Salah satu kata kunci yang mungkin cukup sering muncul di awal tahun adalah resolusi awal tahun. Entah sejak kapan dimulainya, orang-orang menjadikan awal tahun sebagai momen yang tepat untuk membuat perencanaan hidup yang kerap disebut resolusi. Hal yang sama juga mungkin terjadi di akhir tahun di mana banyak juga yang membuat rangkuman kehidupannya di akhir tahun.
Namun, apakah resolusi itu benar-benar tercapai? Atau malah hanya sekadar harapan di atas kertas? Tahun 2025 lalu menjadi bahan refleksi penting bagi saya sebagai ibu bekerja, karena banyak resolusi yang gagal saya wujudkan, dan memberi pelajaran berharga untuk tahun 2026.
Apa Itu Resolusi?
Dalam pengertian populer, resolusi berarti tujuan atau rencana yang ingin dicapai dalam periode tertentu, biasanya setahun. Namun, pengalaman saya menunjukkan bahwa resolusi tanpa rencana konkret hanya akan menjadi harapan kosong.
Agar bisa mewujudkan sebuah resolusi, maka dalam membuat resolusi sebaiknya:
- Spesifik: jelas apa yang ingin dicapai
- Terukur: bisa dihitung atau dilihat hasilnya
- Realistis: sesuai dengan kemampuan dan kondisi saat ini
- Terikat waktu: memiliki target yang jelas kapan harus tercapai
Evaluasi dan Analisa Resolusi 2025
Selama beberapa tahun terakhir, saya cukup rutin membuat resolusi atau tujuan yang ingin saya capai di tahun berjalan. Seperti tahun 2025 lalu, saya membuat resolusi dengan tambahan vision board yang katanya bisa membantu kita dalam memetakan tujuan yang ingin dicapai di tahun itu.
Berikut adalah 4 resolusi yang saya buat di tahun 2025 dan sedikit analisa pencapaian dari resolusi tersebut:
1. Memperbaiki pola makan
Resolusi ini saya tulis karena sejak beberapa tahun terakhir saya mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan. Sayangnya bukannya berhasil turun di akhir tahun 2025, berat badan saya malah bertambah lagi 1 kg dibandingkan dengan di awal tahun 2025. Kegagalan ini membuat saya sadar bahwa hanya menulis resolusi tanpa rencana konkret tidak akan berhasil.
2. Lebih banyak berinvestasi dan menabung
Kayaknya ini adalah resolusi yang selalu saya buat setiap tahun dan seharusnya tidak perlu ditulis lagi. Hehe. Dan untuk hasilnya sebenarnya ya saya alhamdulillah bisa menambah investasi di beberapa instrumen. Namun sayangnya saya tidak membuat update terkait penambahan nilai tabungan yang saya miliki tersebut. Dari sini saya belajar pentingnya melakukan pencatatan terkait tabungan dan investasi untuk mengevaluasi pertumbuhan kekayaan.
3. Lebih produktif dan meningkatkan skill
Resolusi lebih produktif dan meningkatkan skill ini bisa dibilang 50% berhasil dan 50% gagal. Berhasil karena di tahun 2025 kemarin saya memang mengikuti kelas konten kreator namun tak berhasil mempraktekkan ilmu yang dibagikan. Kalau menurut saya pribadi, kegagalan ini mungkin karena saya masih tidak terlalu klik dengan dunia konten dan belum menemukan branding yang tepat untuk diri saya.
4. Mengunjungi tempat baru
Lagi-lagi ini bisa dibilang resolusi setiap tahun dan alhamdulillah tahun 2025 yang lalu saya berkesempatan untuk berlibur ke Malang dan Yogyakarta bersama beberapa teman kantor.
Ketika Resolusi Tak Terwujud, Apa yang Salah?
Dari hasil evaluasi atas resolusi tahun 2025 yang lakukan, bisa dibilang tidak banyak hal yang benar-benar saya capai. Tentunya ada banyak alasan dari kegagalan saya menyelesaikan resolusi yang sudah ditetapkan. Dari beberapa artikel yang saya baca, kegagalan mewujudkan resolusi ini bisa disebabkan oleh 3 hal yakni:
1. Resolusi yang dibuat lebih mirip harapan, bukan rencana
Seperti yang bisa dibaca di bagian sebelumnya, resolusi yang saya tulis memang lebih berupa harapan bukan rencana. Idealnya, sebuah resolusi memang bisa menjadi dasar entah itu dengan membuatnya spesifik, terukur dan target yang jelas.
2. Tidak ada perencanaan yang dilakukan untuk mewujudkan resolusi
Karena resolusi yang saya tulis hanya berupa harapan, maka hal ini juga berpengaruh pada tindakan atau aksi yang saya lakukan. Seharusnya saya bisa membuat rencana aksi ataupun list apa yang harus saya lakukan untuk mencapai resolusi tersebut.
3. Tidak ada evaluasi target yang ingin dicapai
Selain karena tidak ada langkah konkret dari resolusi yang sudah dibuat, saya juga tidak membuat lembar evaluasi dari resolusi tersebut, terutama untuk resolusi yang bisa diukur seperti investasi reksadana.
Resolusi Tahun 2026 yang Lebih Realistis dan Sesuai Kondisi
Kegagalan memenuhi resolusi di tahun 2025 sempat membuat saya berencana tidak membuat resolusi lagi di tahun 2026 alias jalani aja apa yang ada di depan. Jujur bisa dibilang saya sedang dalam fase tidak ingin mengulang-ulang lagi resolusi yang sudah ditulis di tahun sebelumnya. Toh, tidak tercapai juga resolusinya, begitu kata saya dalam hati.
Untungnya, jelang akhir bulan pertama 2026, akhirnya saya memutuskan untuk membuat resolusi dan target yang ingin dicapai di tahun 2026. Resolusi yang saya tulis ini berdasarkan atas beberapa kejadian yang terjadi di awal tahun 2026 yang cukup membuat saya merasa tertampar dan diingatkan kalau dalam hidup itu penting sekali memiliki tujuan dan arah. Berikut adalah resolusi yang ingin saya wujudkan di tahun 2026:
1. Memperbaiki blog ayanapunya.com
Sungguh saya tak menyangka kalau memperbaiki blog kini menjadi target resolusi di tahun 2026 ini. Bermula dari saya yang mengikuti SEO VA Course yang diadakan oleh mbak Indri Ariadna, maka saya pun tergerak untuk mengutak-atik blog dan melakukan perbaikan di sana sini. Selain memperbaiki blog dari segi SEO, saya juga berencana untuk memperkuat branding blog ayanapunya.com yakni blog tentang keseharian seorang ibu bekerja.
2. Kejar berat badan anak
Awal 2026 ini, saya mendapat tamparan yang cukup keras terkait kondisi kesehatan anak saya. Yafiq putra saya mengalami demam naik turun selama 6 hari yang membuat berat badannya turun drastis. Kalau kata dokter yang memeriksa Yafiq, anak saya ini sudah masuk kategori gizi buruk karena di usia 6 tahun beratnya masih 17 kg. Dan inilah yang menjadi resolusi saya di tahun 2026 ini yakni mengejar berat badan anak sehingga berada di kurva yang seharusnya.
3. Berinvestasi setiap bulan
Investasi selayaknya bukan dijadikan sebuah resolusi melainkan sebuah kebiasaan. Meski demikian jujur saya masih kesulitan untuk menyisihkan uang untuk investasi di instrumen yang saya miliki. Bahkan kalau bisa investasi saya ini bisa membiayai kuliah anak saya ke luar negeri seperti Mbak Dian Restu Agustina.
Di tahun 2026 ini sendiri ada sedikit perubahan dalam pemberian bonus dan tunjangan perusahaan yang membuat saya harus lebih pintar dalam mengelola uang. Jadilah investasi rutin tiap bulan kini menjadi sebuah resolusi dan kewajiban yang harus saya jalani.
4. Latihan otot kaki
Di usia 40, saya mengalami nyeri lutut yang membuat saya harus bolak-balik melakukan suntik oli untuk lutut saya. Sayangnya suntik oli ini tidak menyelesaikan permasalahan nyeri lutut yang saya alami. Kalau dari hasil konsultasi dan informasi yang saya baca, salah satu cara untuk mengatasi nyeri lutut akibat osteoarthritis ini adalah dengan menurunkan berat badan dan memperkuat otot kaki.
Tentu saja latihan otot kaki untuk penderita osteoarthritis ini berbeda dengan latihan otot kaki mereka lututnya tidak bermasalah. Saya sudah melakukan pencarian dan menemukan beberapa olahraga yang pas untuk penderita osteoarthritis seperti saya. Jadi goal saya di tahun 2026 ini adalah bisa rutin latihan otot kaki setiap harinya meski hanya beberapa menit sekali.
5. Menambah Skill baru
Tak berbeda dengan resolusi tahun 2025, di tahun 2026 ini saya juga memiliki target untuk bisa menambah ilmu dan skill baru entah itu berkaitan dengan dunia kerja yang saya geluti, dunia blog atau bidang lainnya.
6. Berlibur bersama keluarga
Berlibur bersama keluarga pastinya menjadi salah satu resolusi dan impian saya di tahun 2026. Tentu saja destinasi yang ingin dikunjungi adalah di luar pulau Kalimantan mengingat terakhir kali kami berlibur adalah tahun 2023 lalu.
6. Membaca 20 buku setahun
Sebenarnya untuk resolusi membaca buku merupakan hal yang rutin saya tuliskan setiap tahunnya. Sama seperti tahun 2025 lalu, di tahun 2026 ini saya menetapkan target yang sama yakni 20 buku setahun. Kalau bisa sih buku yang dibaca seimbang antara fiksi dan pengembangan diri seperti buku yang pernah viral ini.
Selain menamatkan 20 buku, saya juga menargetkan untuk membuat review dari buku yang saya baca tersebut di postingan tersendiri.
Penutup
Bagi saya, resolusi bukan lagi soal target yang sempurna, melainkan tentang memahami kondisi hidup yang sedang dijalani. Sebagai ibu bekerja, saya belajar bahwa gagal di tahun lalu bukan berarti harus berhenti berharap di tahun ini. Resolusi 2026 ini saya tulis dengan lebih realistis dan membumi, sebagai pengingat arah yang ingin saya tuju, meski langkahnya pelan.
Nah, kalau kamu juga sedang menyusun ulang resolusi, coba tanyakan pada diri sendiri: mana yang benar-benar penting tahun ini? Yuk, ceritakan atau tuliskan versimu sendiri.


2 Comments
Menyeimbangkan peran kerja dan keluarga memang nggak gampang. Kadang resolusi sederhana justru lebih realistis dan bikin nggak terlalu keras ke diri sendiri
ReplyDeleteSetuju mbakk.. Selama ini yang saya lihat dibeberapa temen tuh, bikin resolusi tapi lebih ke harapan. Kayak aku mau bisa kurus bukan aku akan berolahraga sehari lima belas menit. Dan beberapa temen yang bikin mengaku juga nggak bisa sesuai rencana gitu. :(
ReplyDeleteEntah tahun ini saya coba untuk tak buat resolusi. Paling mentok melanjutkan rencana-rencana di tahun kemarin. Agaknya memang masih belum maksimal.. :)