Bicara soal Surabaya, saya memiliki kenangan tersendiri tentang kota ini. Di masa ayah saya masih mengambil pendidikan dulu, Surabaya merupakan kota yang kami singgahi sebelum menuju kota Bandung yang merupakan tujuan utama ayah untuk belajar. Maklum di masa itu untuk ke Bandung kami hanya bisa menggunakan kapal dilanjut dengan kereta api untuk menghemat biaya. Kala itu, kami menginap di rumah salah satu keluarga selama 1 malam sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota Bandung. 

Belasan tahun kemudian, saya kembali mengunjungi Surabaya dalam rangka menghadiri pernikahan teman adik saya. Pernikahannya sendiri ada di kota Sidoarjo namun kami memilih menginap di Surabaya karena saya ada janji kopdar dengan 2 orang teman blogger. 

Selama di Surabaya inilah untuk pertama kalinya saya berani menjelajahi sebuah kota sendirian tanpa ditemani siapapun. Saya hanya naik bus dari mal Tunjungan menuju toko buku, lalu salat di masjid yang ada di depannya dan pulangnya mampir sebentar ke salah satu Kebun Binatang di Surabaya. 

Transit Terakhir di Surabaya Sebelum Pulang ke Banjarmasin

Kunjungan terbaru saya ke Surabaya lagi-lagi sebagai tempat transit sebelum pulang ke Banjarmasin. Rencana untuk naik kapal ke Banjarmasin dibatalkan karena saya tak kunjung menemukan jadwal yang pas untuk kepulangan kami berlima. Iseng saya cek tiket pesawat eh ternyata harganya lumayan murah. Jadilah akhirnya kami menginap sehari di Surabaya sebelum benar-benar pulang ke Banjarmasin. 

Perjalanan kereta api dari Yogyakarta ke Surabaya sendiri memakan waktu kurang lebih 4 jam. Begitu tiba di stasiun Gubeng, kami langsung dijemput oleh salah satu kenalan yang berkenan mengantarkan ke hotel yang sudah dipesan saat di kereta beberapa jam sebelumnya. 

Menginap di Al Thalib Prapen Syariah Surabaya

Pemilihan hotel sepenuhnya merupakan ide suami yang iseng mencari penginapan murah di Surabaya melalui Google Maps. Kriterianya sederhana: harga terjangkau dan bisa menampung lima orang dalam satu kamar. Dari pencarian tersebut, kami menemukan Al Thalib Prapen Syariah Surabaya yang berlokasi di kawasan Jalan Prapen, dengan harga sekitar 200 ribuan per malam.



Begitu tiba di kawasan Prapen, ternyata hotel Al Thalib Prapen Syariah yang kami pesan ini berada di sebuah lokasi perumahan. Nah, kami sempat kebingungan mencari hotelnya karena tidak ada plang nama atau tempat yang berupa hotel di komplek tersebut. 

Akhirnya suami berinisiatif untuk turun dan bertanya kepada salah satu pemilik rumah. Eh, ternyata hotel yang kami pesan ada di hadapan mata dan memang tidak ada plang namanya. Tambahan lagi, ternyata hotel atau penginapan yang kami pesan ini ternyata juga merupakan sebuah kantor perwakilan universitas di Malaysia.


 

Fasilitas Kamar dan Suasana Penginapan

Penampakan luar dari penginapan sendiri memang berupa rumah tingkat dua yang kamar-kamarnya disewakan. Bagian bawah seperti yang saya tuliskan sebelumnya adalah kantor perwakilan sebuah Universitas di Malaysia. Selain ruang tamu, terdapat juga sebuah pantry kecil yang bisa digunakan tamu untuk menyeduh teh atau kopi hangat. Sementara kamar kami sendiri berada di lantai 2 tepat setelah tangga.




Begitu kamar dibuka, saya dibuat terkagum-kagum dengan luasnya kamar yang kami tempati. Terdapat 2 spring bed dengan ukuran Queen dan juga AC dan sebuah kipas angin di kamar ini. Kamar mandinya juga cukup luas dengan toilet duduk dan shower untuk mandi. 

Sayangnya tidak ada amenities yang disiapkan di kamar mandi kecuali sabun cair di dekat shower. Karena lokasinya ada di lantai 2, kamar yang kami tempati juga memiliki balkon kecil yang bisa digunakan untuk bersantai atau menjemur handuk atau pakaian yang basah.



Berburu Makan Malam dan Nasi Goreng Favorit


Malamnya, saya dan suami mencari makan malam yang ada di sekitar penginapan. Ibu dan kedua anak saya kami minta menunggu saja di hotel karena kemungkinan akan susah mencari makan malam di komplek tersebut. Benar saja, setelah saya dan suami berjalan menuju depan komplek tidak juga ditemukan penjual makanan selain penjual nasi goreng dekat pintu ke luar. Ada sih tempat makan di pinggir jalan namun harganya agak pricey seperti gerai pizza, coffeeshop dan rumah makan Thailand. Jelas kami tidak mungkin makan malam di sana.

Akhirnya saya dan suami kembali berjalan ke dalam komplek untuk memesan satu-satunya nasi goreng yang berjualan di sana. Selain saya dan suami ada juga beberapa pembeli lain yang sedang menunggu pesananannya. Saya pun memesan nasi goreng untuk kami semua. 

Dan ternyata antrian nasi goreng ini lumayan lama karena ternyata ada yang memesan lalu ditinggal dan kemudian datang lagi untuk mengambil pesananannya. Hmm, saya sampai penasaran seenak apa ini nasi goreng abang-abang sampai antriannya panjang.

Setelah kurang lebih 1 jam berada di luar hotel, akhirnya saya dan suami kembali dengan 4 bungkus nasi goreng untuk kami semua. Segera saya buka masih goreng yang sudah dipesan karena penasaran dengan rasanya. Maklum saya adalah penggemar berat nasi goreng dan memang benar nasi goreng yang dijual abang ini enak di lidah padahal bumbunya cuma pakai bawang putih doang. 

Pagi di Surabaya dan Perjalanan ke Bandara Juanda

Tak seperti ketika di Yogyakarta, saat berada di Surabaya kami benar-benar tak ke mana-mana dan hanya menghabiskan waktu di hotel. Setelah menghabiskan semalam di Surabaya, paginya kami berjalan kaki mencari sarapan nasi pecel yang lokasinya berdampingan dengan penjual nasi goreng yang kamu beli sebelumnya. 

Di penginapan memang tidak menyediakan sarapan jadi memang tamu harus mencari sendiri sarapannya. Untungnya di pagi hari lebih banyak penjual makanan yang buka ketimbang di malam hari. 
 
Setelah sarapan, kegiatan kami hanya santai-santai dan pastinya juga menyiapkan barang-barang untuk dibawa pulang. Saya juga sempat memesan mie pedas yang sedang viral lewat aplikasi ojek online mumpung dapat promo ongkir. Mie ini rencananya akan dimakan saat menunggu di bandara nanti bersama menu makan siang lain yang juga dibeli di warung pecel. 

Tepat setelah salat dzuhur, saya pun memesan taksi online untuk menuju bandara Juanda yang akan mengantar kami kembali ke Banjarmasin beberapa jam kemudian.
 

Penutup

Demikian cerita singkat transit kami di Surabaya. Meski hanya semalam, pengalaman ini tetap berkesan dan menyenangkan. Semoga bisa menjadi referensi buat teman-teman yang sedang mencari penginapan murah dan nyaman di Surabaya. Sampai bertemu di cerita perjalanan selanjutnya!



Baca Juga