Sebagai pembaca buku, rasanya sekarang sudah menjadi salah satu rutinitas bagi saya untuk membuat postingan khusus terkait buku-buku yang sudah saya baca sepanjang tahun. Rekap bacaan tahunan ini sendiri saya mulai lakukan sejak tahun 2023 dan masih berlanjut hingga sekarang. Untuk bisa tetap konsisten membaca buku ini, saya membuat reading challenge di akun Goodreads yang juga menjadi dasar saya dalam menulis rekap bacaan tahunan.
Di tahun 2025 ini sendiri, saya menargetkan bisa membaca 20 buku yang merupakan hasil refleksi dari kegagalan saya menamatkan tantangan membaca tahun 2024 yakni sebanyak 30 buku. Di tahun 2024, saya hanya bisa membaca 23 buku. Karena itulah dengan penuh kesadaran akhirnya saya menurunkan target membaca tahun 2025 menjadi hanya 20 buku. Seharusnya sih bisa ya kesampaian. Hehe.
Seperti biasa, untuk urusan membaca buku ini, saya lebih banyak mengandalkan perpustakaan digital seperti Ipusnas dan IJakarta yang selama bertahun-tahun setia menjadi penolong saya dalam menambah literasi bacaan. Meski bisa dibilang di tahun 2025 ini baik Ipusnas ataupun IJakarta agak susah diakses dan kadang UI-nya menyebalkan, alhamdulillah beberapa buku bisa saya tamatkan lewat 2 aplikasi tersebut. Saya sendiri biasanya menggunakan Ipusnas ini sebagai referensi bacaan sebelum tidur untuk anak-anak karena memang cukup banyak koleksi buku anaknya.
Nah, selain membaca buku di aplikasi digital, salah satu hal yang membuat saya sangat bersemangat adalah ketika saya menemukan buku-buku idaman saat mengunjungi perpustakaan kota Banjarmasin yang ada di Siring Menara Pandang. Jadi, ketika saya iseng memasuki perpustakaan tersebut, saya menemukan beberapa novel Keigo Higashino yang belakangan memang saya baca karyanya. Ada juga buku-buku literatur Jepang lainnya yang sungguhlah membuat saya ingin selalu kembali ke perpustakaan ini untuk meminjam bukunya.
Daftar Buku yang Dibaca Tahun 2025
Untuk tahun 2025, alhamdulillah ternyata saya bisa menyelesaikan tantangan membaca 20 buku ini. Kalau ditotal di tahun 2025 ini saya berhasil menamatkan 23 buku yang mana 19 di antaranya adalah buku fiksi dan 3 nonfiksi. Buku-buku yang saya baca tersebut adalah:
.png)
- Homeless - Zachira
- The Alpha Girl's Guide - Henry Manampiring
- Girl Meets Boy - Winna Efendi
- Mata di Tanah Melus - Okky Madasari
- Kue-kue Cinta - Fita Chakra
- Tukar Takdir - Valiant Budi
- One Little Thing Called Hope - Winna Efendi
- Eliana - Tere Liye
- Sang Penakluk Kutukan - Arul Chandrana
- Malice - Catatan Pembunuhan Sang Novelis - Keigo Higashino
- Secangkir Kopi Inspirasi - Prabu Revolusi
- The Visual Art of Love - Ary Nilandari
- The Boarding - Triani Retno
- My New Sister - Nicco Machi
- Tentang Kita - Wiwik Waluyo
- Melangkah - J. S. Khairen
- Umur 40, Kok Gini Amat - Han Sung Hee
- Angsa dan Kelelawar - Keigo Higashino
- Funiculi Funicula: Kisah-kisah yang Baru Terungkap - Toshikazu Kawaguchi
- Funiculi Funicula - Before the Coffee Gets Cold - Toshikazu Kawaguchi
- Dona Dona - Toshikazu Kawaguchi
- Masquerade Hotel - Keigo Higashino
Buku-buku Paling Berkesan Tahun 2025
Jujur untuk tahun ini saya agak sulit menentukan buku-buku yang menurut saya memberikan kesan yang mendalam. Kesan di sini bukan berarti buku ini memiliki rating yang sempurna namun dari segi bukunya bisa memberikan saya perspektif atau pengetahuan baru. Dari 22 buku yang saya baca, memiliki genre yang berbeda-beda mulai dari romance, detektif, hingga juga pengembangan diri. Belum lagi ada juga nama-nama penulis yang memang sudah cukup lama saya ikuti tulisannya sehingga mungkin akan ada bias dalam memilih buku paling berkesan ini.
Nah, setelah ditimbang-timbang, pada akhirnya saya memilih buku-buku yang mengenalkan saya pada unsur lokalitas sebagai buku paling berkesan tahun 2025 dan 1 buku dengan literasi Jepang. Apa saja buku tersebut? Berikut daftarnya:
Sang Penakluk Kutukan - Arul Chandrana
Novel Sang Penakluk Kutukan ini saya pinjam di perpustakaan daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan ditulis oleh Arul Chandrana. Novel ini sendiri mengambil latar di Pulau Bawean dengan tokoh utama seorang anak perempuan bernama Ranti. Di pulau tempatnya tinggal tersebut konon ada sosok yang dianggap membawa kutukan yang kerap disebut Akdong oleh masyarakat setempat. Sosok Akdong ini tinggal di hutan dan dianggap membawa sial bagi masyarakat di kampung.
Saat akan mencari bahan obat untuk ayahnya yang berprofesi sebagai mantri, Ranti tak sengaja bertemu dengan Akdong. Dan siapa sangka ternyata Akdong ini tidaklah seperti yang diceritakan orang-orang. Melalui Akdong, Ranti malah bisa menemukan tanaman obat yang diperlukan untuk mengobati sakit ayah dari sahabatnya. Sayangnya pendapat penduduk jauh berbeda dengan pendapat Ranti. Begitu penduduk tahu Ranti berteman dengan Akdong, maka keluarga ini pun mendapat kecaman dan bahkan akan diusir dari kampung. Bagaimanakah akhirnya nasib Ranti dan orang tuanya? Dan siapakah sebenarnya Akdong yang sangat dibenci masyarakat kampung hingga dikucilkan ke tengah hutan?
Salah satu alasan saya membaca novel ini adalah unsur lokalitas yang ada di dalamnya. Penulis sendiri sukses membawa saya dalam sebuah cerita yang sangat menarik dan cukup membuat hati terasa pilu, terutama jika berkaitan dengan Akdong karena sebenarnya Akdong ini bukanlah pembawa sial, namun korban dari fitnah orang-orang yang tidak menyukainya.
Tentang Kita - Wiwik Waluyo
Novel dengan unsur lokal ke dua yang saya pilih kali ini adalah novel Tentang Kita dari penulis Wiwik Waluyo yang dulu saya kenal di Multiply. Lama sekali tak bersua di Multiply ternyata Mbak Wiwik sudah menelurkan beberapa buku, salah satunya Tentang Kita ini yang mengambil latar belakang di Pulau Durai, Kepulauan Riau.
Ceritanya berfokus pada tokoh bernama Putri, seorang remaja yang sangat peduli dengan kelangsungan hidup penyu dan mencari cara untuk bisa melestarikannya. Ia pun mengajak serta para sahabatnya di sekolah untuk melakukan berbagai kampanye dan upaya agar telut penyu yang dijaga ayahnya tidak dijual, melainkan dibiarkan menetas. Usaha Putri ini tentunya sedikit bertentangan dengan bisnis pemilik pulau tempat ayahnya bekerja. Namun untungnya Putri memiliki backingan putra bungsu pemilik pulau yang dengan suka rela memberikan bantuannya untuk melestarikan penyu ini.
Novel ini sendiri ditutup dengan kisah yang manis antara Putri dan sang pujaan hati. Lebihnya lagi, lewat novel ini saya juga jadi tahu tentang Pulau Durai dan penangkaran penyu di sana.
Mata di Tanah Melus - Okky Madasari
Sudah cukup lama saya penasaran dengan novel anak dari Okky Madasari yang pertama kali saya baca tulisannya lewat Entrok. Nah, ketika saya melihat ada promo buku murah di salah satu marketplace, tanpa pikir panjang saya membeli novel Mata di Tanah Melus ini yang merupakan novel pertama dari serial Mata.
Mata di Tanah Melus sendiri bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Matara yang memiliki ibu seorang penulis. Ketika nilai Mata di sekolahnya tidak sesuai harapan, ibu Mata mengajaknya untuk pergi ke Indonesia Timur untuk riset buku terbaru ibunya. Siapa sangka saat berada di sana, mereka mengalami kejadian yang membuat Mata terpisah dari ibunya dan tersesat ke Tanah Melus yang merupakan alam lain dunia. Apakah Mata bisa kembali bertemu dengan ibunya?
Sebagai sebuah novel anak atau anak menjelang remaja, novel Mata di Tanah Melus ini cukup menarik diikuti, apalagi dengan unsur lokalnya yang membuat saya semakin mengenal tempat-tempat di Indonesia. Hanya saja di novel ini ada unsur gaib yang mungkin cukup membingungkan pembaca yang saya sendiri kurang tahu apakah ini hanya rekaan atau berdasarkan riset penulis.
Melangkah - J. S. Khairen
Nama J. S. Khairen sepertinya saat ini sangat populer di dunia literatur kita. Novel-novelnya berada di deretan novel laris Indonesia. Saya sendiri cukup beruntung bisa mendapatkan novel Melangkah ini di aplikasi perpustakaan digital. Kali ini lagi-lagi saya diajak berkelana ke Indonesia Timur tepatnya di Nusa Tenggara Timur atau Sumba.
Tokoh utama novel ini adalah Aura, yang pulang kampung bersama 3 teman kuliahnya. Nah, saat berada di Sumba, Aura dihadapkan pada kejadian dan orang-orang aneh di kampung halamannya ini. Rupanya momen Aura pulang kampung ini bertepatan dengan agenda uji coba proyek ilmiah yang dilakukan oleh seorang pria yang dulunya berasal dari kampung yang sama dengan Aura.
Novel Melangkah yang ditulis J. S. Khairen ini bisa dibilang sebuah novel fiksi ilmiah karena selain bercerita tentang budaya lokal, di sini kita juga akan ditemukan percobaan pada kuda-kuda Sumba. Selain mengangkat budaya lokal, J. S Khairen juga mengangkat isu lingkungan hingga ekonomi dalam novel miliknya ini.
Funiculi Funicula -Toshikazu Kawaguchi
Buku terakhir yang menurut saya paling berkesan di tahun 2025 ini adalah Funiculi Funicula yang memang sudah membuat saya penasaran tentang ceritanya. Jujur saat meminjam buku ini di Perpustakaan Kota Banjarmasin saya bahkan tidak membaca sinopsis atau review para pembacanya di Goodreads. Yang saya tahu, buku Jepang ini cukup populer di kalangan pecinta buku.
Barulah ketika membuka halaman pertama bukunya, saya pun akhirnya mengetahui kalau ini adalah buku yang berkisah tentang sebuah cafe yang bisa membawa pengunjungnya menjelajah waktu. Wah, ini sih genre favorit saya dan benar saja setiap cerita dari novel ini membuat saya jatuh cinta. Bahkan, ketika tahu kalau ketiga seri Funiculi Funicula sudah tersedia di Perpustakaan, saya tanpa pikir panjang meminjam seri lainnya dan langsung membacanya.
Itulah dia daftar buku yang berhasil saya tamatkan di tahun 2025. Semoga bisa menambah referensi bagi teman-teman dalam mencari buku untuk dibaca.
Baca Juga
1 Comments
Penasaran banget jadinya sama bukunya Arul.
ReplyDeleteLalu, dari daftar di atas aku yang TBR itu Tentang Kita, bukunya Mbak Wik. Akan aku baca segera. Makin kepo karena masuk daftar buku terbaik versi Mbak Yana.