Satu minggu jelang usia anak saya yang ke 3 bulan, saya harus kembali bekerja. Layaknya ibu bekerja yang lain, mau tak mau saya harus meninggalkan anak saya selama 10 jam dan menitipkan anak saya untuk diurus orang lain. Tentunya hal ini menjadi dilema tersendiri bagi ibu bekerja. Di satu sisi tidak ingin melewatkan masa emas bersama anak, namun di sisi lain ada tugas dan pekerjaan yang sudah menanti.

Saya sendiri sejak awal sudah sepakat dengan suami untuk tidak akan menitipkan anak kami pada ibu saya meski kami masih tinggal bersama beliau. Alasan utamanya sih karena ibu saya juga memiliki kesibukannya sendiri, jadi ya tidak mungkin bisa full mengurus anak saya saat ditinggal bekerja nanti. Saya sendiri sudah memberitahukan hal ini pada ibu saya dan beliau juga tidak keberatan dengan keinginan kami mempekerjakan pengasuh untuk menjaga anak kami.

Rencana Menggunakan Pengasuh yang Gagal di Tengah Jalan

"Coba nanti mama hubungi Mama X. Dia kayaknya mau kalau disuruh jagain, Yumna," kata ibu saya sambil menyebutkan sebuah nama. Mama X ini dulunya tetangga dekat rumah yang sering juga bantu-bantu di rumah saat saya masih SMA dulu. Kabar terakhir yang kami ketahui beliau bekerja di sebuah warung makan di pinggiran kota tempat saya tinggal.

Ibu saya pun menghubungi Mama X. Alhamdulillah ternyata Mama X bersedia menjaga anak kami saat saya dan suami bekerja. Negosiasi harga pun dilakukan. Jadi penawaran kami adalah Mama X ini menjaga anak saya setiap hari sekaligus tinggal di rumah kami sambil membantu beberapa pekerjaan rumah.

Setelah Mama X setuju dengan gaji yang kami tawarkan, tentu saya dan suami tenang dong. Sayangnya, hanya satu hari setelah setuju untuk menjaga anak saya, Mama X menelpon dan tiba-tiba membatalkan niatnya. Entah apa alasan beliau membatalkan niatnya tersebut. Yang jelas beliau benar-benar tidak bisa menerima tawaran kami. Padahal kalau dibanding-bandingkan pekerjaan beliau yang sekarang mungkin lebih berat ketimbang yang kami tawarkan.

Panik karena Cuti Hampir Habis

Saya dan suami pun kelabakan. Jatah cuti saya tinggal beberapa hari dan kami tak menemukan pengganti Mama X. Ibu saya menawarkan beberapa nama namun tak ada yang sreg di hati saya. Sebenarnya di gang tempat kami tinggal ada cukup banyak orang yang bisa dititipi untuk menjaga bayi. Sayang para ibu-ibu ini sudah ketitipan juga entah itu cucu atau tetangga jadilah saya dan suami semakin bingung.

Nah dalam kebingungan ini sebuah bantuan sempat muncul. Adik dari ibu saya ternyata bersedia untuk menjagakan anak kami. Sayangnya baru berjalan 2 minggu, tante saya ini mundur karena harus kembali behuma (menanam padi) di kampung tempat dia tinggal. Saya dan suami pun kembali bingung.

"Ya sudah untuk sementara Mama aja yang jagain Yumna dulu," kata ibu saya akhirnya.

Selama hampir 1 bulan anak saya pun dijaga oleh ibu saya. Dan seperti yang sudah diperkirakan, ibu saya agak kerepotan membagi waktu antara pekerjaannya dan mengurus Yumna. 

"Kayaknya kita memang harus mencari pengasuh nih buat Dede," kata saya akhirnya pada suami.

Mencari Alternatif: Tempat Penitipan dan Iklan Online

Saya dan suami pun kembali mengerahkan usaha untuk menemukan pengasuh yang tepat untuk anak kami. Mulanya saya menawarkan agar anak kami dititipkan di tempat penitipan saja. Kebetulan saya sempat menemukan tempat penitipan yang lokasinya tak jauh dari rumah. Sayangnya saat kami menanyakan tarif penitipan di tempat itu, harganya agak terlalu mahal untuk kami berdua. Akhirnya ide untuk menitipkan anak di tempat penitipan pun dicoret dari rencana kami.

Suami kemudian berinisiatif memasang iklan di OLX. Beberapa orang sempat menghubungi dan diminta datang ke rumah untuk wawancara. Sayangnya tak satupun dari yang mengajukan diri itu datang ke rumah. Alasannya macam-macam. Ada yang dilarang suami. Ada yang tidak tahu alamat yang diberitahukan. Dan pada akhirnya kami juga tak mendapatkan pengasuh dengan jalur iklan ini.

Menemukan Pengasuh dari Lingkaran Terdekat

Nah, suatu hari kami bertemu dengan salah satu kerabat jauh yang tinggalnya tak jauh dari rumah orang tua saya. Pasangan ini memiliki 2 orang anak perempuan. Saat bertamu ke rumah beliau ini, entah kenapa saya merasa cocok dengan sang istri yang bisa langsung dekat dengan anak saya. Lingkungan tempat tinggalnya juga termasuk bagus dan aman. Dan ternyata suami juga berpendapat yang sama dengan saya.

Karena tak tahu apakah istri beliau bersedia mengasuh Tyas, saya memilih menanyakan apakah mereka memiliki kenalan yang bisa mengasuh anak.  Mulanya sang suami merekomendasikan salah satu tetangganya. Namun ternyata si ibu ini sudah ada yang diasuh juga. Tak lama beliau mengirim pesan yang menyatakan kalau istri beliau bersedia mengasuh anak kami, tepat seperti keinginan kami.

Akhirnya Menitipkan Anak dengan Hati Lebih Tenang

Akhirnya saya dan suami pun menitipkan anak kami di rumah beliau. Setiap harinya suami saya akan mengantarkan anak kami dan sorenya saya yang menjemput. Selain itu setiap jam istrirahat juga saya menyempatkan diri untuk mampir ke rumah beliau untuk menyusui dan bermain bersama anak saya. Alhamdulillah selama 1 bulan dititipkan bisa saya lihat kalau keluarga tersebut menerima dengan sangat baik keberadaan anak saya.

Pelajaran Penting dalam Memilih Pengasuh Anak

Bicara tentang proses menitipkan anak ini, ada beberapa hal yang akhirnya bisa saya pelajari terkait pemilihan pengasuh untuk anak kita. Beberapa hal tersebut antara lain:

1. Orang Tua Harus Kenal dan Merasa Nyaman dengan Pengasuh

Seorang ibu jelas tidak bisa percaya pada sembarang  orang untuk memegang anaknya. Karena itu penting bagi orang tua untuk mengenal terlebih dahulu profil orang yang akan mengasuh anak kita. Biasanya pengasuh dipilih dari keluarga dekat atau orang yang sudah dikenal cukup lama. 

Jika pengasuh yang dipilih bukan dari orang yang kita kenal, maka wawancara bisa menjadi cara untuk bisa mengetahui kepribadian calon pengasuh bayi. Bisa juga diberlakukan masa percobaan terlebih dahulu untuk mengetahui pengasuh ini sesuai atau tidak dengan keinginan kita.

2. Lingkungan Tempat Anak Dititipkan Sangat Berpengaruh

Selain harus mengenal dalon pengasuh anak, orang tua juga harus memperhatikan lingkungan tempat tinggal di mana anak akan dititipkan. Lingkugan dan keluarga yang baik jelas akan memberikan pengaruh yang baik untuk anak kita. Saya sendiri sempat ditawari beberapa nama orang yang tinggal di dekat rumah untuk mengasuh anak saya. 

Namun karena merasa lingkungan di rumah orang tersebut kurang bagus, saya memilih menolaknya. Alhamdulillah kemudian saya akhirnya menemukan pengasuh dengan lingkungan dan keluarga yang baik untuk anak saya.

Penutup: Setiap Ibu Punya Jalan Perjuangannya Sendiri

Demikianlah sedikit pengalaman saya dalam mencari pengasuh untuk anak saya. Prosesnya tidak mudah, penuh kebimbangan, dan menguras emosi. Namun saya percaya, setiap ibu akan menemukan jalan terbaik untuk anaknya masing-masing.

Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat bagi ibu-ibu lain yang sedang atau akan menghadapi fase kembali bekerja dan harus menitipkan anak.



Baca Juga