Tahun 2023 menjadi momen besar bagi keluarga kami karena putri sulung saya, Yumna, resmi menjadi siswa sekolah dasar. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, saya tentu berharap masa-masa awal sekolahnya berjalan lancar dan menyenangkan.

Namun, di minggu-minggu pertama sekolah, Yumna mulai mengeluh tidak bisa membaca tulisan di papan tulis dengan jelas. Padahal, posisi duduknya berada di barisan kedua yang seharusnya cukup ideal untuk anak dengan penglihatan normal. Awalnya saya mengira masalahnya hanya soal pencahayaan kelas, tapi setelah beberapa kali keluhan yang sama muncul, saya memutuskan untuk memeriksakan matanya.

Proses Pemeriksaan Mata di Optik

Siang itu, seusai jam sekolahnya meluncurlah kami menuju optik langganan saya di pasar Cempaka. Mungkin ada yang bertanya kenapa tidak periksa ke dokter mata? Pertimbangan saya karena periksa di dokter mata prosedurnya juga tak jauh berbeda dengan di optik dan jika periksa mata di optik saya tak perlu repot-repot mendaftar atau mengantri. Selain itu pertimbangan lainnya pastinya adalah biaya mengingat kalau ke dokter mata saya juga harus membayar biaya konsultasi. Hehe. 

Saat saya menyampaikan maksud kedatangan untuk memeriksa mata Yumna, pegawai optik kemudian mengajak kami ke ruangan sebelah. Di sana terdapat sebuah alat yang ternyata digunakan untuk memeriksa mata dengan bantuan komputer yang setelah saya cari tahu namanya adalah keratometer.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperkirakan besaran minus yang diderita anak saya karena ini adalah pemeriksaan mata pertamanya. Namun seperti yang disebutkan pegawai tersebut, penggunaan alat keratometer ini memiliki nilai deviasi yang bisa jadi akan berbeda dengan pemeriksaan secara manual. 

Langkah awal dari pemeriksaan menggunakan alat keratometer adalah dengan meminta putri saya untuk meletakkan dagunya di tempat yang sudah disediakan. Awalnya pegawai tersebut sempat kesulitan memeriksa mata anak saya karena posisi duduknya yang kurang tinggi sehingga dagu tidak bisa diletakkan di tempat seharusnya. Untungnya setelah sedikit diakali akhirnya pemeriksaan dengan alat komputer ini bisa diselesaikan. 


Setelah proses pemeriksaan mata menggunakan keratometer selesai dilakukan, kami kembali ke ruangan optik untuk melakukan pemeriksaan mata secara manual. Tentunya teman-teman sudah tahu dong ya bagaimana prosesnya? 

Ya, Yumna pertama-tama diberikan alat berbentuk kacamata yang dipasang lensa yang ukurannya sudah disesuaikan dengan hasil pemeriksaan menggunakan alat keratometer sebelumnya. Ia kemudian diminta untuk membaca huruf-huruf yang ada di hadapannya mulai dari yang teratas hingga baris bawah.

Pemeriksaan yang dilakukan putri saya ini mau tak mau mengingatkan saya saat dulu juga melakukan pemeriksaan mata di kelas 6 SD. Bedanya waktu itu ayah saya membawa saya ke Puskesmas yang lokasinya tak jauh dari rumah. Kala itu saya divonis memiliki minus 200 pada mata kanan dan kiri. Dengan angka ini maka mau tak mau saya harus menggunakan kacamata dari kelas 6 SD hingga sekarang. Lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan mata untuk Yumna?

Hasil Pemeriksaan yang Membuat Saya Terkejut

Di luar dugaan saya ternyata minus mata yang dimiliki Yumna jauh lebih besar dari yang saya pikir. Saya pikir ah paling minunya cuma 100 atau 50. Nah ternyata putri saya memiliki nilai minus yang berbeda untuk mata kanan dan kirinya. Mata kanannya divonis memiliki minus 150 sementara mara kirinya memiliki minus 250. Tak hanya itu, ternyata Yumna juga menderita mata silinder dengan nilai yang berbeda di mata kanan dan kirinya.

Jujur saya cukup shock dengan hasil pemeriksaan yang baru saya saya terima. Akhirnya setelah matanya selesai diperiksa saya pun meminta Yumna untuk memilih kacamata untuk ia kenakan sehari-hari. Anehnya, putri saya ini masih bisa tidak menggunakan kacamata selain untuk belajar. 

Padahal saya dengan kondisi mata minus yang sama tidak bisa lepas dari kacamata setiap harinya. Sejujurnya dengan kondisi matanya yang minus seperti saya ini saya berharap bisa memiliki penghasilan yang lebih besar sehingga bisa memberikan pengobatan terbaik untuk mata putri saya seperti operasi lasik misalnya.

Kenapa Anak Sekarang Cepat Berkacamata?

Jika kita melihat ke sekeliling, rasanya sudah bukan hal yang aneh lagi melihat anak-anak seumuran putri saya mengenakan kacamata. Di lingkungan tempat saya tinggal, ada 1 anak yang seusia Yumna dan sudah mengenakan kacamata yang cukup tebal. 

Tak hanya itu, ketika saya menuliskan cerita tentang putri saya yang harus mengenakan kacamata di usia 7 tahun, ada yang berkomentar kalau anaknya begitu periksa mata ternyata minusnya malah hampir 1000. Duh ngeri banget saya jadinya.

Jika dilihat dari sisi ilmu Fisika, mata minus terjadi karena cahaya yang masuk ke mata kita jatuh di depan retina yang menyebabkan benda atau tulisan yang posisinya jauh menjadi kabur di mata. Hal ini sendiri terjadi karena bola mata bola mata yang lebih panjang dari seharusnya atau kornea mata yang terlalu melengkung. Lalu kenapa bola matan menjadi lebih panjang atau kornea mata terlalu melengkung ini terjadi, masih belum diketahui jawabannya.

Dalam kasus saya sendiri, mungkin salah satu penyebab mata saya jadi minus adalah saat kecil dulu saya memiliki kebiasaan membaca buku sambil rebahan dan juga menonton televisi dari jarak dekat. Ada juga yang menyebutkan kalau karena saya tidak doyan sayur. 

Dulu ibu saya sampai membuatkan jus wortel agar mata saya bisa sehat namun tidak saya konsumsi karena baunya sungguh menyengat. Anehnya, padahal adik saya juga jarang makan sayur dan matanya baik-baik saja sampai sekarang. Hehe. 

Nah, jika di zaman saya dulu buku dan televisi yang menjadi tersangka seseorang matanya menjadi minus, maka di era digital seperti sekarang gadget-lah tersangka utama mengapa anak harus mengenakan kacamata di usia dini. 

Gadget atau handphone mengeluarkan sinar biru pada layarnya memiliki beberapa efek negatif bagi mata salah satunya bisa merusak retina mata kita dan membuat mata cepat lelah. Nah, bisa jadi sinar biru ini juga berpengaruh pada munculnya minus atau silinder pada mata kita. 

Refleksi Seorang Ibu

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa deteksi dini kesehatan mata anak sangat penting. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganan bisa dilakukan agar kondisi mata tidak semakin memburuk.

Sebagai ibu bekerja, membagi waktu antara pekerjaan dan perhatian penuh kepada anak memang tidak mudah. Namun, kejadian ini mengingatkan saya bahwa kesehatan anak tetap harus menjadi prioritas utama.

Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bagi para orang tua untuk lebih peka terhadap keluhan anak, terutama terkait penglihatan dan kesehatan mata.

Baca Juga