Sebelum Mengajari Anak Naik Motor, Ini Hal Penting yang Harus Diketahui Orang Tua


Siang itu seperti biasa saya memacu motor menuju ke rumah saat jam istirahat kantor tiba. Setelah melahirkan, saya berusaha untuk rutin pulang di jam istirahat agar bisa menyusui anak saya yang kala itu berusia 3 bulan. Kebetulan rumah ibu saya hanya berjarak 15-20 menit dari kantor. Nah, saat sedang asyik mengendarai motor, tiba-tiba di hadapan saya terjadi kecelakaan kecil.

Dua orang anak yang mengendarai sebuah motor tanpa sengaja menabrak seorang ibu yang sedang menyeberang jalan. Si ibu sempat pingsan selama beberapa menit sebelum akhirnya digotong ke sisi jalan. 

Lalu, bagaimana dengan dua anak yang menabrak si ibu. Si pembawa motor kabur sesaat setelah menabrak si ibu sementara temannya tertinggal dan harus rela ditanyai. Jika ditanya berapa kira-kira usia kedua anak tersebut, maka saya hanya bisa mengira-ngira 10-12 tahun.

Kenangan Masa Belajar Naik Motor

Kejadian ini mau tak mau mengingatkan saya pada proses belajar naik motor yang saya alami belasan tahun lalu. Saat itu usia saya sekitar 14 tahun. Untuk pertama kalinya saya belajar mengendarai motor milik ayah saya. 

Saat itu yang mengajari adalah saudara ipar ibu saya. Motor dinyalakan, lalu pindah gigi dan langsung gas. Baru berjalan beberapa meter, tiba-tiba saja terdengar suara, "Brakk!!" Motor yang saya kendarai sukses menabrak pagar rumah tetangga. Untungnya tidak ada luka serius yang saya alami saat itu.

Setelah kejadian menabrak pagar tersebut, perlu waktu beberapa lama bagi saya untuk belajar naik motor. Kali ini ayah saya sendiri yang mengajari saya. Caranya setiap sepulang sekolah, ayah akan membiarkan saya membawa motor bebek miliknya. 

Rute yang dipilih tentu saja rute yang aman dan bukan jalan raya. Baru setelah sudah mulai lihai mengendalikan motor saya diizinkan membawa motor tersebut ke jalan raya, tentunya tetap dengan ditemani ayah yang duduk di belakang. Setelah resmi memiliki SIM, akhirnya saya pun diizinkan membawa motor sendiri.


Fenomena Anak Naik Motor di Jalan Raya

Saat ini, semakin sering saja rasanya kita melihat anak-anak naik motor di jalan raya. Tak hanya motor, anak-anak ini sekarang juga menggunakan sepeda listrik untuk berangkat ke sekolah mereka. Ironisnya,  anak-anak remaja zaman sekarang kalau naik motor atau sepeda listrik kadang suka berlebihan. 

Badan mereka masih kecil-kecil namun sudah sangat berani membawa motor ke jalan raya. Bahkan kadang tanpa mengenakan helm pula. Memang sih kadang orang tua sendiri yang dengan bersemangatnya mengajarkan anak mereka naik motor meski usianya belum cukup.

Namun untuk mengizinkan anak-anak itu membawa motor atau sepeda listrik ke jalan raya kok kayaknya kurang bijaksana. Apa orang tuanya nggak takut gitu, ya, anaknya kenapa-kenapa kalau dibiarkan membawa motor ke jalan raya? Tidakkah sebaiknya sebelum mengizinkan anak-anak ini membawa motor ke jalan raya mereka terlebih dahulu diajarkan bagaimana tata tertib berlalu lintas yang baik?

Motor Mini: Edukasi atau Pemicu?

Di hari lain, saat saya dan suami berjalan-jalan di Siring Martapura bersama putri kecil kami, saya menemukan pemandangan unik. Jadi di lokasi yang kini menjadi salah satu objek wisata di kota Banjarmasin ini terdapat beberapa orang yang menyewakan motor mungil untuk dikendarai anak-anak. Yup, motor yang bentuknya seperti motor orang dewasa dan bisa dikendarai mungkin dengan menggunakan baterai.

Dalam hati saya kagum juga dengan kreativitas orang-orang ini. Bisa jadi hal ini bisa ditindaklanjuti dengan hal positif seperti menambahkan peralatan pengamanan saat naik motor atau juga membuat taman lalu lintas mini bagi anak-anak yang naik motor ini. 

Dengan demikian, hal ini secara tidak langsung mengajarkan pada anak-anak untuk bisa aman dalam berlalu lintas.Tapi ya tetap saja sih ada kekhawatiran di benak saya adanya motor mungil ini akan membuat anak menjadi semakin ingin mengendarai motor di usia muda.

Kalau bagi saya sih, anak-anak masih belum memiliki emosi yang stabil untuk mengendarai motor. Jangankan anak-anak, kita saja kadang masih sering serampangan saat membawa motor. Belum lagi situasi jalan raya yang kadang bisa membuat emosi naik turun. Entah itu macet, pengendara yang suka asal membawa motor, hingga kondisi fisik jalan yang menyebalkan.  

Apa yang Harus Diajarkan Sebelum Anak Naik Motor?

Mengingat sekarang semakin banyak saja anak-anak yang sudah bisa mengendarai motor, mungkin ada perlunya bagi orang tua untuk mengajarkan hal lain sebelum mengajari mereka mengendarai motor. Hal-hal tersebut antara lain:

1. Mengenalkan Bagian Motor

Saat saya belajar mengendarai motor dahulu, masih menggunakan motor manual dan bukan motor matic seperti sekarang. Otomatis untuk bisa mengendarai motor saya harus tahu apa itu pindah gigi, fungsi rem depan dan rem belakang, dan harus siap untuk menyalakan motor dengan engkol. Saya juga harus tahu apa itu busi dan cara mengeceknya karena bisa saja sewaktu-waktu si motor mogok dan businya ternyata sudah mati. Heuheu.

Berhubung sekarang kebanyakan motor berjenis matic, tentu lebih mudah bagi orang-orang untuk bisa mengendarai motor. Meski begitu tetap saja kita harus mengetahui bagian-bagian dari motor apapun jenisnya. Lebih penting lagi anak sebaiknya juga diajarkan untuk bisa merawat motor yang akan dikendarainya.

2. Mengajarkan Tata Tertib Berlalu Lintas

Kadang saat sedang asyik mengendarai motor, kita akan bertemu dengan pengendara motor yang tiba-tiba belok tanpa terlebih dahulu menyalakan lampu sein. Atau yang sering jadi meme, lampu seinnya kanan tapi beloknya ke kiri. Gara-gara masalah lampu ini, sering terjadi kecelakaan. 

Nah, sebelum mengajarkan anak mengendarai motor, orang tua sebaiknya terlebih dahulu mengajarkan tata tertib mengendarai motor yang baik. Tata tertib di sini meliputi kecepatan motor di jalan raya, kapan harus menggunakan lampu sein, kapan harus membunyikan klakson, bagaimana cara menyelip.

Selain itu kita juga perlu mengenalkan tentang rambu-rambu lalu lintas dan tentunya mematuhi rambu-rambu lalu lintas tersebut.

3. Menanamkan Pentingnya Keamanan

Saat akan mengendarai motor, kadang kita lupa untuk memasang pengait helm yang kita gunakan. Padahal dengan memasang pengait helm ini tentunya akan lebih melindungi kita dari bahaya saat terjatuh dari motor. Nah, jika akan mengajarkan anak-anak kita mengendarai motor, sebaiknya kita juga mengingatkannya untuk memasang helm dengan benar.

Selain mengenakan helm dengan benar, saat akan berkendara, sebaiknya juga memperhatikan pakaian yang akan digunakan. Sebisa mungkin dihindarkan mengenakan pakaian yang berisiko membuat pengendaranya terjatuh seperti gamis super lebar atau mengenakan tas punggung dengan posisi duduk menyamping.

Penutup 

Sebagai orang tua, kadang kita ingin mengajarkan berbagai keterampilan pada anak agar mereka bisa mandiri, salah satunya adalah mengajarkan naik motor. Meski demikian, orang tua juga perlu ingat bahwa mengendarai motor bukan hanya soal bisa tidaknya anak mengendarai motor, namun juga berkaitan dengan kesiapan mental, tanggung jawab, dan pemahaman akan risiko.

Jalan raya bukanlah arena bermain anak, melainkan ruang penuh risiko yang menuntut kesiapan dan tanggung jawab. Sebagai orang tua, mungkin kita bangga saat anak cepat bisa naik motor. Tapi akan jauh lebih bijak jika kita memastikan mereka benar-benar siap—bukan hanya secara kemampuan, tapi juga secara pemahaman. Karena satu kesalahan kecil di jalan, bisa berdampak besar bukan hanya untuk diri mereka, tapi juga orang lain.

Kalau menurut kamu, kapan sih waktu yang tepat anak mulai belajar naik motor?

Baca Juga