Blog di Era AI: Bertahan, Berubah, dan Tetap Menulis

Blog di Era AI: Bertahan, Berubah, dan Tetap Menulis

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah email dari penyedia domain blog yang saya gunakan sekarang. Rupanya isinya terkait perpanjangan domain ayanapunya.com yang berakhir di bulan Maret 2026 nanti. Maret 2026 ini sendiri menandai tahun ke sembilan saya beralih ke dunia blog profesional. Saya ingat sekali kala itu saya membeli domain berbayar ketika cuti melahirkan anak pertama usai dan kembali bergelut dengan dunia kerja di tahun 2017. 

Meski sudah menekuni dunia blog sejak beberapa tahun sebelumnya, saya memang baru memahami konsep blog profesional ini sekitar tahun 2015. Dari sanalah saya akhirnya memutuskan beralih dari blog gratisan menjadi blog berbayar. Salah satu alasannya adalah karena dengan blog berbayar saya bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah lewat tulisan saya. 

Sembilan tahun ngeblog pastinya bukanlah waktu yang sebentar. Dalam rentang masa tersebut saya sempat merasakan masa-masa blog ramai dengan job, undangan event, hingga perlahan semua itu berkurang dan mempengaruhi semangat saya dalam menulis. 

Meski demikian, alhamdulillah hingga saat ini saya masih cukup konsisten dalam menuliskan berbagai cerita di blog ini. Dan memasuki tahun ke sembilan ini, rasanya sudah waktunya bagi saya untuk memulai sesuatu yang baru di blog ini.   

Dari Rekam Jejak Kehidupan ke Jurnal Ibu Bekerja

Awal tahun 2026 ini saya menetapkan satu resolusi penting: melakukan perbaikan dan rebranding pada blog pribadi saya. Selama hampir satu dekade, blog ayanapunya.com memiliki tagline Another Home of My Mind. Tagline ini dibuat karena waktu itu saya harus hengkang dari Multiply yang ditutup dan membuat rumah baru di platform lain. Jadilah blog ini menjadi rumah ke dua saya dalam bercerita.

Sekarang, di usia blog yang menginjak 9 tahun, saya merasa perlu untuk lebih mengerucutkan arah blog ini sesuai dengan fase kehidupan yang sedang saya jalani. Ide ini sendiri sudah hadir sejak beberapa tahun lalu ketika saya belajar bahwa sebuah blog sebaiknya memiliki niche khusus agar brandingnya lebih kuat. 

Saat itu saya memilih niche dan topik ibu bekerja sebagai konten pilar. Sebuah niche yang sangat dekat dengan keseharian saya. Beberapa artikel terkait dunia ibu bekerja sempat berhasil ditulis, seperti tentang manajemen waktu, pengalaman memilih pengasuh dan tulisan lainnya. Sayangnya saya tidak terlalu konsisten dalam menuliskan cerita ibu bekerja ini. Bukan karena saya kehabisan cerita, melainkan karena saya sering kebingungan memilih ide konten yang tepat.

Tak Lagi Sendiri: Menggandeng Rekan untuk Brainstorming

Salah satu hal yang kerap menjadi penghambat saya dalam menulis terkait branding ibu bekerja adalah kesulitan mencari ide konten. Secara teori, sebenarnya ide konten untuk blog ibu bekerja itu ada banyak sekali. Bahkan keseharian ibu bekerja saja bisa menjadi bahan tulisan bagi seorang blogger. 

Namun tetap saja ada hal-hal yang membuat saya merasa kesulitan dalam memilih ide konten untuk blog ini. Apakah topik ini relevan? Apakah tulisan ini ada yang akan membaca? Apakah ini akan bisa memberi manfaat? Begitulah kira-kira pertanyaan yang kerap muncul di benak saya setiap kali mencari ide untuk tulisan ibu bekerja. 

Di tengah kegalauan dan keinginan untuk memperbaiki blog, saya pun akhirnya mencoba sebuah hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Curhat dengan AI. Awalnya saya melakukannya karena penasaran dengan orang-orang yang katanya terbantu setelah curhat dengan kecerdasan yang satu ini. Siapa tahu AI ini juga bisa membantu saya membereskan masalah di blog saya. Begitu pikir saya saat itu. 

Saya pun kemudian iseng bertanya terkait blog saya yang trafiknya jatuh dan penilaian secara keseluruhan untuk blog ayanapunya.com. Siapa sangka ternyata si AI ini bisa memberikan analisis dan masukan yang relevan untuk blog saya tersebut. Yang lebih menyenangkan lagi, karena AI adalah mesin, maka dia tidak baper kalau saya menanyakan hal yang sama berkali-kali. Di sinilah akhirnya saya sadar kalau tak selamanya menghindari teknologi bernama AI itu pilihan yang bijak. 

Nah, berbekal curhat ini, akhirnya saya pun memutuskan untuk menggandeng AI sebagai rekan brainstorming. Mulai dari mencari ide tulisan, membuat outline hingga mengoreksi artikel dan struktur tulisan yang sudah saya buat. Memang sungguh canggih ya, AI ini. Saya hanya perlu memberi instruksi dan ia pun bisa memberikan saya ratusan ide tulisan dalam waktu singkat bahkan memberikan contoh tulisan jadi. 

Tentunya saya sendiri tidak boleh terlena dan tetap memiliki batasan sendiri. Untuk bagian terakhir penulisan, saya berusaha untuk menghindari dan meminimalisir artikel yang dibuat AI karena jika saya melakukannya rasa-rasanya otak saya jadi malas bekerja. Hehe. 

Namun lagi-lagi satu pertanyaan muncul di benak saya..

Masihkan Dunia Blog Relevan di Era Konten Video?

Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat menulis terkait penurunan pembaca di blog yang pastinya juga mempengaruhi semangat saya dalam ngeblog. Saya sendiri bahkan juga sempat mempertanyakan apakah di era konten video dan foto seperti sekarang, bidang content writer yang saya tekuni sekarang masih memiliki peluang dan tempat?

Tak lama sebuah komentar pun masuk artikel di blog saya tersebut. Ini adalah komentar dari mbak Vicky, blogger yang juga mendalami bidang SEO. Berikut adalah komentar beliau di tulisan saya tersebut:

Saya tidak paham dunia ngeblog yang mana yang sepi.

Karena di luar Indonesia, dunia blog itu makin lama makin ramai saja. Semakin banyak blogger yang tampil di LinkedIn, membagikan cuplikan blognya dan menggiring pengunjung LinkedIn masuk ke blog mereka.

Beberapa blogger Indonesia juga berulang kali membagikan postingnya di LinkedIn, terutama blogger yang berkecimpung di bidang teknologi. Blog mereka banyak dikunjungi orang karena membagikan informasi-informasi yang jarang diperoleh di channel lain, sehingga mengunjungi blognya berasa mendapatkan informasi yang eksklusif.

Blogger-blogger internasional yang saya kunjungi rutin, umumnya tidak mengurusi komentar. Beberapa kolom komentarnya bahkan mereka matikan.
Tapi bagi mereka, blog itu alat personal branding yang membuat mereka dikenal lebih luas. Personal branding itu penting untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan baru jika sewaktu-waktu mereka harus keluar dari pekerjaan tetap mereka saat ini.




Membaca komentar Mbak Vicky ini, saya jadi merasa tertampar. Ternyata selama ini saya terlalu sempit dalam memandang dunia blog. Saya hanya berpikir blog itu adalah wadah untuk menjalin pertemanan dan bukan untuk branding diri dan membagikan pemikiran. Padahal di sinilah salah satu kekuatan yang seharusnya saya tingkatkan dari blog yang saya miliki.

Selain itu, untuk saya pribadi, lebih suka mencari informasi lewat tulisan atau blog ketimbang video, kecuali untuk resep masakan. Mungkin hal ini karena menonton video itu dibutuhkan fokus dan saya tak cukup sabar menunggu penjelasan lewat video. Sementara untuk membaca artikel bagi saya bisa lebih cepat dilakukan dan saya juga bisa menyimpan atau mengcapture tulisan tersebut untuk diingat lagi nanti.  

Alasan berikutnya, jika dibandingkan konten video, konten tulisan juga lebih everlasting dan tidak tergeser oleh trend. Jika dunia sosial media bergerak begitu cepat dengan berbagai trend yang harus diikuti, maka di dunia blog mungkin satu-satunya yang harus diikuti adalah SEO dan algoritme Google. Namun toh hal itu juga mungkin bukan hal yang wajib terutama jika sebuah blog sudah memiliki branding yang kuat. Lain ceritanya jika saya ingin lebih mendalami terkait SEO Content Writer.

Blog Sebagai Ruang Bertumbuh

Di tahun ke sembilan ayanapunya.com, saya akhirnya sadar kalau blog ini bukan hanya sekadar tempat berbagi namun juga sudah menjadi ruang bertumbuh untuk saya baik dari segi pemikiran dan pengalaman hidup. 

Melakukan rebranding blog dan menggandeng AI merupakan salah satu cara saya untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dengan melakukan rebranding ini, itu artinya saya harus mulai merapikan tulisan-tulisan lama dan menuliskan lebih banyak cerita tentang keseharian sebagai ibu bekerjamulai dari mengatur waktu, menjaga kesehatan di usia 40-an, hingga bertahan di tengah tuntutan peran ganda.

Jika kamu seorang ibu bekerja, kamu bisa membaca catatan-catatan saya lainnya tentang kehidupan ibu bekerja di blog ini. 

Ke depannya, mungkin saya akan belajar mengembangkan konten blog ini ke bentuk visual sehingga baik blog dan media sosial saya bisa saling menguatkan. Buat teman-teman sesama blogger, bagaimana dengan perjalanan ngeblog kalian saat ini? Apakah kalian juga sudah mulai berdamai dan berkolaborasi dengan kecerdasan artifisial untuk blogmu?

Baca Juga

Posting Komentar

39 Komentar

  1. Masya Allah luar ialah. Saya pemula di dunia blog tulisan ini sangat menginspirasi. Terima kasih. Terima kasih juga ke Kak Mugniar yg rela membimbing saya ngeblog

    BalasHapus
  2. Seru banget perjalanan ngeblognya. Semoga terus update skill dan kontennya makin asyik, ya

    BalasHapus
  3. Aku juga mbak, lebih sering cari info di blog, ketimbang di video. Kayak lebih padat dan kaya aja gitu infonya. Sama Mbak, aku juga suka minta AI untuk menganalisis blog aku. Ada yang dia bantu untuk benahi, meski hasilnya kadang belum maksimal. Tapi aku jadi belajar bersama AI 😁

    BalasHapus
  4. Pastinya beda mbak, di sini mungkin nggak ramai blog karena orang cenderung via medsos dan kurang rajin membaca. Sedangkan di luar negeri nge-blog adalah aktivitas seru sehingga makin ramai. Nah jadinya, kita kudu luaskan deh artikel blog kita ke mancanegara

    BalasHapus
  5. Beberapa waktu lalu, aku baca di LinkedIn. Aku lupa persisnya. Intinya mah, kalau blog kita sepi bukan berarti yang baca blog berkurang. Simpel saja bahwa isi blog kita kurang menarik doang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah yaaa bener banget mbak, aku juga membaca ini. Sebenarnya masih ada aja ya yang mencari blog sebagai jujugan untuk melakukan sesuatu, biasanya sih kalau tulisannya tu lebih ke personal experience biasanya pada betah bacanya kok. Tapi kalau yang cuma sekadar artikel mbosenin jelas ditinggal.

      Hapus
  6. Saya juga pernah punya pertanyaan yang sama. Waktu curhat sama temen, dia bilang, “Salah satu hal yang gak bisa digantikan AI adalah gaya tulisan para blogger yang punya cirinya sendiri” 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Biasanya, blogger yang beneran menulis dari hati tuh selalu punya tulisan yang unik. Mungkin benar, kalau informasinya sama. Tapi, mereka selalu punya sisi yang nggak dimiliki sama informasi lain gitu lho. Iya nggak sih?

      Hapus
  7. Wah, keren banget udah 9 tahun terus konsisten menulis Blog meski banyak rintangan naik turun yang menghampiri 🤩

    BalasHapus
  8. Bagus mbaa rebrandingnya, beberapa kali aku baca kenapa ada tulisan ibu bekerja yang diulang, ternyata karena memang sedang membangun branding baru. aku sendiri pernah beberapa kali menggunakan AI untuk menulis namun sebagian besar murni tulisan sendiri,,,masih berasa belum benar-benar memanfaatkan AI :)

    BalasHapus
  9. Auto tercenung, blog adalah ruang bertumbuh. Yang tadinya cuek dengan taburan saltik, belakangan, jadi membiasakan tanpa saltik samasekali.
    Yant tadinya asal tulis, belakangan lebih presisi dan tekun dengan konsekuensi pilihan niche blog.
    Yang kemudian menjadi gaya menulis khusus.
    Mungkin itu maksud dari 'bertumbuh' ya mbak.
    Alhamdulillah 🤲🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbaa...aku sendiri juga gitu..merasa semakin bertumbuh..dari yang awal nol besar belajar sedikit demi sedikit..dibenahin sana sini..dan sekarang jadi merasa lebih perhatian sama blog...setidaknya berharap semoga tulisan ini nanti bisa menjadi warisan baik ;)

      Hapus
  10. jujurly aku pake AI buat bantu pekerjaan sehari-hari.. nah ngeblog ini masih lebih unggul dibanding AI dalam hal kedekatan pembaca ya menurutku.. karena AI itu mesin, berasa aneh bener baca tulisan dari AI.. biasanya aku minta AI bantu untuk riset aja bukan tulisan keseluruhan, so tetep semangat yaaa para blogger

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah masih sempat menulis di blog. Walaupun udah makin banyak malesnya. Wkwk... tapi sayang sama hosting yg harganya duileh mahal bgt. Jadi sebisa mungkin tetap diisi untuk diaktifkan biar gak jadi sarang laba2

    BalasHapus
  12. Semangat rebranding, Mba...Semoga tetap menjadi diri sendiri meski dibantu AI! Sukses terus ngeblog-nya! Saya pun lebih kurang sama, kadang ada malas update , tapi mau ninggalin blog belum bisa, karena secinta itu pada dunia blogging saya...hahaha. Jadi ya, tetap berusaha meski enggak rutin, tetap semangat nulisnya

    BalasHapus
  13. Saya tahu mbak Vicky itu dari Komunitas mbak. Dan beliau tuh emang sudah suhu di dunia blog.

    Saya malah berfikir makin lama blog itu terus nambah, karena emang kebutuhan informasi yang lebih detail. Memang benar kalau video itu menarik secara visual apalagi yang pendek², cuma banyak orang bahkan akademisi yang merujuknya masih ke blog. Apalagi blog media besar seringkali jadi portofolio mahasiswa lho.

    Yuuukk semangat buat para blogger... 🤗🤗

    BalasHapus
  14. Saya jadi tersadar setelah baca blog mbak ayana ini. Iya ya, memang seharusnya blog itu jadi wadah branding diri. Menyampaikan tentang minat kita, kemampuan kita. Mungkin bisa kita bagi ke orang lain. Orang lain mendapat manfaat dari kita

    BalasHapus
  15. Biasanya aku brainstorming Ama AI untuk urusan traveling. Dalam membuat ITIN yaaaa. Nah aku sering tuh discuss Ama dia, apakah rute ke destinasi A lebih aman drpd rute ke B misalnyaaaa.

    Kalau urusan blog, msh jarang. Krn untuk blog memang aku LBH berdasarkan pengalaman pribadi aja.

    Untuk personal branding mungkin iya, walaupun aku ga fokus juga kesana sih mba. 😅😅.

    Intinya sih, kalau buatku pribadi yaaa, aku menulis supaya ga lupa dengan semua pengalaman travelingku. Bisa dapat teman dari berbagai tempat, itu bonus bangetttt.

    Dan aku sendiri LBH suka cari informasi dari blog atau platform tulisan , dibanding video. Krn memang lebih detail drpd video biasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Buat traveler AI ini juga membantu banget ya dalam perencanaan itinerary juga budgeting gitu jadinya kita punya pertimbangan lebih saat traveling

      Hapus
  16. Waahh jadi ceritanya, tahun ini rebranding blognya yaaa. Dengan tujuan supaya nggak patah semangatnya buat ngeblog.
    Sebetulnya udah di jalur yang OK lho mbak membahas tentang ibu bekerja. Aku jadi keingat postingan mbak Andiyani itu sekarang kek gitu isinya, coba deh intip :D
    Samaan aku juga memanfaatkan AI untuk brainstorming, kalau nggak ada ide.
    Ngobrolin tentang blogger jadi keinget kemarin di threads ada mbak2 agnesi nyari blogger, tapi di formnya ternyata blogger Malaysia hehe.
    Kapan hari juga ngobrol sama temen2, karena minat baca di Indonesia sepertinya mayan meningkat dengan adanya book club2 semoga nanti minat menulis juga meningkat, sehingga ngeblog bisa eksis kembali :D

    BalasHapus
  17. Baca ini jadi pengingat buat umma yang masih mageran untuk juga tetap menulis.. Makasih mbak reminder nya

    BalasHapus
  18. setuju banget kalo blog adalah temoat bertumbuh, mungkin kisahku gak semulus mbak antung karena harus lebih dulu ganti2 niche dan blog, tapi dari tulisan mbak kita belajar mahal soal konsistensi

    BalasHapus
  19. Untuk brainstorming idea terutama urusan kerjaan, AI ini membantu. Benar-benar semacam asisten profesional. Tapi untuk tahu sesuatu yang based on experience, blog tetap jadi favorit saya. Sentuhan personalnya tidak bisa tergantikan

    BalasHapus
  20. Menurutku selamanya AI nggak bakal bisa menggantikan peran kreativitas manusia sih ya. Membantu mungkin.. tapi replacing, aah.. kejauhan. Aku pun begitu, seringnya pake AI ya buat bantu brainstorming sama drafting aja. Sisanya, eksekusi ya sepenuhnya pakai kepala. Lebih enak bercerita langsung daripada copas dari AI dan edit-edit lagi.

    Blog gak bakal mati sih, karena Ai pun butuh blog untuk bisa memberi informasi.
    Kuncinya ada di kualitas, dimana kita mesti bisa menyajikan dengan standar kualitas tertentu agar bisa diterima audiens. Nggak asal nulis aja

    BalasHapus
  21. Part membaca komen Mb Vicky adalah ter-jleb, mungkin sepi krn memang tidak seperti dulu ya Mba kalau dulu banyak sekali job blog, event dll. Kini makin sepi, tapi bagiku menulis tetap menjadi prioritas meski sebulan hanya 1/2 artikel bagiku cukup saja :) Semangat mba untuk niche ibu bekerjanya :)

    BalasHapus
  22. Terima kasih sudah menulis ini ya mba. Energi baik untuk langkah ngeblog selanjutnya.

    Entah kenapa naluri saya mengatakan kalau dunia blog tidak akan oernah mati, karena itu ruang bertumbuh. Menulis itu satu diantara jurus terbaik membuat diri lebih utuh.

    Selamat 9 tahun ngeblog ya, yakin pada waktunya akan menemukan buah manisnya kembali 🥰

    BalasHapus
  23. Apapun eranya, namanya sudah suka menulis pasti bakalan menulis terus. Apalagi punya wadah bernama blog, dan TLD pula.
    Rasanya sayang kalau dibiarkan begitu saja, tanpa kitanya rajin menulis.

    BalasHapus
  24. Aku pertama kali nyoba AI tahun 2020 itu masih kaku banget. Jadi aku tinggalkan. Tahun 2025 nyoba lagi dan dia sudah semakin "pintar". Aku coba ajak diskusi ini itu lebih nyambung. Sejak saat itu, saya nobatkan AI sebagai partner diskusi saya kala menulis. Walaupun masukannya kadang nggak masuk akal, tapi seringnya dia cukup membantu.

    Semangat buat rebrandingnya mbak. Semoga lancar!

    BalasHapus
  25. Untuk menulis atau isi tulisan blog, jujur aku tidak pakai AI. Aku kepingin bercerita beneran nyata dari pengalaman ku. Kalau AI ku pakai buat nanya terkait investasi sih hehhe.

    Kalau lainnya, belum pakai AI, kecuali capcut dan Canva emang sudah pakai AI mereka nya.

    Keren mbak, sudah 9 tahun ngeblog. Semangat terus, tetap menulis dan bener apa yang dibilang sama mbak Vicky, aku sepakat dan beberapa kali ku share tulisan blog ku ke LinkedIn dan tanggapannya oke, jadi personal branding. Blogger punya nilai tambahan di dunia profesional lho.

    BalasHapus
  26. Tetap semangat ngeblognya kak meski di tengah gempuran medsos video yg udh pasti pemainnya lbh banyak. Meski sbg blogger jg pemainnya banyak dan ladang iklan mkn sempit, ya kita tetap berusaha aja yg terbaik.

    Di era AI ini, kita ga perlu takut tersaingi. Justru dgn teknologi itu, kita bs brainstorming bareng buat ide konten. Persis bgt ama yg dikatain hasil AI di atas. Kita bs lbh mengarahkan personal branding kita agar lbh baik dan tentu sj bs naikkan pendapatan kita ke depan. Tentu dgn niche yg disukai pembaca atau kita pny niche khusus yg jrg dilirik kreator konten lain. Ini pe er-nya.

    BalasHapus
  27. Kalau jadi blig berbayar aku baru 5 tahun kalau tidak salah kemarin januari baru perpanjang , sedikkt2 aku benerin visi nulisku nih teh , btw ai sekrng itu partner kerja

    BalasHapus
  28. Sampai sekarang saya masih tetap menulis cuman memang strateginya berbeda ketika zamannya artificial intelligence seperti sekarang. Saya menggunakan Ai sebagai alat untuk memetakan jalan pikiran supaya nanti tulisannya belum saya lebih teratur dan saya tidak merasa terancam dengan keberadaan Ai karena rasa tulisan itu akan tetap berbeda ketika kita manusia menulis. Jadi memang saatnya kita untuk mengembangkan diri di zaman sekarang ini di zaman sekarang ini

    BalasHapus
  29. Ih mbak Vickyy, ahaha. Betul banget, blog itu sekarang gak mati, bahkan bisa banget untuk berkembang. Adanya konten video bukan jadi memindahkan audience, tapi justru memberikan mereka lebih banyak alternatif, bahkan buat kita sebagai blogger, konten video bisa menjadi "pelengkap" dan sebagai "pintu masuk" untuk audience supaya mereka bisa tertarik dan berkunjung ke blog kita.

    Jadi buat aku, blog itu adalah aset yang berharga, "rumah" digital yang perlu dijaga. Karena karakteristiknya memang beda. Biasanya audience itu mungkin awalnya memang melihat konten video, tapi untuk tau dan mencari info lebih lanjut, mereka tetap melakukan googling, dan bisa bisa ketemu deh konten kita yang memang relevan dengan yang mereka cari.

    Semangat mbaakk, aku pun mengamini, "kerja bareng" dan brainstorming sama AI itu lumayan membantu banget, terutama kalau tujuannya memang mau fokus. AI bisa jadi teman curhat yang oke karena ide-idenya lumayan banyak yang membangun ya. (walaupun kalau ngasih data atau info, memang perlu di crosscheck lagi karena masih suka halu ya, ahaha).

    BalasHapus
  30. Mbak Antung keren karena sudah ngeblog lama. Pastinya sudah banyak berita yang ditulis. Dan ini butuh konsistensi tinggi. Hanya memang tantangan semakin berat. Dari jumlah pengunjung yang mulai turun karena mereka lebih suka nonton video. Belum lagi tantangan dan godaan AI yang bisa membuat kita malas mencari ide dan hanya minta bantuan AI. Namun dengan semangat menulis dan ngeblog, pasti akan terus lahir tulisan baru dan menginspirasi

    BalasHapus
  31. Suka ama taglinenya: Another Home of My Mind.

    Betewe aku juga ngikutin updates Mb Vicky terkait SEO..rasanya tertampar banget.. pingin benahin nih blog, tapi belon ada waktu huhuhu..

    BalasHapus
  32. Suka ama taglinenya: Another Home of My Mind.

    Betewe aku juga ngikutin updates Mb Vicky terkait SEO..rasanya tertampar banget.. pingin benahin nih blog, tapi belon ada waktu huhuhu.

    BalasHapus
  33. Bismillah tetap bertahan di era gempuran AI dimana -mana karena cerita dari hati itu memberi rasa dan warna pada kesan pembaca. AI gak bisa menulis sambil haha hihi dan wkwk serta kasih emot emot di tulisan hehehe. Salam hangat mba Antung,,,,sehat selalu yaa.

    BalasHapus
  34. Mba Antunf keren banget.. 9 tahun berarti ya sekarang bgeblog.. bikin happy walau memang banyak hal berubah saat ini ya Mba

    BalasHapus
  35. Era AI sejujurnya membuat aku cukup dag dig dug sebagai blogger.. Apalagi sekarang banyak orang yang lebih memilih mencari info via Gemini yaaa.. huhu. Taoi sebagai blogger aku mau tetep nulis, aku yakin tulisan dari mausia belom bisa dikalahkan 100% oleh AI..

    BalasHapus