Bagi ibu bekerja yang suka menonton film seperti saya, kadang ada dilema tersendiri saat sebuah film yang sukses secara komersial kemudian diadaptasi ke versi Indonesia. Biasanya akan muncul pertanyaan di benak saya, "Kenapa harus nonton lagi kalau sudah tahu ceritanya?" Apalagi beberapa tahun terakhir cukup banyak film Korea Selatan yang di-remake menjadi film Indonesia, dengan hasil yang beragam. Ada yang sukses, ada pula yang menuai kritik.
Lucunya, hal ini tidak berlaku saat film Panggil Aku Ayah ditayangkan. Film ini merupakan film adaptasi dari film Korea Selatan berjudul Pawn yang sudah saya tonton beberapa tahun sebelumnya. Sejak awal melihat trailer film ini, entah kenapa saya langsung tertarik untuk menonton. Apalagi kemudian lewat film ini Ringgo Agus Rahman berhasil memenangkan piala Citra untuk pemeran aktor utama terbaik, semakin penasaranlah saya.
Buat yang belum nonton film Panggil Aku Ayah, yuk baca postingan ini sampai selesai!
Sinopsis Film Panggil Aku Ayah
Kehidupan Dedi dan Tatang sebagai penagih hutang berubah ketika sosok Intan hadir dalam hidup mereka. Intan adalah putri dari Rosa, seorang perempuan yang seharusnya membayar utang kepada bos dari Dedi dan Tatang. Karena tak memiliki uang, Tatang secara impulsif mengusulkan agar Rosa menjaminkan putri semata wayangnya. Meski terdengar absurd, ternyata kemudian Dedi malah setuju dengan usul saudaranya itu dan keduanya pun langsung membawa Intan.
Intan, yang kemudian akrab dipanggil Pacil diajak tinggal sementara di rumah Dedi dan Tatang. Awalnya hubungan mereka terasa canggung. Meski melakoni pekerjaan yang kerap dianggap buruk -terutama bagi mereka yang berhutang-, Dedy berusaha memperlakukan Intan dengan baik layaknya orang tua kepada anaknya. Sayangnya Intan yang keras kepala membuat Dedi pusing dengan kelakuannya.
Beberapa waktu kemudian, Rosa akhirnya datang menemui mereka. Sayangnya kedatangan Rosa ini bukan untuk membayar utang, melainkan menitipkan Intan karena ia akan pergi bekerja sebagai TKW. Rosa berjanji, Intan akan dijemput oleh saudaranya dan diantarkan kepada ayah kandungnya.
Tak lama, orang yang dijanjikan pun datang dan melunasi seluruh utang Rosa. Dengan berat hati, Dedi menyerahkan Intan. Namun naluri orang dewasa yang mulai menyayangi seorang anak membuat Dedi merasa ada yang tidak beres. Dan firasat itu benar. Intan ternyata tidak diserahkan kepada keluarganya, melainkan dijual ke sebuah tempat karaoke.
Dengan segenap usaha, Dedi akhirnya berhasil menyelamatkan Intan. Ia pun mengambil keputusan besar, meninggalkan pekerjaannya sebagai penagih utang dan memilih merawat Intan. Akankah nantinya Intan bisa bertemu lagi dengan ibunya?
Remake Film Korea Pawn yang Berhasil Diadaptasi
Seperti yang saya tulis di atas, Panggil Aku Ayah merupakan film Indonesia yang merupakan remake dari film Korea berjudul Pawn. Dari segi cerita, tidak banyak perbedaan dengan versi aslinya. Namun sutradara Beni Setiawan berhasil mengadaptasinya menjadi film keluarga yang terasa dekat dengan realitas sosial Indonesia.
Dalam film ini, Ringgo Agus Rahman tampil kuat sebagai Dedi dan kembali membuktikan kualitas aktingnya hingga meraih Piala Citra kedua. Boris Bokir sebagai Tatang juga tampil menonjol dengan akting yang natural dan aksen Sunda yang terasa hidup. Sementara pemeran Intan berhasil mencuri perhatian tanpa membuat karakternya terasa dibuat-buat.
Pesan Moral Film Panggil Aku Ayah untuk Ibu Bekerja
Selama menonton film Panggil Aku Ayah, mau tak mau naluri keibuan saya turut tersentil melihat kehidupan Intan baik saat bersama ibunya maupun Dedi. Intan, yang meski ditinggalkan sang ayah namun mendapat kasih sayang yang besar dari ibunya.
Kondisi Intan dan ibunya ini sendiri mengingatkan saya pada sebuah serial dari Mesir yang juga bercerita tentang kehidupan ibu tunggal. Beruntung bagi Intan, bahkan setelah sosok ibunya menghilang, Intan juga tak kekurangan kasih sayang dari Dedi.
Selain kasih sayang yang melimpah ini, beberapa pesan moral yang bisa diambil dari film Panggil Aku Ayah adalah:
1. Keluarga Tak Hanya Berasal dari Hubungan Darah
Pesan moral utama yang bisa diambil dari film Panggil Aku Ayah adalah tentang keluarga yang tak selalu berasal dari hubungan darah. Dedi bukan ayah kandung Intan. Namun kehadirannya yang konsisten, rasa aman yang ia bangun, dan keberaniannya mengambil tanggung jawab justru membuatnya layak disebut orang tua.
2. Anak Bisa Mengenali Orang Dewasa yang Tulus
Kata orang, anak memiliki hati yang tulus dan bisa mengetahui orang yang baik dan bisa dipercaya. Di film ini kita melihat Intan dengan cepat menunjukkan rasa percaya pada Dedi. Bukan karena janji atau materi, melainkan karena sikap dan perlakuan yang membuatnya merasa aman. Ini menunjukkan bagaimana anak-anak sering kali lebih peka dalam mengenali ketulusan dibanding orang dewasa.
3. Alasan Ekonomi Tidak Pernah Membenarkan Pengabaian Anak
Film ini tidak sepenuhnya menyalahkan Rosa, tetapi memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dapat mendorong orang dewasa mengambil keputusan yang berisiko bagi anak. Bekerja keras memang penting, tetapi keselamatan dan kesejahteraan anak tetap harus menjadi prioritas.
Sebagai ibu bekerja, saya juga merasakan bagaimana mengatur keuangan bisa menjadi beban mental tersendiri, seperti yang saya tuliskan dalam artikel terkait cara sederhana mengatur keuangan keluarga.
4. Menjadi Orang Tua adalah Pilihan yang Disertai Tanggung Jawab
Keputusan Dedi untuk merawat Intan adalah pilihan sadar yang penuh konsekuensi. Film ini mengingatkan bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal perasaan sayang, tetapi juga keberanian bertanggung jawab.
5. Rasa Aman adalah Bentuk Cinta Paling Nyata bagi Anak
Di tengah dunia yang tidak selalu ramah bagi anak, rasa aman adalah kebutuhan paling dasar. Panggil Aku Ayah menunjukkan bahwa cinta paling nyata sering kali hadir dalam bentuk perlindungan dan kehadiran yang konsisten.
Penutup
Sebagai sebuah film keluarga, film Panggil Aku Ayah bisa menjadi wadah refleksi tentang pilihan hidup orang dewasa dan dampaknya bagi anak-anak. Film ini layak ditonton oleh orang tua, terutama ibu bekerja, sebagai pengingat bahwa anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna tetapi orang dewasa yang bersedia hadir, melindungi, dan bertanggung jawab.
Demikian review saya untuk film Panggil Aku Ayah, semoga bisa menjadi rekomendasi film yang ditonton bersama keluarga. Buat teman-teman yang ingin membaca review berbagai film dan drama Korea, bisa juga mampir ke blog Tulisandin. Semoga bermanfaat!



0 Komentar