"Gimana kondisi di sana? Penuh nggak?" Saya mengirim pesan kepada dua orang rekan kerja yang sekarang berada di Aula Dispersip Kalsel atau Perpustakaan Pal Enam. 

Tak lama balasan pun tiba di handphone saya.

"Nggak penuh banget, Kak. Masih ada bangku kosong, kok,"  balas salah satu rekan kerja.

"Oke, deh. Kalau begitu aku berangkat sekarang." 

Tak lama kemudian saya langsung memacu motor menuju Perpustakaan Pal Enam yang berjarak sekitar enam kilometer dari rumah.

Bukan tanpa alasan jika saya memacu motor pada saat itu. Hari itu di Aula Dispersip Kalsel diadakan acara bedah buku bersama Brian Krisna, penulis yang saat ini sangat populer di kalangan pecinta buku. Novel-novel yang ditulisnya memiliki topik-topik yang berkaitan dengan kesehatan mental dan orang-orang marginal. Hal inilah yang kemudian membuat banyak pembaca menyukai novel Brian Krisna. 

Popularitas tersebut membuat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan mengundang Brian Krisna sebagai narasumber dalam puncak acara Semesta Buku Banjarmasin yang diselenggarakan pada 5 Juli 2027 di Aula Dispersip Kalsel. Festival literasi ini sendiri berlangsung sejak 27 Juni dengan beragam kegiatan menarik, mulai dari workshop, lomba untuk anak-anak, hingga bedah buku bersama para penulis.

Sebagai pecinta buku, tentunya saya tak melewatkan kesempatan ini. Begitu akun instagram Dispersip Kalsel mengumumkan akan mengadakan bedah buku bersama Brian Krisna, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Kebetulan saya juga sudah membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, novel karya Brian Krisna yang saat ini sedang dalam proses difilmkan dan akan tayang akhir tahun 2026 ini. 

Acara bedah buku sendiri juga mendapat antusiasme yang sangat besar dari pecinta buku di Banjarmasin. Ini bisa dilihat dari banyaknya peserta yang datang hari itu yang memenuhi hampir semua bangku yang disediakan. Bahkan saya sempat berniat membatalkan karena takut tak kebagian tempat duduk. Pada akhirnya seperti percakapan yang saya tulis di atas, saya berubah pikiran dan tetap datang meski terlambat.  

Sekilas tentang Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Sebelum bercerita tentang keseruan acara bedah buku bersama Brian Krisna, saya ingin membagikan terlebih dahulu sinopsis dari novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. 

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Ale yang begitu putus asa dengan hidupnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia pun sudah mempersiapkan dengan matang rencana bunuh dirinya ini. Namun sebelum mewujudkan niat tersebut, Ale ingin menikmati semangkuk mie ayam dari penjual langganannya sebagai santapan terakhir.

Sayangnya, ketika Ale datang ke tempat penjual mie ayam, ternyata gerobak mie ayam tersebut tutup. Ale kemudian mengetahui kalau pemiliknya baru saja meninggal. Sebuah hal yang sangat ironis mengingat dirinyalah yang berencana mengakhiri hidupnya hari itu. Ale pun berinisiatif datang untuk melayat ke kediaman mendiang pemilik mie ayam. 

Sepulang dari melayat, Ale yang mampir ke sebuah warung dan mendapati kejadian tak terduga. Tiba-tiba saja ia disergap dan dibawa ke kantor polisi karena dikira seorang pengedar narkoba. Rupanya pemilik warung adalah intel yang sedang menyamar dan Ale yang apes malah kena jebakan polisi. 

Peristiwa itulah yang kemudian mengubah jalan hidup Ale. Ia bertemu dengan Murad yang mengenalkannya pada dunia preman dan orang-orang baru. Tanpa disadari, pertemuan-pertemuan tersebut perlahan memberinya alasan untuk tetap bertahan hidup.

Suasana Acara Bedah Buku bersama Brian Krisna



Kembali ke acara bedah buku bersama Brian Krisna. Setelah memacu motor kurang lebih sepuluh menit, akhirnya saya tiba di Perpustakaan Daerah Kota Banjarmasin (Perpustakaan Pal Enam). Oleh petugas, saya langsung diarahkan menuju area parkir di belakang. Setelah memarkir motor, saya berjalan kaki menuju aula tempat acara berlangsung.

Saat memasuki aula, sesi bedah buku rupanya sudah dimulai. Di layar proyektor tampak Brian Krisna sedang berbincang bersama moderator. Mengenakan pakaian serba hitam, dengan kacamata dan topi, penampilannya terlihat santai dan sekilas mengingatkan saya pada penyanyi Afgan. Saya sendiri kemudian memilih salah satu kursi kosong yang ada di deretan paling belakang.

Tentunya ada alasan tersendiri mengapa saya akhirnya datang terlambat. Sehari sebelum acara, panitia panitia mengumumkan bahwa dari sekitar 700 peserta yang mendaftar, hanya peserta yang datang lebih awal dan membawa novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang akan mendapatkan tempat duduk terbaik. Pembagian peserta dilakukan menjadi tiga kategori, yaitu:
  • Tier Gold, yaitu 200 peserta pertama yang datang dan membawa novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Peserta kategori ini mendapatkan tempat duduk lesehan di barisan paling depan.
  • Tier VIP, yaitu 100 peserta berikutnya yang juga membawa novel dan berhak mendapatkan kursi.
  • Tier Festival, yaitu peserta selanjutnya yang hanya dapat mengikuti acara sambil berdiri.

Setelah membaca informasi ini, saya sempat mengurungkan niat untuk datang. Alasan utamanya karena saya tidak memiliki buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang membuat saya kemungkinan hanya akan bisa menyaksikan acara sambil berdiri. Belum lagi peserta yang mendaftar ratusan orang, apa tidak sesak nanti ruangannya? Begitu pikir saya. 

Untungnya, setelah bertanya kepada beberapa teman yang sudah lebih dulu berada di lokasi, saya mendapat kabar bahwa masih ada beberapa kursi kosong. Rupanya, cukup banyak peserta yang memiliki kekhawatiran yang sama sehingga memutuskan tidak datang. Berkat itulah saya masih berkesempatan mengikuti acara dengan nyaman meski duduk di barisan belakang.

Dari rundown yang dibagikan sendiri, acara bedah buku hari itu dimulai dengan sarapan mie ayam bersama baru kemudian acara bedah buku dimulai. Tiga orang teman saya yang sudah lebih dulu berada di lokasi acara duduk dengan nyaman di bagian depan sementara saya duduk di deretan kursi belakang. Meski demikian hal ini tidak mengurangi antusias saya untuk mengikuti acara tersebut. 

5 Insight Menarik dari Acara Bedah Buku Bersama Brian Krisna

Setelah sesi makan mie ayam selesai maka acara bedah buku bersama Brian Krisna dimulai. Selama hampir dua jam mengikuti bedah buku, Brian Krisna tidak hanya membahas alur cerita Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Ia juga berbagi banyak cerita tentang proses kreatif, riset yang dilakukan sebelum menulis, hingga alasan di balik beberapa keputusan yang diambil dalam novel tersebut. 

Dari sekian banyak hal yang dibagikan, ada beberapa poin yang paling membekas bagi saya.Berikut beberapa insight yang saya dapat dari acara beda buku hari itu yang sebagian saya ambil dari rekaman video 

1. Tokoh Ale Terinspirasi dari Sosok Nyata

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memiliki tokoh utama bernama Ale. Brian menjelaskan bahwa Ale bukanlah tokoh fiksi sepenuhnya. Karakter tersebut terinspirasi dari seorang temannya yang memang mengalami depresi dan memiliki keinginan mengakhiri hidup. Demi menjaga privasi, nama serta beberapa bagian cerita diubah, tetapi pergulatan emosinya tetap dipertahankan agar pembaca dapat memahami bagaimana rasanya hidup dengan depresi.

2. Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ditulis dengan Narasumber Psikolog dan Psikiater

Menulis novel dengan latar belakang kesehatan mental tentunya tidak bisa sembarangan. Untuk itu, selain berasal dari kisah orang yang dikenalnya, Brian juga berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater dalam proses penulisan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Bahkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan Ale sebelum rencana b*nuh diri juga merupakan salah satu terapi yang direkomendasikan psikiater bagi orang yang sedang mengalami depresi. 

Mendengar penjelasan tersebut membuat saya semakin mengapresiasi proses kreatif Brian Krisna. Ia tidak hanya ingin menghadirkan cerita dengan tema kesehatan mental secara sembarangan, namun juga berusaha menggambarkan isu kesehatan mental secara lebih bertanggung jawab.

3. Judul Seporsi Mie Ayam Terinspirasi dari Percakapan Penulis dengan Ale

Dalam acara ini, Brian memberikan klarifikasi kalau judul novelnya berasal dari celetukannya saat mengajak sosok Ale makan mie ayam bersama. "Wah ini berarti kita makan seporsi mie ayam sebelum mati, dong," begitu kira-kira kutipan percakapan mereka. Penjelasan ini menjadi jawaban atas kritik terkait judul novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang dianggap mirip dengan sebuah novel populer Korea Selatan.  

4. Bagian Tersulit dalam Penulisan Novel

Saat Brian Krisna ditanyai terkait bagian tersulit dalam proses penulisan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, ternyata jawabannya adalah bagian akhir cerita. Hal ini karena Brian ingin memberikan akhir yang memuaskan bagi pembaca. Ia tidak ingin memberikan cerita yang seru namun endingnya malah berantakan. 

Karena itulah dalam proses penulisan novelnya, Brian terlebih dahulu menentukan ending cerita baru kemudian membuat alur cerita. Menurut Brian, menentukan akhir cerita sejak awal membuatnya memiliki "jangkar" sehingga alur yang dibangun tidak kehilangan arah hingga novel selesai ditulis. Sebagai seorang penulis, langkah yang dibagikan Brian Krisna ini memberikan ilmu baru bagi saya yang masih struggling dalam menyelesaikan novel. 

5. Kutipan dan Pesan di Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati 

Ketika ditanya tentang kutipan favorit, Brian memilih kutipan dari halaman 152 yang berbunyi, "Hidup ternyata bukanlah sebuah perlombaan. Nggak masalah kalau langkahmu lebih lambat daripada yang lain." Lewat novel ini, Brian ingin mengajak pembacanya untuk sedikit melambat dan melakukan sesuatu tanpa terdistraksi hal lain. 

Selain itu lewat novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Brian ingin menyampaikan pesan agar kita memiliki alasan sederhana untuk hidup. Tak perlu alasan besar, cukup alasan sederhana seperti ingin menikmati bubur setiap hari. 

Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung teringat pada konsep ikigai dari Jepang, yaitu menemukan alasan sederhana yang membuat seseorang tetap bersemangat menjalani hidup. Mungkin memang tidak semua orang memiliki tujuan hidup yang besar, tetapi memiliki alasan kecil untuk bangun setiap pagi pun sudah sangat berarti.

Penutup 

Setelah berbincang kurang lebih satu jam, acara pun ditutup dengan sesi pemberian tanda tangan bagi para peserta yang membawa novel Brian Krisna. Berhubung saya tidak membawa novelnya, otomatis saya tidak ikut mengantri dan hanya menunggu ketiga teman saya selesai mendapat tanda tangan. 

Bagi saya, mengikuti bedah buku ini bukan sekadar kesempatan bertemu langsung dengan salah satu penulis favorit. Sama seperti ketika saya mengikuti bedah buku bersama Dee Lestari, dalam acara ini saya juga mendapat banyak pelajaran tentang proses kreatif di balik sebuah novel, pentingnya melakukan riset sebelum menulis, hingga bagaimana seorang penulis menyikapi kritik dengan lapang dada.

Acara hari itu ditutup dengan makan siang bersama di salah satu warung nasi uduk di batas kota Banjarmasin. Dan saya sendiri pun pulang dengan pemahaman baru bahwa sebuah karya yang baik tidak hanya lahir dari imajinasi, tetapi juga dari empati, riset, dan kemauan untuk terus belajar. Mungkin itulah yang membuat karya-karya Brian Krisna terasa begitu dekat dengan para pembacanya.

Baca Juga