah menginstal aplikasi Trans Jakarta. Namun entah mengapa menurut saya aplikasi ini sangat lambat responnya saat saya mengetikkan tujuan yang ingin saya tuju. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Google Map yang juga memberikan petunjuk yang cukup jelas angkutan umum apa saja yang bisa diambil saat akan menuju sebuah tempat.




Tempat pertama yang saya kunjungi dengan bus trans Jakarta adalah Galeri Nasional. Dari halte Pasar Senen, saya hanya perlu naik bus jurusan 2A yang salah satu haltenya nantinya akan berhenti tepat di depan Galeri Nasional. Saat saya naik bus, tak banyak penumpang di dalam karena memang saat saya berangkat bukan jam sibuk atau jam pulang kerja. Agar tak kelewatan halte, sepanjang perjalanan saya mengecek rute perjalanan lewat google Map dan alhamdulillah ternyata tidak perlu waktu yang lama untuk bisa sampai ke Galeri Nasional dari Pasar Senen karena jaraknya memang relatif dekat. Hehe.

Nah, ada kejadian menarik begitu saya pulang dari Galeri Nasional ini. Jadi setelah selesai menikmati ekshibisi yang diadakan di Galeri Nasional, saya langsung bergegas pulang karena hari semakin senja. Berdasarkan informasi yang saya baca di Google Map, untuk pulang ke hotel saya hanya perlu naik bus jurusan Ps. Senen - Lebak Bulus atau kembali menggunakan rute pertama yang saya gunakan sebelumnya. Nah, saat pulang ini saya melakukan kesalahan dalam memilih bus. 

Jadi alih-alih naik bus Ps. Senen - Lebak Bulus dengan arah berlawanan dari rute kedatangan saya sebelumnya, saya malah naik bus dengan arah yang sama dengan bus pertama yang saya tumpangi. Awalnya saya santai saja di dalam bus tersebut. Namun ketika kemudian bus semakin penuh dengan para pekerja yang pulang dari kantornya, saya mulai sedikit gugup karena hari semakin malam dan saya sadar saya semakin jauh dari tujuan asal. 

Saya pun langsung bertanya kepada kondektur terkait arah jalan pulang ini. Ternyata saya bukannya menuju Pasar Senen melainkan ke Lebak Bulus. Setelah menyadari hal ini saya pun bergegas turun di koridor terdekat dan menunggu beberapa menit untuk bisa mendapatkan bus dengan rute yang benar. Alhamdulillah setelah menunggu kurang lebih 15 menit bus yang saya tunggu tiba dan saya bisa pulang dengan selamat di perjalanan pertama saya.

Setelah berhasil melakukan perjalanan sendirian dengan bus trans Jakarta, saya pun mulai pede untuk merencanakan perjalanan berikutnya. Kali ini tujuan saya adalah wisata Aquarium yang letaknya di Mall Neo Soho. Untuk rute menuju tempat wisata ini saya harus 2 kali naik bus pertama bus M2 yakni rute Ps. Senen - dan turun di halte Pecenongan dilanjut dengan bus M8 jurusan Pasar Baru-Lebak Bulus dan turun di halte Tanjung Duren tepat di depan Mall Neo Soho. 

Berbekal dari pelajaran di kali pertama saya naik bus trans Jakarta hari sebelumnya, perjalanan ke dua ini bisa dibilang lebih santai. Bahkan setelah selesai dari Mall saya memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor salah satu penerbit ternama untuk mengunjungi acara bazaar buku yang kebetulan sedang berlangsung saat itu. 

Mencoba MRT ke Lebak Bulus



Dii hari terakhir sebelum kepulangan saya ke Banjarmasin, suami menyarankan saya untuk mampir ke rumah mertua di Tangerang Selatan tepatnya di Pondok Cabe. Mulanya saya berencana untuk naik busway menuju Lebak Bulus seperti yang dianjurkan suami. Namun saat bersama mbak Helena Mantra yang kebetulan hari itu kopdar dengan saya, beliau juga menyarankan untuk mencoba MRT yang juga memiliki rute ke Lebak Bulus dari stasiun Bundaran Hotel Indonesia.

Akhirnya ketika saya menunggu bus di depan Perpustakaan Cikini saya putuskan untuk naik MRT saja menuju ke stasiun Lebak Bulus Grab. Dengan menggunakan ojek online saya pun bertolak menuju stasiun Bundaran HI tempat salah satu pemberhentian MRT Jakarta berada. Begitu tiba di tujuan ternyata saya harus turun dulu untuk bisa naik MRT ini. Sebelum menuju kereta terlebih dulu saya bertanya tentang tarif menuju Lebak Bulus yang ternyata hanya Rp. 14.000,-. Saya juga minta tolong petugas untuk mengecek saldo uang elektronik saya apakah masih cukup atau tidak dan alhamdulillah saldonya masih cukup untuk naik MRT.



Begitu semua sudah oke, saya pun berjalan bersama calon penumpang lain menuju peron. Tak lama MRT yang dinanti pun tiba dan kami semua langsung masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan. MRT ini sangat nyaman karena memang tidak banyak penumpangnya dan ternyata selama berada di MRT penumpang tidak diizinkan makan dan minum. Perjalanan dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia menuju stasiun Lebak Bulus Grab sendiri memakan waktu kurang lebih 45 menit. Begitu tiba di stasiun Lebak Bulus, saya pun mencari angkot jurusan Parung untuk bisa tiba di kediaman mertua di Pondok Cabe. Setelah menghabiskan beberapa jam di rumah mertua, saya pun kembali ke Pasar Senen dengan menggunakan bus Trans Jakarta lagi. 

Itulah dia sedikit cerita saya saat menggunakan transportasi umum di Jakarta. Bisa dibilang sekarang ini transportasi umum di Jakarta ini sudah oke banget dan terintegrasi ke mana-mana. Cuma ya memang kalau jam sibuk agak ngeri ya sama macet dam war di stasiunnya. Jujur saya jadi berharap di kota lain juga bisa memiliki sistem transportasi seperti di Jakarta ini pastinya enak banget mau ke mana-mana. Bagaimana menurut teman-teman sekalian?


Baca Juga
Reactions

Post a Comment

7 Comments

  1. Iya ya, tranportasi umum yang terintegrasi itu bikin mudah buat kemana-mana apalagi dgn harga yg affordable.. semoga di Kalimantan nanti ada juga yg seperti ini, berharap banget biar nggak harus ke Jakarta dulu buat ngerasain transportasi umum yang bagus

    ReplyDelete
  2. Sekarang hampir semua metode pembayaran Moda transportation menggunakan kartu digital ya mbak. Menarik banget bisa berkeliling Jakarta menggunakan transportation umum seperti MRT ini

    ReplyDelete
  3. Seru banget ya mbak, aku belum pernah nyobain mrt di jakarta, baru sampe nyobain kalayang di bandara suhat aja wkwkwk. Penasaran gimana rasanya naik mrt

    ReplyDelete
  4. selama ini kalau lagi di Jakarta, biasanya kalau kemana-mana sama om atau sodara, jadi kayak buta arah kalau ke Jakarta.
    dan aku ngebayangin naik angkot disana kayaknya bakalan nyasar,mungkin kalau MRT bisa lebih mudah kayak di luar negeri, kalau angkot mungkin banyak muter-muter juga jadinya bisa bikin bingung

    ReplyDelete
  5. Pas aku ke Jakarta kebetulan sama temanku. Dia punya kartu buat naik kendaraan umum gitu. Kami kemana-mana naiknya MRT. Asyik banget. Meski yah, saat itu agak padat. Hehehe....

    ReplyDelete
  6. Aku naik MRT belum pernah nih. Prestasi naik angkutan umum di Jakarta waktu naik Busway sendiri ke mana-mana. Itu pun zaman kuliah. KRL pernah tapi bareng temen-temen dan udah lama banget juga 😅

    ReplyDelete
  7. Wah aku kok nggak kepikir seandainya ke Jakarta naik transportasi umum 😅 asa horor banget takut kesasar. Tapi sih kalo si Jakarta mah kendaraan 24 jam ya, beda sama di kampung sini. Sore udah ga ada rransportasi umum 🤣

    ReplyDelete